Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kesedihan Dan Kekhawatiran 2


__ADS_3

Helena menggenggam erat tangan putra bungsunya dengan air mata yang tak terbendung lagi dengan suara yang sedikit bergetar.


"Naufal. Ini Mommy sayang. Buka matamu, nak! Eomma mohon."


Tiba-tiba terdengar suara lenguhan dari Naufal.


"Eeuugghh." berlahan Naufal membuka kedua matanya.


Semuanya menoleh kearah Naufal dengan senyuman dan kebahagiaan di wajah mereka saat Naufal membuka kedua matanya.


"Naufal. Apa yang sakit, sayang? Katakan pada Mommy."


"Mommy, dadaku sa-sakit," keluh Naufal.


Aditya menekan tombol yang ada di kamar rawat adiknya. Sepuluh menit kemudian Dokter pun datang bersama perawat. Dokter itu mendekati Naufal lalu memeriksanya. Naufal berusaha membuka masker oksigen yang menutupi hidungnya, Dokter tersebut membantu Naufal untuk melepaskannya.


"Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Rasa nyeri dan sakit di dadaku, Dok!" Naufal menjawabnya.


"Sudah berapa kali kau merasakan sakitnya?" tanya dokter itu lagi.


"Ini yang ketiga kalinya."


"Baiklah. Untuk mengetahui apa yang terjadi kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi dulu."


Naufal melihat wajah kedua orang tuanya dan tak lupa senyuman manisnya. "Mommy, Daddy! Kapan kalian datang?" tanya Naufal.


"Kami baru sampai dua jam yang lalu sayang." Albert menjawab pertanyaan dari putra bungsunya sambil mengusap rambut dan mengecup kening putra bungsunya itu.


"Kakak. Kalian ada disini juga?" tanya Naufal saat melihat ketiga kakak kesayangannya.


"Iya yalah. Kau itu adik kami. Mana mungkin kami bisa tenang disaat kami mendengar kalau kau masuk ke rumah sakit lagi," ucap Aditya.


"Maafkan aku. Lagi-lagi aku membuat kalian khawatir. Pasti kalian kerepotankan gara-gara aku?" lirih Naufal disertai air mata yang mengalir.


"Kamu bicara apa sayang? Kamu tidak pernah merepotkan Mommy, Daddy dan kakak-kakakmu. Kami semua sangat menyayangimu. Kamu adalah kebahagiaan Mommy, Daddy dan ketiga kakak-kakakmu." Helena berbicara sembari tangannya bermain-main di kepala putra bungsunya.


"Itu benar, Fal. Jadi kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh ya." Elvan menambahkan.


"Naufal. Disini juga ada kakak-kakakmu yang lain, sayang! Apa kau tidak mau menyapa mereka?" tiba-tiba Andhira berbicara pada keponakannya.


Detik kemudian Naufal mengalihkan pandangannya kearah 6 pemuda yang dari tadi fokus menatapnya.


"Kakak. Apa kalian akan tetap berdiri disana? Apa kalian tidak mau memelukku?" tanya Naufal sambil tersenyum kearah mereka.

__ADS_1


Tanpa membuang kesempatan lagi, mereka akhirnya berhamburan memeluk adik kecil mereka dan melepaskan kerinduan mereka selama ini.


"Naufal," ucap mereka bersama.


"Kak," balas Naufal.


"Kami merindukanmu, Fal!" mereka berucap secara bersamaan.


"Aku juga merindukan kalian, kak!" Naufal menjawabnya dengan memperlihatkan senyuman manisnya.


Semuanya tersenyum bahagia.


Tidak terkecuali para orang tua. Mereka sangat bahagia, melihat anak-anak mereka bahagia.


"Eheem." Elvan berdehem sengaja menjahili moment bahagia adiknya itu.


"Katakan pada kakak. Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai pingsan? Kakak ingin mendengar langsung dari mulutmu, Naufal Alexander?" tanya Elvan bertubi-tubi.


"Aaiiiissshhh! Kakak! Tidak bisakah kakak memberikanku sedikit kebahagiaan. Aku baru saja bangun, tapi kakak sudah menyerangku dengan pertanyaan yang begitu banyak. Apa kakak tidak kasihan padaku? Kalau tahu begini, mending aku tadi tidak bangun." Naufal mengomel sambil mempoutkan bibirnya.


Mereka semua tersenyum, melihat tingkah lucu Naufal kalau sudah berinteraksi bersama kakaknya.


