
Narator’s POV
Ting tong.
Laksamana bersama dengan asistennya mengunjungi beberapa alamat untuk meminta kesaksian sekaligus melihat langsung orang-orang yang dikenal oleh Asha. Karena Laksamana menduga penguntit dan pelaku yang membakar rumah keluarga Asha adalah salah satu kenalan Asha, Laksamana berusaha untuk menemui mereka satu persatu dan meminta pernyataan mereka sebagai konfirmasi.
Tapi beberapa rekan Asha sepertinya tidak bisa ditemui, karena acara pemutaran perdana film yang diperankan oleh Arata sekaligus diangkat dari novel yang ditulis oleh Asha. Itulah yang dikatakan oleh asisten Laksamana yang bernama Leo.
“Pemilihan waktunya sepertinya tidak tepat.” Laksamana mengeluh karena beberapa rekan Asha yang tidak bisa ditemui.
Ting tong.
Leo menekan bel lagi dan mendapati apartemen yang sekarang dikunjunginya untuk mendapatkan keterangan sepertinya kosong seperti beberapa rumah sebelumnya.
“Sepertinya kosong, Pak. Mungkin orang ini juga diundang ke acara itu.”
“Sial sekali!!” Laksmana mengeluh untuk kedua kalinya.
“Apa kalian ingin bertemu dengan pemilik apartemen ini??” Seorang wanita berusia sekitar lima puluhan lewat dan bertanya kepada Laksamana dan Leo yang sedang berdiri di depan pintu apartemen yang sepertinya tidak ada penghuninya.
“Ya, Nyonya. Kami ingin bertemu dengan pemilik apartemen ini,” ujar Leo.
“Ahh ... sepertinya keluhanku sudah ada yang mendengarnya.” Ibu di depan Laksamana dan Leo bicara dengan nada lega dan sedikit bersyukur.
Kelegaan yang ditunjukkan oleh Ibu itu membuat Laksamana sedikit penasaran karena intuisinya sebagai detektif mengatakan ada sesuatu yang lain. “Keluhan? Keluhan apa??”
Ibu itu mengerutkan dahinya menatap Laksamana dan Leo. “Bukankah kalian datang kemari karena keluhan yang aku ajukan berulang kali yang bahkan mungkin sudah puluhan kali?”
Laksamana dan Leo saling melihat satu sama lain dengan tatapan bingung, sebelum akhirnya menatap kembali ke arah Ibu itu. Leo kemudian menjelaskan kedatangannya kepada Ibu itu. “Kami datang kemari untuk meminta pernyataan dari pria yang tinggal di apartemen ini terkait kasus penguntit dan kasus kebakaran.”
__ADS_1
“Sudah kuduga .... pria yang tinggal di apartemen ini bukan pria baik-baik!!!” Ucapan Ibu itu membuat Laksamana dan Leo terkejut karena benar-benar tidak menduga sama sekali.
“Kenapa Nyonya berpikir begitu?” Kali ini Laksamana membuka mulutnya dan bertanya.
“Pria yang tinggal di apartemen ini aneh. Terkadang dia akan bersikap baik dan rama, tapi terkadang dia akan bersikap sangat dingin. Bahkan orang-orang tidak berani menyapa atau melihatnya ketika pria itu sedang dalam keadaan seperti itu. Beberapa hari yang lalu, sesuatu terjadi di dalam apartemen milik pria ini hingga asap mengepul keluar. Kami mengira ada kebakaran terjadi, tapi ... pria itu mengatakan tidak terjadi apapun. Hanya masakannya yang gosong-itu yang dia katakan. Tapi .... “
“Tapi apa?” Laksamana dan Leo bertanya di waktu bersamaan karena rasa penasaran mereka.
“Tapi aku melihat sesuatu yang aneh di dalam apartemennya.”
“Apa yang Nyonya lihat?” Laksamana rasanya ingin mengumpat kesal karena Ibu di depannya yang sedikit berbelit-belit menceritakan hal itu dan membuat Laksamana benar-benar menahan rasa penasarannya.
“Banyak jerigan yang berisi minyak di dalamnya. Mungkin sekitar lima atau lebih malah, aku tidak tahu berapa tepatnya. Lalu di sepanjang tembok di bagian dalam apartemen itu terlihat banyak foto satu wanita yang ditempel mirip dengan poster. Satu lagi yang membuatku merasa aneh adalah di bagian jendelanya terdapat teleskop yang mengarah ke luar jendela.”
“Nyonya yakin dengan itu?” Laksamana bertanya dengan penuh semangat.
“Jika tidak yakin kenapa aku membuat keluhan, Pak?” Ibu itu berbalik bertanya kepada Laksamana. “Aku tidak peduli soal foto-foto itu. Aku hanya takut jika jirigen yang banyak jumlahnya itu kemudian menyulut api dan membakar apartemen di sini. Jika hal itu terjadi, maka harga unit apartemen di sini akan turun.”
