MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KORBAN DAN PELAKU DALAM DRAMA KEHIDUPAN PART 3


__ADS_3

            Ketika menulis novel, aku sering kali menanyakan banyak hal di dalam benakku. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam benakku ketika aku terlalu mendalami karakter yang aku gambarkan dan aku tuliskan dalam novelku. Contohnya seperti kalimat ini:


            Jika saja aku punya satu saja keberanian dalam hidupku, apakah masa di mana aku sekarang aku berada akan memiliki kisah yang berbeda?


            Jika saja di masa lalu ada satu orang yang percaya padaku hingga akhir, apakah masa di mana sekarang aku berada akan memiliki alur yang berbeda?


            Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bersamaan dengan banyak pertanyaan kecil lain yang muncul ketika aku mengganti caraku berpikir untuk mendalami karakter dalam novelku. Seperti pertanyaan yang pernah muncul di dalam benakku, aku pernah bertanya-tanya bagaimana cara pawang hujan mengusir hujan yang akan datang? Aku juga pernah bertanya-tanya, apakah pekerjaan mengusir hujan itu adalah sesuatu yang boleh dikerjakan mengingat hujan adalah berkah dari Tuhan? Aku juga pernah bertanya-tanya, apakah mengusir hujan hanya demi satu acara seseorang itu layak dikerjakan ketika di luar sana ada ratusan hingga ribuan orang yang meminta hujan turun? Jika hal itu terjadi. . . hujan yang harusnya turun untuk memenuhi ribuan doa, gagal turun. Bukankah itu artinya sama dengan melawan kehendak Tuhan?


            Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin hanya sekedar pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul di dalam benakku.  Dan sekarang ketika aku menghadapi situasi yang tidak bisa aku pecahkan, aku bertanya-tanya lagi di dalam benakku kepada diriku sendiri.


            Haruskah aku diam saja seperti sebelumnya? Haruskah aku bersembunyi seperti sebelumnya? Lalu apa risiko jika aku diam saja dan apa risiko jika aku maju dan melawan untuk keadilanku sendiri? Apakah hal itu akan menguntungkan banyak orang atau justru merugikan banyak orang?


            Dan setelah menimbang-nimbang dengan berbagai pertimbangan dari segi untung dan rugi, dari segi kerusakan yang akan terjadi, jawaban yang aku dapatkan hanya satu: aku harus menahan diriku, menerima kesalahan yang tidak aku lakukan demi banyak orang dan demi keuntungan banyak orang.


            Jika aku menerima kesalahan itu, aku hanya akan dikeluarkan dari daftar staf film itu dan jika aku menerima kesalahan itu sekarang, nama orang lain dan proyek itu tidak akan banyak merugi. Produser yang sudah sengaja memilih novelku untuk diproduksi dan staf-staf yang sudah bekerja dengan keras untuk mewujudkan rangkaian cerita di dalam benakku menjadi gambaran yang akan bisa dilihat oleh banyak orang, aku tidak bisa membuat mereka kesulitan lebih dari ini.


            Aku menghela napasku di malam yang dingin ketika angin dari danau berembus membawa lembap dan dinginnya air danau. Aku membuka jendela di mana aku harusnya tidur malam ini. Setelah merasakan embusan angin menerpa wajahku, aku membulatkan tekadku. Sejak awal. . . isu ini dikeluarkan agar aku keluar dari proyek ini, maka untuk menyelesaikannya, aku hanya perlu keluar dari proyek itu. Isu itu. . . nantinya akan berhenti dan usaha banyak orang tidak akan sia-sia. Terutama Arata.


            Sebelum memanjat jendela di depanku, aku menolehkan kepalaku ke arah pintu di mana siang tadi aku bersandar. Sejak awal. . . harusnya aku tidak pernah keluar dari apartemenku dan merasakan kebahagiaan. Sejak awal. . . harusnya aku tidak pernah melakukan hal itu dan membuat orang lain mengalami kesialan karena aku. Harusnya. . . aku belajar ketika kejadian itu sudah berlangsung lebih dari satu kali dalam hidupku.


            Aku menarik napasku dan melompat dari jendela kamar di vila milik saudara Arata. Aku berjalan dengan mengendap-endap, keluar dari vila itu dan berniat untuk kembali ke apartemenku untuk mengurung diriku, mengurung kesialan yang mengikatku ini.


            Sebelum benar-benar pergi, aku menghentikan langkahku dan memandang vila di mana Arata saat ini mungkin sedang tertidur. “Sekali lagi terima kasih, Arata. Berkatmu. . . setidaknya ada beberapa orang yang percaya padaku dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Di sisiku. . . kau hanya akan membuat dirimu dalam masalah dan aku sebagai orang yang kau kagumi, tidak bisa membiarkan bintang terang seperti dirimu meredup karena aku yang bukan apa-apa.”  


*

__ADS_1


            Narator’s POV


            “Di mana Asha tidur?”


            Arata bangun dari tidurnya ketika mendengar suara yang tidak asing yang berasal dari luar kamar tidurnya. Dengan mata yang masih setengah terbuka, Arata mencoba bangkit dari selimut tebalnya yang hangat dan berjalan menuju ke pintu kamarnya.


            “Asha tidak ada. Apa kau yakin ini kamar Asha tidur semalam??”


            Mendengar suara itu mengatakan bahwa Asha tidak ada di dalam kamarnya, mata Arata yang tadinya masih setengah terbuka kini benar-benar terbuka. Klik. Arata langsung membuka pintunya dan kini mendapat Warda dan Rama sedang berdebat di depan kamarnya dengan wajah terkejut.


            “Asha tidur di mana?” Wajah terkejut Warda berubah menjadi wajah khawatir ketika melihat reaksi Arata yang terkejut sama seperti dirinya.


            “Author tidak ada di kamarnya?” Arata berbalik bertanya kepada Warda.


            “Ya, dia tidak ada, Arata. Jika ada, aku tidak akan khawatir seperti sekarang ini, Arata.”


“Tidak mungkin.” Arata menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin. “Kamar lain masih dalam keadaan terkunci dan kuncinya berada di kamarku.”


“Apa mungkin dia berjalan-jalan di danau??” tanya Rama lagi.


“Mungkinkah begitu?” Warda berbalik bertanya dengan wajah tidak yakin.


“Biar aku cari lebih dulu.” Arata masuk ke dalam kamarnya, mengambil jaketnya dan segera berlari ke arah danau untuk menemukan Asha.


Arata berlari ke arah danau dan Rama mengikuti tepat di belakangnya. Arata memutari danau yang ukurannya tidak begitu besar itu untuk menemukan Asha. Tapi setelah dua kali berputar-putar dan memeriksa sekeliling danau, Arata sama sekali tidak menemukan jejak keberadaan Asha di sekitar danau.

__ADS_1


“Sepertinya kau tidak perlu mencari Nona Asha di sekitar danau lagi, Arata.”


Arata yang telah kembali dari mengelilingi danau melihat Rama sedang memeriksa bagian bawah jendela kamar di mana Asha seharusnya tidur semalam. Arata langsung menghampiri Rama dan melihat apa yang sedang menarik perhatian Rama.


“Apa yang kau temukan, Kak?”


“Jejak kaki. Kalau aku tidak salah mengingatnya, ukuran ini adalah ukuran kaki Nona Asha.”


“Benarkah??” Arata membungkukkan tubuhnya, memperhatikan dengan saksama ukuran jejak kaki di bawah jendela kamar Asha. “Bagaimana Kakak bisa tahu jika jejak kaki ini adalah jejak milik Author dan bukan seseorang yang mungkin menculik Author??”


“Jejak yang tertinggal di sini hanyalah jejak dengan satu ukuran dan ukuran itu adalah ukuran kaki Nona Asha. Karena sebelumnya. . . kau pernah memintaku untuk membeli sepatu dan pakaian untuk Nona Asha, tentu aku ingat ukurannya, Arata.”


Arata menganggukkan kepalanya mengingat momen di mana dirinya bertemu dengan Asha di acara tanda tangan pertama Asha sebagai Author sekaligus acara pertama Asha membuka jati dirinya sebagai Author Wallflower. Arata ingat dengan baik. . . kejadian saat itu adalah rencana yang dibuat dirinya bersama dengan Direktur penerbit di mana Asha menerbitkan buku novel karyanya.  


“Aku akan menerima tawaran sebagai bintang tamu dalam tanda tangan Author Wallflower dengan satu syarat.”


“Apa itu, Tuan Arata?”


“Biarkan aku melihat wajah Author lebih dulu. Bisakah kalian menunjukkan fotonya lebih dulu padaku? Setelah melihat bagaimana rupanya yang sebenarnya, aku akan pertimbangkan untuk menerima permintaan itu?”


“Apakah ada alasan kenapa Tuan Arata ingin tahu rupa dari Author Wallflower?”


“Ya, aku punya alasan. Tapi. . . aku tidak bisa mengatakan alasan itu.”


“Sepertinya. . .” Rama membuka mulutnya dan membuyarkan lamunan Arata. “Sepertinya. . . Nona Asha melarikan diri dari vila ini di saat kau tertidur, Arata.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2