
"Mom, Dad! Bagaimana kakak Aditya? Kak Aditya nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Naufal yang baru saja tiba di rumah sakit.
Helena langsung memeluk tubuh putra bungsunya itu sembari tangannya mengusap-usap lembut punggungnya.
"Tenang, oke! Kakak Aditya kamu masih di dalam ruang UGD. Masih ditangani oleh dokter," ucap Helena sembari menghibur putra bungsunya.
Naufal seketika melepaskan pelukan ibunya lalu menatap wajah cantik ibunya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kakak Aditya bisa kecelakaan?"
Mendengar pertanyaan dari Naufal, ditambah lagi melihat wajah Naufal yang begitu khawatir akan kakak kesayangannya membuat mereka menatap iba dirinya.
Ketika Elvan hendak menjawab pertanyaan dari adik bungsunya itu, Alice sudah terlebih dulu bersuara.
"Maafkan kakak, Naufal! Lagi-lagi kakak menyakiti kakak kamu," ucap Alice dengan berlinang air mata.
Naufal melihat kearah Alice. Dan dia baru sadar bahwa ada Alice juga.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kakak Alice minta maaf padaku dan juga kenapa kak Alice menyalahkan diri kak Alice?"
"Kecelakaan yang menimpa Aditya itu karena kakak. Aditya mengejar kakak dan memohon sama kakak untuk bicara. Kamu tahukan kondisi kakak seperti apa sekarang. Kakak menghindar dari Aditya agar Aditya bisa melupakan kakak dan mencari wanita lain yang mana wanita itu bisa memberikan Aditya seorang anak jika dia menikah nanti. Tapi... Tapi Aditya terus mengejar kakak dan terjadilah kecelakaan itu."
Mendengar cerita dari Alice membuat Naufal menatap lekat wajah Alice. Naufal tidak marah terhadap Alice. Justru Naufal sangat faham akan kondisi Alice setelah operasi tersebut.
"Apa kakak mencintai kakakku?"
Hening..
Alice hanya diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi dia masih mencintai Aditya, namun disisi lain dia tidak ingin egois. Bagaimana pun dalam hubungan rumah tangga kehadiran seorang anak sangat diharapkan, apalagi anak itu terlahir dari rahim seorang istri.
Tidak mendapatkan jawaban dari Alice membuat Naufal langsung bisa mengartikan keterdiaman Alice.
"Jika kakak Alice masih mencintai kakak Aditya. Tetaplah di samping kak Aditya. Jangan pernah tinggalkan kak Aditya lagi. Sudah cukup kak Aditya menderita dan bersedih selama ini akibat kepergian kakak." Naufal berbicara dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Dan kakak jangan pikirkan masalah dimana kakak tidak akan bisa memberikan seorang anak untuk kakak Aditya jika kelak kakak menikah dengan kakak Aditya. Aku selaku adik bungsunya kak Aditya menerima kakak apa adanya. Aku sayang kak Alice. Aku hanya ingin kak Alice yang menjadi istri kak Aditya dan menjadi kakak ipar aku. Aku tidak mau perempuan lain."
Tes..
Air mata Alice kembali jatuh ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Naufal. Hatinya benar-benar menghangat ketika Naufal mengatakan bahwa dia hanya ingin menginginkan kakak ipar dirinya.
Helena mendekati Alice yang saat ini dirangkul oleh adik perempuannya Andhira. Setelah tiba di depan Alice. Helena mengambil alih tubuh Alice lalu memeluknya.
"Apa yang dikatakan oleh Naufal itu benar sayang. Bibi selaku ibunya Aditya juga menerima kamu apa adanya. Kita keluarga besar Aditya menerima kamu sayang. Kamu jangan berkecil hati hanya karena kondisi kamu yang sekarang. Kamu adalah calon menantu Bibi. Selamanya tetap menjadi calon menantu Bibi. Kamu tidak tergantikan dengan perempuan manapun."
"Yang kami cari itu adalah perempuan yang memiliki hati yang baik, tulus, setia, berperilaku baik dan sopan serta bertutur kata yang lembut pada pasangannya dan juga kepada keluarga dari pasangannya. Kami tidak peduli dia berasal dari keluarga kaya, berasal dari keluarga miskin atau keluarga sederhana." Albert berucap sembari menatap wajah cantik calon menantunya itu.
Helena seketika melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya menatap wajah cantik calon menantunya itu.
"Bagaimana? Apa masih ingin menjauhi putra Bibi, hum? Yakin kalau kamu sudah tidak mencintai putra Bibi lagi? Jika begitu Bibi akan jodohkan Aditya dengan....."
"Tidak, Bi! Jangan!" Alice langsung menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak setuju kalau ibunya Aditya menjodohkan Aditya dengan wanita lain bersamaan tangannya meremat tangan Helena.
Helena seketika tersenyum ketika mendapatkan jawaban penolakan dari Alice. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Mereka semua tersenyum bahagia.
"Aku mencintai Aditya, Bi! Aku sangat mencintainya. Sampai saat ini hanya nama Aditya di hati aku."
"Jawaban itulah yang ingin Bibi dengar."
Helena melihat kearah putra bungsunya yang juga tengah menatap dirinya dan Alice.
"Apa kamu sudah puas dengan jawaban dari calon kakak ipar kamu ini, hum?" tanya Helena.
"Sangat puas, Mom! Terima kasih atas bantuannya Mom!"
"Sama-sama sayang."
Sementara Alice seketika berubah menjadi malu akan kelakuan ibu dan anak itu. Keduanya sengaja menjebak Alice dengan cara memberikan pertanyaan dan ancaman kepada Alice untuk membuktikan apa Alice masih mencintai Aditya atau tidak.
__ADS_1
Ketika mereka sedang membahas hubungan Aditya dan Alice, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pintu ruang UGD dibuka oleh seseorang.
Cklek..
Setelah, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter pun keluar. Dokter itu adalah Kishan adik laki-lakinya Albert.
Albert, Helena serta yang lainnya menghampiri Kishan. Begitu juga dengan Kishan.
"Bagaimana putraku, Kishan? Dia baik-baik saja kan?" tanya Albert kepada adiknya.
Kishan tersenyum mendengar pertanyaan dari kakak tertuanya itu. Apalagi ketika melihat wajah khawatir kakaknya.
"Kak Albert tidak perlu khawatir. Aditya baik-baik saja. Hanya luka lecet di kening dan lengannya saja. Tidak ada luka serius sama sekali," jawab Kishan sembari menjelaskan kondisi keponakannya itu.
Mendengar jawaban serta penjelasan dari Kishan membuat Albert dan Helena tersenyum lega. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua bersyukur bahwa Aditya baik-baik saja.
***
Di sebuah kamar terlihat seorang gadis cantik. Gadis itu saat ini tengah memikirkan seorang pemuda yang begitu tampan. Pemuda itu adalah Naufal Alexander.
Gadis itu kini duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya dengan tangannya memegang sebuah bingkai foto dirinya dengan Naufal.
"Naufal, aku kembali untuk kamu. Tunggu aku. Sebentar lagi aku akan datang menemuimu, sayang!"
"Naufal! Aku akan mendapatkan kamu lagi. Kamu harus menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan perempuan manapun memiliki kamu. Hanya aku yang pantas buat kamu."
Gadis itu berbicara sembari tangannya mengusap-usap wajah Naufal di bingkai foto tersebut, kemudian gadis itu mencium foto tersebut.
"Naufal, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku akan membuatmu kembali mencintaiku. Aku bahkan akan melakukan segala cara untuk membuatmu bertekuk lutut di hadapanku dan memohon cinta padaku."
Setelah mengatakan itu, gadis itu meletakkan kembali bingkai foto tersebut di tempat semula. Kemudian gadis itu beranjak dari duduknya. Dirinya melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.
Cklek..
__ADS_1
Pintu kamarnya terbuka, lalu kakinya melangkah keluar meninggalkan kamarnya. Dirinya ingin menuju lantai bawah menemui anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah.