
Tiga bulan kemudian ...
Aku membuka mataku dan melihat ke arah jendela apartemenku. Dari celah tirai yang sedikit terbuka, aku melihat sinar matahari yang masuk melalui celah itu. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya menarik tubuhku dan memaksanya untuk bangkit.
Srekk ... aku membuka tirai jendela di apartemenku, membuka pintu kaca yang ada dan kemudian membiarkan angin pagi masuk ke dalam apartemenku. Wush .... angin pagi itu sedikit angin karena bercampur dengan dinginnya malam tadi. Di perbatasan antara pintu kaca dan balkon, aku duduk di sana dan bersandar ke samping pintu. Aku menatap langit dan menunggu hingga matahari mulai menampakkan dirinya sepenuhnya dan menyapa semua manusia hari ini.
Drrrt ....
Ting ....
Drrrrt ....
Ting ....
Ponselku tidak henti-hentinya bergetar karena panggilan yang masuk dan menerima pesan masuk setelah berhenti bergetar. Entah siapa yang menghubungiku pagi ini, tapi aku kira aku tahu siapa mereka: mungkin Arata, mungkin Ibu Arata dan mungkin juga Warda. Aku rasa dari ketiga orang itu, salah satunya pasti benar.
Aku menyandarkan kepalaku ke pintu di sampingku dan membiarkan angin pagi yang menyejukkan berembus menerpa wajahku. Aku mengingat kejadian tiga bulan yang lalu di mana Arata membahas anak keci ketika sedang bermain dengan Auriga.
“Yang sedang tidak baik-baik saja adalah pria di sana. Dia sepertinya sudah tidak sabar menunggumu, Asha.” Aku ingat Warda tersenyum sembari melihat Arata ketika mengatakan kalimat itu.
“Kau ingin menikah, Arata?” Saat itu ... aku yang tahu sudah tidak lagi bisa menghindari pertanyaan dan sindiran Arata, akhirnya mengajukan pertanyaan pada Arata.
“Tentu, Author. Menikah denganmu adalah satu dari beberapa harapan yang aku minta pada Tuhan setiap harinya.” Aku ingat Arata menjawab pertanyaanku dengan wajah bahagia seolah apa yang diharapkannya, apa yang dimintanya pada Tuhan selama ini akan segera terkabul.
“Kamu ingat janjiku sebelum kekacauan di hari film Love Like Ectasy ditayangkan??”
“Tentu aku mengingatnya, Author. Bahkan semua hal tentangmu, tidak akan pernah bisa aku lupakan, Author.”
__ADS_1
“Hari ini ... Warda sebagai saksinya, aku akan menjawab pertanyaanmu waktu itu, Arata.”
Aku ingat dengan baik ekspresi wajah Arata dan Warda saat itu langsung berubah menjadi serius dan membuatku benar-benar merasa sedikit tertekan karena pandangan mereka yang menunggu ucapan dariku.
“Lamaranmu saat itu, aku terima, Arata. Kita bisa menikah.” Saat itu ... aku ingat Arata langsung berlari ke arahku dengan membawa Auriga di pangkuannya.
“Author tidak akan berubah pikiran kan?”
“Ya, aku tidak akan berubah pikiran. Karena itu, aku bilang Warda sebagai saksinya.”
“Baguslah kalau begitu, Author. Kita menikah bulan depan.”
Mendengar ucapan Arata itu, aku dan Warda langsung melongo karena terkejut dan tidak percaya.
“Kau ingin menikah bulan depan, Tuan Arata? Apa aku tidak salah dengar?”
“Memangnya apa yang salah dengan bulan depan?? Semakin cepat semakin baik.” Aku ingat Arata menjawab pertanyaan itu seolah pernikahan adalah hal yang mudah baginya. Aku merasa masalah yang dialami Arata dengan keluarganya sama sekali tidak meninggalkan kesan buruk baginya dalam membangun keluarganya sendiri.
Setelah beberapa menit berpikir, aku memberikan jawaban pada ucapan Arata sebelumnya. Dan aku ingat jawaban itu benar-benar membuat Arata kapok. “Jika kamu ingin menikah bulan depan, maka silakan cari pengantin lain. Aku tidak bisa menikah bulan depan. Bagiku itu terlalu cepat dan masih ada yang harus aku selesaikan sebelum aku menikah.”
“Authorrrr!!!! Kau membatalkan ucapanmu???”
