MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
BABAK BARU KEHIDUPAN PART 5


__ADS_3

            “Kita berangkat, Asha sayang.”


            “Ya, Bu.”       


Setelah berias dan mengenakan gaun pengantin, aku berangkat ke lokasi pernikahan diadakan bersama dengan Ayah dan Ibu Arata. Karena aku tidak lagi punya keluarga dan kini sebatang kara, jadi Ayah Arata akan menggantikan tugas Ayahku dan mengantarku hingga ke altar di mana Arata menungguku.  Sementara Arata telah lebih dulu berangkat bersama dengan dua kakaknya-Maha dan Kendra ke lokasi acara.


            Karena sekarang adalah musim panas di mana persen hujan turun sangatlah kecil, Ibu Arata menyarankanku untuk mengadakan pernikahan dengan tema garden party dan aku setuju dengan tema itu. Meski bertema garden party, pesta pernikahanku dan Arata adalah pesta pernikahan tertutup. Kami berdua belajar dari kasus  yang terjadi pada kami berdua, untuk tidak mengundang reporter atau pun wartawan dalam acara kami.


            Tapi aku dan Arata membuat janji bahwa kami akan merelease beberapa foto dalam prosesi pernikahan kami dan bulan madu kami sebagai gantinya. Hal itu kami lakukan karena kami berdua tahu ada banyak orang di luar sana yang telah mendukung pernikahan ini dan bahkan penggemar Arata mengirim banyak kado pernikahan ke kantor agensi di mana Arata bernaung.


            “Tunggu di sini yah, Asha. Kau tidak boleh keluar hingga dipersilakan.” Begitu tiba di lokasi, Ibu dan Ayah Arata membawaku ke ruang tunggu khusus yang tertutup dari luar dan hanya memperbolehkan beberapa wanita mengunjungiku: saudara-saudara jauh Arata, rekan kerjaku di kantor penerbit, staf produksi di film Love Like Ectasy dan Warda pastinya.  Mereka datang untuk berfoto bersamaku dan memberiku ucapan selamat sekaligus wejangan yang aneh.


            “Selamat, Asha.  Semoga pernikahanmu ini langgeng.”


            “Asha!! Selamat untuk pernikahannya semoga langgeng hingga maut memisahkan dan segera dapat momongan.”


            “Kelak ketika sudah tinggal bersama kalian harus saling pengertian, saling bicara satu sama lain bak itu keluhan maupun pendapat dan berusaha untuk memberi perhatian satu sama lain. Karena komunikasi adalah hal yang penting dalam pernikahan.”


            “Sesekali biarkan Arata yang mencuci baju, memasak untukmu dan membersihkan rumah. Karena laki-laki harus bisa melakukan hal-hal itu ketika kelak kau mengandung dan melahirkan. Aku tahu Arata adalah pria yang memiliki banyak uang, tapi ada beberapa hal yang akan lebih romantis dan berharga ketika dikerjakan sendiri bukan dengan menyuruh orang lain.”


            “Jangan sungkan untuk meminta saran pada yang lebih tua tentang pernikahan. Siapapun pasti akan mengalami sedikit kesulitan ketika menghadapi pernikahan, Nak. Kami pasti akan memberimu  banyak nasihat untuk masalah yang kamu hadapi, Nak.”


             Bla ... bla ... bla .... Aku rasa aku sudah tidak ingat berapa banyak wejangan dan ucapan selamat  yang diberikan oleh semua wanita yang datang menemuiku. Saking banyaknya, aku rasa aku tidak bisa mengingat semuanya. Lalu setelah banyak wanita datang, orang terakhir yang menemuiku adalah Warda.


            “Selamat, Asha.” Warda datang dan langsung memelukku. “Akhirnya hari ini datang juga, Asha.”


            “Terima kasih, Warda.” Aku melihat Warda yang datang dengan mengenakan gaun berwarna biru langit. “Apakah kau membawa apa yang aku minta?”


            Warda membuka tasnya dan memperlihatkan sedikit apa yang tersimpan di dalamnya. “Bagaimana menurutmu? Bagus tidak, Asha?”


            Aku tersenyum melihat sesuatu di dalam tas Warda. “Sesuai dengan apa yang kamu kirimkan. Aku suka sekali.”


            “Baguslah kalau begitu. Lalu kapan kau akan memberikannya pada Arata?”         


            Aku berbisik pada Warda dan menjelaskan rencana yang sudah aku rancang di dalam benakku kepadanya. “Kamu mengerti, Warda??”


            Warda menganggukkan kepalanya. “Oke. Aku mengerti. Aku benar-benar tidak menyangka kalian berdua akan benar-benar menikah, Asha.”


            Aku melihat ke arah Warda. “Kau tidak marah kan, aku menikah dengan idolamu??”

__ADS_1


            Warda menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak. Sebaliknya aku malah merasa sangat bahagia. Dua orang yang aku idolakan kini telah menjadi pasangan serasi yang membuat banyak orang iri melihatnya.”


            “Senang mendengarnya, Warda.”


            “Aku benar-benar tidak menyangka saja, kau yang dulu sempat muak mendengar ucapanku tentang Arata sekarang justru menjadi istri Arata ... “ Warda tertawa kecil setelah mengatakan hal itu.


            Aku memiringkan kepalaku dengan tertawa kecil juga. “Ya, takdir benar-benar tidak bisa ditebak. Kukira selama ini hidup dan takdir akan terus membuatku hidup seorang diri,  tapi siapa yang akan menyangka hidup dan takdir diam-diam menyusun rencana yang tidak pernah aku duga sebelumnya.”


            “Bukankah karena itu kita dilarang untuk menyerah dalam hidup? Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan menanti kita di masa depan, sebelum kita menjalaninya.”


            “Kau benar, Warda.”


            Setelah Warda berfoto denganku,  sesi pertemuan dengan pengantin wanita dihentikan karena acara yang akan segera dimulai. Ayah Arata yang tadi pergi bersama dengan Ibu Arata untuk menyambut tamu undangan, kini mendatangiku dengan senyuman kecil di bibirnya.


            “Kau sudah siap, Asha?”


            Aku menganggukkan kepalaku. “Ya, Ayah.”


            Ayah Arata membantuku berdiri karena gaunku yang berekor panjang dan kemudian memberikan lengannya untuk membantuku berjalan. Ayah Arata menuntunku berjalan dengan lengannya sebagai tumpuanku.


            “Terima kasih, Nak.” Ayah Arata tiba-tiba mengatakan hal itu padaku ketika berjalan bersamaku.


            “Untuk segalanya,  Asha. Karena kau, Arata mau kembali ke rumah. Karena kau juga, Arata mau bicara dengan kami dan dua kakaknya. Dan karena kau juga, hubungan kami yang dingin sebagai keluarga  dengan Arata kini berubah menjadi keluarga yang sesungguhnya. Ucapan terima kasihku saja, tidak akan pernah cukup membalas apa yang kau lakukan untuk keluargaku, Asha.”


            “Aku juga berterima kasih, Ayah. Berkat kalian, aku bisa merasakan hangatnya keluarga setelah sekian lama.”


            Kretttt. Pintu menuju lokasi pernikahan dibuka dan tiba-tiba tanganku bergetar karena rasa gugup yang menyerangku. Semua mata yang mengarah padaku membuatku merasa gugup dan cemas. Ayah Arata yang menyadari getaran di tanganku langsung memegang tanganku yang bertumpu di lengannya dan berbisik padaku sebelum berjalan menuju ke Arata yang sedang menungguku di altar.


            “Jangan gugup, Nak. Ada Ayah di sini.”     


            Huft. Aku menarik nafas dan mengembuskannya dengan cepat. “Ya, Ayah.”


            Setelah mendengar respon yang aku berikan, Ayah Arata menuntunku berjalan menuju ke Arata dan kemudian memberikan tanganku kepada Arata untuk kami berdua mengucap janji pernikahan.


            Aku menatap Arata dengan tatapan dalam sembari mengucapkan janji kami masing-masing. Dalam waktu yang singkat itu ... aku mengingat semua kenanganku bersama dengan Arata hingga akhirnya aku bisa berdiri di sini, mengucap janji pada Arata dan resmi menjadi istri dari Arata-benalu yang menyebalkan yang menolak pergi dan melepaskan aku, aktor yang pernah aku sebut dengan sebutan psikopat dan bintang keberuntunganku.


            Prok ... prok ... prok.


            Tepuk tangan para tamu undangan terdengar setelah kami saling mengucapkan janji suci pernikahan kami dan memasangkan cincin pernikahan di jari manis masing-masing. Setelah tepuk tangan berhenti, pembawa acara memberikan mikrofonnya pada kami dan meminta aku dan Arata bergantian untuk bicara kepada tamu undangan.

