My Lovely Daddy

My Lovely Daddy
butuh teman


__ADS_3

Fardhan yang merasa kesal karena Saga yang tak mengizinkan dia ikut pulang ke rumah pria itu pun memilih berjalan-jalan santai di taman kota.


dia pun memilih duduk di sebuah meja dan kursi yang di sediakan di taman itu, dan kebetulan pohon di sekitar juga sangat rimbun.


Fardhan melihat pekerjaannya, ya dia lebih suka bekerja di luar ruangan di banding harus duduk di dalam perusahaan miliknya.


sekertarisnya juga sudah mengirimkan semuanya dengan cepat karena Fardhan tak suka jika pekerjaannya tertunda.


"permisi mas, boleh saya duduk di sini," suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut.


"silahkan...." kata Fardhan yang menoleh melihat gadis itu.


dia pun sempat diam saat melihat seorang gadis dengan warna mata coklat keemasan yang begitu indah.


gadis itu pun mulai membuka laptopnya dan mulai mengerjakan sesuatu.


Fardhan pun melakukan hal yang sama, bahkan meski keduanya duduk di bangku dan kursi yang sama dengan menjaga jarak.


mereka tak saling tegur sapa, tapi beberapa kali Fardhan melirik gadis itu bercadar itu.


tapi gadis itu nampak tenang saja dan tak terganggu sedikitpun, Fardhan melihat ada dua orang anak kecil yang berjualan air dingin dan juga kue.


"dek kemari," panggilnya.


gadis itu menoleh sejenak dan tersenyum di balik penutup auratnya.


"iya om?" jawab keduanya.


"om mau beli, tapi kalian harus tawarin kakak cantik itu juga dan harus mau oke," kata Fardhan.


"om sama tantenya lagi berantem ya, kok gak di tawarkan sendiri? terus duduknya jauh-jauhan begitu?" kata bocah laki-laki kecil itu.


mendengar itu Fardhan hanya tersenyum, sedang wanita tadi juga kaget tapi dia mencoba bersikap biasa.


keduanya pun menghampiri gadis yang duduk bersama Fardhan dan menunjukkan jualannya.


"iya adek-adek, ada apa?" tanya gadis itu.


"mbak tolong ambil kue ini dan airnya ya, karena kami harus membelikan obat untuk ibu kami," kata kedua bocah itu.


"baiklah, dan ini uangnya," kata gadis itu.


"tidak usah mbak, om yang beli semua jualan kami," jawab keduanya yang memberikan semua jenis kue dan air mineral itu.

__ADS_1


setelah semua kue di bagikan, Fardhan pun bangkit dari kursinya dan akan mengikuti kedua anak itu.


"aku permisi dulu ya mbak, lebih baik anda pulang, karena tak baik seorang wanita duduk sendirian," kata Fardhan.


"iya mas terima kasih, tapi apa mas ingin ke rumah kedua bocah itu?" tanya gadis itu.


"iya, sepertinya saya akan melihat kondisi ibu mereka," jawab Fardhan.


"boleh saya ikut mas, saya juga ingin melihatnya," kata wanita itu.


Fardhan hanya mengangguk dan mempersilahkan, mereka pun berjalan berdua menuju ke area perkampungan padat penduduk.


tak sengaja Saga mengenali Fardhan, "sayang itu Fardhan, tapi kenapa dia pergi ke tempat seperti itu?"


"kita ikuti saja yuk Daddy, aku takut jika dia mengalami masalah," kata Zoey yang kini turun bersama Saga.


mobil sengaja Saga parkir di depan sebuah minimarket, bahkan dia tak segan membayar seratus ribu demi bisa mobilnya aman.


mereka pun mengikuti Fardhan, dan saat pria itu menoleh keduanya tersenyum lebar.


"katanya sibuk?" tanya Fardhan heran melihat keduanya.


"ah itu, tadi Zoey ingin makan di restoran dekat sini, tapi kami malah melihatmu di sini, jadi kami mengikuti mu," terang Saga.


"baiklah terserah kamu saja, adek-adek ayo kita lanjutkan perjalanannya, karena om-om itu punya rumah sakit, jadi nanti jika kondisi ibu kalian parah bisa langsung di rujuk," terang Fardhan.


