
Ponsel Naufal berbunyi menandakan satu pesan masuk. Naufal membukanya dan membacanya.
From : 0813xxxxxxxx
"Hai, Sayang.. Cantikku.. Manisku.. Bidadariku.. Maukah kau menjadi istriku... Aku mencintaimu... Muaaaccchhhh...."
"Kau sangat manis dan cantik. Bahkan bibirmu yang seksi itu, aku ingin.. eeemmmm...."
Naufal yang sedang meneguk minuman, tiba-tiba tersendak saat membaca pesan yang ada ponselnya.
"Uhuuk.. Uhuuk!"
Mata Naufal memerah dan hidungnya juga merah dan terasa pedih. Semua panik melihat Naufal. Andhira yang berada dekat dengan Naufal mengurut tengkuk Naufal. Ketiga kakaknya langsung datang mengerubungi Naufal.
"Naufal. Kamu tidak apa-apa, hum? Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Elvan khawatir
"Naufal. Apanya yang sakit?" tanya Aditya panik.
Sedangkan Rayyan mengelus punggung Naufal lembut.
"Aku tidak apa-apa kak? Aaakkhh.. Tenggorokanku sa-kit," lirih Naufal.
"Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa sampai tersendak begitu, sih?" tanya Aditya.
"Aku membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselku kak. Isinya sangat menjijikkan," jawab Naufal.
Lalu kemudian Elvan mengambil ponsel Naufal dan membaca pesan tersebut. Saat Elvan membacanya, Elvan terkejut. Bukan Elvan saja bahkan Aditya dan Rayyan tak kalah terkejutnya.
"Siapa orang ini? Dan dari mana dia mendapatkan foto Naufal?" tangan Aditya
"Kau kenal Fal?" tanya Aditya
"Yak, kak! Pertanyaan bodoh dari mana itu? Kalau aku kenal mana mungkin aku seperti ini," saut Naufal.
"Kenapa aku memiliki kakak bodoh sepertimu, kak?" gumam Naufal pelan.
PLETAAKK..
Aditya menjitak keningnya Naufal dan Naufal meringis kesakitan.
"Aww."
"Apa yang kau katakan, hah? Kau menyebut kakakmu ini bodoh," geram Aditya.
"Salah kau sendiri kak. Jelas-jelas aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu? Tapi justru kau malah bertanya padaku dengan mengatakan 'Kau kenal, Fal." Naufal berucap kesal dengan bibir dimanyun-manyunkan sambil mengejek Aditya.
Yang lainnya terkekeh melihat aksi kedua kakak adik yang sedang adu mulut.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian malah bertengkar?" lerai Andhira.
"Oh iya, kak Elvan! Dari tadi aku tidak melihat Mommy dan kak Liana. Kemana mereka?" tanya Naufal yang baru menyadarinya.
"Mereka pergi untuk mengurus sesuatu yang lebih penting dari pada dirimu, anak kelinci," tutur Aditya lagi-lagi membuat mood adiknya buruk setelah itu ia kabur ke kamar takut terkena amukan sikelinci.
"Kakaaaakk!!" teriak Naufal melengking di ruang tengah sedangkan yang lainnya menutup telinga mereka.
"Sudahlah Naufal," ucap Elvan.
"Sebenarnya Mommy kemana?" tanya Naufal lagi.
"Mommy dan kak Liana sedang pergi mengurus Butik," jawab Rayyan tersenyum.
"Oo," ucap Naufal.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dan seluruh anggota keluarga juga sudah selesai melaksanakan ritual malam mereka yaitu makan malam.
Naufal dan anggota keluarga saat ini berada di ruang keluarga. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing lalu ponsel miliknya berbunyi menandakan dirinya menerima sebuah pesan.
"Aish. Nomor ini lagi. Siapa orang ini sebenarnya?" batin Naufal lalu Naufal pun langsung membacanya.
From : 0813xxxxxxxx
"Hai, cantik. Kau manis sekali. Aku sangat menyukaimu."
"Wajahmu sangat imut dan menggemaskan sekali.. Bolehkah aku memeluk, sayang."
"Yak. Apa-apaan ini? Menyebalkan!" teriak Naufal saat membaca pesan dari nomor tak dikenal.
