My Lovely Daddy

My Lovely Daddy
rumah mertua (Levi)


__ADS_3

kini mobil kembali bisa berjalan dan akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Silvia.


Levi terdiam melihatnya, "apa ini rumah mu?" tanya pria itu tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"iya tuan, ayo masuk... ibu dan adik-adik ku pasti sedang di dapur membuat kerupuk," ajak Silvia.


Levi pun seperti terpaku dan kakinya sulit melangkah, bagaimana bisa mereka hidup di rumah yang mungkin sangat tidak layak.


rumah yang terbuat dari dinding bambu dan juga pilar bambu, dan hampir roboh.


"Mak, Vivi, Dandi... aku pulang!" teriak gadis itu.


tak lama dari dalam rumah muncul seorang ibu dan dua orang anak yang masih cukup kecil.


"Mak, mbak Arti pulang," kata bocah paling kecil itu.


"kenapa pulang, kamu bukannya bekerja dengan benar malah pulang, kemarin bulek mu sudah bilang jika kamu sudah hidup enak, dan dapat juragan baik, tapi kenapa malah sekarang pulang, kamu tak kasihan pada adik-adik mu," kata ibu dari Sivia.


"tapi aku pulang ingin memperkenalkan Suamiku Mak, dia yang menyelamatkan aku," kata Silvia kesakitan.


wanita yang sudah terlihat makin sepuh itu malah makin marah, karena putrinya itu berani menikah tanpa memberitahukan dulu padanya.


"kenapa kamu malah nikah, kamu itu di suruh kerja, kenapa malah seperti ini?" kata ibu Silvia.


"maaf ibu, sebelumnya saya memotong, saya menikahi putri ibu tanpa kabar, karena dia sudah di jual di kapal gelap untuk di jadikan pelacur di luar negri,atau mungkin dia tak akan pernah bisa pulang selamanya, kebetulan saya menyelamatkan dia dan menikahinya agar bisa bebas," terang Levi sedikit berbohong.


"tapi kenapa?" tanya wanita itu.


"karena Arti di jual oleh bulek Bu, dan harganya sampai lima milyar," kata gadis itu.


"apa... jadi uang sepuluh juta yang kemarin dia berikan padaku itu,bukan uang muka untuk gaji mu selama lima tahun, tapi uang untuk menjual mu nak, ya Allah..." tangis wanita itu pecah.


Silvia langsung memeluk ibunya itu, sedang adik Silvia yang paling kecil bernama Dandi itu mendekati Levi.


"mas suami mbak Arti?" tanya bocah itu sambil menarik tangan Levi.


"iya dek, ada apa?" tanya Levi.


"bisa membelikan kami sepatu sekolah," kata bocah itu dengan raut wajah memohon.


"Dandi... kamu tidak boleh minta sembarang," tarik Vivi adik Silvia yang nomor dua.

__ADS_1


"tapi kalau suami mbak Arti, berarti kakak kita juga bukan, Dandi malu mbak ... aku malu sepertiku sudah tidak dan sering di hina oleh teman-teman sekolah," kata bocah itu sedih.


"tentu, nanti kita beli sepatu yang kalian inginkan, karena sekarang saya adalah kakak kalian juga, sama seperti mbak Arti," kata Levi tersenyum sambil mengacak rambut bocah laki-laki itu.


"mari masuk mas," panggil Silvia.


"ah iya, kalian mau bantu," kata Levi yang mengeluarkan barang-barang yang dia bawa.


ada sembako dan lainnya, Silvia kaget karena tak tau kapan suaminya itu membeli semuanya.


"mas kapan membelinya?"


"rahasia, karena itu ini di sebut kejutan," kata Levi yang langsung mendapat pelukan dari Silvia.


"aku kira, kamu pria jahat dan kejam seperti di tv-tv itu, tapi ternyata kamu baik sekali ... terima kasih..." katanya terharu.


"hei itu malu sama ibu mu, sebab keluarga mu juga keluarga ku sekarang," kata Levi.


"maaf ibu, seharusnya saya memperkenalkan diri dulu, nama saya Levine Andreas, saya hanya seorang pegawai di salah satu perusahaan di Surabaya, semoga anda bisa menerima menantu mu yang sedikit lancang ini," kata Levi tersenyum.


"tidak nak, terima kasih telah menyelamatkan Arti, kami yang beruntung putri yang selama ini bekerja sangat keras mendapatkan jodoh yang baik," jawab ibu Arti.


sebenarnya dia tak nyaman terlebih beberapa sudut rumah ada lubang, "ibu ini rumah dan tanahnya milik ibu?" tanya Levi.


"iya nak, memang kenapa? ini adalah tanah warisan dari orang tuaku," jawab ibu Arti.