"baiklah, aku akan meminta ambulans bersiap untuk penangganan jika memang kondisinya tak memungkinkan," terang Saga yang langsung menghubungi rumah sakit miliknya.


mereka berempat pun sampai di sebuah rumah petak yang begitu sempit, bahkan terlihat ibu dari anak-anak itu tidur terlentang di sana.


"selamat siang Bu..." Saia Fardhan.


"assalamualaikum..." kata gadis yang bersama Fardhan tadi.


"waalaikum salam, selamat siang... ada apa ya neng," kata ibu itu yang menyeret tubuhnya agar bisa melihat keluar rumah.


"ibu, lihat ada orang-orang baik yang mau menolong ibu," kata kedua bocah itu.


"kami hanya ingin membantu sedikit, boleh saya periksa kondisi ini?" tanya Fardhan dengan sopan.


saat dia menggulung lengan kemeja yang dia kenakan, gadis itu melihat ada sebuah tato di tangan pria itu.


dia pun kaget melihat Fardhan, tapi dia menutupi keterkejutannya, pasalnya dia bisa melihat sebuah tato sebuah salip di tangannya.

__ADS_1


Fardhan pun memeriksa denyut nadinya, "Saga minta tim ambulans mu evakuasi, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Fardhan.


"baiklah, ah itu mereka," kata Saga yang melihat dua petugas yang membawa tandu.


mereka pun membawa wanita itu ke runah sakit, dan juga kedua bocah itu.


"kalian pergi saja, bilang untuk memberikan pelayanan terbaik, dan untuk biaya biar menjadi urusan ku," kata Saga.


"ah terima kasih," kata Fardhan.


ketika Fardhan dan gadis itu pergi mengikuti ambulan, Saga dan Zoey menemui pak RT di tempat itu.


dia ingin bertanya sesuatu tentang keluarga ibu itu, Saga memang selalu tak segan saat membantu orang yang membutuhkan.


Zoey pun terus tersenyum menemani suaminya itu, bahkan Saga ingin memberikan bantuan untuk menata tempat itu.


semua warga pun senang dan nanti rumah akan di sesuaikan dengan sertifikat masing-masing.


Zoey pun makin mencintai suaminya itu, dia pun mengenggam erat tangan suaminya itu dan tersenyum lebar ke arah Saga.


"ada apa honey, kenapa kamu terlihat begitu bahagia?" tanya Saga


"aku bahagia mengetahui jika suamiku ini begitu baik, semoga Tuhan selalu menjaga mu, dan tetap seperti ini ya Daddy," kata Zoey tersenyum bahagia.


"pasti honey, selama kita bisa seharusnya memang harus menolong orang yang lebih membutuhkan si sekitar kita," kata Saga.


"ya Tuhan suami siapa ini, kenapa begitu tampan dan baik hati," kata Zoey memeluk Saga.


"yang pasti aku ini suamimu nona," kata Saga tersenyum.


mereka pun memutuskan untuk pulang saja dan memilih makan di rumah.


sedang mobil Fardhan mengikuti ambulan yang membawa dua bocah itu dan ibunya.


dan di kursi belakang, ada gadis yang dari tadi terus bersamanya, "maaf sebelumnya nona, apa aku boleh tau siapa namamu?" tanya Fardhan.


"nama saya Fatima tuan, jika tuan sendiri?" tahta Fatima dengan suara begitu lembut di telinga Fardhan.


"namaku Fardhan Angkasa, kamu bisa memanggilku seenaknya saja, tak perlu takut," kata Fardhan melirik wanita itu dari spion kaca tengah mobil.


"tunggu dulu tuan, apa anda Fardhan Angkasa pemilik sekolah internasional di jalan Juanda itu, apa itu benar?" tanya gadis itu dengan semangat.


"itu hanya yayasan sekolah yang kami bangun dengan iseng, dan tak sehebat itu, memang kenapa?" tanya Fardhan yang heran karena gadis itu mengenalinya bukan sebagai pewaris perusahaan Angkasa group.

__ADS_1


"sebenarnya impian ku ingin mengajar di sana, karena sekolah itu memiliki banyak potensi, terlebih aku ingin membuktikan jika aku juga bisa meski hanya gadis desa," kata Fatima dengan yakin.


"sepertinya resume milikmu tak di lihat karena cara penampilan mu, kami memang tak membatasi jilbab, tapi untuk cadar, itu memiliki aturan yang tak bisa di langgar oleh guru yang mengajar disana," kata Fardhan.


__ADS_2