"Hah!" Elvan menarik nafas panjangnya. Kali ini kakak ngalah sama kamu."


"Yak! Apa yang kau katakan, hah?! Lagi sakit begini masih sempat-sempatnya menasehati kakakmu sendiri. Sudah berani sekarang ya."


Elvan memperlihatkan senyuman liciknya lalu mengedipkan matanya kearah Aditya dan Rayyan. Mereka berdua pun mengerti.


"Kau harus dihukum, Naufal." mereka mendekati Naufal.


Lalu detik kemudian..


"Serang." Mereka bertiga menggelitiki Naufal.


"Hahahahaha. Kakak geli. Hahahahaha.. Hentikan kakak. Aku sudah tidak tahan lagi. Hahahaha."


Mereka yang menyaksikan adegan kakak beradik ini hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Terutama Helena dan Albert. Mereka sangat merindukan momen-momen seperti ini.


"Sudah, sudah. Apa kalian tidak kasihan pada adik kalian?" ucap Albert tersenyum.


Akhirnya mereka menghentikan aktivitas mereka. Dan tiba-tiba saja Naufal merasa kesakitan.


"Aarrgghhh!" Naufal memegang dadanya. Rasa sakit itu datang lagi.


"Naufal, kamu kenapa?" tanya Aditya panik sambil mengusap rambut adiknya.

__ADS_1


Sedangkan Elvan menekan tombol yang ada di dinding kamar rawat Naufal.


"Sayang. Kamu kenapa, Nak?" tanya Helena yang sudah duduk di samping ranjang putranya.


"Naufal," lirih Rayyan.


"Mommy. Sa-sakit, Mom. Aarrgghh!" erangan Naufal makin kuat sampai menitikkan air matanya.


Semuanya berubah menjadi panik saat melihat Naufal yang menangis menahan rasa sakitnya. Dan akhirnya kesadarannya mengambil alih tubuhnya. Naufal pingsan.


"Yak! Naufal, hei!" teriak Elvan sambil menepuk-nepuk pelan pipi adiknya.


"Naufal, bangunlah." Aditya dan Rayyan sudah menangis.


Beberapa menit kemudian, Dokter bersama perawat datang. Kalian keluar dulu. Saya akan memeriksanya.


Semuanya pun keluar dari ruangan Naufal dan membiarkan Naufal diperiksa oleh dokter.


20 menit kemudian, pintu ruang rawat terbuka menampilkan sang dokter dan perawat keluar dari ruang tersebut. Albert mendekati sang Dokter.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?"


"Setelah saya memeriksanya kondisinya. Putra anda mengalami cidera di otot dadanya karena suatu benturan atau pukulan keras. Pada daerah sekitar dadanya terdapat luka memar yang menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri dapat makin terasa saat menarik nafas. Saya akan membuatkan resep obat untuk menghilangkan luka memar di dadanya. Biasanya dalam waktu 1 atau 2 minggu luka memar itu akan sembuh," jelas Dokter panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan jantungnya, Dok?" tanya Helena.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jantungnya baik-baik saja. Saya sarankan jangan sampai hal ini terjadi lagi. Kalau sampai putra anda mengalami hal ini lagi, bisa saja nyawanya sebagai taruhannya. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter tersebut.


"Terima kasih, Dokter." Elvan berbicara sembari memberikan hormat.


"Oh ya! Lebih baik kalian pulang dan istirahat. Nanti kalian bisa datang lagi kesini," ucap Helena.


"Apa yang dikatakan bibi Helena benar. Kalian pasti kelelahan. Apalagi Naufal juga butuh istirahat. Lagian kalau kalian disini, kalian tidak akan bisa dengan puas mengobrol dengan Naufal. Kalian lihat tadikan kondisinya gimana?" ucap Andhira.


"Baiklah Bibi, Paman. Kami akan pulang dan kami akan kesini lagi!" seru Ardian.


Helena menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Kalau begitu aku pulang Papi, Mami, Paman, Bibi." Arsya pamit pada kedua orang tuanya dan Paman bibinya.


"Kalau begitu kami juga pamit pulang Albert. Semoga putramu cepat sembuh. Besok kami akan datang lagi," ucap Agra Pratista dan Daksa Carney.


"Terima kasih."


Semuanya sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Tinggallah sekarang dua keluarga ini yaitu keluarga Alexander dan keluarga Ravindra. Andhira dan Suaminya Felix memutuskan untuk menginap dirumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2