MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
WAKTU DAN TAKDIR YANG MENGIKAT PART 3


__ADS_3

            Narator’s POV


            Sosok dengan pakaian serba hitam tiba di depan sebuah rumah. Kali ini sosok itu membuka masker yang menutupi wajahnya dan memandang ke arah sebuah rumah dengan senyuman di wajah.


            “Karena peringatan yang aku berikan tidak kau gubris dan sama sekali tidak membuatmu menjauh dari Arata, maka untuk membuatmu menjauh dari Arata, aku harus memberikan peringatan yang lebih keras dari sebelumnya.”


            Sosok itu berjalan mendekati sebuah rumah dan melihat melalui sela-sela pagar. Dari tempatnya mengintip, sosok itu melihat keluarga di dalam rumah itu sedang merayakan sesuatu dengan kue tar dan banyak makanan yang terlihat lezat di atas meja.


            “Ayah, Ibu dan dua anak.” Sosok menghitung orang yang sedang duduk di meja makan dan merayakan perayaan yang entah apa itu. “Jumlahnya lengkap. Pas sekali waktuku memutuskan datang kemari.”


            Sosok itu mengeluarkan korek api dari dalam saku jaketnya dan memandang korek itu dengan senyum kemenangan. Sosok itu menyalakan api dari korek api itu dan kemudian tersenyum melihat api yang menyala. “Harusnya ... dengan kematian mereka berempat, kau tidak terlalu merasa kehilangan Author Wallflower.”


*


            Ting tong ...


            Bel apartemenku berbunyi. Aku yang hendak akan memakan sarapanku mengurungkan tanganku yang sudah memegang sendok yang penuh dengan satu suapan besar salad. Aku bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju ke pintu apartemenku.


            “Siapa??”  Aku berteriak bertanya kepada tamuku pagi ini sebelum membuka pintu.


            “Ini aku, Warda. Cepat buka pintunya, Asha!”


            Mengenali suara itu ... aku langsung membuka pintu apartemenku dan mempersilakan Warda masuk ke dalam apartemenku.


            “Pagi, Asha.” Warda langsung bergegas masuk ke dalam apartemenku setelah menyapa dengan kedua tangannya yang penuh dengan barang bawaan.


            “Ini??” Aku menatap bingung empat tas yang dibawa oleh Warda. “Apa yang kau bawa hingga sebanyak ini??”


            Warda meletakkan empat tas yang dibawanya di atas meja dapur dan mengeluarkan kotak-kotak di dalam satu persatu. Bukannya menjawab pertanyaanku, Warda justru mengabaikanku dan memberitahuku jika sebentar lagi Sena akan tiba. “Ah, Asha!! Sena sebentar lagi akan tiba. Dia mengambil beberapa kotak buah yang di bagasi mobil.”

__ADS_1


            “Aku mengerti. Aku akan langsung membukakan pintu untuknya nanti.” Aku berjalan mendekat ke arah Warda yang masih sibuk mengeluarkan satu persatu kotak-kotak yang dibawanya dan mengintip apa isi di dalamnya. “Udang, kepiting, daging sapi, daging ayam dan berbagai jenis sayuran. Kau habis dari mana mendapatkan bahan makanan sebanyak ini??”


            Warda mengeluarkan semua kotak kosong di dalam kulkasku dan terkejut mendapati kulkasku yang biasanya masih memiliki banyak makanan di dalamnya kini nyaris terlihat kosong. “Tumben sekali kau nyaris menghabiskan makanan yang aku bawakan, Asha? Apa aku terlalu lama tidak mengunjungimu hingga kau menghabiskan semuanya??”


            Aku memiringkan kepalaku salah tingkah. Makanan itu habis karena Arata yang banyak memakannya. Sejak menjadi kekasih Arata, dia sering makan dan memasak di sini. Tidak mungkin aku mengatakan hal itu Warda. Akhirnya aku hanya tersenyum membalas pertanyaan Warda dan tidak mengatakan apapun karena merasa hal itu tidak seharusnya aku katakan pada Warda. Aku takut dia akan marah padaku karena memberikan makanan yang dibawanya untukku kepada Arata.


            Ting tong.


            “Ah itu pasti Sena, Asha!!! Cepat bukankan pintu untuknya!!” Di saat Warda masih sibuk mengeluarkan kotak-kotak di dalam kulkasku dan menukarnya dengan kotak-kotak yang dibawanya, Warda berteriak padaku karena mendengar bel berbunyi.


            Aku yang mendengar bel dan teriakan Warda padaku, bergegas berlari ke arah pintu dan membuka pintu apartemen itu. “Pagi, Se-“


            Ucapanku langsung terhenti ketika aku melihat sosok yang berdiri di depanku bukanlah Sena seperti yang aku dan Warda perkirakan.


            “Siapa yang kau sapa pagi-pagi begini, Author???” Arata langsung mengomel padaku ketika mendengar mulutku yang nyaris menyebut nama orang lain di saat dialah orang yang berdiri di depan apartemenku. 


