
Zoey dan Saga sedang menikmati makan malam, "jadi Daddy mau keluar untuk minum bersama teman-teman?"
"iya sayang, maaf ya, kami ada sesuatu untuk di bahas, apa kamu ingin ikut?" tawar saga.
"no!! aku di rumah saja, kalau boleh aku ingin menikmati waktu sendiri ku di rumah dengan nonton Drakor," kata Zoey yang memang tak ingin kemana-mana.
"baiklah, apa perlu Daddy pesankan makanan untuk ku?" tawar saga yang tak ingin istrimu itu kelaparan.
"tidak usah, aku baik-baik saja, sudah pergi sana, aku bisa membuat makanan untuk ku sendiri," kesalnya.
Saga pun mengecup kening zoey sebelum pergi, dia merasa aman setidaknya apartemen yang mereka tempati memiliki keamanan yang baik.
karena beberapa asisten yang dulu menjaga zoey kini di alih tugaskan untuk menjadi mata-mata untuk kedua saudaranya.
Saga pergi mengunakan mobil BMW berwarna putih yang sebenarnya hadiah zoey tapi tak pernah di gunakan.
dia pun menuju ke bar sesuai dengan perjanjian mereka tadi sore, bar itu berada di hotel mewah.
Zoey sedang mengambil beberapa jenis makanan Frozen yang sempat di buatkan oleh mama Naura.
dia pun memasaknya, kemudian menata Semuanya untuk menikmati maraton film malam ini.
Saga turun dari mobil dan berjalan menuju bar, tak sengaja dia menabrak seorang wanita cantik yang telihat sempoyongan.
"hei nona, kamu buta!" bentak Saga yang membersihkan bajunya.
sedang wanita itu terpaku melihat pria di depannya itu, dan tak terduga dia malah memeluk tubuh Saga erat.
"Gara... aku merindukan mu, akhirnya kita bisa bertemu lagi.." kata wanita itu senang
Saga terdiam,hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan itu, dia adalah mantan kekasih pertama Saga.
"lepaskan, dasar wanita tak tau malu," marah Saga menghempaskan wanita itu.
dia pun langsung bergegas masuk kedalam hotel, sedang wanita yang terduduk di lantai itu melihat Saga dari kejauhan.
__ADS_1
"wah tenyata benar ya, kamu sepertinya masih marah, tak apa-apa deh lain kali kita bisa ketemu lagi, dan saat itu aku akan membuatmu seperti dulu, bertekuk lutut padaku," kata wanita itu yang kemudian pergi.
Saga pun merasa jika moodnya sudah hancur karena bertemu gadis sialan itu, pasalnya gadis itu terlalu menyebalkan.
di saat Saga sudah melupakan dan mengubur semua masa lalunya yang begitu pahit.
wanita yang paling tak diinginkan dia temui malah muncul bagai hantu yang tiba-tiba nonggol entah dari mana.
"sialan... mood ku langsung hancur, sial!!" teriak Saga kesal.
sedang di bar Levi sudah memesan kursi untuk empat orang karena tak ada yang mengonfirmasikan akan membawa pasangan.
Saga terus ngedumel tak jelas hingga membuat Levi heran, "kenapa bos, kamu habis nginjek kotoran hewan?"
"mending nginjek kotoran hewan, ini malah gabis nabrak ulat bulu men-ji-jik-kan, dan itu langsung menghancurkan mood ku!!" kesal Saga yang tak bisa menutupi kejengkelannya.
Levi pun sadar, satu-satunya hal yang membuat Saga semarah ini hanya satu, yaitu bertemu atau ada yang menyebut nama Hila, atau lebih tepatnya Sahila Agustina.
"jangan bilang kamu bertemu Hila?" tanya Levi memastikan.
"maaf deh, habis aku tak mengira ulat bulu yang sudah lama punah itu bisa nonggol lagi setelah sekian lama," kata Levi tak percaya.