__ADS_1


            Giliran pertama adalah Arata. Dia menceritakan hal-hal kecil yang tidak aku ketahui sebelumnya: dari rencananya yang sengaja menemuiku di acara tanda tangan pertamaku, sengaja membeli apartemen di sampingku dan sengaja menempeliku terus hanya untuk menarik perhatianku dan membuatku jatuh cinta. Cerita Arata itu membuat semua tamu undangan merasa senang, terharu dan bahagia seolah mereka merasakan apa yang Arata rasakan.


            Setelah Arata, giliranku yang memegang mikrofon. Karena aku tidak pandai bicara seperti Arata. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak orang sebagai pembuka pidato kecilku. Setelah mengucapkan banyak terima kasih, aku meminat Warda ke altar dan berdiri di dekatku.


            “Aku hanya wanita biasa. Aku dan Arata kebetulan bertemu, kebetulan menceritakan pahitnya kehidupan yang kami jalani dan kebetulan saling menguatkan satu sama lain. Di mata Arata, aku adalah bintang keberuntungannya. Sama halnya seperti Arata yang melihatku, aku juga menganggap Arata sebagai bintang keberuntunganku. Tidak bisa aku pungkiri, aku bisa berada di posisi ini, semua berkat Arata. Aku menerima banyak hal dari Arata sementara aku hanya memberikan beberapa hal kecil pada Arata. Maka dari itu ... aku ingin memberimu sesuatu yang bisa aku lakukan, Arata.”         


            Warda mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya kepadaku dan kemudian aku memberikannya kepada Arata.


            “Apa ini, Author?” Arata menerima apa yang aku berikan dengan tatapan heran.


            “Novel ketujuhku, Arata. Novel itu aku tulis berdasarkan kisah kita berdua. Apa kau suka dengan hadiah pernikahan itu, Arata?”


            “Lalu ... apa yang akan kau tulis? Apa kau sudah memutuskan judulnya??”


            Aku melirik ke arah Warda, tersenyum padanya dan berbisik padanya. “My Lovely Author. Aku membuat judul itu berdasarkan panggilan yang Arata selalu sebut ketika memanggilku.”


            Arata langsung memelukku dan membuat semua orang bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan yang Arata saat ini rasakan. “Ini ... salah satu hadiah terindah yang kau berikan padaku, Authorku tercinta.”


*


            Aku melihat postingan foto pernikahanku dengan Arata yang disebarkan oleh banyak orang. Aku melihat komentar di bagian bawah foto itu dengan senyuman kecil.


            Xxx1: Pasangan serasi di tahun ini: Arata dan Author Wallflower.


            Xxx2 membalas komentar xxx1: Aku setuju. Mereka berdua adalah pasangan serasi. Aku baru saja membeli novel ketujuh Author Wallflower dan kisah mereka benar-benar membuatku iri. Arata adalah pria ideal dan idaman banyak wanita sementara Author Wallfower adalah wanita paling beruntung layaknya cinderella di dalam dongeng.


            Xxx3 membalas komentar xxx2: Aku harap novel itu mendapatkan adaptasi film dan membuat kita bisa melihat bagaimana Arata mengejar Author Wallflower.


            Xxx1 membalas komentar zxxx3: Aku juga berharap hal yang sama.


            Yyy1: Mereka serasi sekali.


            Zzzz1: Aku ingin sekali bertemu pria seperti Arata.


            Dari postingan itu ... aku melihat potret diriku sendiri yang berdiri di samping Arata dan kemudian melihat Arata yang saat ini sedang tertidur dengan pulas di sampingku. Aku meletakkan ponselku dan kemudian mengecup kening Arata. Posisi ini: kau di sampingku dan kau di sisiku, aku rasa memang ditakdirkan untukmu, Arata. Terima kasih karena telah mencintaiku, Arata. Aku mencintaimu, benalu menyebalkan.


 


            Pada akhirnya, benalu yang menang dan membuat inangnya-diriku justru jatuh cinta padanya. Benalu istimewa yang hanya ada satu di dunia dan kini terikat denganku selamanya. Ikatan indah yang akan saling menguntungkan. Ikatan yang akan menyatukan aku dan dia sepanjang sia perjalanan hidupku ini.

__ADS_1


__ADS_2