
“Mana yang kamu pilih, Asha?” Ibu Arata melihatku dengan tatapan penasaran. Ibu Arata penasaran dengan pilihan yang aku jatuhkan kepada lima dress yang didesain sendiri oleh putranya-Arata.
Aku menatap lima dress itu dan memperhatikan kelebihan dan kekurangan dari lima drees yang didesain sendiri oleh Arata. Dress pertama adalah gaun warna putih dengan rok yang mekar panjang, dengan hiasan bunga mawar yang menyebar di bagian pakaiannya meski tidak penuh. Membayangkan diriku mengenakan pakaian ini, aku sudah merasa jika aku akan jadi pusat perhatian dalam acara itu dan aku tidak terlalu suka menajdi pusat perhatian. Dress kedua adalah dress warna hitam yang kali ini panjang tapi tidak mekar. Berbeda dengan dress pertama yang mekar di bagian bawah, dress kedua kali ini membuat penggunanya akan memperlihatkan bentuk tubuhnya karena dress itu dibuat dengan ukuran pas badan.
Dress ketiga adalah dress warna emas yang mirip dengan dress kedua yang membuat penggunanya akan memperlihatkan bentuk tubuhnya kepada orang lain. Yang membedakan dress kedua dan ketiga adalah bagian kerah dan lengannya. Dress kedua memiliki kerah tertutup dan lengan panjang yang menutupi tubuh penggunanya, sementara dress ketiga memakai bagian kerah dan lengan dengan bahan menerawang yang memiliki tujuan ilusi kepada orang lain seolah pakaian itu terbuka di bagian leher dan lengannya,
Dress keempat adalah dress dengan warna biru laut yang memiliki panjang di bawah lutut di bagian depannya dan di bagian belakangnya mengekor. Jika tiga dress sebelumnya menunjukkan keanggunan untuk penggunanya, maka dress keempat ini akan membuat penggunanya menunjukkan sisi imutnya dan memberikan kesan menggemaskan. Lalu dress kelima dan sepertinya pilihanku akan jatuh pada dress kelima. Dress terakhir ini berwarna rosegold. Bentuknya sederhana, tidak terlalu pas badan dan tidak terlalu terbuka. Di mataku dress ini terlihat lebih cocok dengan karakterku, karena bentuknya sederhana tapi warna rosegold itu membuat dress itu tidak lagi terlihat sederhana.
“Yang kelima. Bisakah aku mencoba dress kelima dengan warna rosegold itu?” Aku menatap Ibu Arata dan manajer butik yang tersenyum mendengar pilihanku.
“Tentu, Nona.” Manajer butik mengambil dress itu dan menunjuk ke arah ruang ganti di mana aku bisa mencoba dress itu.
“Pilihan yang bagus, Asha. Ibu juga setuju dengan pilihanmu itu.”
Dengan bantuan beberapa karyawan wanita, aku mencoba dress itu dan menunjukkannya kepada Ibu Arata. Siapa yang akan menyangka, dress itu benar-benar pas di tubuhku dan sama sekali tidak ada kesalahan dalam ukurannya.
“Bagaimana menurut, Ibu?” tanyaku dengan sedikit ragu.
“Ya Tuhan! Asha kamu benar-benar cantik dengan dress itu. Tidak salah Arata suka mendesain pakaian untukmu, kamu benar-benar terlihat berbeda hanya dengan menggunakan dress itu, Asha!”
Setelah melihat wajah senang Ibu Arata, kukira aku sudah cukup memilih pakaian yang akan aku gunakan untuk undangan pemutaran perdana film Love Like Ectasy. Tapi ... kenyataan tidak sesuai dengan harapan di dalam benakku. Aku masih harus mencoba empat dress lainnya, karena Arata sudah membayar lima dress itu untukku dan setiap kali aku menunjukkan dress yang aku coba, Ibu Arata akan mengambil gambarku. Lalu gambar itu pasti akan dikirimkan kepada Arata sebagai bukti.
“Terima kasih telah berkunjung, Nyonya dan Nona.” Manajer butik memberikan salam perpisahannya kepadaku setelah aku dan Ibu Arata membawa lima set dress bersama dengan sepatunya masing-masing yang sudah dipesan oleh Arata dan dibayarnya.
Setelah membalas kalimat perpisahan itu, aku dan Ibu Arata masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk kembali. Tapi ... sebelum mobil yang kami tumpangi berjalan, aku mengajukan pertanyaan yang tadi membuatku sedikit penasaran.
“Apakah Ibu selalu membawa banyak pengawal ketika keluar dari kediaman seperti sekarang ini?”
__ADS_1
Ibu Arata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Biasanya Ibu hanya akan membawa satu orang pengawal saja. Tapi ... Arata dan Kendra mengkhawatirkan kamu karena pelaku pembakaran keluargamu yang masih belum ditemukan. Jadi dua anak Ibu itu secara khusus meminta banyak pengawalan ketika membawamu keluar dari rumah.”