"sudah tolong pesankan cocktail untuk ku," kata Saga.
"hei ... jangan mulai ingat kamu harus menjaga dirimu," kesal Levi.
"hai bro..." sapa Fardhan yang batu datang.
"hai.. duduk dulu aku pesan minum," kata Levi.
"idih... bos besar mukanya di tekuk cemberut prut gitu, makin tua tuh kerutan di mana-mana," ledek pria itu.
"hus... diamlah.. mulutmu mau di lakban, aku sedang kesal," ketus Saga.
"kesal kenapa?" tanya dokter Aiden yang baru datang.
__ADS_1
"anjing... hei kampret sudah di bilangin ini acara cuma berempat, kenapa kamu bawa bodyguard sendiri, zoey saja yang sudah kenal kita lama gak ikut, ini malah nempel ngikut ae kemana-mana," kesal Fardhan yang melihat Aliya
"sudahlah, dia bilang mau menunggu di kamar hotel, sudah kamu baik ke atas aku akan kumpul di sini dulu," kata dokter Aiden.
"baiklah mas, aku keatas dulu," pamit Aliya yang langsung pergi.
"dasar anak orang kaya,"
"sudah sudah, dia tak mau di rumah sendirian katanya serem, jadi aku mengajaknya, jadi kenapa bos besar kita ini kesal hingga seperti ini?" tanya dokter Aiden.
"tadi dia tak sengaja ketemu ulat bulu, ya jadi gini deh langsung mood hancur," kata Levi yang datang membawa dua botol minuman dengan kadar alkohol rendah.
"benarkah.. dia dimana aku ingin menemuinya dan bertanya tentang kejadian dulu," kata Fardhan.
"kaku yakin bro, menurutku dia tak akan mengatakan apapun padaku, karena setelah kejadian naas itu, dia langsung menghilang bak di telan bumi meninggalkan kita semua," kata Levi.
"ya kamu benar, terlebih yang terjadi pada kekasihmu itu sangat mengerikan, dan polisi mengonfirmasikan jika mereka melakukan transaksi tapi tak ada bukti yang menyeret ulat bulu itu," kata dokter Aiden.
"ini kenapa jadi bahas ulat bulu, jika kalian terus mengatakan hal itu, lebih baik aku pulang saja, aku benar-benar tak ingin mengetahui segalanya," kata Saga yang merasa bodoh.
"maafkan aku, aku hanya ingin bertanya apa benar dulu Wilma melakukan itu sendiri, atau ada yang menjebaknya," kata Fardhan.
Saga pun makin merasa tak enak karena harus membahas masa lalu, "aku tau seharusnya aku tak mengatakan ini, tapi tolong maafkan aku, seharusnya dulu aku mendesak ulat bulu itu agar bilang jika dia tak sendiri, hingga Wilma yang malang tak harus bernasib setragis itu," kata Saga sedih.
"itu bukan kesalahan mu Saga, hotel mereka memang dekat, tapi polisi juga tak menemukan bukti tentang keterkaitan keduanya, mungkin hanya tempat dan waktu yang sama, tapi semua itu salahku, seharusnya aku yang harusnya lebih memperhatikan kekasihku itu," kata Fardhan dengan penuh penyesalan.
kedua pria itu pun kembali larut dalam kesedihannya, luka Fardhan yang kembali.
sedang saga merasa jadi teman dan sahabat yang tak berguna karena tak bisa menyelamatkan kekasih dari Fardhan.
terlebih Saga yang tak meminta memeriksa segalanya dengan benar, padahal Evan sudah mengatakan jika ada yang janggal dari kasus itu.
"ayolah bro... kita di sini mau bicarakan proyek, bukan malah menangis begini, aduh malu itu di lihat orang, masak para pria tua begini nangis di depan umum," kata Levi.
"biarkan saja Levi, setelah sekian lama, kita harusnya memang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dulu hingga kasus itu menguap tanpa ujung begini," kata dokter Aiden.
__ADS_1