My Lovely Daddy

My Lovely Daddy
cerita Fardhan


__ADS_3

Elsa pun sekarang pergi bersama Fardhan, dia pun mengantarkan Elsa sampai rumah gadis itu.


"ini adalah beberapa universitas yang di coba oleh dua sahabat itu, jika kamu masih mau menjadi informan untuk kami, kamu bisa pertimbangkan untuk pergi ke sana," terang Fardhan.


"baiklah coba nanti aku memastikan pada Zoey, dia pasti tak keberatan, terima kasih pak Fardhan," kata Elsa yang turun dari mobil mewah itu.


setelah melihat mobil itu pergi, Elsa pun hanya bisa mengusap air matanya.


"kenapa kamu begitu jahat kak Wilma, kamu bahkan tak bisa membiarkan pria itu maju, padahal dia juga berhak bahagia..." gumamnya dengan sedih.


dia pun memilih masuk kedalam rumah sederhana itu, sedang di dalam mobil Fardhan menemukan sebuah gelang yang familiar.


dia pun mengambil gelang itu, "bukankah ini gelang yang pernah aku berikan pada Wilma, kenapa ada di mobilku, apa gelang ini di ambil Elsa," gumamnya.


Fardhan pun langsung menuju ke rumah pribadinya, bahkan rumah itu tak kalah mewah dari rumah keempat temannya.


tapi saat dia sampai terjadi listrik padam, terdengar suara genset yang cukup keras, ya rumah Fardhan tak boleh mati listrik semenit saja.


karena dia harus menjaga dua peti pendingin untuk dua orang, yang satu milik ibunya dan yang satu adalah milik Wilma.


"kenapa area ini kembali mati listrik?" marah Fardhan.


"tenang tuan, tapi semuanya aman karena kami memastikan jika baik-baik saja," jawab penjaga kedua ruangan khusus itu.


"tuan, anda belum pernah menyentuh barang-barang nona Wilma setelah dia meninggal, mungkin ada sesuatu yang dia tinggalkan untuk anda," kata pak Din.


"ah kebetulan bapak ingatkan, kebetulan aku ingin memastikan sesuatu," kata Fardhan yang langsung mengambil kotak yang tertata rapi di ruangan itu.


dia membuka sebuah kotak yang bertuliskan barang pribadi dan perhiasan.


ternyata dia menemukan gelang yang sama, "aku tidak ingat jika gelang ini sepasang," gumamnya.


"gelang kesayangan dari nona Wilma, saya ingat dia pernah bilang jika dia pesan dua dan satunya adalah milik dari adiknya yang berada di desa," kata pak Din.


"maksud pak Din, gelang ini?" tanya Fardhan yang menunjukkan gelang yang mirip.


"ya tuan, itu gelang yang pernah di tunjukkan pada saya, dia bilang di belakang gelang itu ada nama mereka," kata pak Din.


Fardhan pun melihat di belakang gelang itu ternyata benar, ada nama Elsa dan Wilma.


Fardhan pun tak menyangka gadis dan perempuan yang dia tolong adalah keluarga dari Wilma.


"kenapa aku bodoh dan baru mengetahuinya... " gumam Fardhan merasa bodoh.


dia pun mengacak-acak kotak yang bertuliskan album foto, ternyata benar ada banyak foto Wilma dan seorang wanita yang sudah cukup dewasa.

__ADS_1


dan ada seorang gadis kecil yang tersenyum memeluk Wilma, "apa mereka keluargamu, dan aku menceritakan semuanya tentang mu pada adikmu itu,"


Fardhan pun bangun dan mengenggam foto keluarga itu, tapi ponselnya tiba-tiba berbunyi.


"iya Elsa ada apa?" tanya Fardhan yang menjawab telpon itu.


"pak Fardhan, apa anda melihat gelang milikku, mungkin jatuh di mobil .." suara gadis itu terdengar serak karna menangis.


"ah iya aku menemukannya, biar nanti aku antar karena ada sesuatu yang ingin aku katakan juga," kata Fardhan.


dia pun segera berlari keluar dan mengarahkan mobil kembali ke rumah Elsa.


setelah setengah jam perjalanan, dia sampai dan melihat Elsa yang langsung berlari ke arah Fardhan.


"bagaimana, apa gelang itu bersama dengan pak Fardhan?" tanya Elsa.


"apa gelang ini kamu ambil, karena ini gelang kekasihku," kata Fardhan yang menunjukkan gelang itu.


"tidak, itu gelang pemberian dari kakak ku," kata Elsa yang langsung merebut gelang itu dan langsung menciumi benda itu.


"siapa kamu..." lirih Fardhan.


"seharusnya pak Fardhan sadar siapa saya dari awal, dengan nama ku yang juga Safira Dewi," kata Elsa yang kemudian pergi masuk kedalam rumah.