“Ini ... “ Laksamana terkejut mendapati kamera CCTV di area parkir bawah tanah yang memperlihatkan sasarannya sedang memindahkan beberapa jerigen minyak dari apartemennya ke dalam mobilnya di malam hari.
“Pak ... dugaan Bapak benar-benar tepat. Pelakunya adalah orang kenalan dari Nona Asha,” ujar Leo yang sama terkejutnya dengan Laksamana.
Begitu menemukan bukti, Laksamana dan Leo meminta penjaga apartemen untuk membuka apartemen dari sasarannya untuk dibuka dan betapa terkejutnya, Laksamana dan Leo ketika memasuki apartemen itu.
“Sama seperti ucapan Ibu tadi, apartemen ini penuh dengan foto-foto Nona Asha yang sepertinya diambil secara diam-diam.”
Ketika Leo memeriksa foto-foto Asha yang tertempel di dinding apartemen, Laksamana justru sibuk dengan teleskop di dekat jendela yang tirainya sedang tertutup. Laksamana membuka tirai itu dan menemukan sesuatu yang sudah diduganya.
Leo menyusul Laksamana dan melihat pemandangan di luar jendela itu. “Bukankah itu adalah bangunan apartemen di mana Nona Asha tinggal?”
__ADS_1
“Ya. Sepertinya pria ini sudah mengawasi Asha dalam waktu yang lama. Pria ini terobsesi pada Asha dan kini obsesinya sepertinya sudah pada titik yang berbahaya. Hubungi kantor dan minta bantuan pasukan untuk ke lokasi di mana pemutaran film itu diadakan. Lalu minta beberapa orang untuk kemari dan mengamankan bukti.”
“Baik, Pak.”
*
Berbeda dengan keluarga Wiyarta yang lain, aku pergi dengan menumpangi mobil mewah yang dikirimkan oleh agensi Arata bersama dengan Kak Rama. Di belakang mobil Arata, empat mobil dari keluarga mengikut: dua mobil yang membawa Ayah, Ibu Arata dan dua kakak Arata dan dua mobil lainnya adalah mobil yang berisi pengawal keluarga Wiyarta.
“Apa tidak terlalu berlebihan membawa banyak pengawal?” Aku bertanya pada Arata selama perjalanan menuju ke lokasi acara.
“Tenang saja, Author. Aku sudah mengabari pihak acara. Lagi pula mereka akan paham jika banyak pengawal yang akan mengawal keluarga Wiyarta karena keluargaku adalah satu dari beberapa keluarga yang memiliki peran penting dalam negara ini secara tidak langsung.” Arata menjelaskan seolah dia sudah tidak lagi terganggu dengan keluarganya dan statusnya. Padahal belum lama ini, Arata selalu menyembunyikan identitas keluarganya dan enggan membahas seputar keluarganya. Apalagi menyebut nama keluarganya dengan sebutan keluargaku.
“Baiklah ... aku mengerti.”
“Ah satu lagi ...” Arata menggenggam tanganku memastikan jika aku tidak sedang gugup karena kali ini ... aku akan muncul sebagai penulis dari novel Love Like Ectasy yang diadaptasi dan diperankan oleh Arata sekaligus kekasih Arata di depan umum.
“Aku baik-baik saja, jika kamu ingin memastikan keadaanku.” Aku menjawab lebih dulu ucapan Arata.
“Syukurlah.”
Begitu tiba di lokasi pemutaran perdana film Love Like Ectasy, sorot lampu yang mengarah ke arah mobil Arata sudah membuat pandanganku silau. Ratusan reporter datang dan siap mengambil potret Arata-bintang utama hari ini. Klik ... klik ... klik. Bunyi tombol kamera yang ditekan menambah perasaan gugup yang sejak tadi berusaha aku tahan, kini kembali berusaha untuk menguasai tubuhku.
Huft. Aku menghela nafasku panjang untuk membantu tubuhku merasa rileks dan menyingkirkan rasa gugup meski tidak sepenuhnya.
“Author ...” Arata mengulurkan tangannya sebelum pintu dibuka oleh petugas yang membuka pintu untuk para tamu.
Aku memberikan telapak tanganku pada Arata dan Arata langsung menggenggamnya dengan erat.
“Author baik-baik saja?” Arata bertanya padaku dengan senyuman di bibirnya yang seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja selama aku berada di sisinya.
__ADS_1
Aku menganggukkan kepalaku. “Y-ya, aku baik-baik saja.”
Pintu mobil dibuka. Arata turun lebih dulu diikuti olehku. Setelah turun, Arata membuat tanganku yang digenggamnya untuk memegang lengannya. Karpet merah, ratusan kamera, ratusan reporter, dan sorot lampu yang kini mengarah pada aku dan Arata, membuatku merasa hari ini aku adalah bagian dari tokoh utama dalam acara ini karena aku berjalan di sisi Arata.