Nathan & Naura

Nathan & Naura
N & N part 79


__ADS_3

" Reno...! aku hamil !,...📞📞," ucap Dinda di sebrang telfon Sana


Mendengar kabar Dinda yang hamil bersamaan dengan Sarah membuat Reno sangat bahagia. lelaki itu benar-benar sangat bersyukur atas anugerah tuhan yang memberikan ia dua orang anak sekaligus walau dalam rahim yang berbeda.


" benarkah, aku akan segera ke sana , apa yang ingin aku belikan untukmu?," tanya Reno.


" aku hanya ingin buah, cepatlah datang aku sangat merindukan!...📞📞" ucap Dinda di sebrang telfon sana.


Reno segera mematikan sambungan telfonnya dan menghampiri Sarah yang sedang asik bercerita bersama ibunya melalui sambungan telfon untuk mengabari bahwa dirinya sedang hamil.


selesai Sarah menutup sambungan telefon nya Sarah menatap ke arah Reno yang sejak tadi memeluknya sangat erat sambil mencium tengkuk leher Sarah.


" apa yang ingin kau makan sayang, aku akan membawanya setelah jam pulang kantor ," ujar Reno.


" hmm..! sepertinya buah enak, aku ingin memakan buah yang banyak ," jelas Sarah membuat Reno sedikit terkejut degan permintaan Sarah yang hampir sama dengan Dinda.


" baiklah, aku akan membawanya setelah jam pulang kantor ok, " Reno mencium kening Sarah hingga turun ke bibirnya.


" pergilah mandi, bau badan mu sudah tercium sampai ke luar rumah ," kata Sarah sambil menutup hidungnya.


" bau badan ku harum sayang," ujar Reno sambil memeluk Sarah dengan erat.


Hari dan bulan berganti Reno benar-benar sangat sibuk dan pusing saat harus memenuhi permintaan Sarah dan Dinda.


Permintaan makan yang mereka inginkan semua sama, membuat Reno sedikit bingung. Namun, Reno banyak meluangkan waktu kepada Sarah karena kondisi kandungan Sarah yang sedikit lemah sedangkan Dinda tidak ada protes atau apapun.


Dinda malah menyuruh Reno untuk menjaga Sarah yang mungkin sangat membutuhkan Reno berada di sampingnya untuk selalu menjaga Sarah. Dinda menelfon ibunya untuk menjaganya di apartemen saat Reno tidak bisa menengok Dinda.


****


Di rumah sakit Dinda bersama ibunya mengecek kondisi kehamilannya yang sudah memasuki usia 8 bulan, perut Dinda kini semakin membesar. sambil menunggu nomer antriannya Dinda mengusap perutnya yang sangat aktif bergerak.


" wah anak bunda pintar banget ya mendendangkannya," ucap Dinda tersenyum manis sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit ke depan.


" walah, anak kamu aktif sekali nduk, sama kaya kamu dulu saat di perut ibu ," tutur ibu Dinda dengan lembut sambil mengusap perut Dinda.


Namun, saat sedang mengantri tak sengaja, Sarah dan Reno bertemu dengan Dinda.


Dinda emang tidak memberitahukan Reno tentang dirinya yang ingin pergi checkup ke rumah sakit hingga terjadi situasi seperti ini.


" Dinda, ini Dinda kan sekertaris Mas Reno dulu ," panggil Sarah saat melihat dinda. ibu Dinda memang tidak tau siapa suami Dinda ia hanya mengetahui bahwa Dinda sudah menikah dan suaminya berada di luar negeri untuk mengurus pekerjaannya di sana.


saat dulu menikah ibunya tidak bisa jadi karena ada satu hal yang menghalangi mereka akhirnya pernikahan Dinda di wakilkan dan di saksikan oleh sepupu dari ibu Dinda.

__ADS_1


" kamu sudah menikah dan usai kandungan kamu sudah berapa bulan?," tanya Sarah yang langsung duduk di samping Dinda.


" udah saya sudah menikah mba dan Alhamdulillah usia kandungan saya sudah masuk 8 bulan," balas Dinda tanpa ada hambatan atau ketakutan yang terlukis di wajahnya meskipun detak jantung Dinda yang begitu berpacu dengan sangat cepat.


" 8 bulan, kita sama ya, aku juga sudah masuk 8 bulan. aku penasaran anak kamu cewek atau cowok?," tanya Sarah.


Namun, sebelum Dinda menjawab Reno menegur pelan Sarah untuk tidak selalu bertanya seperti itu kepada Dinda. Namun, bukan Sarah namanya ia bertanya kepada Dinda apa merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dan Dinda membalasnya sambil menggeleng kepalanya.


Saat sedang asik mengobrol, nomor antrian Dinda tiba, ia segera masuk ke dalam ruangan dokter untuk mengecek kondisi bayinya.


" kalau begitu saya duluan masuk ya mba, " pamit Dinda ia segera berdiri dengan bantuan ibunya.


sementara Reno ingin sekali menemani Dinda karena selama Dinda mengecek kehamilannya sendiri sementara Reno sangat sibuk dengan Sarah yang meminta banyak hal agar tidak menjauh darinya sedetikpun.


" semoga anak kita baik-baik saja ," batin Reno melihat kepergian Dinda yang sudah masuk ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan, kandungan Dinda di cek oleh seorang dokter. detak jantung, air ketuban dan kondisi bayi sangat bagus namun ada satu hal yang dokter sampaikan yang memang sudah di sampaikan sejak awal kehamilan Dinda.


Dinda mengalami anemia dan akan banyak resiko saat ia memaksa untuk melahirkan.


" saya sudah mengatakan kepada ibu Dinda sejak awal bahwa kehamilan anda akan sangat mempengaruhi nyawa anda," tutur dokter Indah.


" saya akan mengambil resiko apapun demi anak ini untuk lahir ke dunia walau nyawa saya sebagai taruhannya," ujar Dinda dengan tegas.


1 Minggu kemudian Reno sedang berada di rumah Dinda, sementara ibu Dinda sudah pulang ke rumahnya.


Dinda bersandar di pelukan Reno, memeluk tubuh Reno dengan sangat erat.


" Reno aku ingin bertanya pada mu ?," ucap Dinda.


" soal apa?," tanya Reno mengusap pipi Dinda yang semakin cabi.


" jika seandainya aku tidak ada di dunia ini lagi dan-" belum selesai Dinda menyelesaikan kalimatnya Reno menutup mulut Dinda dengan tangannya.


" jangan mengatakan hal yang mengeringkan seperti itu, aku tidak ingin kehilangan mu ," jelas Reno.


Dinda hanya tersenyum manis mendengarkan ucapan Reno yang membuat nya sangat bahagia.


" baiklah tapi jika aku tiada di dunia ini, aku meminta pada mu untuk menjaga anak kita dengan baik, sayangi dia sepenuh hati ," pesan Dinda yang seakan ia ingin pergi sangat jauh.


Reno yang mendengar penuturan Dinda memeluk sang istri dengan sangat erat.


" kamu tidak akan kemana-mana, kamu dan anak kita pasti akan baik-baik saja," terang Reno.

__ADS_1


Reno memeluk tubuh Dinda dengan sangat erat dan Dinda membalas pelukan Reno.


" maafkan aku Reno, aku tidak memberitahukan kamu tentang kondisi ku saat ini ," batin Dinda.


...****************...


Hingga hari persalinan yang bersamaan namun dengan ruangan berbeda, Reno sangat gelisah. Saat ini kedua istrinya sedang berjuang untuk mengeluarkan anaknya dengan pertaruhan nyawa mereka.


Dinda yang memilih jalan melahirkan normal sedangkan Sarah memilih jalan melahirkan Opera secar karena kondisi bayi dan ibu tidak memungkinkan untuk bisa lahir normal.


tiada henti Reno memanjatkan doa kepada Tuhan untuk keselamatan istrinya hingga suara tangisnya bayi menggema membuat Reno melihat bayinya yang begitu kecil di angkat dari tubuh Sarah, saat Reno berada di samping Sarah.


genangan air mata membasahi pipi Reno, ia mencium pucuk kepala Sarah dengan sangat hangat.


" terimakasih," lirih Reno.


sementara Dinda tidak memiliki siapapun di sampingnya ia berjuang sendiri untuk melahirkan bayi nya dengan kondisi nyawa sebagai taruhannya.


dengan hentakan terakhir Dinda berhasil mengeluarkan seorang bayi yang begitu cantik, wajahnya sangat mirip dengan Reno membuat Dinda tersenyum melihat bayinya saat di perlihatkan oleh perawat.


genangan air mata jatuh di sudut mata Dinda.


hingga kesadaran Dinda mulai hilang, pendarahan yang sangat luar biasa membuat dokter semua berusaha untuk menolong Dinda.


" sayang dengarlah bunda, jadilah wanita yang kuat, carilah lelaki yang mencintai mu, cukup bunda yang mencintai suami orang jangan lagi dengan mu," batin Dinda.


" bunda sangat menyayangi mu, sehat selalu tumbuh menjadi wanita yang cantik dan ramah kepada semua orang, " seketika garis lurus di layar monitor terlihat.


Tangisan bayi menggema di seluruh ruangan seakan ia ikut merasakan kepergian ibunya yang tidak akan pernah ia lihat sampai kapan pun itu.


" aku mencintaimu Reno ," Dinda.


N & N bersambung...


jangan lupa untuk:


👍 like


💬 komentar


🎟️ favorit


❤️ vote

__ADS_1


🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini


__ADS_2