MY LOVELY AUTHOR

MY LOVELY AUTHOR
KELUARGA WIYARTA DAN DRAMA DI DALAMNYA PART 3


__ADS_3

            “Author, apa kau baik-baik saja?” Arata berteriak padaku bertanya tentang keadaanku setelah membuka paksa pintu di mana aku berada bersama dengan keluarganya.


            “A-aku baik-baik saja, Arata.”


            “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan pada Asha, Arata?” ucap Maha-kakak kedua Arata dengan wajah tidak terima. “Kami tidak membawanya kemari untuk dijadikan hidangan makanan untuk kami, Arata.”


            Aku melirik ke arah Maha dengan wajah terkejut. Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau  mengatakan aku menjadi hidangan makanan untuk kalian?? Mengatakan hal itu  justru akan membuat Arata menjadi semakin menggila!!


            “Tidakkah kau punya etika, Arata? Di depan Ayah dan Ibu, kau meninggikan suaramu dan bahkan tidak menyapa Ayah dan Ibu dengan benar lebih dulu? Kau kira ... kami akan melakukan apa pada Asha??” Kali ini giliran Kendra-kakak pertama Arata yang membuka mulutnya dan berkata pada Arata dengan wajah datarnya.


            “Mungkin menyiksa Author sama seperti yang kalian dulu lakukan padaku. Siapa yang akan tahu??” Arata membalas ucapan Kendra sembari berjalan mendekat ke arahku dan kemudian menarik tanganku untuk bangkit dari dudukku.


            “Arata!! Tidakkah kau keterlaluan mengatakan hal itu?” Maha yang sepertinya memiliki sikap yang mudah tidak terima, kali ini memandang tajam ke arah Arata dengan matanya yang hitam itu.


            “Aku tidak keterlaluan. Apa yang aku katakan adalah kenyataan.” Arata yang sepertinya sudah merasa kesal, tidak lagi menyembunyikan rasa kesalnya dan justru memperlihatkannya dengan jelas di depan keluarganya.


            Aku melihat ke arah keluarga Arata dengan cepat. Aku melihat Kendra yang masih berwajah tenang dan datar tapi dari ucapannya terdengar jelas bahwa dia sedang berusaha menahan rasa kesalnya. Setelah Kendra, aku melihat Maha yang wajahnya sudah terlihat gelap karena amarahnya yang sudah seperti gunung berapi yang hendak meletus dalam hitungan detik. Setelah dua kakak Arata, aku melihat ke arah orang tua Arata yang masih bersikap tenang dan tidak mengeluarkan ucapan apapun ketika ketiga anaknya sedang beradu mulut di hadapan mereka.


            Melihat keluarga Arata, aku bertanya-tanya di dalam benakku. Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini? Apakah normal keluarga seperti ini? Ketiga anak beradu mulut sementara kedua orang tuanya hanya duduk diam tanpa mengatakan apapun melihat pemandangan mengenaskan ini.


            Tapi ... di satu sisi melihat keluarga Arata ini, mengingatkanku pada keluargaku. Keluarga yang selama ini menuntutku untuk selalu sempurna dan tidak menerima kekurangan apapun. Keluarga menuntutku dengan sangat keras untuk terlihat sempurna di luar karena keluargaku memandang pandangan orang lain sebagai standart mereka. Pada akhirnya ... aku yang tidak bisa menjalankan kesempurnaan itu dibuang oleh keluargaku dan menghabiskan banyak waktuku bersama dengan nenekku.


            Dalam kebingungan yang sedang terjadi antara ketiga anak Wiyarta di hadapanku saat ini, aku melihat Ibu Arata yang tiba-tiba berbicara dengan gerakan bibirnya kepadaku.


            “Me-nun-duk se-ka-rang, A-sha!”

__ADS_1


            Mataku membulat menerima ucapan itu dan kemudian kusadari jika tangan Ayah Arata kini bergerak mengambil gelas di sampingnya dengan penekanan yang luar biasa. Wajah Ayah Arata terlihat datar sama seperti sebelumnya, tapi tekanan dan auranya kini lebih mengintimidasi dari pada sebelumnya.


            Sesuatu akan terjadi. Ini bahaya!! 


            Seperti perintah dari Ibu Arata, aku langsung membungkukkan tubuhku dan mengambil posisi berjongkok. Arata yang tadi menarik tanganku dan masih menggenggamnya, tanpa sadar mengikuti gerakanku karena tidak sempat bereaksi untuk melawan apa yang sedang aku lakukan.


            Pyarrrrr.


            Suara pecahan kaca terdengar jelas. Aku melihat ke arah belakangku dan menemukan pecahan gelas yang tadi sempat membentur tembok lebih dulu di sana.


