
Di sebuah ruang yang sangat besar dan mewah terlihat seorang laki-laki sedang memegang sebuah foto di tangannya. Detik kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
TOK..
TOK..
"Masuk."
CKLEK..
Pintu di buka oleh seseorang dan masuklah seorang pemuda ke dalam ruangan itu.
"Ada pekerjaan apa, Bos.?"
"Ini." Kendrik memperlihatkan sebuah foto kepada anak buahnya. Foto Naufal Alexander.
"Awasi pemuda ini dan semua pergerakannya. Jangan sampai ada yang tertinggal sedikit pun informasi tentangnya. Jangan melakukan apapun tanpa perintahku. Mengerti!" ucap Kendrik.
"Baik Bos."
"Tunggu kejutan dariku Naufal Alexander," gumam pria itu tersenyum licik.
***
Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Pikiran mereka tertuju pada Naufal.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Naufal? Kenapa dia seperti ini? Lagi-lagi dia berhasil membuat kita semua khawatir," ucap Elvan yang menghela nafas panjang.
"Kalau saja Naufal tidak membanting ponselnya pasti dari ponselnya itu kita bisa sedikit tahu permasalahannya," sela Aditya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Dad? Tidak mungkin kita membiarkan Naufal seperti ini terus. Kita harus cari tahu apa masalah yang dihadapi Naufal. Kita tidak akan mendapatkan info apapun kalau hanya duduk-duduk saja dan menunggu Naufal untuk bercerita. Sampai kapanpun Naufal tidak akan mau bercerita," saut Aditya yang sudah mulai gerah dengan situasi ini.
"Aku setuju apa yang dikatakan kak Aditya, paman! Kita harus cari tahu sendiri masalah yang dihadapi Naufal. Kita semuanya tahu bagaimana keras kepalanya Naufal. Makin keras kita memaksa dia untuk jujur, makin keras juga dia bilang kalau dia tidak apa-apa." Fatih berbicara sambil menatap wajah pamannya.
Ketika mereka membahas masalah Naufal, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Arsya.
Mendengar ponselnya berdering. Arsya langsung mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Davian," batin Arsya.
Tanpa pikir panjang lagi, Arsya pergi meninggalkan ruang tengah untuk menjawab panggilan dari Davian.
"Hallo Davian."
""Hallo kak. Apa kakak masih di mansion Naufal?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Apa Naufal baik-baik saja? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?"
"Ponselnya rusak karena Naufal membantingnya saat setelah menerima telepon dari seseorang lalu setelah itu Naufal pingsan."
"Apa? Terus bagaimana keadaan Naufal sekarang kak?"
"Sekarang Naufal sudah baik-baik saja. Apa kau tidak mau menjenguknya?"
"Aku akan kesana kak!"
"Baiklah. Beritahu yang lainnya."
"Baik kak. Aku tutup teleponnya."
Setelah mengatakan hal itu, baik Arsya dan Davian sama-sama mematikan panggilannya.
Selesai berbicara dengan Davian di telepon, Arsya langsung Kembali ke ruang tengah.
"Telepon dari siapa Arsya?" tanya Andhira.
"Dari Davian, Mi! Mereka akan kesini," jawab Arsya
"Syukurlah. Paling tidak itu yang di butuhkan Naufal sekarang," ucap Helena.
[GRUP]
Davian : Kakak.
Dhafin bergabung dalam obrolan
Reza bergabung dalam obrolan
Dhafin : Ada apa Davian?
Reza : Kenapa Davian?
Barra, Ardian bergabung dalam obrolan
__ADS_1
Barra : Ya, Davian. Ada apa?
RM : Yoi.
Davian : Naufal butuh kita. Kak Arsya bilang kalau Naufal pingsan. Dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Barra : Baiklah. Kakak akan kesana.
Dhafin : 2
Reza : Baiklah. Aku akan ke mansion Naufal.
RM : Baiklah. kita semua kesana.
***
Suasana di kampus tampak ramai dimana para mahasiswa dan mahasiswi sedang berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing untuk menuju satu tempat yang sama yaitu kantin. Tidak jauh beda dengan Vanesha dan keenam sahabatnya.
"Vanesha. Setelah kau wisuda nanti. Apa kau akan langsung bekerja atau bagaimana?" tanya Nattaya.
"Aku akan bekerja kak karena Pamanku sudah merekomendasikan aku menjadi salah satu dokter di rumah sakit miliknya," jawab Vanesha.
"Wah! Bagus dong. Kau tidak perlu repot-repot lagi mencari rumah sakit lain! seru Zora.
"Kalau kalian bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan setelah wisuda nanti?" tanya Vanesha.
"Sama sepertimu Vanesha. Aku akan bekerja sesuai dengan keahlianku. Kebetulan juga Papaku sudah menyiapkan satu ruangan untukku di perusahaannya," jawab Ishana.
"Aku juga akan bekerja dikantor Papa," ucap Enzi.
"Sama. Aku juga," kata Syafira.
"Aku dibantu oleh Papa dan kakakku mencari sebuah tempat. Tempat itu yang akan aku gunakan sebagai kantorku," ucap Jennitra.
"Aku akan bekerja di kantor kakakku. Kakakku menjadikanku sebagai Manager disana," ucap Zora.
"Aku akan membantu Papa di kantornya. Sekalian aku bisa menjaga Papa karena kesehatan akhir-akhir ini menurun. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Papaku. Sedangkan kedua kakakku sibuk mengurus perusahaan Papa yang lain," kata Enzi.
"Tapi..." ucapan Vanesha terhenti.
"Tapi apa Vanesha?" tanya Ishana.
"Kita masih tetap bersamakan? Kita masih bisa bertemu dan berkumpul seperti biasanyakan? Aku tidak ingin kita berpisah," ucap Vanesha sedih.
"Ya iyalah, Vanesha. Sesibuk-sibuknya kita nanti. Kita tidak akan berpisah. Kita akan selamanya bersama. Kita akan selamanya bersahabat dan bersaudara," jawab Ishana dan diangguki oleh yang lainnya.
"Janji." Vanesha menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan keenam sahabatnya.
"Janji!" mereka secara bersamaan mentautkan jari kelingking mereka kejari kelingling Vanesha.
***
Suara bel di mansion mewah Naufal berbunyi.
TING..
TONG..
Salah satu penghuni yang ada di dalam mansion itu membukakan pintu.
CKLEK..
Pintar terbuka dan menampakkan beberapa pemuda tampan yang sudah berdiri didepan pintu.
"Silahkan masuk tuan muda!" seru seorang pelayan wanita.
Mereka tersenyun, kemudia mereka pun masuk memasuki rumah Naufal dan melangkahkan kaki mereka ke ruang tengah dimana semua anggota keluarga berkumpul disana.
"Hei, kalian sudah datang rupanya!" Helena menyambut kedatangan keenam sahabat putra bungsunya yang kebetulan muncul dari arah dapur.
"Apa kabar, Bi?" tanya mereka bersamaan sambil membungkukkan badan memberi hormat.
"Seperti yang kalian lihat. Bibi baik-baik saja dan sehat," jawab Helena tersenyum.
"Kalian mau bertemu dengan Naufal. Langsung saja kalian ke kamarnya. Arsya sudah ada di kamarnya Naufal!" seru Aditya.
Tanpa pikir panjang lagi mereka langsung pergi menuju kamar Naufal.
^^^
Kini kelima pemuda tampan tersebut sudah berada di depan pintu kamar Naufal. Barra langsung membuka pintu kamar Naufal.
CKLEK..
Setelah pintu kamar terbuka, masuklah kelima pemuda tampan ke dalam kamar tersebut. Dan tak lupa mereka menutup kembali pintu itu.
__ADS_1
"Hai Naufal!" mereka dengan kompaknya menyapa Naufal dan setelah itu mereka langsung duduk di atas tempat tidur Naufal.
"Hai juga kak. Apa hanya kalian saja yang datang? Apa kalian tidak membawa pacar kalian? Bukannya kalian sudah pendekatan dengan keenam sahabatnya Vanesha, kekasihku?" tanya Naufal mengejek.
"Aish! Sialan kau Fal. Mentang-mentang sudah jadian sama Vanesha. Sekarang kau jadi belagu ya," ucap Davian kesal dan diangguki oleh yang lainnya.
"Benar itu Davian. Mentang-mentang sudah punya kekasih. Dia sekarang memamerkannya pada kita," ujar Dhafin.
"Hahahaha. Itu nasib kalian semua kak," jawab Naufal.
"Dasar adik durhaka," umpat Barra.
"Makanya buruan resmikan hubungan kalian dengan keenam sahabatnya Vanesha sebelum diambil orang. Masa kalian kalah denganku," ejek Naufal.
"Naufal," panggil Ardian.
"Ya." Naufal melihat kearah Ardian.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Fal? Kami dengar dari Davian. Kemarin kau pingsan dan kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?" tanya Ardian.
Mendengar pertanyaan dari Ardian. Naufal Hanya diam. Dirinya langsung teringat akan perkataan dari orang yang meneleponnya.
"Aaiissshh! Di tanya malah diam nih bocah." Barra menatap kesal Naufal.
"Naufal." panggil Reza sambil menepuk pelan bahu Naufal. Sontak membuat Naufal terkejut.
"Iya, kak!"
"Kau melamun Fal?"tanya Dhafin.
"Aish, ini bocah. Orangnya ada disini tapi pikirannya entah kemana? Emangnya kau mikirin apa sih Fal?" tanya Davian yang bingung dengan sikap Naufal.
"Aku pusing kak. Ponselku rusak. Aku membantingnya."
"Kau ada masalah? Kalau ada masalah ceritakan pada kami Naufal," ujar Dhafin.
"Aku memang lagi banyak masalah. Tapi aku bingung. Di satu sisi aku ingin bercerita, tapi disisi lain aku tidak mau membuat mereka khawatir dan terbebani dengan masalahku. Makanya aku memilih untuk diam," jawab Naufal lesu.
"Apa masalah yang sedang kau hadapi ini ada hubungannya dengan luka lebam di dadamu waktu itu?" tanya Arsya.
DEG..
Naufal terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Arsya.
Hening..
"Naufal. Tolonglah jangan diam saja. Ceritakan pada kami. Apa kau tidak menganggap kami saudaramu, hah?" ucap dan tanya Ardian.
"Ya. Itu benar kak,"jawab Naufal.
"Apa?" teriak mereka bersamaan.
"Bagaimana bisa?" tanya Reza.
"Aku dihadang oleh beberapa orang yang tidak dikenal saat aku baru pulang dari Studio. Aku berhasil melawan mereka semua. Saat aku hendak pergi meninggalkan mereka salah satu dari mereka berteriak memanggilku. Tapi sayangnya saat aku berbalik orang itu langsung memukuliku dengan balok kayu tepat di dadaku. Aku tersungkur ke tanah merasakan sakit dan sesak di bagian dadaku, lalu kemudian tidak sadarkan diri. Saat aku membuka mataku, Ricky sudah ada di rumah sakit menemaniku. Mungkin jika Ricky tidak datang menolongku mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini," ucap Naufal yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Tapi kenapa saat kau dirawat di rumah sakit waktu itu, Ricky tidak bicara apa-apa? Bahkan dia juga terlihat khawatir sama seperti kita," ucap Davian.
"Karena Ricky memang tidak tahu kondisiku saat itu. Sekali pun Ricky tahu. Aku sudah meminta Ricky untuk merahasiakan semua ini dari siapa pun," jawab Naufal.
"Memangnya apa alasan mereka menyerangmu Naufal? Apa kau punya masalah dengan mereka?" tanya Barra.
"Aku tidak tahu kak. Yang jelas aku tidak pernah punya masalah dengan siapapun. Bahkan aku sering dapat telepon dari orang yang tidak aku kenal. Yang buat aku bingung, orang itu mengetahui semua tentangku dan keluargaku. Bahkan orang itu juga tahu tentang orang tua kalian kak," saut Naufal.
"Haaaa!" mereka semua kaget.
"Serius Fal?" tanya Dhafin.
Naufal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. lalu tiba-tiba terdengar ponsel Ardian berdering.
***
Di Studio dimana Ricky, Nathan dan Theo sedang beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Namun salah satu dari mereka melihat Henry yang membawa sebuah bingkisan.
"Henry. Itu paket untuk siapa?" tanya Theo.
"Disini ditulis nama Naufal. Berarti paket ini untuk Naufal. Tapi aku menemukan paket ini di depan pintu masuk Studio," jawab Henry.
"Ya, sudah. Hubungi Naufal sekarang dan kasih tahu kalau ada paket untuknya," kata Nathan.
"Oke." Henry pun segera menghubungi Naufal.
"Nathan, ponselnya Naufal tidak aktif!" seru Henry.
"Tumben. Tidak biasanya. Kau telepon yang lain saja. Siapa kek!" suruh Ricky.
__ADS_1
"Aku akan hubungi kak Ardian." Henry langsung menekan nama kontak yang di tuju.