
Arata memanggul tubuhku hingga ke dalam mobil miliknya dan kemudian membawaku kembali ke apartemen milikku. Begitu tiba di apartemenku, Arata memberi peringatan kepadaku.
“Author, tolong lain kali jangan pergi dengan orang asing lagi!”
Mendengar peringatan itu terasa seperti aku adalah anak kecil yang akan mudah pergi dengan siapapun tanpa kewaspadaan sedikit pun. “Aku tidak pergi dengan orang asing, Arata. Aku pergi dengan kakak keduamu. Kamu tidak bisa menyebut kakak yang kamu kenal dengan sebutan orang asing.”
“Maha memang bukan orang asing bagiku, tapi bagi Author ... Maha adalah orang asing.” Arata membalas ucapanku dengan telak.
“Huft.” Aku mengembuskan nafasku menyerah dengan pukulan telak itu. “Baiklah lain kali ... aku tidak akan melakukannya lagi, Arata. Tapi ... bagaimana kamu tahu jika tadi aku pergi bersama dengan Kakakmu?”
“Soal itu ... “Arata langsung mengalihkan wajahku dariku. Dia tidak berani menatap mataku secara langsung seperti yang selama ini selalu dilakukannya. “Aku tidak bisa mengatakannya kepada Author. Pokoknya lain kali baik itu orang yang mengaku keluargaku atau pun orang asing lain yang mengaku sebagai apapun, jangan pergi dengan sembarang orang, Author! Posisimu saat ini mungkin berada dalam bahaya karena beberapa penggemarku yang mungkin tidak setuju dengan hubungan ini.”
Aku menghela nafasku lagi mendengar ucapan Arata. Tapi memang itulah yang terjadi. Komentar-komentar buruk di internet mengenai hubunganku dengan Arata, selalu ada meski jumlahnya selalu kalah dengan komentar-komentar mereka yang setuju dengan hubungan ini. Selain itu ... aku masih menerima amplop hitam yang berisi surat ancaman yang mengatakan bahwa aku tidak pantas bersanding di samping Arata. Sejak hubunganku dengan Arata diumumkan ke publik, amplop hitam itu semakin sering datang. Aku hanya bisa membuat dalih dengan mengatakan jika amplop itu berasal dari penggemarku di depan Arata dan di depan semua orang yang melihat keberadaan amplop hitam itu.
Aku tidak bisa membayangkan jika Arata tahu bahwa amplop hitam itu adalah surat kaleng dan ancaman kecil mengenai hubunganku dengannya. Aku melirik ke arah Arata sembari bicara di dalam benakku. Ya, akan lebih baik Arata tidak tahu menahu mengenai amplop hitam itu. Selama pengirim amplop hitam itu hanya mengirimkan amplop hitam itu dan tidak berbuat hal-hal buruk lain, aku akan menganggapnya sebagai surat kaleng biasa. Aku tidak bisa membayangkan jika Arata mengetahuinya. Dia mungkin akan memasang rantai panjang di tanganku dan menghubungkannya dengan tangannya, yang membuat kami berdua tidak akan terpisah.
Aku menggelengkan kepalaku, mengusir bayangan aneh di dalam benakku itu. Tapi ... sekali lagi, bayangan lain muncul karena pikiranku itu. Jika bukan itu, Arata mungkin akan mengunciku di apartemen miliknya yang dipasangi kamera di setiap ruangannya untuk memantau keberadaanku. Jika perlu ... mungkin Arata akan menyewa pengawal pribadi untuk terus menemaniku ke manapun aku pergi.
“Author??”
__ADS_1
Mendengar panggilan itu, aku menggelengkan kepalaku lagi untuk mengusir bayangan aneh di dalam benakku. Aku menatap ke arah Arata dan langsung bertanya, “Ya? Kenapa kau memanggilku?”
“Ingat pesanku itu tadi, Author! Jangan pergi dengan sembarang orang terutama orang asing, mengerti??”
Karena tidak ingin berdebat dengan Arata, aku menganggukkan kepalaku setuju dengan pesan Arata atau yang lebih tepat jika disebut dengan perintah dari pada pesan. Arata tersenyum setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya dariku dan kemudian segera pergi bersama dengan Kak Rama untuk menyelesaikan jadwal pekerjaannya yang lain yang sedang menunggu dirinya.
Seperti pesan Arata padaku, dua hari berikutnya aku terus berada di apartemenku. Aku yang memang jarang keluar dari apartemen menghabiskan sebagian waktu-waktuku di apartemen dengan pekerjaanku sebagai penulis novel. Selama dua hari ini ... Arata hanya datang selama beberapa menit ke apartemenku hanya untuk mengisi daya di tubuhnya dengan melihat wajahku dan kalau beruntung melihat senyuman di wajahku. Setelah itu menghampiriku sejenak, Arata akan pergi selama seharian bahkan pulang hingga larut karena pekerjaannya yang sedang padat. Film yang diperankannya-Love Like Ectasy yang berasal dari novel keduaku semakin dekat dengan waktu tayanngnya. Film yang tadinya kukira akan gagal tayang itu justru begitu dinanti-nantikan karena kontroversi yang sempat terjadi di antara pemainnya yang juga melibatkan diriku.
Berkat itu ... Arata harus sedikit bekerja lebih keras untuk mengiklankan film itu karena Arata tidak ingin membuat film pertama yang diangkat dari novelku meraih kegagalan dalam menarik penonton nantinya.
Ting tong.
Setelah dua hari lamanya aku tidak menerima kunjungan, kali ini ... aku menerima kunjungan lagi. Kukira tadinya Warda yang datang berkunjung karena dia mengatakan akan datang berkunjung ke apartemenku dalam beberapa hari karena ibunya telah mengirim makanan lagi.
Ting tong.
“Siapa di sana?” tanyaku memastikan.
Pria itu mengambil coklat batangan dari dalam jas hitamnya dan kemudian memakannya hingga membuatku mendengar suara patahan dari coklat batangan yang digigitnya itu. Klek.
__ADS_1
“Aku Kendra Wiyarta. Bisakah aku menemui Nona Asha?”
Mendengar nama Wiyarta dan juga melihat coklat batang yang dimakan pria itu melalui lubang di pintu, dalam sekejap aku mengingat cerita dari Arata mengenai keluarganya.
“ ... Lalu kakak pertamaku sangat suka dengan coklat. Kakak pertamaku selalu membawa-bawa coklat di dalam tasnya maupun jas kerjanya sebagai dokter .... ”
“Mungkinkah Tuan ini adalah Kakak pertama dari Arata?” Aku dengan ragu mengajukan pertanyaan itu. Melihat bagaimana rupa wajahnya dan kebiasaannya, aku menduga orang di depan pintu apartemenku adalah kakak pertama Arata.
“Itu benar, Nona Asha. Saya adalah Kakak pertama Arata, Kendra Wiyarta.”
Merasa tidak enak dengan tamu yang mendatangiku, aku yang tidak punya pilihan lain selain membukakan pintu apartemenku, akhirnya berakhir dengan mengikuti kakak pertama Arata seperti kejadian sebelumnya di mana kakak kedua Arata-Maha mendatangi apartemenku. Kali ini sepertinya keluarga Wiyarta belajar dari kesalahan sebelumnya, karena Kendra membawaku ke tempat yang lebih jauh bukan cafe di dekat apartemenku. Kendra membawaku ke tempat yang lebih jauh dan lebih privat: sebuah resto di pinggiran kota yang memiliki suasana tenang dan sepertinya tidak akan mudah dimasuki oleh orang banyak terutama orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah sepertiku.
“Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku terpaksa membawa Nona ke tempat yang lebih jauh dan lebih privat karena tidak ingin perbincangan ini diganggu lagi oleh Arata-adikku.”
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sembari terus mengikuti Kendra dan pelayan yang membawa kami berjalan menuju ruangan yang dipesan oleh Kendra.
“Silakan, Tuan.”
Pelayan itu membuka pintunya dan kemudian membuatku melihat jika ada orang lain yang sudah duduk menunggu di sana. Satu orang dari tiga orang itu adalah Maha-kakak kedua Arata yang beberapa hari menemuiku. Lalu dua orang lainnya adalah pria dan wanita yang kurasa usianya sudah lebih dari enam puluh tahunan karena kulit mereka yang mulai terlihat keriput dan rambut mereka yang banyak memutih.
__ADS_1
Kendra masuk lebih dulu dariku dan kemudian menyapa dua orang asing yang tidak aku ketahui itu. “Ayah, Ibu, aku sudah membawa kekasih dari Arata kemari.”
Menatap wajah kedua orang tua Arata, aku hanya membeku sembari berteriak di dalam benakku. Siapapun tolong selamatkan aku dari situasi ini!!!!