Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kemarahan Naufal


__ADS_3

[Kamar Naufal]


Naufal sudah berada di tempat tidurnya. Wajahnya sedikit pucat.


"Vanesha... Vanesha." Naufal mengigau dalam ketidaksadarannya.


Mendengar igauan Naufal membuat anggota keluarganya menjadi khawatir


"Kenapa Naufal masih saja mengingat nama gadis itu? Ini sama saja membuat Naufal makin tertekan," ucap Aditya.


"Naufal disini masih terus mengingat namanya. Sedangkan gadis itu saja sudah melupakan Naufal dan bertunangan dengan orang lain. Sial," kesal Rayyan.


"Naufal. Kenapa denganmu sayang? Apa kamu masih mencintai Vanesha?" tanya Helena pada putra bungsunya yang masih memejamkan matanya dan tangannya tak henti-hentinya mengelus lembut rambutnya.


"Eeuugghh." Lenguhan terdengar.


"Naufal," ucap mereka semua.


Berlahan Naufal membuka kedua matanya. Dan dapat dilihat olehnya semua orang berada didalam kamarnya.


"Mommy," ucap Naufal saat melihat ibunya ada di sampingnya.


"Ada apa sayang? Ceritakan pada Mommy."


"Vanesha... Vanesha," ucap Naufal yang berlinang air mata.


"Kenapa kamu masih memikirkan gadis itu? Sudahlah dan lupakan dia. Masih banyak perempuan diluar sana yang benar-benar tulus mencintai kamu," kata Aditya.


"Aditya," tegur Albert.


"Maaf, Dad."


"Sayang. Ada apa, hum? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Helena sembari mengelus rambut Naufal.


"Aku benar-benar bingung, Mom! Sebenarnya aku benar-benar tidak peduli lagi dengannya. Aku sudah jijik melihatnya. Bahkan menyebut namanya aku sudah tidak sudi."


"Tadi.. Tadi di dapur saat aku sedang menikmati minuman kesukaanku. Aku mendengar suara seseorang memanggilku. Suara itu memanggilku dengan sebutan kakak Naufal. Saat aku ingin berbalik, bayangan berdiri tepat di depanku. Dia meminta padaku agar aku tidak melupakannya. Dia meminta agar aku terus mencintainya. Dia juga mengatakan padaku kalau dia sangat mencintaiku. Hanya ada aku di hatinya. Setelah mengatakan hal itu, bayangan itu hilang seketika." Naufal menceritakan apa yang terjadi ketika dia di dapur. Naufal menangis.


"Aku benar-benar tidak mengerti, Mom! Apa maksudnya ini? Vanesha bertunangan dengan orang lain. Tapi kenapa bayangan dan suaranya selalu menggangguku?" tanya Naufal sembari mengadu pada ibunya.


***


Keesokkan paginya semua anggota keluarga sudah akan bersiap-siap dengan tugas mereka masing-masing. Helena Alexander dan Andhira Ravindra sedang menyiapkan sarapan pagi dibantu oleh menantu mereka yaitu Liana dan Renata serta satu orang pelayan.


Albert Alexander dan Felix Ravindra sudah duduk santai di ruang tengah, lengkap dengan setelan jas kerja mereka.


Elvan, Aditya, Rayyan, Pasya dan Arsya juga sudah rapi dengan pakaian kantor mereka. Lalu mereka bergabung dengan ayah mereka di ruang tengah.


Sedangkan Naufal Alexander, kesayangannya Mommy dan Daddy serta kesayangannya ketiga kakaknya masih di kamarnya.


^^^


[Ruang Tengah]


Albert, Felix dan putra-putra mereka sedang berada di ruang tengah.


"Kalian tampan sekali," puji Felix saat melihat tiga keponakannya dan dua putranya.


"Paman baru tahu ya. Selama ini Paman kemana saja? Kenapa baru sekarang Paman menyadari kalau kami ini tampan," ucap Rayyan bangga.


Sedangkan Albert dan Felix hanya tersenyum gemas melihat kelakuan Rayyan.


"Oh iya. Naufal mana? Apa Naufal masih tidur?" tanya Aditya saat tidak melihat kelinci kesayangannya tidak bersama mereka.


"Biarkan saja Naufal istirahat. Daddy tidak mau Naufal sampai jatuh sakit karena memikirkan masalahnya?"


"Tapikan Naufal harus sarapan, Dad!" sela Elvan.


"Nanti Mommy kamu yang akan mengantarkan sarapan pagi untuk Naufal ke kamarnya," jawab Albert.


"Ya, sudah kalau begitu." Elvan menjawab perkataan ayahnya.


Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang. Terdengar suara teriakan dari arah dapur.


"Sarapan pagi sudah siap!" teriak Andhira.


"Tuh!" suara teriakan Bibi kalian sudah memanggil," seru Felix.


"Hahahaha." mereka semua tertawa lalu melangkahkan kaki menuju meja makan.


^^^


[Meja Makan]


Kini mereka telah berkumpul di meja makan, kecuali Naufal.


"Sayang. Lebih baik Naufal sarapan di kamarnya saja. Jadi selesai Naufal sarapan Naufal bisa istirahat kembali," kata Albert pada istrinya.


"Eemm. Baiklah! Aku akan menyiapkan sarapan untuknya," balas Helena tersenyum.


Belum ada dua menit mereka memikirkan Naufal. Lalu mereka mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.


TAP!!


TAP!!


TAP!!


"Selamat Pagi Mommy, Daddy, kakak, Paman, Bibi!" Naufal menyapa semua anggota keluarganya dengan wajah cerianya.


"Pagi sayang."


"Pagi Naufal."


"Pagi kelinci gembul."


"Pagi manis."


Itulah jawaban-jawaban dan sapa-sapaan dari mereka semua.


Naufal mempoutkan bibirnya dan menatap horor pada kedua kakak sepupunya yaitu Pasya dan Arsya.


"Dasar dua jangkung butek," umpatnya, lalu menduduki pantatnya di samping Elvan.


Sedangkan mereka semua tersenyum gemas melihat bibir manyun Naufal.


"Kamu sudah baikan sayang?" tanya Jeon Albert.


"Ya, Dad." Naufal menjawab pertanyaan dari ayahnya dengan bibir yang masih manyun.


"Mau sampai kapan tuh bibir dimanyunkan begitu? Ooh kakak tahu? Pasti kau ingin minta diciumkan? Sini biar kakak saja yang menciumnya," goda Arsya.


Naufal membelalakkan matanya dan bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk Arsya. "Ogah. Dari pada bibirku dicium oleh jangkung butek seperti kakak. Mendingan aku dicium oleh beribu wanita cantik dan seksi diluar sana."


"Aku heran sama kak Ishana? Kenapa tuh cewek bisa suka dengan jangkung butek sepertimu? Kalau aku jadi kak Ishana, aku akan berpikir dua ribu kali untuk jadi kekasihmu, kak." Naufal berbicara dengan seenak udelnya.


Kini Arsya yang membelalakkan matanya mendengar ucapan Naufal. "Sialan kau, Fak!" umpat Arsya dan melempari Naufal dengan serbet ke wajah Naufal.


Sedangkan Naufal tersenyum kemenangan telah berhasil membalas Arsya. Yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.


***


[NFL CORP]


Naufal sudah sampai di depan kantornya. Saat Naufal memasukkan kantornya semua pegawainya menunduk hormat padanya. Naufal membalasnya dengan senyuman. Lalu asistennya Bima Sadendra datang menghampirinya.


"Maaf, Bos. Ada seseorang yang menunggu, Bos diruang tunggu."


"Siapa?"


"Katanya sahabatnya, Bos."


"Henry," batin Naufal.


"Ya, sudah. Aku akan langsung menemuinya," jawab Naufal.

__ADS_1


Naufal langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu.


^^^


[Ruang Tunggu]


Naufal membuka pintu ruangan tersebut.


CKLEK!!