Menatap banyaknya pengawal dan mobil pengiring yang mengikuti mobil kami dan memimpin membuka jalan, aku akhirnya tahu alasan Arata memintaku untuk terus tinggal di kediamannya dan tidak mengizinkanku kembali ke apartemenku. Lebih dari yang aku duga, Arata sangat mengkhawatirkan aku.
Drrrt ...
Baru saja hendak turun dari mobil, ponselku bergetar. Kukira panggilan masuk itu adalah panggilan dari Arata. Tapi melihat nomor asing muncul di layar ponselku, aku sadar perkiraanku itu salah.
“Halo ...” Aku menjawab panggilan itu sembari turun dari mobil keluarga Wiyarta.
“Apakah saya bicara dengan Nona Asha?” Dari speaker ponsel, aku mendengar suara yang cukup berat khas suara pria yang sudah lewat 40 tahunan.
“Itu benar. Kalau boleh saya tahu, saya sedang bicara dengan siapa saat ini?”
“Saya adalah detektif yang mengurus kasus kebakaran rumah keluarga Nona. Jika bisa ... saya ingin bertemu dengan Nona. Apakah bisa?”
“Tentu, Asha. Kau bisa keluar, tapi tolong bawa beberapa pengawal untuk menemanimu, Asha!”
Tadinya ... aku ingin menolak pengawal yang mungkin terlihat mencolok bagiku. Tapi melihat raut wajah Ibu Arata yang langsung berubah khawatir mendengar alasanku keluar, aku tidak punya pilihan lain selain menerima pemintaan itu.
“Baiklah, Bu. Aku akan pergi dengan pengawal-pengawal itu.”
“Satu lagi ... aku akan meminta Pak Raya untuk ikut denganmu, Asha.”
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku mendengar permintaan dari Ibu Arata. Mendapatkan izin, aku langsung membuak spekear ponsel yang menghubungkanku dengan seseorang yang memanggilku. “Kita bisa bertemu, Pak.”
Tidak lama kemudian mobil milik Wiyarta yang tadinya akan memasuki garasi, berputar kembali untuk membawaku pergi ke kantor polisi yang merupakan lokasi pertemuanku dengan detektif yang menghubungiku. Di belakangku ada satu mobil yang berisi empat pengawal sementara di mobilku ada dua pengawal yang salah satunya bertugas menjadi sopir.
__ADS_1
“Nona Asha.” Begitu tiba di depan kantor polisi, Pak Raya langsung menyapaku dan memberikan salamnya kepadaku.
Aku sedikit kikuk menerima salam itu mengingat aku bukan bagian dari Wiyarta dan belum terbiasa menerima perlakuan istimewa ini. Ditambah lagi ada enam pengawal yang mengawalku, membuatku merasa semakin kikuk saja dengan situasi ini.
“Nona Asha?” Seorang pria berumur mendekati lima puluhan dengan rambut yang mulai beruban, tapi tubuhnya masih tegap dan suaranya yang tegas, menyapaku.
“Ya, Pak. Saya Asha. Apakah Bapak??” Aku bertanya dengan sedikit ragu, mengingat saat terakhir kali datang kemari, aku tidak ingat bertemu dengan orang di hadapanku ini.
“Saya Laksmana, detektif yang menyelidiki kasus keluarga Nona.”
“Salam kenal, Pak.”
Pak Laksamana terdiam sejenak melihat enam pengawal yang mengiringi di belakangku serta pengacara yang berdiri di sisiku. Mata Pak Laksamana melihat satu persatu orang-orang yang mengikuti kedatanganku.
“Mohon maafkan saya jika saya lancang, Nona. Saya tahu seseorang di samping Nona adalah pengacara Nona. Tapi enam pria di belakang Nona, siapa?”
Aku terkekeh karena merasa sedikit tidak enak menjelaskan situasiku. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Enam pria yang mengikuti dengan setelan jas hitam, siapa yang tidak akan bertanya?
“Mereka ... pengawal yang ditugaskan oleh seseorang untuk menjagaku, Pak.”
Pak Laksamana melongo melihat enam pria pengawal yang berdiri di belakangku dan berjaga dengan wajah tegap. “Saya tidak tahu jika Nona adalah orang penting yang harus dikawal ke manapun Nona pergi.”
Aku terkekeh mendengar ucapan itu. “Saya bukan orang penting, Pak. Yang memiliki status penting adalah ... “
Kukira dengan menghentikan kalimatku itu, Pak Laksamana di depanku akan menyadarinya. Tapi ternyata tidak.
“Siapa yang memiliki status penting, Nona Asha?”
__ADS_1
Melihat Pak Laksamana, aku jadi tahu jika ada orang di negeri ini yang tidak mengikuti berita dan tidak tahu jika aku adalah kekasih Arata.