
Di sudut jeruji besi yang begitu dingin Nisa duduk termenung sambil memikirkan kesalahan yang tidak sama sekali ia perbuat, Nisa di landa kebingungan bukti di dokter Ilham semua mengarah kepadanya, kemudian ia melirik ke arah Sonya yang sedang menenggelamkan wajahnya.
ia menatap Sonya dengan tajam, karena wanita itu Nisa berada di jeruji besi, menuduh Nisa dengan alasan yang tak pernah di lakukanya sama sekali.
" apa yang kau lakukan,?" tanya Nisa menatap dengan tajam ke arah Sonya.
Sonya yang mendengar suara Nisa sepertinya bertanya kepadanya membuat Sonya mengangkat wajahnya dan menatap Nisa.
" apa kau berbicara kepada ku ,?" tanya Sonya menatap Nisa dengan sinis.
" ya aku berbicara kepada mu ! di ruangan ini hanya ada kita berdua," ujar Nisa.
" lalu," imbuh Sonya menatap wajah Nisa namun Nisa sama sekali sangat bingung melihat ekspresi Sonya yang begitu tenang tanpa ada raut wajah bersalah.
" kenapa kau melakukan semua ini, bukankah kita berteman,?" tanya Nisa menatap wajah Sonya yang hanya tersenyum miring saat mendengar pertanyaan Nisa yang seakan menggelitik perutnya.
" teman,! aku sama sekali tidak menganggap mu dan Naura teman Ku," Jawab Sonya
" kenapa ?" tanya Nisa kembali.
", karena aku hanya orang suruhan Laura untuk mendekati kalian dan mengambil jurusan yang sama dengan Naura, agar bisa menyakitinya dengan mudah ," jelas Sonya sangat bangga menjelaskan kejahatannya kepada Nisa.
" kenapa kau begitu kejam kepada Naura, dia sudah menganggap mu sebagai teman, " Sonya hanya tertawa kecil saat mendengar pernyataan Nisa
" hahahaha, aku lebih suka dengan uang dan mengkhianati teman di bandingkan harus memilih teman di bandingkan menyia-nyiakan uang yang sudah ada di depan mata ," jelas Sonya.
Nisa yang mendengar pertanyaan dari Sonya begitu kaget, apakah seperti ini karakter Sonya yang sebenarnya selama ini Nisa berpikir Sonya wanita yang sangat baik.
" apa kau juga yang membunuh wanita yang bersama Naura terakhir kali dan menyalakan ku untuk tindakan kotor mu ,?" geram Nisa menatap Sonya, ingin rasanya ia menghancurkan wajah sonya kalau tidak mengingat borgol yang terpasang begitu cantik di tangannya.
" kau sangat pintar Nisa, hampir semua apa yang kau bicarakan sangat benar, hanya saja aku bukan yang membunuh wanita itu ," jelas sonya dengan nada mengejek.
" siapa yang membunuhnya ,?" tanya Nisa penasaran menatap wajah Sonya dengan lekat.
" apa kau ingin tau tapi mungkin kau akan sangat terkejut mendengarnya," ujar Sonya dengan sambil tersenyum dengan ekspresi yang terkutuk.
" siapa orang itu,?" tanya Nisa ia mulai sedikit menjauh dari Sonya, melihat tatapan Sonya seperti pembunuh berdarah dingin.
" mami !" ujar Sonya.
__ADS_1
"mami ?," Nisa mengerutkan keningnya menatap Sonya dengan bingung.
Sonya berjalan mendekat ke arah Nisa yang sudah terpojokkan di jeruji besi membuat Nisa ketakutan melihat Sonya.
Sonya segera duduk sejajar dengan Nisa membisikkan sesuatu yang membuat mata Nisa seketika melebar dengan sempurna, Nisa terdiam bak patung tanpa berkedip mendengar semua perkataan Sonya.
" dia menyuruh orang untuk membunuh Wanita itu, dan menyebarkan rambut milik mu ke tubuh mayat itu, agar kau bisa menjadi pelaku untuk menutupi alibi pembunuh sebenarnya," bisik Sonya di telinga Nisa.
" kalian brengsek, " pekik Nisa menatap Sonya dengan air mata yang sudah menumpuk di matanya.
namun Sonya hanya tersenyum miring dan langsung kembali duduk di tempatnya sambil menenggelamkan Kemabli wajahnya, Nisa bisa mendengar dengan jelas suara Sonya mengatakan sesuatu hal dengan mulutnya yang selalu komat-kamit seperti membaca sebuah mantra
" uang, mami dan kematian Naura ," kalimat yang selalu di ulang Sonya.