Naufal langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan mendapati seseorang pemuda yang tengah duduk santai di sofa.


"Akhirnya kau menerima tawaranku, Hitam!" seru Naufal lalu mendudukkan pantatnya di sofa menghadap Henry.


"Aku terpaksa dan kasihan padamu, kelinci sialan," balas Henry.


"Iya, ya." Naufal tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"Fal."


"Hm!"


"Kau sehatkan?"


"Maksudmu?"


"Wajahmu sedikit pucat."


"Aku hanya banyak pikiran beberapa hari ini, Hen."


"Masalah bocah itu."


"Hm!"


"Kau maukan membantuku, Hen?"


"Lalu tujuanku kemari untuk apa, hah?!" kesal Henry.


"Tidak tahu," jawab Naufal santai.


"Yak, kelinci sialan!"


BUKK!!


Henry melemparkan bantal sofa pada Naufal dan tepat mengenai wajahnya.


"Yak! Hitam sialan... Kudisan. Kenapa kau melempariku?"


"Siapa suruh kau membuatku kesal dan marah?"


"Memang aku melakukan apa padamu sehingga kau kesal dan marah?"


"NAUFAL ALEXANDER!" teriak Henry.


"Iya ya. Maaf!" Naufal mengusap-usap telinganya akibat mendengar teriakan Henry.


Hening sesaat. Sehingga Henry kembali bersuara.


"Apa yang harus aku lakukan disini?"


"Tugasmu sama seperti saat di King Studio. Aku memberikan kepercayaan penuh untuk mengurus NFL CORP. Kau pantau semua orang-orang yang keluar masuk diperusahaan ini."


"Baiklah. Lalu ruanganku dimana?"


"Gunakan saja ruanganku."


"Nah. Kau sendiri bagaimana?"


"Kita satu ruangan saja. Nanti aku akan menyuruh Bima untuk membawakan meja dan kursi ke ruanganku. Dan meja kerjamu akan berada tepat di samping meja kerjaku."


"Terserah kau saja."


"Ya, sudah. Kalau begitu ikut aku," ajak Naufal.


^^^


Naufal dan Henry sudah berada di ruang kerja milik Naufal.


"Nanti meja kerja disini, Hen." Naufal berucap sembari menunjuk arah di samping meja kerja miliknya.


"Baiklah," jawab Henry.


"Selama aku tidak ada, kau yang menghandlenya. Aku percaya padamu, Hen." Naufal berucap sembari menatap wajah Henry.


"Aku berusaha dengan sebaik-baiknya," jawab Henry tulus.


"Terima kasih, Hen."


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Fal! Aku tulus membantumu. Kau sahabatku sekaligus saudaraku. Ditambah lagi ibu-ibu kita juga berhubungan baik alias bersahabat sama seperti kita."


Naufal tersenyum mendengar ucapan Henry. Lalu Naufal kemudian menghubungi asistennya Bima.


"Bima, ke ruanganku. Sekarang!"


Beberapa detik kemudian terdengar suara ketuk.


TOK!!


TOK!!


CKLEK!!


"Ada apa, Bos?"


"Ini Henry Krishon sahabat saya. Dia akan bertanggung jawab penuh di perusahaan ini. Jika saya tidak ada, kau laporkan semua hasilnya padanya."


"Baik, Bos."


"Jangan lupa. Umumkan juga pada pegawai-pegawai yang lainnya. Biar mereka semua tahu."


"Baik, Bos."


"Satu lagi. Bawakan meja dan kursi kerja untuk sahabat saya ini. Dia akan satu ruangan dengan saya."


"Ada lagi, Bos."


"Itu saja."


"Baik, Bos. Kalau begitu saya permisi." Bina pun pergi meninggalkan ruangan kerja Naufal.


***


[Kediaman Dhafin]


Dhafin saat ini sedang duduk di ruang tengah. Dirinya sedang berkutat dengan laptop miliknya.


Dhafin sedang menyelesaikan berkas laporan keuangan perusahaan dan juga sedang menyiapkan berkas-berkas untuk rapat pukul sebelas siang nanti.


