
Plak..
"Aakkhhh!" teriak Laura sembari memegang pipinya yang memanas akibat tamparan yang begitu keras.
"Berani lo ya menipu gue!" bentak Naufal dengan tatapan penuh amarah kearah Laura General Manager perusahaannya yang baru satu bulan bekerja di perusahaannya.
"Ap-apa maksud Pak Naufal?" tanya Laura dengan suara gugupnya.
Plak..
Naufal kembali menampar pipi Laura. Naufal tidak peduli jika yang berdiri di hadapannya ini seorang perempuan. Bagi Naufal, jika perempuan tersebut busuk hati, jika perempuan itu jahat dan lain sebagainya. Naufal akan membalasnya berkali lipat lebih kejam.
Saat ini Naufal berada di ruang kerjanya. Naufal tidak sendirian, melainkan bersama Damian kakak angkatnya dan Henry serta kepercayaannya yaitu Bima.
Naufal melihat kearah Damian. Damian yang mengerti langsung mengeluarkan ponselnya. Setelah itu, Damian membuka Aplikasi galeri, kemudian memilih satu video disana.
Klik..
Video tersebut berputar, kemudian Damian memperlihatkan video itu kearah Laura agar gadis itu melihatnya.
"Ini lihatlah!"
Laura langsung melihat kearah layar ponsel milik Damian. Dapat dilihat oleh Laura sebuah video disana.
Detik kemudian...
Deg..
Seketika Laura terkejut ketika melihat di dalam video itu adalah adegan dirinya dengan seorang gadis. Gadis tersebut tak lain adalah Alona Divia Eknath.
Melihat keterkejutan Laura membuat Naufal, Damian, Henry dan Bima tersenyum di sudut bibirnya.
"Bagaimana? Sudah ingat akan kesalahanmu, hum?" tanya Henry dengan nada sindirannya.
Naufal menatap penuh amarah kearah Laura. Dia sudah berbaik hati menerimanya bekerja di perusahaannya sebagai Genderal Manager. Posisi yang tinggi langsung dia berikan.
Namun apa yang dia dapatkan dari Laura. Justru pengkhianat yang diberikan oleh Laura untuknya.
"Sebagai balasan atas kebohonganmu dan pengkhianatanmu padaku, maka aku akan membalasmu dengan cara memblokir kamu, nama kamu dan identitas tentang kamu di semua perusahaan yang ada di dunia ini agar kau tidak akan bisa bekerja lagi, kecuali buka usaha sendiri," ucap Naufal dengan penuh penekanan disetiap kata dan juga penuh ancaman.
Mendengar itu penuturan dari Naufal membuat Laura seketika menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia masih ingin bekerja di sebuah perusahaan karena itu adalah cita-citanya sejak dulu.
"Pak, saya mohon jangan lakukan itu. Bapak boleh menghukum saya dengan hukuman yang lainnya, tapi jangan hukuman itu. Saya masih ingin bekerja di sebuah perencanaan besar," ucap dan mohon Laura di hadapan Naufal.
"Banyak orang yang ingin menjadi General Manager di perusahaan ini. Sementara kamu! Ketika kamu sudah mendapatkan posisi itu, kamu justru menyia-nyiakannya demi perempuan murahan itu." Naufal berucap dengan dinginnya.
"Dikarenakan niatmu masuk ke perusahaan ini jelek, maka gajimu bulan ini tidak akan aku berikan. Justru kau harus mengganti finalti karena telah menipuku dengan bersekongkol dengan orang lain. Aku beri waktu tiga bulan untuk kau membayar finalti sebesar Rp 500 juta. Jika lewat dari waktu yang sudah diputuskan. Bersiaplah kau tidur di kantor polisi."
__ADS_1
Deg..
Laura seketika terkejut dan juga ketakutan ketika mendengar ucapan demi ucapan dari mantan Bos nya itu. Di dalam hatinya, dirinya merutuki kebodohannya karena mau disuruh oleh perempuan yang bernama Alona Divia Eknath.
"Sekarang, keluar kau dari ruanganku!" teriak Naufal.
Dengan tubuh bergetar, Laura pun melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan ruang kerja mantan Bos nya.
"Bima."
"Iya, Bos."
"Kerahkan beberapa orang untuk mengawasinya dan juga keluarganya."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Bima langsung pergi meninggalkan ruang kerja sang Bos untuk menjalankan tugasnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Damian.
"Rencanaku selanjutnya adalah perempuan murahan itu. Dia sudah berani mengusik milikku," jawab Naufal.
"Apa perlu bantuan kakak?" tanya Damian.
"Eeemmm... Aku mau kakak menekan perusahaan milik keluarga Eknath. Kita bisa gunakan perusahaan itu untuk membalas perbuatan perempuan murahan itu terhadapku dan Vanesha. Buat perusahaan itu bermasalah dan mengalami bangkrut tiba-tiba."
"Kira-kira kapan kita akan bermain-main dengan keluarga Eknath melalui perusahaan tersebut?" tanya Naufal menatap wajah Damian.
Damian tersenyum. "Kamu ingin kapan?"
"Lusa, bagaimana?"
"Baiklah. Lusa kamu akan mendapatkan kabar dari kakak."
"Baiklah. Aku tunggu."
Damian seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Naufal dan Henry bergantian.
"Kalau begitu kakak pergi dulu untuk melakukan apa yang kamu minta. Lebih cepat lebih baik, bukan?"
"Eemmm... Baiklah!"
Setelah itu, Damian pun pergi meninggalkan ruang kerja Naufal. Dan kini tinggal Naufal bersama Henry.
***
"Jadi kamu dilabrak sama mantannya Naufal ketika kamu di Mall, sayang?" tanya ibunya Vanesha.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Bahkan perempuan itu mempermalukan aku di Mall, Bunda!"
"Mempermalukan kamu bagaimana?" tanya Daniel kepada adik perempuannya.
"Dia nuduh aku yang sudah merayu dan menggoda kakak Naufal. Dia juga bilang bahwa dia sama kakak Naufal sudah tunangan dan akan segera menikah. Tapi gara-gara aku, mereka gagal nikah."
"Ya, Tuhan! Dia berbicara seperti kepada kamu di depan semua orang yang ada di Mall itu?" tanya ayahnya Vanesha.
"Iya, ayah! Tapi semuanya terselesaikan dengan baik dimana semua orang yang menghinaku tak berkutik sama sekali. Begitu juga dengan perempuan itu," sahut Vanesha.
"Apa yang terjadi?" tanya Daniel.
"Kakak Rayyan dan kakak Dira datang ketika perempuan itu menyebut kata calon suami, apalagi ketika perempuan itu menyebut nama kakak Naufal. Kakak Rayyan benar-benar marah saat mendengar ucapan dari perempuan itu yang menyebut kakak Naufal calon suaminya."
Mendengar ucapan dari Vanesha yang mengatakan bahwa salah satu kakak laki-laki dari Naufal begitu membela Vanesha dan memilih Vanesha sebagai adik iparnya.
"Sayang," panggil ayahnya.
"Iya, ayah. Sekarang kamu sudah melihat bagaimana tulusnya Naufal sama kamu. Dan kamu juga sudah melihat bagaimana baiknya keluarga Naufal sama kamu dan sama keluarga kita. Hanya satu pesan ayah untuk kamu. Jangan pernah meragukan cinta Naufal terhadap kamu. Tetaplah berada di samping Naufal dan jangan pernah tinggalkan Naufal ketika dia sedang terpuruk."
"Dan satu lagi, didalam sebuah hubungan harus dilandasi dengan kepercayaan. Apapun yang kamu lihat dan apapun yang kamu dengar tentang Naufal dari orang lain. Jangan sekali-kali kamu langsung mempercayainya. Apapun yang terjadi kamu harus percaya kepada Naufal."
Mendengar ucapan demi ucapan serta nasehat dari ayahnya seketika Vanesha tersenyum. Dia mengerti akan kekhawatiran ayahnya itu.
"Ayah tidak perlu khawatir masalah itu. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri kalau aku akan selalu mempercayai kakak Naufal. Sejak aku kenal dan menjalin hubungan dengan kakak Naufal, aku sudah menaruh kepercayaan lebih untuk kakak Naufal. Ayah tidak lupakan ketika ada perempuan yang mengaku sebagai aku, lalu perempuan itu juga mengaku hamil anaknya kakak Naufal?"
"Iya. Ayah ingat itu."
"Dari masalah itulah aku mempercayai kakak Naufal. Ketika perempuan itu mengatakan bahwa dia hamil anaknya kakak Naufal. Aku langsung menemui kakak Naufal dan menceritakan semuanya kepada kakak Naufal."
Mendengar ucapan sekaligus cerita dari Vanesha membuat sepasang suami istri itu dan putra sulungnya tersenyum bangga akan putrinya/adik perempuannya.
"Kakak bangga padamu."
Vanesha tersenyum, lalu Vanesha menatap wajah tampan kakak laki-laki satu-satunya itu.
"Terus, kakak mau sampai kapan sendirian? Aku sudah punya kekasih loh. Kakak kapan memperkenalkan kekasih kakak padaku, kepada ayah dan juga kepada bunda?"
Seketika kedua orang tuanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Vanesha dengan tatapan matanya menatap kearah putra sulungnya.
"Adikmu benar. Kamu kapan memperkenalkan kekasih kamu sama Bunda sama Ayah?" tanya wanita itu menggoda putra sulungnya.
"Bunda sama ayah tenang saja. Aku sudah memiliki satu calon. Aku benar-benar menyukainya. Nanti jika dia menerima cintaku, aku akan langsung memperkenalkannya sama Bunda, sama ayah dan sama adiknya kakak yang cantik ini."
"Benar ya?" tanya Vanesha semangat.
"Ditunggu saja kabar baiknya," balas Daniel.
__ADS_1
"Baikl!" kedua orang tuanya dan adik perempuannya menjawab bersamaan.