            Buk. Warda menjatuhkan kotak yang sedang dibawanya begitu menyadari siapa yang berdiri di depan pintu apartemenku.


            “Pagi, Nona Warda.” Arata langsung menyapa balik Warda. Setelah menyapa Warda, Arata langsung melihatku dengan tatapan menuntut. “Siapa yang tadi Author ingin sebut namanya??”


            Aku melirik ke arah belakang Arata dan mendapati Sena sedang berjalan dengan membawa dua kotak dengan kedua tangannya.  Dua kotak itu nyaris menutupi wajah Sena dan membuatnya sulit melihat ketika sedang berjalan. Aku mengangkat tanganku dan langsung menunjuk ke arah Sena datang. “Aku hendak menyapa Sena karena Warda mengatakan Sena masih harus mengambil kotak buah di bagasi.”


            Karena tanganku yang menunjuk ke arah datangnya Sena, semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Sena dan membuat Sena yang menyadari tatapan dari kami semua merasa bingung hingga langsung menghentikan langkahnya. “Kenapa kalian semua ada menatapku seperti itu? Apa aku berbuat sesuatu yang salah?”


            Setelah itu kami semua masuk ke dalam apartemenku dan Warda sibuk melihat idolanya-Arata hingga puas. Warda bahkan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Arata dan membuatku merasa sedikit malu.


            “Sebagai kekasih Asha-temanku, apa Tuan Arata sering kemari??” Warda mengajukan pertanyaan layaknya wawancara eksklusif yang sering dilihatnya di TV.


            “Tentu saja, Asha adalah kekasihku sekarang. Tentu aku harus sering mengunjunginya. Aku takut jika aku tidak mengunjunginya, dia akan menghilang dari pandanganku dan hidupku.”

__ADS_1


            Warda tersenyum mengerlingkan satu matanya ke arahku dengan maksud menggodaku. Melihat tindakan Warda itu, aku hanya bisa mengumpat di dalam benakku karena malu. Sial kau, Warda!!


            “Lalu ... sebagai kekasih, apa saja yang sudah kalian lakukan bersama? Ke mana saja kalian jika ingin berkencan??”


            Aku membelalakkan kedua mataku menatap Warda, berusaha untuk menghentikan wawancara eksklusif ini. Tapi Warda yang melihat reaksiku justru merasa semakin senang saja.


            “Karena aku masih sibuk dengan promosi filmku yang akan ditayangkan akhir pekan ini, jadi aku dan Author hanya berkencan di ruangan ini saja. Kami makan bersama, nonton film bersama dan terkadang memasak bersama. Kadang kami hanya duduk di balkon sembari meminum kopi dan coklat panas. Ah kebetulan sekali ... “Arata mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya dan memberikan beberapa lembar tiket. “Ini ada sepuluh tiket VIP untuk pemutaran film perdana yang diangkat dari novel Author. Jika tidak keberatan, aku ingin mengundang Nona Warda bersama dengan suami dan anaknya, lalu Sena dan seseorang yang ingin kau ajak untuk menonton bersama. Bagaimana?”


            Warda mengerlingkan matanya lagi padaku. Lalu mengambil dua tiket untuk dirinya dan suaminya. “Terima kasih banyak, Tuan Arata. Aku akan menerima tiket ini dan undangan ini sebagai bayaran untuk bahan makanan yang kalian makan bersama.”


            Aku menatap tajam ke arah Warda karena sindiran yang ditujukannya kepadaku lengkap dengan senyuman di bibirnya yang sedang menggodaku. “Warda!!”


            Arata memandang Warda dengan tatapan bingung karena tidak paham dengan ucapan Warda itu. Lalu Sena hanya mengambil satu tiket dan membuat semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.


            “Kenapa hanya satu, Sena?” Warda bertanya lebih cepat dariku.


            “Tidak ada orang yang bisa aku ajak untuk menontonnya. Lebih baik jika diberikan kepada orang lain daripada terbuang sia-sia jika aku mengambilnya.”


            “Kau tidak punya pacar?” Warda bertanya lagi, kali ini dengan wajah yang lebih terkejut. “Dengan wajah tampan seperti ini??”


            “Sayangnya begitu, Kak.” Sena menjawab dengan wajah sedikit malu-malu.


            “Apa mata semua gadis jomblo sedang bermasalah?? Bagaimana mereka melewatkan pria dengan wajah tampan sepertimu, Sena??” Sekali lagi, Warda membuka mulutnya memberi komentar membela Sena.


            Drrrttt. Ponselku bergetar dan aku bergegas mengambil ponselku yang berada di meja samping tempat tidurku.


            “Siapa yang menghubungimu, Asha?” Warda bertanya lagi dan kali ini sepertinya Arata juga ingin menanyakan kalimat yang sama.


            “Tidak tahu.” Aku menggelengkan kepalaku karena melihat nomor asing yang memanggil.

__ADS_1


            Aku mengangkat panggilan itu dan tiba-tiba mendengar sebuah berita yang tidak pernah aku duga.


__ADS_2