Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Pesan Misterius


__ADS_3

[Ruang Tengah]


"Naufal! Kamu kenapa sayang?" tanya Helena saat melihat putranya berlari dalam keadaan menangis.


"Arsya," panggil Andhira.


"Aku tidak tahu Mami."


"Kami juga tidak tahu, Bi!" Davian ikut menjawab mewakili yang lainnya.


"Sayang." Helena mengelus rambut putra bungsunya itu.


Naufal melangkah menuju tv. Lalu kemudian mengambil remote dan menyalakan tv tersebut. Kemudian mencari siaran TVN.


Naufal menatap tajam kearah tv tersebut. Dia melihat dan menyaksikan bagaimana bahagianya kekasihnya dengan orang lain.


Helena mendekat pada putranya. Matanya membelalak saat melihat orang yang dikenal ada di tv.


"Vanesha!" teriak Helena.


Mendengar teriakan dari Helena serta perkataannya. Sontak hal itu membuat semua orang yang berada disana terkejut dan mereka pun melihat acara ditv itu.


"Vanesha," ucap mereka semua.


"Bagaimana bisa? Vanesha kan sudah meninggal!" seru Rayyan.


"Murahan sialan itu masih hidup," ucap Naufal frontal dengan raut wajah yang penuh amarah.


"Apa?" teriak mereka semua tak percaya.


"Bagaimana bisa sayang? Kita jelas-jelas melihatnya saat di pemakaman," kata Helena.


"Kita memang melihatnya dipemakaman. Tapi kita tidak pernah melihatnya saat dimasukkan ke peti mati itu," jawab Naufal.


"Naufal benar. Terakhir kita melihatnya saat di rumah sakit. Ketika dokter mengatakan Vanesha sudah meninggal. Dan setelah itu keluarganya dengan berbagai alasan tidak memperboleh kita atau Naufal untuk melihat wajah Vanesha untuk terakhir kalinya," kata Aditya.


Mereka semua mengangguk dan membenarkan perkataan Aditya.


Albert menghampiri putra bungsunya. "Dari mana kamu mengetahui hal ini sayang. Dan kenapa kamu bisa yakin kalau Vanesha masih hidup?"


"Kakak Damian," jawab Naufal singkat.


Mereka semua langsung mengerti saat Naufal mengatakan nama Damian. Karena mereka tahu pekerjaan apa yang dilakukan oleh seorang Damian.


"Aku mau ke kamar," ucap Naufal dan langsung berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang berada di ruang tengah.


"Baru saja lega saat melihat putraku merasakan kebahagiaannya kembali. Tapi sekarang putraku harus kembali bersedih lagi," ujar Helena.


"Putra kita bisa melewatinya sayang. Dia pria yang kuat," hibur Albert pada istrinya.


"Aaaarrrrgggghhhh!" teriak Naufal.


Praanngg!!!


"Dad, Mom! Itu suara Naufal," sahut Elvan.


Mereka berlari menuju kamarnya kamar Naufal.


^^^


[Kamar Naufal]


"Brengsek! Perempuan sialan! Dasar wanita murahan! Beraninya kau menipuku dengan kematian palsumu. Kau pikir aku ini apa, hah?! Kalau kau tidak mencintaiku, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Kenapa kau harus berpura-pura mencintaiku?!" teriak Naufal sembari memegang bingkai foto Vanesha kekasihnya.


Naufal membanting kuat bingkai foto tersebut.


Praanngg!!!


"Aarrgghh!" teriak Naufal histeris.


Tubuh lemah Naufal merosot di lantai kamarnya yang dingin dengan air matanya yang terus membasahi wajahnya.


Braakk!!


"Naufal!" teriak mereka saat sudah masuk ke dalam kamar Naufal.


Helena menghampiri putra bungsunya lalu kemudian memeluk putranya tersebut.