******
Di tempat lain papa Darwin dan Riko bersama team nya mencari keberadaan Laura yang ternyata sudah meninggalkan negara ini menuju ke negeri Paman Sam.
Riko segera menghubungi temanya yang berada di sana untuk menangkap Laura di bandara, Riko juga sudah memberikan foto Laura agar temannya di sana mudah untuk menemukan Laura di tengah keramaian.
" jangan kahwatir kami sudah menghubungi teman kami di sana untuk segera menangkap Laura," jelas Riko menatap wajah Kaka Darwin.
Riko hanya terdiam, di dalam benaknya masih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin berbagi kepada Nathan namun kondisi Nathan tidak memungkinkan untuk membahas hal itu sekarang.
...****************...
Nathan masih setia memandangi pintu IGD yang tertutup dengan rapat menunggu keajaiban Tuhan kepada keluarga kecilnya, darah Naura yang mengalir membasahi bajunya sudah mengering membekas dengan indah di baju Nathan.
pintu terbuka dengan penampakan dokter Ilham dan dokter Kelly menatap ke arah Nathan dengan senyuman terpancar di wajah mereka.
Nathan melangkah mendekat ke arah dokter Kelly dan Ilham dengan mata yang sudah memerah.
" bagaimana dengan istri saya,?" tanya Nathan.
" Alhamdulillah operasi kami berjalan sangat baik istri kamu baik-baik, tepi anak kamu tidak bisa kami selamatkan Nathan, saat dokter Melly mengangkatnya dari dalam perut Naura sepertinya ia sudah meninggal dari dalam rahim ," jelas dokter Ilham.
Nathan bak di sambar petir di siang bolong saat mendengar perkataan dokter Ilham mengenai anakannya yang tak bisa di selamatkan, detak jantung Nathan berpacu begitu cepat tak berirama air mata yang sejak tadi ia tahan meleleh begitu saja membasahi pipinya.
Nathan berusaha tegar, mengusap perlahan air matanya yang jatuh dengan tangan kekar miliknya menatap dokter Ilham dan menanyakan bayinya.
__ADS_1
dokter Ilham mempersilahkan Nathan untuk masuk ke dalam melihat kondisi Naura yang akan segera di pindahkan ke ruangan perawatan.
langkah Nathan pelan menatap bayi mereka yang berada di baby box milik rumah sakit, saat langkah Nathan sampai di baby box, melihat baby junior Nathan yang sangat kecil dan begitu merah.
Nathan dengan tangan kekarnya menyentuh bayi mungil mereka yang hanya sebesar telapak tangan, hingga tak terasa air mata Nathan kembali meleleh, ia terduduk sejajar dengan box bayi dan menangis tersedu-sedu menghadapi kenyataan seperti ini.
Nathan melihat kembali baby mungil mereka, wajahnya sudah mulai terbentuk membuat Nathan menyentuh dengan jari telunjuk Nathan sambil mengusap kepalanya.
" anak ayah yang sangat pintar, terimakasih sudah mengisi keindahan dalam hidup ayah dan bunda walau hanya sementara," lirih Nathan dengan suara bergetar menahan air matanya yang terus meleleh.
" Semoga nanti kita bisa bertemu di surga ya sayang, ayah dan bunda sangat menyayangi mu, maafkan ayah yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maafkan ayah nak ," Nathan merintih menahan suaranya agar tidak keluar, sakit! rasanya begitu terasa sesak di dadanya.
baby junior yang sangat di tunggu oleh Nathan dan Naura dengan penuh kebahagiaan harus pergi meninggalkan kedua orangtuanya, mungkin Tuhan lebih sayang kepada baby junior Nathan hingga harus mengambilnya sebelum Nathan dan Naura mencurahkan kasih sayang mereka kepadanya.
N & N bersambung...
jangan lupa untuk :
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
catatan:
terimakasih untuk pembaca author yang setia menunggu setiap eps Nathan & Naura 🤧🤧🤧 sungguh author benar-benar terharu bisa sampai di eps ini.
maafkan juga author jika masih banyak koasa kata yang kurang pas atau kata-kata yang berbelit, author masih tahap pembelajaran.
namun kalian masih setia membaca jalan cerita Nathan & Naura, sungguh membuat author sangat terharu dan akan belajar untuk memperbaiki kata-kata author agar menjadi lebih baik lagi.
terimakasih untuk selalu mengikuti Nathan & Naura.
lope....lope untuk pembaca author 😊😊🥰🥰🥰🥰 🥰🥰🥰.
__ADS_1