
Saat mendengar Naura menghilang, dengan cepat Nathan mengambil kunci mobilnya dan segera berlari secara membabi buta, ia benar-benar sangat kahwatir saat ini bila terjadi apa-apa dengan Naura dan anaknya entah bagaimana kehidupan Nathan.
sesampainya di parkiran Nathan segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan perusahaanya, dengan denyut jantung Nathan yang berpacu dengan ritme yang tak beraturan, Nathan tiada henti mengigit bibirnya sambil menekan klakson mobilnya, ia benar-benar sudah hilang akal saat menjalankan mobil.
Nathan meraih ponselnya dan segera menelpon Axel, entah dalam pikiran Nathan ia memikirkan Axel sejak tadi.
tuut....tuut....
", hallo Axel " ucap Nathan dengan suara yang mulai bergetar.
" ada apa Nathan,?...📞📞" tanya Axel di sebarang telfon sana.
" ke kampus almamater hijau sekarang," pinta Nathan langsung mematikan sambungan telfonnya dan fokus menyetir dengan kecepatan tinggi, ingin rasanya Nathan segera sampai di kampus almamater hijau.
tidak menunggu lama saat Nathan sudah sampai di sana ia menelfon Nisa dan menanyakan keberadaannya, setelah Nisa menjelaskan posisinya Nathan segera masuk ke dalam.
" Nathan !" teriak Nisa saat melihat Natha.
Nathan yang melihat bisa yang memanggilnya langsung menghampiri Nisa.
" bagaimana Naura bisa hilang ,?" tanya Nathan dengan raut wajahnya yang begitu cemas.
" aku tidak tau, tadi saat keluar kelas kata Sonya ada satu mahasiswa yang memanggilnya untuk menemui pak Arzan," jelas Nisa.
Nathan menatap tajam ke arah Sonya sementara Sonya yang mendapatkan tatapan Nathan diam menelan salivanya, baru kali ini Sonya melihat wajah Nathan yang begitu mengerikan.
" aku sudah menawarkan diri untuk menemaninya namun Naura menolaknya menyuruhku untuk ke kantin," jelas Sonya membuat Nathan mengendus nafasnya dengan kasar.
" apa dia memegang ponselnya,?" tanya Nathan membuat Nisa menggelengkan kepalanya dan memberikan tas Naura yang sejak tadi ia pegang bersama ponselnya Naura yang ada di dalam tas.
Nathan segera mengambil dan mengecek SMS yang Naura kirimkan kepadanya, namun alangkah terkejutnya Nathan, ia tidak mendapatkan SMS yang Naura kirimkan padanya.
" lalu siapa yang mengubungi menggunakan nomor Naura ," batik Nathan.
Nathan pun segera menghubungi temanya yang sangat berpengaruh di kampus almamater hijau untuk membantunya mencari Naura di setiap sudut kampus, mereka pun segera mencari kembali Naura setiap.
sementara Axel dan bersama Adnan dan Theo datang ke kampus almamater hijau, mereka masih bingung dengan ucapkan Nathan namun sepertinya dari suara Nathan ia seperti orang yang kecemasan.
__ADS_1
"Nathan!" panggil Axel, membuat Nathan langsung berbalik.
" ada apa ,?" tanya Axel membuat Nathan langsung menitihkan air matanya membuat Axel baru kali ini melihat berlian di mata seorang Nathan.
" maafkan gue, Naura menghilang," ucap Nathan, mendengar hal itu membuat Axel kaget bak di sambar petir, baru ia merasakan mendapatkan Naura kembali, kini ia harus kehilangan Naura lagi.
" bagaimana bisa hilang, sial ," pekik Axel segera mencari Naura membantu yang lain.
semua sudut kampus mereka mencarinya namun sama sekali mereka tidak mendapatkan Naura, membuat Nathan sangat frustasi mengusap rambutnya begitu kasar.
hingga Nisa mengingat sesuatu tentang gedung yang terbengkalai di belakang kampus mereka, hanya di tempat itu mereka sama sekali belum mengeceknya.
Dengan langkah yang cepat Nathan dan yang lainnya pergi ke tempat gedung itu, sesampainya di sana Nathan dan Axel langsung mendobrak pintunya dengan sekuat tenaga hingga terbuka, debu yang begitu banyak membuat Axel dan Nathan batuk.