Mendengar teriakan membuat semua orang yang ada di ruang tengah itu memandangi Naufal.
"Kamu kenapa Naufal?" tanya Elvan yang melihat raut wajah adiknya kusut kayak setrika tapi tetap imut.
Karena tidak ada jawaban dari sang adik. Elvan lalu beranjak dan pindah duduk di samping adiknya.
Tanpa disadari oleh sang adik, Elvan melirik kelayar ponsel adiknya. Dapat dia lihat ada sebuah pesan disertai foto adiknya lalu Elvan diam-diam membaca isi pesan tersebut sehingga membuat Elvan tidak bisa menahan tawanya.
Akhirnya tawa Elvan pecah.
"Hahahahaha. Tidak salah isi pesan itu Naufal. Kau itu memang sangat menggemaskan. Hahahaha." tawa Elvan makin kencang menggema di ruang tengah.
__ADS_1
"Kakaaaakk!! Kau sangat menyebalkan kak!!" teriak Naufal yang menatap horor pada kakak tertuanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Tuh.. tuhkan. Kalian lihatkan bagaimana wajahnya Naufal saat kesal? Kelihatan imut dan menggemaskan bukan?" tanya Elvan pada anggota keluarganya.
Dan mereka yang ditanya mengangguk sebagai jawaban sehingga membuat Naufal makin menggeram kesal atas ulah sang kakak kesayangannya itu.
"Kalian semua benar-benar menyebalkan," ucap Naufal mempoutkan bibirnya
Semuanya tertawa. "Hahahaha."
Tiba-tiba saja, Liana sang kakak ipar berpindah duduk di sampingnya dan mencubit kedua pipi Naufal. "Kau benar-benar imut, Naufal!"
"Aiissshhhh." Naufal terus menunjukkan wajah kesal dan itu membuat semuanya makin terus menggodanya.
"Kamu mau tahu caranya agar orang-orang tidak akan mengatakan dirimu itu menggemaskan dan juga imut?" tanya Aditya.
"Bagaimana Apa kakak tahu caranya?" tanya Naufal penasaran.
Aditya berpikir sejenak. Kata-kata apa yang pas untuk menggoda Naufal, adiknya.
Sedangkan Naufal yang sedari tadi memperhatikan Aditya dengan penuh harap.
"Caranya....." Aditya menggantungkan ucapannya sambil melirik sekilas keadiknya.
Sementara Naufal masih setia mendengar ucapan kakaknya. Tatapan matanya tak lepas menatap wajah Kakak keduanya itu.
"Caranya kau hilangkan dua gigi besarmu yang selalu berdiri di depan. Jadi orang-orang tidak akan mengatakan dirimu imut dan menggemaskan lagi," tutur Aditya.
Semuanya tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Aditya. Sedangkan Naufal membulatkan matanya yang sudah bulat itu mendengar ucapan dari kakak keduanya tersebut. Semua orang yang melihat reaksi Naufal hanya tersenyum gemas.
Naufal berdiri dari duduknya dan menatap wajah kakaknya itu dengan bibirnya yang bergerak-gerak sambil mulutnya yang berkomat-kamit menyumpahi kakaknya itu.
"Kakak. Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menghilangkan dua gigiku ini? Kau tahu tidak ini adalah aset berhargaku. Kau benar-benar menyebalkan, kak!"
Dengan wajah yang kesal Naufal pergi meninggalkan mereka semua dan kembali ke kandangnya yaitu kamar kesayangannya sampai di depan kamarnya ia membuka pintu kamarnya lalu menutup pintu itu dengan dibanting
BLAAM..
Mendengar bantingan pintu cukup kuat membuat semuanya orang yang ada di ruang tengah terlonjak kaget mendengar suara bantingan pintu. Semuanya hanya menghela nafas kasar.
"Hah."
"Kau juga sih, kak Aditya! Kenapa harus membahas masalah itu sih? Udah jelas-jelas mood Naufal udah buruk saat digoda oleh kak Elvan dan kak Liana. Eeh, kakak malah menambah-nambahkan," Rayyan berucap menyalahkan kakaknya.
"Lalu kakak harus bagaimana sekarang?" tanya Aditya pada Rayyan.