"loh pak Fardhan,ayo masuk dulu, aduh... gadis ini pasti menjatuhkan gelangnya lagi, sampai meminta bapak mengirimkan kembali kesini, maaf ya jika dia terus merepotkan pak Fardhan," kata ibu dari Elsa.


saat foto itu di taruh di meja, wanita itu langsung terkejut dan mengusap foto itu dengan linangan air mata.


"Wilma, bagaimana anda punya foto dari putri sambung ku pak Fardhan, aku ingat kami mengambil foto ini saat Elsa masih bayi, sebelum dia memilih merantau ke kota, karena kami baru kehilangan ayah dari kedua putriku ini," terang ibu Elsa dengan tangis.


"tapi sekarang putri anda dimana?" tanya Fardhan.


"dia sudah meninggal dunia, kami ke kota karena mendapatkan kabar itu, dan yang menjadi pukulan terbesar kami adalah kebenaran dia yang membunuh dirinya sendiri, padahal saya yakin jika putriku yang baik itu tak mungkin bisa melakukan hal seburuk itu, terlebih dia baru saja pulang ke desa dan memberikan gelang pada adiknya ," kata Bu Elsa.


"maafkan saya Bu, seandainya saya bertemu anda lebih cepat...."


🍁🍁


Fardhan masih siswa kelas tiga di SMA, dia sudah berteman dengan Levi dan Evan meski kedua pria itu yang sering bolos.


sedang dokter Aiden dan Levi adalah teman yang sering bertingkah nakal.


hari itu ada seorang murid baru yang mendapatkan beasiswa full, dia bernama Wilma Safira Dewi, seorang gadis desa yang nekat ke kota besar.


saat masa orientasi siswa, Wilma di minta untuk meminta tanda tangan dari kelima pria tampan itu yang terkenal judes dan kejam itu.

__ADS_1


kebetulan Wilma akan meminta tanda tangan bersama beberapa wanita lain.


"aduh bagaimana ini, apa kita mundur saja," kata Hila yang takut saat melihat sosok Levi yang sedang memainkan tongkat kasti.


"sudah, ayo bareng aku yuk," ajak Wilma dengan lembut.


mereka bergabung bersama dengan para gadis yang lain, dan saat giliran keduanya.


Wilma melihat Fardhan yang sedang merokok di depannya, dia pun mengambil rokok itu dan melemparkannya.


"hei kamu lancang!" kata Fardhan mencengkram dagu dari Wilma.


"anda sedang merokok di kawasan sekolah, dan lagi itu adalah racun dan bisa memperpendek umur mu," jawab Wilma.


mendengar itu Fardhan tertawa geli, "asal kamu tau,aku mati pun tak akan ada yang peduli," kata Fardhan.


"kalau begitu, biarkan aku yang peduli padamu, boleh karena aku selalu ingin punya kakak?" tanya Wilma tanpa takut.


"kalau begitu kamu harus memberikan bekal makan siang pada kakak mu ini, apa bisa adik kecil," kata Fardhan tertawa menggoda Wilma.


"tentu, aku akan membuatkannya untuk mu," jawab Wilma.


Fardhan pun menertawakan gadis di depannya itu, sedang Saga juga sudah menggoda Hila yang tahun itu masih sangat cupu.


Fardhan tak akan mengira jika candaannya di tanggapi serius oleh gadis itu.


keesokan harinya, Fardhan terus menerus mendapatkan bekal dari Wilma.


karena penasaran dengan gadis yang selalu tersenyum manis padanya, Fardhan pun memutuskan mengikuti gadis itu diam-diam.


"sebenarnya kenapa dia ke warung begini? bukannya pulang," gumam Fardhan.


ternyata Wilma membantu di warung itu setelah pulang sekolah.


"terus selama ini dia sangat miskin tapi tetap memaksakan diri untuk membuatkan bekal untukku, dia itu bodoh atau apa?" kesal Fardhan


keesokan harinya di sekolah, Fardhan menolak bekal dari Wilma, "berhenti memberikan bekal saat kamu sendiri kekurangan," kesal Fardhan.


"tapi ini untuk kakak, aku membuatnya sendiri, karena aku melakukannya karena keinginan ku sendiri," jawab Wilma.


"kamu bisa bilang begitu, bahkan kamu pulang sekolah saja masih kerja, dan masih bilang kamu kuat," kata Fardhan kesal.


"itu untuk tempat tinggal ku, aku memang ikut di rumah bude ku, jadi tak mungkin jika aku harus makan dan tak membantunya, dan tolong jangan merasa jika ini memberatkan kakak, karena aku menyukai saat melihat kakak makan masakan ku dengan lahap," jawab Wilma.


"dasar gadis bodoh, mulai sekarang aku akan memberikan mu uang untuk belanja, dan ingat jangan menolak itu atau aku akan membuat mu tau akibatnya," ancam Fardhan.

__ADS_1


mendengar itu, Wilma hanya mengangguk saja.


__ADS_2