"Mommy ada disini, Nak! Apapun yang terjadi Mommy tidak akan meninggalkan kamu. Menangislah sayang. Keluarkan semua kekecewaanmu, kesedihanmu, kekesalanmu. Jangan ditahan."

__ADS_1


"Hiks... Hiks." Terdengar suara isakan yang lolos dari bibirnya.


Semua yang mendengar isakan tersebut merasakan sakit di dada mereka, terutama Helena dan ketiga kakak kandungnya.


"Apa salahku, Mom? Kenapa, kenapa Vanesha tega melakukan hal ini padaku? Apa aku tidak pantas untuk memiliki seseorang untuk menjadi pendamping hidupku? Apa aku tidak berhak untuk bahagia?"


"Kalau Vanesha tidak mencintaiku, kenapa dia tidak mengatakannya dari awal? Kalau seandainya dia berkata jujur padaku, aku tidak akan memaksanya untuk menjadi kekasihku."


"Sudahlah Naufal. Sekarang kamu sudah mengetahui semuanya. Jadi sekarang lupakan dia. Masih banyak wanita diluar sana yang benar-benar mencintai kamu. Perempuan itu sudah bahagia dan kamu juga berhak untuk bahagia," uap Aditya sembari mengelus rambut adiknya.


"Naufal," pnggil Helena.


Tapi tidak ada sahutan dari Naufal. Hal itu membuat mereka makin panik.


"Naufal," panggil Helena sekali lagi dengan tangan menepuk pelan pipi putih putranya itu.


Lalu terdengar suara dengkuran halus dari nafas Naufal. Dan mereka semua pun bernafas lega kalau ternyata sikesayangan mereka telah tertidur.


"Lebih baik pindahkan Naufal ke tempat tidurnya," kata Felix.


Elvan dan Aditya mengangkat tubuh adik mereka ke tempat tidur. Setelah berada di tempat tidur mereka pun menyelimuti tubuhnya. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening adik mereka secara bergantian.


"Lebih baik kita keluar. Biarkan Naufal istirahat," kata Albert.


Mereka pun pergi meninggalkan Naufal sendiri di kamar.


***


[Ruang Keluarga]


Naufal sedang berada di ruang tengah. Pikirannya saat ini sedang kalut. Kemudian Naufal memejamkan matanya sejenak. Lalu terlintas wajah cantik kekasihnya dan kenangan-kenangan indah saat bersamanya.


"Kak. Sudah ach. Jangan menggodaku terus. Aku kan jadi malu!"


"Kak. Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu ada untukmu, kak! Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Kak. Aku mau bunga itu. Belikan untukku ya."


"Aish, kak. Kau benar-benar menyebalkan."


"Kak. Jangan pernah berhenti mencintaiku ya?"


"Kakak. Aku tidak tega lihat Naufal seperti itu. Kita harus lakukan sesuatu agar Naufal kembali ceria. Aku rela jadi korban bully nya asal Naufal bahagia. Tidak sekarang ini yang menangis," kata Rayyan.


"Kakak juga sedih melihat Naufal kalau sudah menangis begini," balas Elvan.


Mereka terus memperhatikan Naufal.


"Vanesha. Kenapa kau tega padaku?" batin Naufal.


Naufal beranjak dari duduknya dan ingin ke kamarnya. Saat kakinya hendak melangkah menuju kamarnya, ponselnya berbunyi. Naufal merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. Dan dapat dilihat nama 'Bima' di layar ponselnya. Naufal pun segera menjawabnya dengan menduduki kembali pantatnya di sofa.


"Halo Bima. Ada apa menghubungiku? Apa ada masalah di kantor?"


"Hallo, Bos. Bisa tidak bos ke kantor sekarang. Ada yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?" tanya Naufal.


"Namanya Alex Alvaro. Dia ingin sekali bekerja sama dengan perusahaan kita Bos."


"Tunggu sebentar. Aku matikan dulu. Nanti aku akan menghubungimu balik."


"Baik Bos."


PIP!!


