
Di kediaman Naufal hanya ada Naufal dan Arsya. Sementara untuk kedua orang Arsya sudah kembali pulang ke rumahnya bersama Tasya, Pasya, Renata dan anaknya. Begitu juga dengan kedua orang tua dan kakak sulungnya yaitu Elvan. Sedangkan untuk Aditya dan Rayyan, kedua memilih tetap di Jakarta. Mereka tidak ingin meninggalkan Naufal, walau masih ada Paman, Bibi dan sepupunya di Jakarta untuk menjaga Naufal. Aditya dan Rayyan menetap di Apartemen milik ayahnya
Saat ini Naufal dan Arsya sedang sarapan pagi bersama. Keduanya sarapan pagi sembari mengobrol kecil.
"Jadi kamu ke rumah perempuan busuk itu untuk memberikan pembalasan terhadap apa yang sudah dia lakukan ketika di Mall itu?" tanya Arsya sembari mengunyah makanannya.
"Jadi," jawab Naufal.
"Kapan?"
"Nanti siang setelah dari Studio. Pagi ini ada dua rekaman. Selesainya sekitar pukul 12 siang."
"Apa boleh kakak ikut dengan kamu?"
"Aku nggak keberatan. Asal tidak mengganggu pekerjaan kakak di kantor."
"Tidak. Hari ini pekerjaan kakak tidak terlalu banyak. Kakak bisa nemani kamu."
"Baiklah. Aku akan jemput kakak ke kantor."
"Baiklah."
Ketika Naufal dan Arsya sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba ponsel milik Naufal berbunyi menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Naufal yang mendengar suara ponselnya berbunyi langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Naufal melihat nama 'Kakak Damian' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naufal langsung menjawab panggilan tersebut. Dia ingin mengetahui apa yang sudah dipersiapkan oleh kakak angkatnya itu.
"Hallo, kak Damian!"
"Hallo, Fal! Kau sedang apa sekarang?"
"Aku sedang berbicara denganmu, kak!"
Mendapatkan jawaban yang sesuai harapan membuat Damian mendengus di seberang telepon. Hari masih pagi, namun adiknya itu sudah mengajak dirinya ribut.
"Naufal Alexander, ini bukan waktunya bercanda. Kakak serius!"
"Ops. Sorry! Oke, kenapa?"
"Jadi hari ini kamu mendatangi kediaman Eknath?"
"Ya, jadilah. Selama perempuan busuk itu mendapatkan pembalasan dariku. Hidupku tidak akan pernah tenang."
"Kapan?"
"Setelah selesai dari Studio. Sekitar pukul 12 siang."
"Baiklah. Kakak akan menunggu kamu di sekitar lokasi tempat tinggal keluarga Eknath."
"Baiklah."
Tutt.. Tutt..
Setelah itu, Damian langsung mematikan panggilannya dan segera menyiapkan sesuatu untuk kejutan keluarga Eknath.
"Aish!" kesal Naufal akan kelakuan Damian yang mematikan panggilannya secara sepihak. Sementara Arsya tersenyum gemas melihat wajah kesal adiknya itu.
***
Di perusahaan milik ayah dan Pamannya Divia mengalami penurunan pendapatan. Bahkan kedua perusahaan tersebut mengalami kerugian besar-besaran sehingga tidak ada pemasukan selama seminggu.
Di lokasi yang berbeda, ayah dan Pamannya Divia tampak marah. Keduanya mengamuk dengan membanting apa saja yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Brengsek!"
"Aarrgghhh!"
Ayah dan Pamannya Divia berteriak di ruang kerjanya karena perusahaan yang dia bangun dari nol dan selama dua puluh enam tahun diambang kehancuran. Jika tidak investor yang menanamkan modalnya di perusahaannya, maka perusahaan tersebut akan benar-benar hancur alias gulung tikar.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa perusahaanku menjadi seperti ini?"
Ayah dan Pamannya Divia bertanya pada dirinya sendiri. Keduanya tidak mengerti kenapa perusahaannya tiba-tiba bermasalah.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sesuai rencana Naufal bahwa pukul 12 siang dirinya akan mendatangi kediaman keluarga Eknath.
Kini Naufal dan Arsya sudah bersama dengan Damian di lokasi. Mereka berada tak jauh dari kediaman keluarga Eknath. Hanya butuh setengah jam menuju kediaman Eknath.
"Bagaimana? Kamu siap?" tanya Damian.
"Kesiapanku sudah sejak awal kedatangan wanita busuk itu di hadapanku dan Vanesha." Naufal menjawab pertanyaan dari Damian dengan wajah dinginnya.
Damian dan Arsya yang melihat wajah dingin Naufal seketika mengerti. Mereka dapat melihat tatapan mata Naufal yang tersirat kemarahan dan juga dendam.
Puk..
