
Fardhan dan Levi sudah pulang setelah dokter Aiden memaksa mereka untuk membuat janji temu dengan sepupunya yang seorang dokter psikiater.
pasalnya Levi dan Fardhan agar bisa sembuh, karena mereka berdua juga berhak untuk bahagia.
sedang Evan sedang menghadapi masalah karena tak sengaja dia bertemu orang tua dari Cherry saat sedang bermain di tempat gadis itu.
"jadi bagaimana hubungan kalian, apa alan berjalan seperti ini terus menerus?" tanya ayah dari Cherry.
"papa, aku belum lulus sekolah..." rengek gadis itu
"sebenarnya ada keinginan mengajaknya menikah dan kemudian kami menetap di Jerman untuk Cherry kuliah dan aku mengurus perusahaan cabang di sana," jawab Evan.
"benarkah, tapi kamu hanya seorang manager IT apa yang bisa kamu berikan pada putriku?" tanya pria itu lagi.
"apa? papa... kenapa bilang begitu," marah Cherry.
"diam Cherry, ini demi masa depan mu, aku tak ingin putriku jadi gelandangan di luar negri," kata papa Cherry dingin
"saya memang tak sekaya saga, tapi saya yakin akan memberikan cinta dan nyawa saya untuk Cherry om," jawab Evan penuh dengan kepercayaan.
"hah... itu baru benar, jadi aku tunggu ya nak, karena aku hanya butuh kamu mencintai putriku sepenuhnya, dan ingat jika kamu berani membuatnya menangis aku akan membunuh mu, bagaimana pun caranya," kata papa Cherry tersenyum senang.
Evan melongo melihat pria tua itu yang sedang tersenyum dan memeluknya erat.
"papa kamu membuat kak Evan syok, lihat dia sampai seperti itu," kata Cherry.
"ah maaf... apa aku mengejutkan mu, aku hanya ingin Cherry hidup dalam rumah yang penuh cinta, karena aku tak bisa memberikannya dulu," kata papa Cherry.
"baik om, saya berjanji," kata Evan.
"sudah Jan pa, tapi sebelumnya maaf kak Evan, sepertinya aku akan memilih untuk kuliah di sini sambil menemani Zoey, apa kamu tak keberatan, karena aku juga tak mau jauh dari keluarga ku... maaf..."
"hei sayang kenapa kamu seperti itu, apapun pilihan mu, aku akan setuju apapun pilihan mu, dan jika kamu memilih di sini tak masalah karena kita akan tetap bersama dan dekat dengan semua keluarga kita," jawab Evan.
__ADS_1
"terima kasih kakak love you..." kata Cherry yang langsung memeluk Evan.
"khem... kalian berdua belum resmi, tolong tahan diri," kata papa Cherry.
"boleh aku menikahinya om, aku sudah tak tahan," kata Evan yang langsung di cubit pipinya oleh Cherry gemas.
hari berganti, sudah dua hari dari Zoey sadar, gadis itu sudah bosan karena terus di ruang ICU.
"suster bolehkah aku pindah ruangan, aku merasa sesak di sini," bohong Zoey.
"baiklah nona, nanti coba saya bilang pada dokter Aiden ya," jawab suster khusus ini.
"baiklah suster," jawab Zoey menghela nafas.
sedang Saga sedang marah, karena dokter Aiden terus menerus menunda untuk dua bisa betemu dengan Zoey.
bahkan saat Saga ingin pergi, pria itu sekarang di ikat di ranjang dengan kuat.
"heh dokter sialan!!!! cepat lepaskan ikatan ku atau aku akan membuatmu menyesal, cepat!!! aku ingin bertemu dengan Zoey," Teriak Saga.
dokter Aiden pun menyeringai dan memilih untuk pergi dan membiarkan pria itu diam dengan sendirinya saat lelah.
perawat yang khusus merawat Zoey menghampiri dokter Aiden, "permisi dokter, saya ingin memberitahukan sesuatu,"
"tentu suster Aliya ada apa?" tanya dokter Aiden
"ah dokter, itu nona Zoey ingin segera di pindahkan ke ruang rawat, karena dia tak nyaman di ruang ICU terus, saya bingung jadi saya bilang untuk bertanya pada dokter dulu," kata suster itu dengan kata yang tak putus.
dokter Aiden hanya tersenyum saja
melihat dan mendengar perkataan dari wanita itu.
"dokter tolong jangan hanya diam, jawablah sesuatu," tanya suster cantik itu.
__ADS_1
"baiklah aku akan meminta dokter Hasan untuk memeriksa kondisi dari Zoey, dan kenapa ya aku selalu terhibur melihat mu bicara dengan cepat tanpa titik koma seperti itu," kata dokter Aiden.
"baiklah aku mengerti dokter, saya permisi," kata suster Aliya yang pergi dengan wajah merah karena merasa malu mendengar pujian dari dokter Aiden.
papa Samuel dan mama Naura datang untuk menjenguk Saga yang menang sudah di pindah ke ruang rawat.
"hai anak tengah nan tengil, kamu sedang tak berdaya ya kasihan sekali..." ledek papa Samuel melihat Saga yang tak berdaya.
"papa hentikan meledek putra mu, Saga mau makan dulu nak?" tanya mama Naura.
"boleh ma, tapi bisakah minta dokter itu membuka ikatan ku, aku merasa sesak terus di ikat seperti ini ma..." mohon Saga.
"maaf tapi selama kamu tak bisa tenang, jangan harap terlebih kamu terus berusaha lari, padahal jika sudah sehat zoey pasti juga di pindahkan, lihat ini," kata papa Samuel yang menunjukkan Zoey sedang tersenyum sambil melambaikan tangan dengan lemah.
"dia masih di rumah sakit, dan berada di ruang ICU kan?" tanya Saga dengan lemah.
"iya, kamu pikir dia berjuang sampai seperti itu demi siapa, jadi Saga tolong jangan bersikap bodoh, cukup kamu melakukan kebodohan kemarin dengan meninggalkan dia sendirian, kamu keterlaluan karena saat tau dia hamil karena kesalahan orang lain tapi kamu malah pergi meninggalkan dia sendiri, kamu harus tau Saga, saat wanita hamil, moodnya sangat terpengaruh,belum lagi kondisinya sangat lemah dan dia perlu dukungan dari orang terdekatnya, terutama kamu yang sudah di anggap sebagai orang yang paling berharga di hidupnya," kata mama Naura.
"aku tau ma, itulah yang aku sesali, makanya aku menebus segalanya sekarang, dan aku ingin membuatnya bahagia, karena bagiku Zoey adalah hidupku," kata Saga dengan suara yang lirih.
"sudahlah tak perlu Melo seperti itu, kamu tak pantas menunjukkan sosok itu, mana Saga yang selalu kuat dan percaya diri, aku bahkan tak mengenali putra ku lagi," kata papa Samuel.
"papa benar, aku selalu berusaha memiliki semua hal yang aku inginkan, apapun caranya tapi aku selalu lemah jika itu berhubungan dengan zoey,"
"memang aku kenapa?" tanya Zoey yang di dorong masuk ke ruang rawat yang sama dengan Saga.
"Zoey... sayang bagaimana kondisi mu?" tanya Saga.
"aku baik, tapi Daddy... apa yang terjadi padamu, kenapa Daddy seperti pelaku kejahatan seperti itu," kaget Zoey.
"ya mau bagaimana lagi, semua ini ulah dari dokter gila itu, Aiden lepaskan aku, aku tak akan kabur lagi," kata Saga memohon.
"baiklah aku pegang kata-kata mu, dan sekarang kalian harus tenang dan mulai penyembuhan, ingat jangan berulah," kata dokter Aiden mengingatkan keduanya.
__ADS_1
"baik, kami mengerti,"