MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
#KEKASIHRAHASIAARATA PART 4


__ADS_3

            “Author!!”


Seminggu berlalu. Dan selama empat hari itu pula, Arata dan aku sedikit menjaga jarak. Alasan pertama adalah demi menjaga kelangsungan film ini. Menurut Kak Rama, film  Love Like Ectasy akan kehilangan waktu terbaik untuk promosinya jika Arata yang dipasangkan dengan Bora justru terlibat skandal dengan penulis skenarionya. Alasan kedua adalah demi menjaga namaku dan nama Arata sendiri. Menurut Kak Rama, karena aku adalah author yang selama ini menyembunyikan identitasnya dan baru saja menampilkan diri di depan umum, terkena skandal akan membuat buruk namaku. Dan untuk Arata sendiri, popularitasnya yang berusaha keras diraihnya adalah sesuatu yang berharga.


Selama seminggu ini juga, Arata akhirnya mau mengalah dan membiarkanku membawa mobilku sendiri ke lokasi syuting. Arata juga akhirnya mengurangi intensitasnya mengganggu ketenanganku di lokasi syuting dan membiarkanku duduk dengan tenang ketika dia istirahat.


Melihat Arata begitu penurut, aku sedikit menaruh rasa penasaran kepada Kak Rama. Aku penasaran bagaimana cara Kak Rama membujuk Arata, si benalu menyebalkan yang selalu seenaknya sendiri. Aku juga penasaran kalimat apa yang dikatakan oleh Kak Rama kepada Arata, hingga benalu menyebalkan itu berubah menjadi benalu yang penurut dan tidak banyak berulah.


Yah. . . seminggu itu adalah seminggu yang menyenangkan karena aku benar-benar merasa tenang tanpa Arata. Dan satu lagi  yang membuatku merasa sedikit senang. Begitu Arata menjaga jaraknya dariku, tatapan tajam Bora yang selalu mengarah padaku mulai sedikit berkurang. Dengan begitu aku yakin sekali. . . Bora hanya peduli dengan Arata. Dia menatap tajam ke arahku karena Arata dan begitu Arata menjauh dariku, Bora mulai mengabaikanku.


            “Bora itu adalah penggemar Arata.  Dia dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia adalah penggemar Arata dan ingin bisa bermain film bersama dengan Arata. Dia juga mengatakan tipe pria idamannya adalah Arata.”


            Itulah kalimat yang kudengar dari Warda ketika aku menanyakan pendapatnya tentang Bora. Karena merasa sedikit penasaran, aku pernah menanyakan hal ini kepada Warda.


            “Lalu bagaimana dengan penggemar Arata? Apa mereka mendukung Arata dengan Bora?”


            “Pro dan kontra. Sebagian penggemar Arata menilai Bora adalah wanita yang menyebalkan. Mereka menilai Bora tertarik pada Arata karena popularitasnya saja. Lalu sebagian kecil dari penggemar Arata menilai Bora adalah wanita yang cocok dengan Arata. Mereka menilai Arata serasi sekali jika bersanding dengan Bora. Sisanya mereka hanya diam menonton dan lebih mendukung keputusan Arata sendiri.”


            Seminggu yang tenang itu kukira akan berlangsung hingga aku menyelesaikan tugasku sebagai penulis skenario hingga penulis utamanya mampu datang kemari. Tapi. . . seminggu yang tenang itu kurasa tidak akan bertahan lama karena begitu tiba di lokasi syuting, Arata langsung mencegatku dengan teriakan kencangnya.


            “Kenapa kau di sini, Arata?”


            “Ada yang ingin aku katakan kepada Author.”


            “Apa yang ingin kamu katakan hingga harus menungguku di sini?? Kau sudah lupa kita harus menjaga jarak.”

__ADS_1


            “Aku tahu itu, Author. Tapi ini adalah sesuatu yang penting, jika ini tidak dilakukan setelah ini aku tidak akan bisa syuting karena tidak bisa fokus.”


            Aku melihat ke arah Arata dan melihat tatapan matanya yang kali ini benar-benar serius dan tidak sedang berusaha untuk menggoda apalagi mempermainkanku. Melihat keseriusan di mata Arata, akhirnya aku mengalah dan berniat untuk mendengarkan ucapannya.


            “Baiklah, apa itu? Katakan sekarang.”


            “Maaf Author, aku tidak bisa mengatakannya dengan gamblang. . .” Arata membuat isyarat padaku untuk mendekat padanya karena dia ingin membisikkan sesuatu padaku.


            Aku menuruti keinginan Arata dan meminjamkan telingaku untuk mendekat padanya.


            “Bisakah Author tidak melihatku syuting hari ini? Aku tidak bisa fokus syuting jika Author ada di sana melihatku.”


            Keningku mengerut karena tidak mengerti. Ini bukan pertama kalinya Arata melakukan proses syuting dan ini bukan pertama kalinya aku melihat dia melakukan syuting. Aku ingat dengan baik, Arata tetap tenang dan bahkan sangat lancar memerankan perannya ketika aku melihat syutingnya pertama kali. Pertanyaan muncul dalam benakku, kenapa tiba-tiba dia tidak ingin aku melihat proses syutingnya hari ini?


            Aku menarik wajahku menjauh dari Arata dan menatap wajah Arata yang sedang menatap serius ke arahku. Sekali lagi. . . aku mendapati jika Arata memang sedang serius dengan ucapannya. Huft. Aku menghela napas panjang sebelum aku menjawab permintaan Arata itu.


            Arata memberiku isyarat seperti sebelumnya dan memintaku untuk meminjamkan telinganya padaku lagi. “Mendekatlah, Author.”


            Aku melakukan apa yang Arata minta dan mendekatkan telingaku untuk menerima bisikan dari Arata. “Kau ini. . . kenapa merepotkan sekali?”


            “Haha.” Aku mendengar suara tawa kecil Arata sebelum akhirnya dia membisikkan alasannya memintaku untuk tidak melihat syutingnya kali ini.  “Aku tidak bisa fokus melakukan adegan ciuman jika Author ada di sana.”


            “Apa kau mengusir semua kru wanita ketika melakukan adegan ciuman?” balasku dengan polos.


            “Tidak.”

__ADS_1


            “Lalu kenapa hanya aku yang tidak boleh berada di lokasi syuting ketika kau melakukan adegan ciuman?” tanyaku masih tidak mengerti.


 Kudengar beberapa aktor dan aktris memiliki permintaan tertentu untuk melakukan beberapa adegan penting seperti adegan ciuman dan adegan ranjang. Beberapa aktor dan aktris meyakini mereka tidak akan bisa fokus dan berkonsentrasi jika permintaan itu tidak dikabulkan. Aktor Rangga contohnya. Aktor bermasalah yang selalu menimbulkan sensasi itu perlu meminum anggur merah sebelum melakukan adegan siuman, adegan ranjang dan adegan dewasa lainnya dalam proses syuting. Lalu ada Aktris Raya yang merupakan keturunan Jepang-Indonesia yang perlu memakan coklat sebelum melakukan adegan ciuman dalam proses syuting.


Di masa lalu. . . kukira semua aktor dan aktris menikmati adegan ciuman itu ketika mereka sedang syuting. Tapi setelah mendengar fakta itu, aku tahu bahwa aktor dan aktris yang kelihatannya begitu menikmati adegan ciuman nyatanya merasakan hal yang berbeda dari apa yang para penonton pikirkan.


            Dan sekarang. . . rupanya Arata pun memiliki keadaan seperti itu. Keadaan yang tidak aku duga sebelumnya.


            “Karena kau adalah idolaku, Auhtor.” Arata berbisik lagi padaku.


            Kali ini.  . . aku menarik wajahku lagi menjauh dari Arata dan menatapnya dengan tatapan benar-benar bingung. “Kau tidak sedang mengerjaiku bukan, Arata??”


            “Aku serius, Author. Aku benar-benar tidak bisa fokus melakukan adegan ciuman setelah jika Author ada di sana dan melihatku. Lihatlah ini. . .” Arata menunjukkan kedua tangannya yang sedikit bergetar kepadaku.


            Melihat getaran itu, aku rasa. . . Arata memang tidak sedang bercanda denganku dan benar-benar serius dengan ucapannya untuk memintaku tidak melihat syuting adegan ciumannya dengan Bora.


            “Kau serius?”


            “Sejutarius, Author! Aku tidak pernah tidak serius padamu, Author!”            


            “Baiklah sesuai dengan permintaanmu, aku tidak akan melihatnya dan menunggu di cafe dekat sini. Aku akan bilang terlambat kepada Sutradara. Tapi. . . jika kau telah selesai melakukan adegan itu, kabari aku. Mengerti??”


            “Terima kasih, Author.”


            Akhirnya. . . aku melangkahkan kakiku ke arah berlawanan dari lokasi syuting dan menunggu Arata menyelesaikan adegan ciumannya dengan Bora.

__ADS_1


 


__ADS_2