Disaat Dhafin sedang fokus dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi, menandai ada panggilan masuk. Dhafin mengambil ponselnya dan melihat nama Buntelan Kelinci di layar ponselnya.


Dhafin pun langsung menjawab panggilan tersebut. Karena Dhafin tahu kalau panggilan dari sikelincinya itu tidak segera dijawab. Pastinya akan berujung ponselnya tidak akan pernah berhenti berbunyi.


Disaat Dhafin ingin membuka mulutnya. Sudah terdengar terlebih dahulu suara melengking dari seberang telepon.


"Hallo kuda liar."


Dhafin membelalakkan matanya dan mengumpat dalam hati. "Dasar siluman kelinci sialan."


"Ada apa, hah?!" Dhafin balik berteriak saking kesalnya.


"Kenapa berteriak?"


"Nah, kau sendiri kenapa berteriak dan menyebutku kuda liar?"


"Hehehehe!"

__ADS_1


"Ada apa menghubungi kakak?"


"Tidak. Hanya ingin mengganggumu saja."


"Jadi kau menghubungi kakak hanya untuk mengganggu kakak saja?"


"Iya!"


"Yak, Naufal Alexander! Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu kakak?"


"Siapa bilang aku tidak punya pekerjaan lain? Justru pekerjaanku banyak. Saking banyaknya sehingga membuatku stress. Jadi untuk menghilangkan rasa stresku, makanya aku mengganggumu, kuda liar."


"Dasar siluman kelinci sialan, psikopat, kurap, kudisan, kampret, bocah edan, kecoak bunting, kelinci tengil, kelinci hitam, bongsor, gembul, cengeng."


"Yak! Banyak sekali umpatan kamu, kak! Belajar dari mana tuh?"


"Belajar darimu!"


"Kakak!"


Dhafin terkejut saat mendengar suara lirih Naufal saat Naufal memanggilnya dengan sebutan kakak tanpa embel-embel namanya. "Ada apa denganmu, Fal?" batin Dhafin.


"Fal. Kau baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja, kak. Kakak, nanti sore kita ke taman yuk. Ajak yang lainnya juga. Kita bertujuh. Bisa tidak kak??"


"Baiklah. Biar nanti kakak akan mengabari mereka semua."


"Kabari juga kak Arsya, karena jadwalku untuk hari ini padat. Kita bertemu pukul empat sore di taman."


"Baiklah."


"Kalau begitu aku matikan panggilannya ya, kak?"


"Iya, Fal. Selamat bekerja. Semangat!"


"Hm!"


TUTT


TUTT


Panggilan dimatikan oleh Naufal.


***


[THE GARDEN OF MORNING CALM]


Saat ini keenam kakaknya Naufal sudah berada di taman. Dan mereka tinggal menunggu kedatangan Naufal.


"Memang ada hal apa Naufal mengajak kita ketemuan disini?" tanya Davian.


"Apa Naufal punya masalah?" tanya Reza.


"Jadi harus ada masalah dulu baru kita ketemuan kayak gini?" tanya Barra.


"Ya, nggaklah." Reza langsung menjawab perkataan Barra.


"Bisa saja Naufal ingin bertemu dengan kita disini," sela Ardian.


"Kak Arsya. Coba kakak hubungi Naufal. Katakan padanya kalau kita udah disini," kata Barra.


"Jangan lupa panggilannya di Loundspeaker, kak Arsya!" seru Davian.


"Eemmm. Baiklah!"


Arsya langsung mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi Naufal.


Panggilan tersambung!!


"Hallo, kak Arsya."


"Hallo, Fal. Kamu ada dimana?"


"Aku ada di jalan, kak Arsya."


"Kita semua sudah ada di taman THE GARDEN OF MORNING CALM."


"Ooh, Oke! Lima belas menit lagi aku sampai."


BRAKK!!


Naufal tidak sengaja menabrak mobil yang ada di depannya. "Wah! Gila nih orang," kesal Naufal.