" Naura..., Naura ," panggil Nathan namun Nathan tidak menemukan siapapun.
semua mencari Naura di gedung itu namun tidak mendapatkan hasil apapun,.
" Dimana kamu sayang, " batin Nathan sambil memegang dadanya.
dengan langkah terakhir Nathan menelfon Riko teman baiknya yang bekerja sebagai intel pelacak terbaik.
...****************...
sementara di tempat lain Naura mengerjapkan matanya dengan pelan melihat sekeliling ruangan nya begitu gelap dan sangat pengap, hanya ada satu jendela kecil yang begitu tinggi sebagai tempat masuknya cahaya untuk menerangkan ruangan itu.
" dimana aku ,?" gumam Naura sambil melihat sekelilingnya.
sangat pengap membuat Naura sedikit sesak untuk bernafas, hingga suara langkah seseorang mendekat ke arah pintu membuat Naura menatap pintu itu menunggu siapa orang yang telah membawanya ke sini.
ceklek....
seorang lelaki dengan tubuh porsi kekar bersama anak buahnya dua orang menatap Naura dengan tajam membuat Naura mundur secara perlahan, kakinya Naura gemetar ia benar-benar sangat ketakutan.
" siapa kalian ,?" tanya Naura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" kamu tidak butuh tau kami siapa, " balas seorang pria dengan tubuh porsi yang agak kecil namun raut wajahnya begitu menyeramkan.
__ADS_1
" kenapa Kalian membawa ku ke sini, sepertinya aku tidak pernah bermasalah dengan kalian ," ucap Naura membuat ketiga pria itu tertawa besar.
" kamu tidak ada urusan dengan kami tapi kami mengikuti perintah Bos untuk menculik mu." jelas pria berotot besar tadi menatap Naura membuat Naura benar-benar sangat ketakutan, pria tubuh besar tadi, mendekat ke arah Naura menginjak pergelangan kaki Naura dengan kasar membuat Naura merintih kesakitan.
Kemudian laki-laki itu menendang Naura dengan kasar namun Naura menahan rasa sakitnya sambil memeluk perutnya untuk melindungi sang buah hati, agar tidak terjadi apapun kepadanya.
" kalian jangan kasar kepadanya, apa kalian lupa apa yang Bos katakan," ucap seseorang wanita di balik badan pria besar tadi hingga Naura melihat wanita itu membuat nya begitu kaget.
" kau, kenapa bisa ada di sini,?" tanya Naura sambil menahan rasa sakit yang ia terima dari pria tadi.
" cih, kau yang terlalu polos mempercayai Ku Naura," kata wanita itu sambil duduk sejajar dengan Naura mencengkram wajah Naura dengan kuat sambil tersenyum dengan sinis dan menghempaskan wajah Naura dengan kuat dan segera berdiri.
" kunci dia kembali dan ikuti arahan bos, aku harus kembali memerankan akting ku dengan baik ," jelas wanita itu menatap Naura dan segera berlalu pergi bersama tiga preman tadi meninggalkan Naura sendiri.
Naura langsung merintih, entah harus rasa apa yang Naura ingin rintihan apakah menahan sakit di pergelangan kakinya atau merasa di khianati oleh seseorang yang sudah ia anggap sebagai temannya.
"Nathan tolong aku," lirih Naura menangis memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
*****
Di sudut ruangan yang begitu megah terdapat seorang wanita menatap ke arah luar jendela sambil tersenyum kemenangan, ia mendengar teriakan Naura dari layar CCTV yang ia pasang dan audio membuat suara Naura bisa terdengar dengan baik, rintihan pertolongan membuat wanita itu belum juga puas melihat Naura dengan kondisi seperti itu.
" aku sudah memindahkannya dari gudang kampus ke ruangan terbengkalai di jalan XY sesuai dengan yang kau perintahkan...📞📞" suara panggilan telfon.
" bagus, lakukan lah tugas mu kembali sebagai mahasiswa dan teman mereka agar mereka tidak terlalu mencurigai mu," balas wanita itu langsung mematikan sambungan telfonnya.
" Naura..., Naura..., kau terlalu bahagia selama ini, jadi silahkan nikmati waktu penderitaan mu sekarang " ujar wanita itu dengan tawanya yang menggema di seluruh ruangan menatap Naura di layar monitornya.
N & N bersambung....
jangan lupa untuk:
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
__ADS_1
🎟️ vote
🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini