
Naufal Alexander! Sejak kecelakaan yang menimpa dirinya, tiba-tiba menghilang. Sejak 5 hari yang lalu. Tak ada kabar apapun dari pihak kepolisian. Bahkan dari anak buah pribadi sampai anak buah pihak keluarga dan juga para sahabat yang diberi tugas untuk melakukan pencarian. Hingga dihari keenam, polisi akhirnya mampu menemukan titik terang dari kasus hilangnya Naufal.
Pihak kepolisian dan pihak keluarga mendatangi tempat kejadian kecelakaan. Mereka menyisiri setiap lokasi kejadian, tapi hasilnya nihil.
Naufal masih dinyatakan hilang atau bisa juga dinyatakan meninggal. Setelah mobil miliknya ditemukan dalam keadaan sudah hangus dilalap api. Tak ada yang tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi karena masuk kawasan area sepi yang menjadi jalur utama penghubung jalan dari kota menuju sebuah daerah kecil yang didalam masih ada beberapa desa yang dihuni.
Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di mansion milik Naufal. Mulai dari keluarga Alexander bersaudara sampai keluarga Sheehan bersaudara. Bahkan para sahabat dan juga para kakaknya Naufal. Dan tidak lupa para sahabat dari Albert dan ketiga kakak kandungnya.
Helena panik dan khawatir bukan main. Kecemasan nya melanda dihati dan pikirannya. Seolah dirinya telah kehilangan gairah untuk hidup.
"Tetap tenang Kak," ucap Andhira pada kakak perempuannya
Helena hanya berdiam diri dalam kamarnya tanpa aktivitas apapun ditemani oleh sang adik. Bahkan wajahnya yang memucat karena dirinya tak peduli akan kesehatannya sendiri.
"Putraku Dhira. Naufal," lirih Helena dengan air matanya yang takberhenti mengalir
"Kita tunggu kabar dari polisi selanjutnya. Dan juga beberapa anak buah dari keluarga kita juga mulai menyisir kelokasi itu sampai pinggiran Jakarta dan juga tempat-tempat tersembunyi lainya. Naufal akan baik-baik saja. Dia lebih kuat dari yang kita bayangkan selama ini. Kakak percayakan?"
Seluruh anggota keluarga dilanda kesedihan. Mereka sedih atas menghilangnya salah satu anggota keluarga mereka. Anak, keponakan, adik, sahabat yang paling disayangi.
Dikamar, Elvan sedang menangis merindukan adik bungsunya. Adik yang selalu mengganggu dan menjahilinya.
"Naufal. Kamu ada dimana sayang? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kakak merindukan kamu Naufal."
"Sayang. Aku mohon jangan seperti ini. Kamu harus lebih kuat dari yang lainnya. Daddy dan Mommy membutuhkan kamu." ucap Liana sang istri.
"Aku yakin Naufal pasti baik-baik saja. Orang baik akan bertemu orang baik juga. Naufal anak yang baik pasti akan bertemu orang yang baik yang akan menolongnya," ucap Liana lagi.
"Yah! Kau benar sayang. Pasti ada orang baik diluar sana yang akan menolong Naufal, adikku!"
Tidak jauh beda dengan Elvan. Aditya juga menangis didalam kamarnya.
"Naufal. Apa kamu tidak merindukan kakak, hum? Kenapa kamu tidak pulang? Kita semua merindukan kamu."
"Pulanglah Naufal. Kakak merindukan kamu. Sangat merindukan kamu."
Dibandingkan kedua kakaknya, Rayyan yang paling terpukul dan paling sedih. Rayyan paling dekat dengan dengan adiknya.
Namun Rayyan tidak memperlihatkannya kepada anggota keluarganya. Rayyan menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.
"Naufal.. Hiks. Kakak merindukan kamu. Kakak sangat merindukan kamu, Fal! Pulanglah! Kamu dimana sekarang?"
"Kenapa kamu perginya lama sekali? Kapan kamu akan pulang Fal?"
***
Keesokkan harinya. Para kakaknya sekaligus sahabatnya dan keempat sahabatnya sekarang berada di Studio. Tepatnya didalam Ruangan Studio milik Naufal.
Saat para kakaknya berada di dalam Ruangan Studio Naufal, mereka berdecak kagum melihat betapa luas dan indah Ruangan Studio miliknya.
__ADS_1
"Aku bangga pada Naufal. Masih muda tapi bakat yang dimilikinya luar biasa. Mulai dari bernyanyi, menari, jago bela diri, melukis, bahkan sukses juga menjadi CEO di perusahaannya NFL Corp. Satu pemimpin bisa menjalankan 5 perusahaan. NFL Corp, King Studio, Avana Gym, Everest Boxing, Perguruan Bela Diri WTF." Reza berucap sembari tersenyum bangga.
"Ya! Kau benar Reza. Kakak juga bangga sama Naufal. Kakak masih ingat saat kita di PANTA BOYS dulu. Naufal itu tipe pekerja keras. Dia tidak pernah menunjuk rasa lelahnya pada siapapun. Dia sangat profesional," ucap Arsya.
"Aku setuju denganmu Kak Arsya! Naufal pernah menangis kalau gerakan Dance dan Vokal nya kurang bagus. Bahkan Naufal juga menangis saat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kita kakak-kakaknya," ucap Ardian.
"Naufal melakukan semuanya dengan baik. Dia melakukan sesuai tempatnya. Disaat sibuk dia melakukan dengan serius. Disaat waktu senggang dia buat untuk menjahili kita atau membuat keributan. Disaat dia lagi gak mood, dia akan merajuk kalau diganggu. Naufal tidak pernah bersikap kasar ataupun tidak sopan pada kita. Dia selalu berusaha untuk menghormati kita. Tapi justru kita yang pernah menyakitinya bahkan bersikap tak adil padanya," sahut Barra.