Damian menepuk pelan bahu Naufal. Kemudian tangannya mengusap-usap lembut bahunya itu.
"Apapun yang terjadi. Kamu harus bisa menahan diri untuk tidak main tangan terhadap Divia. Bagaimana pun dia perempuan. Tak pantas kita laki-laki menyakiti perempuan," ucap Damian.
__ADS_1
"Aku tidak janji. Tergantung situasi dan keadaan. Jika keadaan yang memaksa, maka aku tidak akan memandang perempuan itu lagi. Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu," jawab Naufal.
"Kakak mengerti," ucap Arsya yang mengusap lembut kepala belakangnya.
"Ya, sudah. Kita berangkat sekarang!" seru Damian.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing yang mana Damian sendirian, sementara Naufal bersama dengan Arsya. Mereka pergi meninggalkan lokasi untuk menuju kediaman keluarga Eknath.
***
Di kediaman utama keluarga Eknath tampak ada keributan dimana ayahnya Divia pulang dalam keadaan marah. Begitu juga sang Paman. Kedua pria itu tampak tertekan akan perusahaannya. Keduanya tidak ingin terjadi sesuatu terjadi perusahaannya.
"Sayang, ada apa?"
"Perusahaanku diambang kehancuran. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Selama ini aku bekerja dengan jujur. Aku tidak pernah melakukan kecurangan kepada siapa pun."
"Perusahaan milikku juga," sela adik laki-laki dari ayahnya Divia.
Mendengar jawaban dari ayahnya/Pamannya membuat semua anggota keluarga Eknath terkejut dan syok. Mereka juga tidak menyangka jika perusahaan suaminya/adik iparnya/kakak iparnya/ayahnya/Pamannya dalam masalah besar.
"Apa Papa sudah cari tahu pokok permasalahannya? Siapa tahu ada seseorang yang berbuat jahat terhadap Papa melalui perusahaan Papa," sahut putri sulungnya.
"Sudah sayang. Semuanya bersih. Tidak ada yang melakukan kecurangan terhadap perusahaan Papa."
"Tapi kenapa bisa seperti ini?"
"Aku tidak tahu sayang."
Ketika mereka semua sedang membahas masalah perusahaan yang diambang kebangkrutan, tiba-tiba datang seorang pelayan wanita.
"Maaf tuan, nyonya!"
Semuanya melihat kearah pelayan tersebut.
"Ada apa, Bi?" tanya ibunya Divia.
"Itu diluar ada tuan Naufal. Katanya dia ingin bertemu dengan semua anggota keluarga."
Mendengar nama Naufal disebut oleh pelayan tersebut membuat anggota keluarga Eknath seketika terkejut dan ketakutan, terutama Divia. Mereka semua berpikir apakah kedatangan Naufal untuk membahas masalah di Mall itu.
Semuanya menatap kearah Divia. Mereka semua berharap masalah besar tidak terjadi.
"Suruh langsung kesini, Bi!"
"Baik, nyonya!"
Setelah itu, pelayan wanita itu pergi untuk menemui tamunya.
"Selamat siang tuan, nyonya!" sapa Naufal yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah bersama dengan Damian dan Arsya di samping kiri dan kanannya.
Seketika semua anggota keluarga Eknath tampak pucat ketika melihat tatapan mata Naufal yang tajam dan dendam.
"Selamat siang juga nak Naufal. Silahkan duduk," jawab ayahnya Divia yang berusaha menghilangkan kegugupannya.
Kini Naufal, Damian dan Arsya sudah duduk di sofa ruang tengah bersama dengan anggota keluarga Eknath lainnya.
"Ada hal apa ya nak Naufal datang kesini?" tanya ibunya Divia.
"Baiklah. Aku langsung saja keinti permasalahannya karena aku tidak ingin berlama-lama berada disini."
Mendengar ucapan dari Naufal membuat anggota keluarga Eknath sesak. Mereka tidak menyangka jika Naufal akan berbicara seperti itu.
"Kalian pasti sudah tahu apa yang telah dilakukan oleh putri kesayangan kalian itu ketika berada di Mall beberapa hari yang lalu? Aku datang kesini ingin memberikan sedikit pelajaran terhadap putri kalian itu melalui kalian semua. Karena apa? Karena kalian tidak becus mendidik dan menasehati putri kalian itu sehingga berani menampakkan wajahnya di hadapanku dan calon istriku. Bahkan putri kalian itu berani menghina dan menuduh calon istriku di depan umum."
Naufal berbicara dengan wajah dinginnya dan tatapan matanya yang penuh dendam menatap kearah Divia dan semua anggota keluarga Eknath.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang perusahaan kalian yang saat ini diambang kehancuran. Akulah yang sudah membuat perusahaan kalian mengalami kerugian besar."
Deg..