"bolehkah aku membangun rumah yang lebih layak untuk di huni kalian bertiga, mungkin ini tak akan mewah, tapi setidaknya bisa melindungi kalian dari panas dan hujan," kata Levi.


"mas yakin, tapi uangnya?" tanya Silvia yang tak mau merepotkan suaminya.


"sudah kamu ikut saja,karena ini keinginan ku, percaya padaku, aku hanya ingin ibu dan adik-adik punya tempat yang kayak, itu saja," jawab Levi.


"baiklah jika itu keinginan mas, kita bisa pindah ke rumah eyang dulu, tapi sebelum itu sepertinya kita harus ke sana untuk menunjukkan jika aku sudah menikah ya Bu," kata Silvia yang tau jika dirinya ingin di nikahkan dengan pria tua juragan di desa itu.


"iya kamu benar," kata ibu Arti.


"baiklah, semuanya ayo naik mobil kita ke rumah eyang kalian, dan aku penasaran dengan pria yang ingin menikahi mu sayang," kata Levi.


"apa..." kaget Silvia mendengar ucapan suaminya itu.


akhirnya mereka pun berangkat, Vivi dan Dandi pun merasa senang sekali, karena baru pertama kali baik mobil mewah seperti ini.

__ADS_1


"kita tak membeli sesuatu dulu, ya anggap saja buah tangan untuk kakek nenek mu," kata Levi yang makin penasaran di buatnya.


"bener itu mbak, kan Mbah sering bilang jika kita itu tak pernah memberikan mereka apapun," kata Vivi.


"tidak usah, mereka juga akan membuangnya," kata Silvia yang memang tau tabiat keluarga dari bapaknya itu.


"ah... aku tau apa yang tak akan di buang oleh orang, tenang saja," kata Levi yang tersenyum menyeringai.


Silvia dan ibunya pun merasa ngeri melihat pria itu, mobil sampai di sebuah rumah yang cukup mewah.


"ini rumah keluarga kalian, kenapa jomplang sekali?" tanya Levi.


"sudah ayo ikut masuk mas," ajak Silvia.


ibu Arti berjalan terlebih dahulu dan mengetuk pintu, sedang Levi memarkirkan mobilnya agar tak menghalangi jalan.


"ada apa kamu kemari, mau minta beras lagi, kamu itu boros ya, mask uang sepuluh juta dari putrimu sudah habis," marah bulek dari Silvia.


"kenapa hanya memberikan ibuku sepuluh juta, bukannya harga ku kemarin lima milyar bulek," kata Silvia yang datang bersama Levi.


"kenapa kamu disini, bukannya kamu sudah di bawa pergi," kata wanita itu kaget.


"saya yang membawanya, dan selamat sebentar lagi Anda akan di tagih untuk mengembalikan uang lima milyar itu," kata Levi dingin.


"siapa kamu, aku tak mengenalmu, dan tak perlu ikut campur urusan ku," kata wanita itu panik.


sedang Levi hanya tersenyum sekilas, "dia adalah suamiku, pria yang menyelamatkan diriku," kata Silvia.


semua pun kaget mendengarnya, "kami menikah begitu saja, apa sudah menganggap ku mati, dasar cucu kurang ajar!", marah seorang pria yang baru keluar dari dalam rumah.


"kenapa, bukankah Mbah juga tak pernah mengakui ku, dan saat mbah tau bulek menjual ku, pasti Mbah tetap diam, tapi langsung bereaksi saat aku sudah menikah, lucu sekali," kata Silvia.


"apa ini yang kamu ajarkan pada anakmu, hingga bisa kurang ajar, lagi pula aku tak merestui dan menentang pernikahan kalian, jadi itu tidak sah dan kamu harus tetap menikah dengan juragan Pujiono," kata pria tua itu.


"tapi sayangnya itu tidak bisa bapak tua, aku sudah menikmati malam hebat dengan cucu mu ini,jadi dia sepenuhnya milikku, dan untuk mu siapa kamu berani menantang untuk merebut istri ku," kata Levi dengan tatapan tajam.


pria hangat itu seakan menunjukkan sisi kejamnya, "aku sudah menemui berbagai orang, bahkan membunuh mereka itu mudah bagiku, menyingkirkan mu adalah seperti menginjak semut kecil, kamu datang bukan untuk kau hina, tapi hanya ingin memberi tahu, jika aku dan cuci mu itu sudah menikah secara resmi," kata Levi yang membuat pria tua itu mundur.


"pergi dari sini, kalian tak di harapkan di sini," kata bulek dari Silvia.


"terserah saja, aku peringatkan padamu malam ini akan ada orang yang menagih uang lima milyar itu, jika kamu tak bisa memberikannya, maka putri mu yang akan di jual mengantikan istriku, ingat itu," kata Levi yang langsung pergi bersama keluarga istrinya.

__ADS_1


__ADS_2