"Sekarang Naufal ada dimana? Aku sangat merindukannya," ucap Davian.
"Kakak juga merindukannya Davian," sela Dhafin.
"Kami juga merindukannya Naufal, Kak!" seru Nathan, Theo, Henry dan Ricky bersamaan.
Tanpa mereka sadari, air mata mereka sudah mengalir di wajah mulus mereka. Mereka merindukan sosok yang sangat menggemaskan, sosok yang sangat imut, sosok yang sangat baik, sosok yang sangat manja, sosok yang menyebalkan, sosok yang sangat peduli.
"Henry. Apa kau masih ingat dengan kematian Kak Damian?" tanya Nathan.
"Ya, aku ingat. Kak Damian meninggal karena dibunuh," jawab Henry.
"Apa orang itu juga yang membuat Naufal celaka? Dia saja dengan kejam tega membunuh Kak Damian. Pasti dia juga tega melakukan hal itu pada Naufal!" seru Nathan.
"Aku setuju apa yang dikatakan Nathan? Kecelakaan Naufal pasti ulahnya. Apalagi Naufal pernah diserang oleh anak buahnya,"ucap Ricky.
"Kakak juga sependapat dengan kalian. Pasti orang itu dalangnya. Naufal sudah cerita pada kami. Walaupun tidak semuanya. Pasti masih ada yang disembunyikan oleh Naufal," sela Dhafin.
***
Di kediaman Kendrik Alvaro. Kendrik saat ini tengah duduk santai di kursi kebesaran miliknya. Dirinya tersenyum akan rencana yang berjalan dengan sempurna.
"Sebentar lagi apa yang menjadi milikmu akan menjadi milikku Naufal Alexander.. Hahahaha."
TOK..
TOK..
"Masuk!"
CKLEK..
Pintu dibuka. Dan masuklah anak buahnya.
"Maaf Tuan!" anak buahnya yang memasuki ruangannya langsung berbicara dan mengucapkan kata maaf.
"Ada apa? Pekerjaan yang kuberikan kepada kalian Apa semuanya berjalan dengan lancar?"
"Kami berhasil membuat Naufal celaka. Sampai saat ini pihak polisi belum menemukan keberadaannya."
"Bagus. Yang lainnya?"
__ADS_1
"Kami gagal untuk merebut Perguruan Bela Diri & Everest Boxing milik Naufal yang ada di Bandung. Bahkan kami ketahuan dan salah satu dari kami berhasil ditangkap oleh polisi."
"Apa?!" teriak pria itu emosi.
"Tuan!" seru seseorang yang baru masuk keriangan itum
"Ada apa? Jangan katakan kalau pekerjaanmu juga gagal."
"Ma-maaf Tuan. Kami tidak berhasil mengambil alih Studio dan NFL Corp milik Naufal Alexander."
BRAK..
Pria paruh baya itu memukul meja kerja dengan sangat keras. "Bodoh! Melakukan itu saja kalian tidak bisa. Keluar!" teriak Kendrik.
Mereka pun pergi meninggalkan pria itu di ruangannya.
"Ternyata anak itu sudah menceritakan masalahnya kepada Ayahnya. Kalau sudah begini. Sulit bagiku untuk merebut miliknya. Albert, kau memang hebat dalam hal ini. Aku akui itu."
***
Kita sama- sama tidak bisa pergi jauh, karena kemanapun kau akan pergi maka aku akan selalu ada. Sebab kau akan selalu ada di hatiku Adam dan yang jauh hanyalah raga kita saja.
Rasa rindu akan semakin pahit jika disaat aku terbangun dan tidak menemukan apapun mengenaimu.
Disaat aku merindumu, disitulah aku mengingat kenangan bersama denganmu.
"Fal. Kau ada dimana?"
Terdengar pintu kamar terbuka.
CKLEK..
Seorang perempuan paruh baya yang masih cantik menghampirinya. "Sayang. Kamu pasti lagi mikirin Naufal ya?" tanya Elzira, sang ibunya
"Ya, Mi! Kita tidak tahu Naufal ada dimana sekarang? Apa dia baik-baik saja Mami?" tanya Reza.
"Mami yakin pasti Naufal baik-baik saja, sayang! Naufal itu orang baik pasti dia akan bertemu dengan orang baik juga. Dan semoga orang itu menjaga dan merawat Naufal dengan baik."
"Ya. Mi! Mami benar." Reza yakin Naufal akan baik-baik saja.
***
Barra sedang melamun diruang kerjanya. Dirinya memikirkan hal-hal yang indah saat kebersamaannya dengan Naufal, sang adik. Adik yang lucu, imut, menggemaskan, jahil dan adik yang penuh talenta.
"Hai angin. Sampaikan rinduku ini padanya. Haturkan kasih ini untuknya. Untuk seseorang yang di sana yang tidak tahu keberadaannya dimana? Seorang sahabat bahkan adik bagiku. Berikanlah dia kebahagiaan. Kembali kan dia kepada kami Keluarga, Sahabatnya karena kami merindukannya."
"Naufal. Kakak tidak tahu kau ada dimana sekarang? Tapi kau akan selalu ada di hati kakak, Fal! Kakak selalu sampaikan doa yang kakak panjat untukmu. Semoga bisa menembus kerinduan ini padamu."
"Naufal pulanglah. Kembalilah kepada kami. Kami semua merindukanmu. Apa kau bahagia berada diluar sana sampai-sampai kau tidak ingat untuk kembali?" ucap Barra dan tanpa sadar air matanya sudah mengalir di pipinya.
__ADS_1