            “Tidak bisakah kalian menutup mulut kalian?? Kalian ini lelaki, tapi cara kalian bicara tidak ada bedanya dengan para ibu-ibu yang berkumpul untuk bergosip tentang ini-itu.” Dari posisiku yang sedang berjongkok, aku mendengar suara Ayah Arata yang berat dan menggelegar. Kali ini nada suaranya lebih tinggi dari sebelumnya ketika sedang berbicara denganku, membuatku sadar jika beliau sedang marah saat ini.


            Grrr ... Aku mungkin bisa menghindari gelas itu karena bantuan dari Ibu Arata, tapi tangan dan tubuhku sepertinya masih belum terbiasa menerima keadaan ini. Tanganku bergetar dengan hebat dan membuat Arata menyadari keadaanku.


            Maha dan Kendra yang tadi berdebat dengan sengit dengan Arata, tiba-tiba menghampiriku dan membuatku terkejut.


            “Sekarang tarik nafas perlahan lalu buang, Asha!” Maha memberikan arahan padaku sementara Kendra meraih tanganku yang lain dan kemudian memeriksa denyut nadi di tanganku.


            “Terus lakukan arahan Maha, Asha.” Kali ini giliran Kendra yang masih memeriksa denyut nadiku, memberi arahan padaku.


            Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh Maha dan Kendra selama beberapa menit, hingga akhirnya getaran di kedua tanganku mulai berkurang. Setelah memastikan keadaanku mulai membaik, Maha dan Kendra berdiri. Aku dan Arata pun mengikuti keduanya untuk berdiri. Tapi begitu aku berdiri, aku merasakan tekanan yang sangat berat untuk kedua kalinya.


            “Ayah!” ujar Maha dengan sedikit penekanan yang menandakan jika saat ini dia sedang kesal pada Ayahnya.


            “Jangan lakukan itu lagi, Ayah!!” Kali ini giliran Kendra yang membuka mulutnya. Jika sebelum-sebelumnya Kendra terus memasang wajah datarnya, kali ini Kendra menunjukkan ekspresi di wajahnya-dia sedang kesal. “Ayah tahu Asha adalah orang yang selama ini memilih mengurung dirinya karena tidak bisa menghadapi tekanan, kenapa Ayah melempar gelas dan membuatnya terkejut seperti itu??? Bagaimana jika dia mengalami shock dan pingsan??”

__ADS_1


            Aku melongo mendengar dua pria asing itu sedang membelaku di depan kedua orang tuanya. Sebenarnya ... apa yang terjadi di dalam keluarga ini? Kenapa mereka membelaku? Kenapa juga mereka berbaik hati padaku? Lalu kenapa Arata justru mengatakan hal yang sebaliknya padaku?


*


            Berkat keadaanku, aku bersama dengan Arata akhirnya bisa keluar dari pertemuan tidak terduga itu. Tapi meski akhirnya kami bisa keluar, keluarga Arata mengatakan padaku bahwa mungkin nanti kita akan bertemu lagi.


            “Kita akan bertemu lagi nanti, Asha.”


            “Mewakili keluargaku, aku meminta maaf pada Author.”  Setelah diam selama beberapa menit dalam perjalanan kembali ke apartemen, Arata akhirnya membuka mulutnya sembari menundukkan kepalanya merasa bersalah padaku.


            “Selain kejadian gelas melayang yang mengejutkan itu, keluargamu tidak melakukan apapun padaku, Arata. Mereka tidak mencelakaiku dan mereka tidak melakukan apapun yang menyakitiku. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, Arata.”          


            “Tapi tetap saja aku harus meminta maaf pada Author. Mereka terus mendatangi Author dan membawa Author keluar dari apartemenmu. Mereka terus mengganggumu dan mengusikmu karena rasa penasaran mereka padamu, tentu aku harus meminta maaf pada Author untuk itu.” Arata tetap bersikeras untuk meminta maaf padaku.


            Aku melihat ke arah Arata dan melihat wajahnya yang benar-benar merasa bersalah padaku. Melihatnya sekarang, membuatku melihat seekor anak kucing yang sedang menatapku dengan tatapan memelas. Aku ingin tertawa melihat wajahnya saat ini, tapi aku mengurungkan niatku itu dan hanya bisa tertawa di dalam hatiku saja.


            “Baiklah aku menerima permintaan maaf itu, Arata.” Aku tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan maaf itu jika ingin membuat Arata berhenti menatapku dengan tatapan memelas seperti ini.


            “Itu tidak akan terulang lagi, Author.” Arata kemudian mengubah ekspresinya yang memelas setelah mendengarku menerima permintaan maaf darinya.


 “Keluargamu itu ...”


            “Ya, Author?”


            “Kenapa mereka ingin menemuiku?” Aku mengajukan pertanyaan yang harusnya aku tanyakan pada Arata dan keluarganya tadi. Tapi aku belum sempat mengajukan pertanyaan itu karena berbagai situasi yang berada di luar kendali.

__ADS_1


__ADS_2