Naufal menghubungi Nathan. Panggilan tersambung.


"Hallo, Fal."


"Hallo, Nat! Apa masih ada berkas yang sempat aku tolak kemarin?"


"Eemm. Tunggu sebentar. Ada Fal. Memangnya kenapa?"


"Siapa nama orang itu? Aku lupa."


"Alex Alvaro."


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Iya."


"Kau simpan saja berkas itu dulu. Biar aku sendiri yang mengembalikannya pada orang itu."


"Baiklah."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup ya."


PIP!!


Naufal kembali menghubungi asistennya Bima Sadendra.


"Hallo, Bos."


"Hallo. Apa dia masih ada di kantor?"


"Ya, Bos. Masih. Dia ada di ruang tunggu."


"Kau temui dia dan katakan padanya kalau aku sedang sibuk. Kalau dia menawarkan kerja sama. Tolak saja dan jangan diterima."


"Baik, Bos."


PIP!!


"Siapa dia? Dan kenapa perasaanku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu?" batin Naufal.


TING!!


Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


To : 0813-9981-xxx


Hei, Naufal Alexander. Permainan akan segera dimulai. Tunggu kejutan dariku. Pertama, aku sudah membuat milikmu menjadi milikku! Langkah kedua aku akan membuat milikmu seutuhnya menjadi milikku.


"Apa maksudnya? Dan siapa dia?" tanya Naufal pada dirinya sendiri.


"Naufal," panggil Elvan yang datang bersama Adity dan Rayyan.


Hal itu sukses membuat Naufal terkejut dan reflek mengumpati kakaknya sendiri. "Monyong, sialan, kampret."


TAK!!


TAK!!


TAK!!


"Aww!" Naufal meringis.


Naufal mendapatkan tiga jitakan sekaligus dari ketiga kakak-kakaknya.


"Kenapa kalian menjitakku sekaligus kak? Kalau aku sianema bagaimana?" tanya Naufal kesal dengan mempoutkan bibirnya.


"Sianema? Bahasa dari mana pula tu. Amnesia kali," ejek Aditya.


"Terserahku dong. Mau amnesia, mau sianema, mau sinema, mau anemia mulut-mulutku dan bukan mulut hyung," balas Naufal mengerucutkan bibirnya.


"Ada apa, hum?" tanya Elvan sembari mengusap lembut rambut Naufal.


"Apanya?" tanya Naufal balik.


"Aish, kau ini! Ditanya malah balik nanya," ucap Rayyan kesal.


"Apaan sih, kak. Orang nanya sama kakak Elvan kok malah kakak yang sewot. Wlee...," ejek Naufal.


"Kami bertiga dari tadi memperhatikan kamu. Sepertinya kamu lagi ada masalah? Apa terjadi sesuatu sama King Studio & Jeon Corp?" tanya Elvan.


"Tidak ada. Semuanya baik-baik saja," jawab Naufal dengan memperlihatkan senyuman manisnya.


"Yakin?" tanya Aditya menyelidik.


"Sangat yakin," jawab Naufal lagi.


Elvan memegang kedua bahu Naufal dan menatap ke arah manik coklat adik bungsunya itu.


"Kakak berharap untuk kali ini kamu tidak menyembunyikan masalah apapun dari kami. Dan kakak berharap kamu mau terbuka kepada kami semua," ucap Elvan tegas.


Naufal membuang pandangannya ke arah lain. Dan berusaha bersikap normal didepan ketiga kakaknya.


"Kakak ngomong apaan sih," sela Naufal lalu menepis pelan tangan kakak tertuanya itu dari bahunya. "Lagian aku baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. Kalian saja yang terlalu lebay," ucap Naufal. "Udah ach. Aku mau ke kamar." Naufal pun pergi meninggalkan ketiga kakaknya yang masih menatapnya.

__ADS_1


"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari kami, Fal!" Elvan berucap di dalam hatinya.


__ADS_2