“Tidak, aku tidak membatalkannya. Hanya saja jika bulan depan kamu ingin menikah, aku akan mundur dan mempersilakan kamu untuk menikah dengan wanita lain. Lagi pula ... untuk kau-si aktor terkena, menemukan pengantin dalam waktu sebulan adalah hal yang mudah. Penggemarmu pasti akan langsung berbaris mendaftarkan dirinya untuk jadi istrimu, Arata.”
“Aku tidak akan menikah dengan wanita lain, kecuali dengan Author! Titik.”
“Kalau begitu ... kita menikah tiga bulan lagi, kau setuju?”
__ADS_1
Aku ingat bagaimana wajah Arata yang kesal setengah mati karena tidak punya pilihan lain selain menerima permintaanku. Lagi pula siapa yang akan sanggup menikah dalam waktu sebulan ketika semua hal belum disiapkan sama sekali? Mungkin orang lain akan sanggup mengingat bagaimana Arata dan keluarganya memiliki banyak hal, tapi aku tidak. Terlebih lagi, aku tidak punya siapapun lagi sebagai keluargaku yang akan membantuku mengurus pernikahanku.
Aku ingat Arata yang kesal memandang Auriga dengan senyum kecut sembari menjawab pertanyaanku. “Lihatlah ini, Auriga! Pamanmu yang tampan ini sedang dikeroyok oleh dua orang wanita. Satu wanita adalah ibumu dan wanita satunya lagi adalah tantemu. Paman yang ingin segera menikah bulan depan terpaksa menunggu tiga bulan lagi, karena Paman terlalu mencintai tantemu itu. Ini pelajaran bagimu, Auriga. Ingat ini yah, Nak!!! Pamanmu tidak kalah, tapi Pamanmu ini mengalah karena terlalu cinta pada tantemu. Kelak ... kau juga akan begitu, Auriiga.”
Mendengar omelan kesal Arata yang dilampiaskan pada Auriga, hanya bisa membuatku dan Warda tertawa terbahak-bahak karena melihat sisi menggemaskan dari Arata yang selama ini tidak pernah kulihat sebelumnya.
Setelah kesepakatan dibuat, Warda menarikku ke balkon di apartemenku dan mengajukan pertanyaan penting padaku. Warda membiarkan Auriga dan Arata yang bermain bersama dan memanfaatkannya untuk membawaku ke balkon.
“Aku memang terkejut Arata memintamu menikah dalam waktu sebulan. Tapi bagi Arata dan keluarganya sebulan bukanlah hal yang mustahil, Asha. Jadi ... kenapa menundanya hanya tiga bulan? Bukankah itu sama dekatnya?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Warda. “Ada yang harus aku selesaikan sebelum aku menikah dan aku butuh bantuanmu untuk menyelesaikan hal itu, Warda.”
“Apa yang bisa aku bantu? Dan apa yang harus kau selesaikan, Asha?” Warda bertanya dengan mata berbinar karena tiba-tiba merasa bahwa apa yang hendak aku katakan padanya adalah sesuatu yang menarik.
“Novel ketujuh. Aku ingin menyelesaikannya dalam waktu satu bulan. Lalu aku ingin menerbitkannya di hari pernikahanku. Apa kita bisa melakukannya, Warda??”
Warda mengerutkan alisnya pertanda pikirannya sedang bingung. “Kenapa harus hari itu?”
Dari tempatku berdiri, aku melihat ke arah Arata yang sedang duduk bermain bersama dengan Auriga. Aku melihat tawa kecil Arata yang begitu bahagia bermain bersama dengan Auriga. Melihat Arata tertawa bahagia, aku membayangkan bayangan kecil di mana Arata akan bermain dengan putra atau putrinya sendiri di masa depan. Wajah Arata pasti akan terlihat lebih bahagia dari sekarang.
Aku mendekatkan wajahku pada Warda dan kemudian berbisik padanya. “Hadiah untuk Arata. Aku ingin novel ketujuh yang aku buat sebagai hadiah pernikahanku untuk Arata. Apa aku bisa melakukannya?”
Warda tersenyum setelah mendengar bisikanku. “Karena sahabatku ini sedang meminta tolong padaku, tentu aku harus membantunya. Kita pasti bisa melakukannya, Asha.”
“Terima kasih.”
“Lalu ... apa yang akan kau tulis? Apa kau sudah memutuskan judulnya??”
__ADS_1
Aku melirik ke arah Warda, tersenyum padanya dan berbisik padanya.