
pak RT tak bisa berkutik setelah Levi bilang seperti itu, Levi bisa saja membenarkan jalan desa dengan uang pribadinya, tapi itu urusan pemerintah desa.
"sudahlah pak, jika tak ada yang mau bicara lagi, sekarang jangan ganggu aku, atau aku akan tunjukkan siapa diriku," kata Levi dingin.
"iya mas maaf sekali lagi, pak kalau mau protes Sono protes sendiri, bikin malu saja, tuh bayar denda mobil orang," kata pak RT kesal pada warganya itu.
"ya jangan gitu toh pak, saya mana ada uang sebanyak itu," kata pria itu ya g pergi bersama pak RT.
sedang pria yang di jodohkan dengan Silvia, mendengar wanita itu pulang pun semangat, terlebih dia k peduli mau bawa suami atau siapa pun.
karena baginya dia tetap orang paling kaya di seluruh desa itu, jadi dia Asti bisa membawa wanita itu terlebih dengan pantauan kelurga dari gadis itu.
"bos sepertinya istrimu di desa ini sangat di jajah ya, dari tadi aku lihat tak berhenti-henti orang mengurutkan mereka," tanya mandor proyek yang sebenarnya anak buah Levi.
"iya begitulah, karena mereka orang miskin, tapi lihat nanti saja, kalian semua semangat ya," kata Levi yang langsung ingin kembali tapi dia memilih duduk mengawasi semuanya.
Silvia datang dengan senyum mengembang, dan duduk di sebelah Levi di atas tikar dan ikut mengawasi pembangunan.
"kenapa cepat sekali? dan itu berapa banyak orang yang mas datangkan dari Surabaya?" tanya Silvia.
"sekitar lima puluhan kemarin aku mintanya, tapi entah di kasih berapa, tapi itu memang sengaja karena biar cepat jadi rumahnya," kata Levi.
"siapa mas, terima kasih Tuhan, mungkin ini namanya anugrah ya, bisa memiliki suami yang begitu perhatian," kata Silvia.
tiba-tiba sebuah mobil sedan keluaran tahun sembilan puluh empat datang.
pria itu dengan gaya yang sok kaya, datang dengan angkuh, tak lama kakek, bulek dan paklek dari Silvia ikut datang.
ibu Arti datang melihat rombongan mereka, "ada apa kalian kemari," kata wanita itu tegas.
"kenapa, bilang o wo, aku kesini ingin membawa calon istriku pulang, karena mereka sudah janji jika Sugiarti akan menjadi milikku," kata pria itu sombong.
__ADS_1
"tidak bisa, karena dia sudah menikah, dan aku mengakui pernikahan mereka jadi kalian tak ada hak sama sekali," kata ibu Arti ini.
"sudah ku katakan jika pernikahan mereka itu tak sah, karena aku tidak menjadi walinya," kata kakek dari Silvia.
"tapi kami menikah dengan agamaku, dan di agama ku tak perlu wali asal kalian tau itu," marah Levi yang sudah tak tahan lagi
"owalah pria miskin ini yang menjadi suamimu," kata juragan tua itu.
"ha-ha-ha bos di panggil miskin, padahal jika dia mau, semua rumah dan tanah di desa ini bisa di belinya," kata mandor proyek.
"buat apa kita bicara dengan orang buta dan sombong macam dia, seperti kita bicara pada tembok," kata Levi menyahuti anak buahnya.
"kamu tak tau kekayaaan ku, aku adalah juragan paling kaya di sini, centeng buat pria itu tau siapa aku," kata juragan tua itu lagi.
"woy... berani menyentuh bos kami, akan ku bunuh kalian semua!!" teriak mandor bangunan itu.
para pekerja itu langsung turun tangan dan menatap tajam ke arah para centeng yang siap untuk menghajar Levi.
tapi para preman itu mundur seketika saat melihat para tukang bangunan itu bukan seperti pekerja biasa, "kami terbiasa menebas leher seseorang, dan membereskan hal itu, jadi mudah untuk kami," kata para pekerja itu sambil melakukan peregangan.
ternyata paklek dari Silvia yang menyerang Levi dan langsung menangkap tonjokan pria itu dan memutarnya hingga terdengar suara tuang patah.
"argh.... sakit ampun... tolong sakit..." teriak pria itu.
dengan tenang, Levi menendang pria itu hingg terpental dan menabrak juragan tua itu dan menindihnya.
"dasar lemah begitu saja kalian berani melawan ku,sudah ku katakan jika aku bukan orang biasa," kata Levi.
tak butuh waktu lama, rombongan Pei itu pun pergi, sedang Levi kembali menunjukkan bagaimana kekuatannya.
sedang di Surabaya, Saga benar-benar sibuk kesana-kemari karena asistennya hilang satu dan tim IT juga tak ada yang memimpin.
__ADS_1
tapi tanpa sepengetahuan dari Saga, zoey menjadi orang yang membantu suaminya itu di kantor.
Krena kewenangan Zoey juga sama dengan Saga suaminya, jadi beberapa laporan dia yang menanganinya.
zoey tidak duduk di ruangan Saga, melainkan dia duduk di sebuah kursi kosong yang dulu milik asisten Veve.
"kenapa kalian semua nampak tegang begitu,tenang aku tak akan makan orang," kata zoey tersenyum.
"tapi kami tak percaya Bu bos bekerja bersama kami di sini," kata Ara orang di tim khusus besutan Saga.
"ayolah kita pernah bekerja sama meski tak lam, jadi sekarang biasa saja, ada yang mau kue kebetulan aku bawa banyak, bagi-bagi ya," kata Zoey mengeluarkan kue wortel dari ruangan Saga.
mereka pun berbagi, dan semua terlihat menyukai kue itu,setelah itu ada tim IT datang untuk melaporkan beberapa akun terdeteksi.
"buat mereka tau, siapa kita, dan aku tak ingin ada kata gagal, kamu mengerti," kata zoey dengan tegas.
"baik nyonya bos," jawab pria itu langsung turun ke tempatnya.
akhirnya jam makan siang dan saga masih belum kembali bersama asisten Sean
"ya Tuhan aku lapar sekali, kira-kira kantin ada makanan apa ya," gumamnya.
semua karyawan masih di tempatnya, "hei ayo turun makan, kalian tak makan atau apa, ini jam istirahat, jangan terlalu lelah, bos kalian sudah kaya, dan jangan membuatnya makin kaya tapi kalian yang malah mati muda," kata Zoey.
"baik nyonya bos," jawab mereka semua.
mereka pun turun ke kantin kantor dan mencari makan siang bersama, sesampainya di ruang kantin semua kaget.
pasalnya Zoey jarang datang ke tempat itu, tapi sekarang wanita itu datang lagi.
terlebih gadis itu berjalan bersama tim khusus, jadi semua karyawan pun mulai menyapa dengan hormat.
__ADS_1
Zoey langsung di minta masuk ke ruang khusus karena wanita itu sedang hamil.
"aku di luar saja, kan aku juga bukan bos disini, aku juga karyawan biasa jadi jangan membuatku seolah aku ini orang penting saja," kata Zoey.