Semua anggota keluarga Eknath terkejut dan syok ketika mendengar pengakuan dari Naufal. Mereka tidak menyangka jika Naufal akan melakukan hal itu.
"Kenapa kamu....?" perkataan ibunya Divia seketika terhenti karena Naufal langsung memotongnya.
"Anda ingin bertanya kenapa saya melakukan hal sekeji itu terhadap perusahaan keluarga Eknath, iya kan? Jawabannya simple saja. Aku Naufal Alexander, berasal dari keluarga Alexander. Siapa pun yang mengusik keluarga Alexander, apalagi sampai melakukan hal menjijikan terhadap orang-orang terdekatnya. Maka keluarga Alexander akan melakukan pembalasan. Kami keluarga Alexander tidak akan diam saja. Apa anda sekarang sudah paham, nyonya Eknath?"
Seketika wanita itu terdiam dan mengalihkan pandangannya kearah lain ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Naufal. Apalagi ketika melihat tatapan mata Naufal yang tak bersahabat.
"Aku berikan satu pilihan untuk kalian asal kalian melakukan satu hal untukku."
Anggota keluarga Eknath saling menatap satu sama lainnya ketika mendengar ucapan dari Naufal.
"Apa itu?" tanya Pamannya Divia.
"Aku mau kalian memberikan pelajaran yang setimpal kepada wanita menjijikan ini," jawab Naufal sembari menunjuk kearah Divia. "Buat dia tidak lagi mencari masalah denganku dan kekasihku. Jika kalian bisa melakukan apa yang aku minta, maka perusahaan kalian akan kembali membaik. Jika kalian gagal bahkan perempuan menjijikan ini makin berani mencari masalah denganku dan juga kekasihku, maka jangan salahkan aku jika aku akan menghancurkan kalian semua. Aku bersumpah, kalian tidak akan memiliki apa-apa lagi di dunia ini."
Deg..
Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari Naufal. Mereka tidak menyangka jika Naufal akan melakukan hal itu.
"Sudah cukup kesabaranku selama ini atas sikap murahan putri/adik/keponakan kalian terhadapku. Sudah cukup aku menderita selama ini atas sikap menjijikan darinya. Aku dan keluargaku sudah cukup mentolerir sikap tak tahu malu perempuan itu. Jangan coba-coba melawanku atau keluargaku karena bisa saja nyawa kalian sebagai taruhannya."
__ADS_1
"Aku beri waktu kalian selama dua minggu untuk kalian mendisiplinkan perempuan tak tahu malu itu. Kemajuan perusahaan keluarga Eknath dan kehidupan mewah kalian ada ditangan kalian. Silahkan kalian pilih."
Setelah mengatakan itu, Naufal berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Damian dan Arsya.
"Pikirkanlah apa yang aku minta itu."
Setelah itu mengatakan kata itu. Naufal, Damian dan Arsya pun pergi meninggalkan kediaman utama keluarga Eknath.
"Tunggu!" teriak Divia.
Melihat apa yang dilakukan oleh Divia membuat semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Divia akan melawan Naufal.
Sementara Naufal langsung berhenti ketika mendengar suara Divia. Begitu juga dengan Damian dan Arsya.
Naufal kemudian membalikkan badannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Divia. Begitu juga dengan Damian dan Arsya.
Semua anggota keluarga Eknath sudah berdiri dari duduknya. Mereka menatap takut kearah Naufal.
"Ada apa lagi?!" bentak Naufal.
"Kamu tidak melakukan hal itu terhadap keluargaku," ucap Divia.
"Kenapa tidak bisa? Kau saja bisa melakukan sesuka hatimu selama ini. Kau mengkhianatiku dengan laki-laki lain, kau membohongiku dengan berpura-pura mencintaiku, kau memanfaatkan ketenaranku karena aku seorang Idol, kau meminta uang padaku, lalu uang itu kau gunakan bersama dengan laki-laki lain. Lalu terakhir kau pergi meninggalkanku ketika aku tidak lagi menjadi seorang Idol. Dan bahkan dengan kejinya kau memperkenalkan calon kekasih barumu di hadapanku dan juga di hadapan keluargaku."
Naufal menatap tajam kearah Divia dengan kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya.
"Apa yang aku lakukan hari ini adalah pembalasanku terhadap apa yang kau lakukan di masa lalu. Perbuatanmu di masa lalu membuat semua anggota keluargaku menangis. Mereka semua menangis ketika melihat kelakuan menjijikan darimu yang memperkenalkan kekasih barumu itu. Jadi apa yang aku lakukan hari ini belum seberapa dengan apa yang kau lakukan di masa lalu."
"Dulu kau menyakitiku sehingga berimbas pada keluargaku. Sekarang aku membalas perbuatanmu dengan membawa-bawa keluargamu. Aku rasa hal ini adil? Jadi kau tidak usah mengajukan protes apapun. Terima saja!"
