
Narator’s POV
“Bagaimana hasilnya?” Rama bertanya kepada Arata ketika melihat Arata duduk memakan sarapannya dengan tenang di apartemennya.
Arata menelan roti panggangnya sebelum menjawab pertanyaan Rama. “Gagal totat. Meski aku sudah mengatakan rahasia keluargaku padanya, Author masih tidak mau membuka mulutnya untuk menceritakan kejadian perundungan yang dialaminya semasa sekolah. Pertahanan Author benar-benar kuat.”
“Hanya rahasia itu saja yang kau katakan??” Rama memandang Arata dengan tatapan menyelidik dan nyaris membuat Arata salah tingkah hingga tersedak oleh roti panggangnya.
“Uhuk. . . uhuk.” Arata mengambil jus lemonnya dan meminumnya agar roti panggang yang tersangkut di kerongkongannya bisa mengalir masuk ke dalam saluran pencernaannya. “Jangan menatapku seperti itu, Kak!”
“Kukira kau bilang akan menceritakan rahasiamu pada Nona Asha adalah rahasiamu kecilmu yang mengaguminya. Tapi kenapa kau justru menceritakan rahasia keluargamu?”
Arata meminum jus lemonnya lagi karena mendengar pertanyaan menyelidik yang diajukan oleh Rama pada dirinya. “Aku masih belum bisa mengatakannya dan lagi aku merasa. . . ini bukan waktu tepat untuk mengatakannya. Nanti. . . jika masalah ini terus menjadi, aku akan menggunakan rahasia kecilku itu untuk menyelamatkan Author.”
“Kau akan mengungkapkannya di depan umum nantinya, Arata??”
“Uhuk. . . uhuk. . .” Arata yang baru hendak menelan potongan terakhir dari roti panggangnya tersedak untuk kedua kalinya karena tebakan yang dibuat oleh Rama untuk tindakan cadangannya demi menyelamatkan Asha. “Bagaimana kau bisa menebaknya dengan tepat, Kak?”
Rama mengambil kursi di depan Arata dan duduk di depan Arata. “Kau ini adalah tipe artis yang tidak beda jauh dengan Rangga. Pikiran kalian berdua sedikit banyak mirip. Jadi bukan hal yang aneh jika aku bisa menebak tindakanmu itu, Arata.”
“Pantas saja Kak Rangga ingin sekali lepas darimu, Kak Rama.”
Rama mengeluarkan informasi yang didapatnya dengan senyuman di bibirnya. “Aku akan anggap itu sebagai pujian darimu, Arata. Lihatlah ini!”
Arata mengambil informasi yang ditunjukkan oleh Rama kepada dirinya. “Apa ini, Kak?”
“Informasi tentang Lusi-teman sekolah Nona Asha sekaligus pelaku dalam isu miring yang menerpa Nona Asha.”
__ADS_1
Arata menatap foto Lusi dengan saksama. “Aku tidak sukan wajah ini, Kak. Wajahnya mirip dengan Bora si wanita ular itu. Biasanya. . . wanita-wanita yang punya pikiran buruk yang sama akan memiliki kesan yang sama seperti wanita ini dan Bora.”
“Kau benar sekali, Arata. Alasan wanita bernama Lusi ini membuka mulutnya dan menyebarkan isu miring tentang Nona Asha adalah karena Bora.” Rama mengeluarkan tablet miliknya dan menunjukkan beberapa gambar yang ada di dalamnya kepada Arata. “Lihat ini, Arata!! Ini adalah beberapa foto yang aku temukan antara Bora, Lusi dan reporter yang mewawancarai Lusi. Reporter itu adalah penulis artikel tentang Nona Asha.”
“Ehhhhh. . . jadi masalah kali ini muncul dan menimpa Author karena Bora marah padanya dan penyebabnya adalah aku??” Arata memandang tajam ke arah gambar Bora.
“Sayangnya. . . sepertinya begitu, Arata.”
“Wanita ini adalah batu sandunganku. Aku sudah menunggu momen lama ini untuk bertemu dengan Author Wallflower yang aku idolakan dan dia merusak segalanya. Bisakah kali ini kita menghancurkan wanita ular ini, Kak?? Jujur saja. . . aku benar-benar merasa jijik harus beradu peran dengannya. Bahkan adegan ciuman antara aku dan dia, rasanya aku benar-benar ingin muntah ketika mengingatnya.” Arata mengepalkan tangannya masih menatap ke arah gambar Bora di dalam tablet milik Rama.
“Kau ingin menghancurkannya, Arata??”
Arata menganggukkan kepalanya. “Ya, Kak. Korban wanita ini sudah banyak sekali. Tadinya aku diam saja selama dia tidak menyentuh orang-orang yang berharga bagiku, tapi. . . dia menyerang Author idolaku dan aku tidak terima dengan itu. Jika bisa. . . aku ingin dia benar-benar hancur dan tidak bisa kembali lagi ke dunia akting. Apa Kakak bisa melakukannya?”
“Tentu bisa. Banyak orang yang ingin menjatuhkannya dan hal itu akan sangat membantu. Ditambah lagi. . . kita punya video di kafe di mana kau menyelamatkan Nona Asha. Sisanya. . . kita hanya perlu menemukan teman lama Nona Asha untuk memberikan klarifikasi jika perundungan itu bukan salah Nona Asha sebaliknya dia adalah korban dari perundungan itu.”
“Kak meletakkan informasi itu karena sudah membacanya kan??” Rama melihat ke arah Arata dengan tatapan menyelidik.
“Tidak. Aku belum membacanya karena mendengar ucapan Kakak sejak tadi dan kurasa aku tidak perlu membacanya karena rencana Kakak sudah sangat mantap.”
Buk. Rama melayangkan kepalan tangannya dan mendaratkannya di atas kepala Arata. Pukulan itu cukup kencang hingga membuat Arata meringis kesakitan.
“Auuuuwwwwww. . .” Arata memegang kepalanya yang terasa sakit. “Kenapa Kakak memukul kepalaku?? Bagaimana jika setelah menerima pukulan dari Kakak otakku semakin bodoh??”
“Bukankah sejak lama kau menganggap dirimu bodoh karena tidak bisa menjadi dokter seperti dua kakakmu??” Rama memasang wajah datarnya setelah memukul kepala Arata solah tidak merasa bersalah sedikit pun. “Aku hanya menambahkan satu pukulan dan itu tidak akan membuat IQ mu semakin turun Arata.”
“Akhirnya. . . aku tahu kenapa Kak Rangga ingin sekali lepas darimu, Kak. Kakak benar-benar kejam sebagai manajer.” Arata mengelus kepalanya dengan lembut dan berharap otaknya yang sudah cukup bodoh tidak menjadi lebih bodoh lagi karena pukulan dari Rama.
__ADS_1
“Aku anggap itu pujian darimu, Arata.” Rama melihat ke arah lembaran-lembaran informasi yang dibawanya untuk Arata. “Sekarang baca itu dulu, Arata!!”
Arata mengambil lembaran itu lagi dan melihatnya sekilas. “Memangnya apa yang tertulis di dalamnya, Kak?”
“Dua perundungan yang diterima oleh Nona Asha sepertinya bukan perundungan biasa. Awalnya aku mengira alasan dibalik perundungan yang diterima oleh Nona Asha adalah murni rasa iri dari orang-orang di sekitarnya. Tapi nyatanya. . . tidak sesederhana itu.”
“Apa maksudnya dengan itu??” Arata yang tadinya tidak ingin membaca informasi itu kemudian langsung membacanya dengan saksama.
*
Dua hari kemudian nama Author Wallflower kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial ketika sebuah artikel muncul.
Author Wallflower bukan Pelaku Perundungan melainkan Korban Perundungan.
Artikel yang dirilis oleh reporter kenalan Rama itu dalam waktu kurang dari satu jam langsung dibaca oleh ratusan ribu orang dan dibagikan lebih dari ratusan ribu kali juga. Kumpulan reporter yang menunggu di depan gedung apartemen Asha kembali membuat kegaduhan karena artikel itu.
Tidak hanya di depan gedung apartemen Asha juga. Kantor penerbit di mana Asha bekerja sama juga menerima ratusan panggilan yang bertanya mengenai kebenaran artikel itu sama seperti ketika artikel sebelumnya beredar. Kali ini. . . beberapa reporter bahkan berusaha membuat janji dengan Asha untuk wawancara eksklusif dengan Author Wallflower yang tidak lain adalah Asha.
“Kerja bagus, Kak.” Arata memuji Rama yang sedang menyetir mobil dan membawa Arata menuju ke lokasi syutingnya.
“Jangan senang dulu, Arata. Kita masih baru melempar satu umpan. Jika Bora memakan umpan kita dan melepas artikel lan untuk menjatuhkan Nona Asha, kita bisa melakukan serangan telak saat itu.”
“Aku sangat menantikan saat itu, Kak.”
__ADS_1