
Aku membuka mataku dan langsung mencium aroma disinfektan yang sangat menyengat indra penciumanku. Kedua mataku menangkap gambar langit-langit di ruanganku berada, hanya saja langit-langit ini berbeda dengan langit-langit yang aku kenali sebagai langit-langit apartemenku. Dalam beberapa riset yang aku lakukan untuk membuat novel, keadaan ini sering muncul sebagai gambaran ketika pemeran utama bangun di rumah sakit setelah tidak sadarkan diri.
Aku berusaha menggerakkan lenganku dan tanganku, tapi tanganku kananku merasakan genggaman yang hangat di sana bersamaan dengan kehangatan yang mengalir di dalamnya. Aku menolehkan kepalaku ke samping kanan dan mendapati seseorang sedang tertidur dalam keadaan duduk dengan kepalanya yang miring menghadap ke arahku. Dia, Arata. Kenapa dia tidur di sini?
Dalam sekejap ingatan terakhirku yang menjadi alasan bagiku berada di ruangan asing ini, muncul dan memutarnya dengan kecepatan lima kali lipat. Pertemuanku dengan Lisa, percakapanku dengan Lisa tentang masa lalu, kedatangan Bora yang menambah tekanan yang aku rasakan dan terakhir, Arata yang berusaha menyelamatkanku sebelum aku kehilangan kesadaran diriku. Bagaimana dengan syutingnya? Apakah dia ada di sini karena aku dan meninggalkan syutingnya?
Aku ingat bagaimana terakhir kali Arata bersikeras untuk pergi mengantarku ke rumah sakit dan bersikeras meninggalkan syutingnya hanya demi mengantarku ke rumah sakit. Tiba-tiba pikiranku itu membuatku ingin tertawa sendiri. Apa yang kau pikirkan, Asha??? Kau hanya kenalan, hanya idola, hanya rekan kerja dan tetangga dari Arata? Sudah sewajarnya. . . Arata khawatir denganmu karena kau punya empat posisi dalam kehidupannya saat ini.
Aku menatap ke arah Arata yang masih tertidur selama beberapa menit hingga mulut Arata itu berbicara meski kedua matanya tertutup.
“Apa aku tampan, Author??”
Aku tersentak dan langsung menarik tanganku yang berada dalam genggamannya, tapi sama seperti sebelum-sebelumnya aku selalu gagal melepaskan genggaman tangannya yang kuat di tanganku. Genggaman itu sangat-sangat kuat hingga terkadang aku merasa dia tidak ingin aku menghilang dari hadapannya.
“Kapan kau bangun??” Aku berbalik bertanya kepada Arata.
“Aku bertanya lebih dulu pada Author. Apa aku tampan, Author??” Arata membenarkan posisinya yang tertidur dengan kepala di samping tanganku. Sekarang tubuhnya itu bersandar pada kursinya dan beberapa kali menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku karena tertidur dalam posisi duduk.
“Tentu saja kau tampan. Jika kau tidak tampan, kau tidak akan jadi artis, tidak akan jadi aktor dan tidak akan digilai oleh banyak gadis dan wanita.”
Sembari membenarkan lehernya yang masih kaku, Arata membuat senyuman kecil di sudut bibirnya seolah merasakan kebanggaan kecil dalam dirinya. “Lalu dibandingkan dengan aktor-aktor tampan lain seperti Winner, Gil dan Rangga, siapa yang lebih tampan, Author?”
__ADS_1
Alisku mengerut mendengar pertanyaannya. Aku berusaha melepaskan tanganku darinya karena ingin mengubah posisi tidurku ke posisi duduk bersandar di tempat tidur. “Arata, tanganmu. Aku ingin bangun dan duduk.”
Mendengar ucapanku, Arata langsung melepaskan genggaman tangannya di atas tanganku dan kemudian membantuku bangun dan bersandar di tempat tidur. Setelah melakukan itu Arata segera mengambilkan dua gelas air putih dan meletakkannya di meja samping tempat tidurku.
“Author belum menjawabku. Siapa yang paling tampan?”
Aku mengambil gelas yang diisi oleh air putih oleh Arata dan meminumnya. Glek. . . glek. . . glek. . . setelah beberapa tegukan, aku melihat Arata. “Apa kau anak kecil? Kenapa kau membandingkan wajahmu dengan wajah orang lain? Apa kau akan mengubah wajahmu itu ketika aku mengatakan orang lain lebih tampan darimu?”
“Jika orang lain yang mengatakannya, aku tidak akan mengubah wajahku. Tapi. . . jika Author mengatakan bahwa orang lain lebih tampan dariku, mungkin aku akan sedih dan memikirkan ide untuk mengubah wajahku ini.” Arata berbicara dengan nada santainya seolah mengubah wajah itu adalah hal yang mudah dilakukan.
“Bukankah itu artinya kau memaksaku untuk mengatakan kau lebih tampan dari pria-pria dan aktor lain??” Arata melihatku dengan senyuman di bibirnya dan kali ini senyuman itu mengatakan jika apa yang aku tanyakan itu adalah benar.
“Terserah mau bagaimana Author memahaminya, tapi kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Apakah aku lebih tampan dari mereka?”
Arata tersenyum dengan lebar menggambarkan kemenangannya pagi ini. “Aku sangat senang sekali, Author. Idolaku tercinta mengatakan aku paling tampan.”
Aku menarik nafasku dalam-dalam mendengar kata tercinta ditambahkan dalam kalimat Arata. “Berhenti mengatakan kata tercinta itu, Arata! Entah kenapa aku. . . merasa risi mendengarnya!!”
“Memangnya kenapa, Author?? Bukankah bagus?”
Aku menggelengkan kepalaku tidak setuju. “Itu tidak bagus. Aneh ketika aku mendengarnya dari mulutmu, Arata,”
__ADS_1
Bruak. . . pintu ruangan di mana aku dirawat tiba-tiba terbuka dan membuat pintu itu nyaris menabrak dinding di belakangnya ketika dibuka. Dari pintu itu muncul Kak Rama yang biasanya terlihat penuh dengan ketenangan dan kini terlihat penuh kecemasan dan kekhawatiran.
“Apa yang terjadi, Kak?” tanya Arata yang sama terkejut denganku. “Tidak biasanya Kakak seperti ini??”
“Cepat!!! Kita harus membawa Nona Asha pergi dari sini, Arata!! Aku mendapat kabar dari teman reporterku yang mengatakan para reporter sedang dalam perjalanan kemari!”
“Reporter? Kemari untuk apa?” tanyaku bingung.
“Nanti aku akan jelaskan, sekarang kita bersiap-siap untuk pergi lebih dulu, Nona Asha!”
Setelah percakapan singkat itu, Nara-tata rias Arata datang ke ruanganku dengan membawa dokter dan perawat untuk memeriksa keadaanku sebelum keluar dari rumah sakit dan melepas jarum infus yang menancap di pergelangan tanganku. Setelah pemeriksaan berakhir, Kak Rama yang sepertinya sudah merencanakan hal ini dalam waktu singkat itu memintaku untuk mengenakan pakaian milik Nara dan membuat nara sebagai umpan untuk menggantikanku. Nara akan keluar dengan Kak Rama lewat pintu depan sementara aku dan Arata yang mengenakan penyamaran sekedarnya keluar lewat pintu belakang rumah sakit di mana taksi yang dipesan oleh Kak Rama sudah menunggu kedatangan kami.
Dari balik kaca jendela taksi, aku melihat begitu banyak reporter yang berkumpul mengelilingi Kak Rama yang sedang membawa Nara yang mengenakan pakaian milikku menuju ke mobil di mana biasa Arata naiki.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada Arata.
Arata kemudian menunjukkan ponselnya di mana sebuah link muncul dari pesan yang dikirimkan oleh Kak Rama. Link itu menghubungkanku dengan sebuah artikel yang dirilis pagi ini oleh media tertentu. Dalam artikel itu dijelaskan jika aku-Author Wallflower dulunya terlibat kasus perundungan sekolah di mana aku adalah pelakunya dan bukan korbannya.
Tanganku bergetar dengan hebat membaca artikel itu. Tubuhku yang masih belum dalam keadaan baik-baik saja kini merasa sudah kehilangan semua tenaganya lagi dan kakiku rasanya mengatakan padaku untuk lari.
Artikel ini. . . mengatakan jika aku adalah pelaku ketika yang sebenarnya terjadi aku adalah korbannya. Seperti dalam banyak drama kehidupan yang sudah sering terjadi, korban dan pelaku sering kali tertukar. Pelaku berteriak bahwa dia adalah korban, maling berteriak maling kepada orang lain dan koruptor menghukum koruptor yang lain.
__ADS_1
Ya. . . dalam banyak drama kehidupan yang sudah sering terjadi, hal ini sudah sering terjadi dan yang menyebalkan. . . banyak orang percaya begitu saja ucapan satu orang itu dan ikut mengubah korban menjadi pelaku hanya karena ucapan satu pihak saja.