"Apa kau tidak bisa melupakan kejadian di masa lalu? Apa kau tidak bisa memberikan kesempatan untukku? Aku masih mencintaimu, Naufal!"
"Hahahahahaha!" seketika Naufal tertawa keras ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Divia. Begitu juga dengan Damian dan Arsya. "Apa kau pikir kau masih layak mendapatkan kesempatan kedua dariku? Apa kau pikir kau layak menjadi pendamping hidupku? Jawabannya adalah tidak. Aku sudah tidak sudi menjalin hubungan dengan perempuan murahan sepertimu, apalagi perempuan yang tidak bisa menjaga hati dan tubuhnya dari laki-laki lain."
"Barusan apa yang kau katakan. Kau masih mencintaiku. Hahahaha... Yang benar saja. Kau bukan mencintaiku, melainkan kau mencintai kekayaanku. Kau datang kembali dalam kehidupanku karena mengetahui bahwa aku seorang CEO yang sukses di Jakarta. Bahkan kau juga sudah tahu aku memilih banyak usaha."
Deg..
Divia terkejut ketika mendengar ucapan dari Naufal tentang dirinya yang mengatakan tentang kehidupan pribadi Naufal.
"Enyahlah dari kehidupanku. Jangan lagi kau memperlihatkan wajah menjijikanmu itu di hadapanku dan juga di hadapan kekasihku."
"Divia, cukup!" bentak kakak sepupunya.
Divia tidak mengindahkan bentakan dari kakak sepupunya itu. Dia masih terus melawan Naufal.
"Apa karena perempuan murahan itu sehingga membuat kamu tidak ingin kembali lagi denganku?" tanya Divia dengan menyebut Vanesha wanita murahan.
"Divia!" bentak sang Paman.
Naufal menatap nyalang kearah Divia. Dirinya tidak terima kekasihnya sekaligus calon istrinya disebut sebagai wanita murahan.
"Apa hebatnya dia. Dibandingkan dia, aku lebih cantik dan berpengalaman dalam hubungan percintaan. Dia wanita lemah dan menjijikan!"
Sreekkk..
"Aakkhhh!" teriak Divia.
"Divia!" teriak histeris semua anggota keluarga Eknath.
Naufal seketika mencekik kuat leher Divia sehingga membuat Divia kesulitan bernafas.
"Lo udah melampaui batasan, Divia! Gue sudah cukup sabar melihat kelakuan menjijikan lo selama ini. Sekarang lo berani menghina calon istri gue dan lo berani menyamakan dia dengan lo."
"Aakkhhh!"
Naufal makin menguatkan cekikannya di leher Divia. Dia benar-benar marah atas ucapan Divia untuk kekasihnya.
Bruukk..
Ibunya Divia seketika bersujud di hadapan Naufal. Wanita itu memohon kepada Naufal agar Naufal mau melepaskan cekikannya di leher putrinya. Wanita itu mengakui bahwa putrinya yang salah dan wanita itu meminta maaf atas kesalahan putrinya baik di masa lalu maupun sekarang ini.
"Bibi mohon, tolong lepaskan Divia. Bibi akui bahwa Divia sudah banyak melakukan kesalahan terhadap kamu. Tolong, nak! Lepaskan Divia. Bibi janji kalau Divia tidak akan mengganggu kamu dan kekasih kamu."
Puk..
Puk..
Damian dan Arsya secara bersamaan menepuk pelan bahu Naufal. Mereka awalnya juga marah akan perkataan Divia, namun mereka juga tidak tega ketika melihat seorang ibu bersujud demi membela anaknya.
"Naufal, kakak mohon. Lepaskan Divia. Kakak meminta hal ini bukan demi Divia. Tapi kakak melakukan ini demi ibunya Divia.
"Iya, Fal! Kakak juga sama seperti kakak sepupu kamu. Lepaskan Divia ya."
Naufal melihat kearah ibunya Divia yang memohon sembari melipat tangan di hadapannya. Dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi pipinya. Kemudian Naufal kembali menatap wajah Divia.
Naufal seketika melepaskan cekikannya dengan sedikit mendorong tubuh Divia sehingga membuat tubuh Divia terhuyung ke belakang.
"Gue lepasin lo bukan karena gue sudah memaafkan kesalahan lo. Gue lepasin lo karena empati gue terhadap ibu lo."
Naufal menatap tajam kearah semua anggota keluarga Eknath. "Gue tunggu keputusan dari kalian selama dua minggu. Jika wanita menjijikan ini masih mengganggu gue dan kekasih gue. Kalian semua akan hancur ditangan gue! Ingat itu!"
__ADS_1
Setelah itu, Naufal pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Eknath dan diikuti oleh Damian dan Arsya.