Arsya dan yang lainnya mendengar Naufal yang menabrak sesuatu sehingga membuat mereka semua khawatir.


"Fal. Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?" teriak Arsya.


Sementara di seberang telepon, Naufal tak menjawabnya.


***


Naufal menatap kearah depan. Dapat dilihat olehnya seseorang pemuda yang keluar dari dalam mobil.


"Diaa.....!! Wajahnya familiar sekali," batin Naufal.


Naufal masih terus menatap ke depan. Dan Naufal sangat terkejut saat melihat seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.


"Va-vanesha," ucap Naufal pelan dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.


DUG!!


DUG!!


DUG!!


Pintu kaca mobil Naufal dipukul sangat kuat oleh pemuda yang mobilnya ditabrak oleh Naufal. Hal itu sukses membuat Naufal terkejut dan menolehkan wajahnya ke samping.


"Aish! Dasar tidak tahu sopan santun," gerutu Naufal kesal.


Saat Naufal membuka pintu mobilnya. Pemuda itu langsung menariknya keluar dengan kasar. Lalu memberikan pukulan tepat di wajah Naufal.


BUGH!!


"Aakkhhh!" Naufal meringis saat merasa sakit di bagian sudut bibirnya.


Saat pemuda itu hendak melayangkan pukulan keduanya. Naufal menghentikannya.


"Hei! Tenanglah, bung." Naufal berucap sembari menyeka darah di sudut bibirnya.


"Brengsek! Kau menyuruhku tenang, hah! Apa kau tidak melihat mobilku lecet dan rusak karena ulahmu!" teriak pemuda itu.


Naufal melihat kearah telunjuk pemuda itu. "Ouh!! Lecetnya cuma sedikit. Tapi kau sudah mengamuk seperti orang kerasukan setan," ejek Naufal.


"Apa kau bilang? Lecetnya cuma sedikit? Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas? Apa matamu buta, hah?! Kau lihat mobilku rusak parah. Dan itu butuh biaya banyak untuk memperbaikinya!" teriak pemuda itu.


"Kenapa kau menyalahkanku? Yang membuat mobilmu rusak itu dirimu sendiri," jawab Naufal santai.


"Apa?!" teriak pemuda itu. "Jelas-jelas kau yang menabrak mobilku. Sekarang seenaknya kau menyalahkanku. Dimana otakmu, hah?! Apa kau tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu untuk belajar bertanggung jawab?" bentak pemuda itu.


"Brengsek! Jangan bawa-bawa orang tuaku dalam masalah ini!" teriak Naufal


"Kenapa? Jadi benar kalau kedua orang tuamu itu mengajarkan hal-hal buruk padamu? Oohh... Aku tahu. Jangan-jangan pekerjaan orang tuamu itu kotor sehingga sikapmu seperti ini. Buruk sama seperti kedua orang tuamu," ucap pemuda itu remeh.


DUUAAGGHH!!


Naufal langsung memberikan tendangan kuatnya tepat di perut pemuda itu sehingga membuat pemuda itu tersungkur ke tanah.


"Brengsek! Jangan beraninya kau menghina kedua orang tuaku. Mereka tidak tahu apa-apa masalah ini. Jelas-jelas kau yang salah. Kau dengan seenaknya menyalip mobilku. Lalu tiba-tiba kau menghentikan mobilmu tepat didepan mobilku tanpa menghidupkan lampu seinmu. Dan hal itu yang membuatku terkejut dan tak sengaja menabrak mobilmu. Seharusnya aku yang memakimu dan memarahimu karena kau telah berbuat salah. Tapi karena aku tidak mau mencari ribut, aku berusaha sabar!" bentak Naufal.


"Sekarang urusi saja mobilmu itu. Bodo amat. Aku tidak peduli," ucap Naufal.


Setelah itu, Naufal langsung masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan kedua makhluk tersebut.


Sedangkan salah satunya dari makhluk tersebut menatap kepergian Naufal dengan tatapan sedih dan juga rindu.

__ADS_1


"Kakak Naufal!"


__ADS_2