"Kakak minta maaf sama Naufal," jawab Rayyan.
"Yak! Kalian benar-benar menyebalkan. Kalian juga ikut menertawakan Naufal dan ikut serta membuat Naufal kesal. Dan disaat masalah yang ini kalian tidak membantuku," omel Aditya.
"Itu salahmu sendiri," saut Elvan.
"Kenapa kau menyalahkanku kak? Bukannya kau yang mulai membuat mood Naufal jadi buruk!" ucap Aditya.
"Iyaa. Tapi kakak tidak membahas masalah gigi si bayi kelinci itu. Kau sendiri yang membahasnya. Apalagi kita kan tahu itu suatu kelebihan yang dimiliki Naufal? Kau juga tahu itu," ucap Elvan.
"Iya, ya. Aku hanya menggodanya saja Tadi. Aku akan minta maaf padanya!" seru Aditya.
***
Kelihatannya kau sangat bahagia sekali Damian? " tanya seorang pria paruh baya.
"Iya. Paman," jawab Damian.
"Jangan bilang kau habis meneror Naufal dengan pesan-pesan manismu itu?" tanya pria itu.
"Memang benar. Aku baru saja mengirim sebuah pesan yang isinya aku sedang menggodanya," jawab Damian.
"Sekali-kali nggak ada salahnya seorang Naufal Alexander kita kerjainkan Paman. Situkang jahil dikerjain oleh orang jahil juga."
Mereka pun tertawa. Mereka membayangkan wajah Naufal yang kesal, marah, emosi, gedek saat membaca pesan yang diterimanya. Pastinya wajah Naufal makin imut dan menggemaskan.
***
Davian berada di kantornya. Dirinya tengah sibuk mengurus semua berkas yang ada dimejanya.
"Sebentar lagi selesai dan aku akan pulang karena hari ini aku dan kekasihku akan ke mansion Naufal. Sudah dua hari aku tidak kesana sejak kejadian Naufal pingsan karena kesibukanku," gumam Davian.
Lalu terdengar suara ponsel berdering menandakan sebuah panggilan. Davian langsung menjawabnya karena dirinya sudah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo Reza," jawab Davian.
"Hallo Davian. Kau sibuk tidak?" tanya Reza dibalik telepon.
"Tidak terlalu. Ada apa?" tanya Davian.
"Aku akan ke kantormu. Mumpung aku lagi di luar," jawab Reza.
"Wah, dengan senang hati! Paling tidak ada yang menemaniku di kantor. Ya. sudah aku tunggu! Sekalian belikan cemilan," celetuk Davian.
"Oke," jawab Reza.
__ADS_1
Panggilan berakhir.
TUT..
TUT..
Dua puluh menit kemudian, Reza pun telah sampai di kantor Davian. Dia langsung menuju ke ruangan kerja Davian.
TOK..
TOK..
CKLEK..
Pintu ruang kerja Davian terbuka.
"Kau sudah datang Reza!" seru Davian saat melihat siapa yang membuka pintu ruang kerjanya.
"Tumben kau datang kemari. Ada angin apa, hah?" tanya Davian.
"Ach, aku hanya bosan di kantor. Setiap hari hanya berteman dengan banyak berkas," keluh Reza.
"Bawa santai saja, Za. Semua pekerjaan itu bisa kita kerjakan dengan santai dan tidak perlu terlalu dipaksakan. Kau lihat Naufal. Dia menghandle banyak usaha seperti NFL Corp, Studio, Gym, Perguruan, Boxing, tapi dia tidak pernah melihatnya mengeluh. Kau hanya mengurus satu Perusahaan saja sudah mengeluh," ucap Davian.
"Karena Naufal itu menyerahkan semua tugas-tugasnya pada anak buahnya, makanya dia bisa santai dan tidak pernah merasa lelah dan mengeluh sepertiku," jawab Reza.
"Kalau itu aku tidak setuju, Za! Siapa bilang Naufal tidak pernah merasakan lelah dalam bekerja? Kau lupa saat pertama kali kita ke mansion Naufal. Saat Naufal pulang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dan dipapah oleh Theo. Lalu Nathan mengatakan kalau Naufal sudah tiga jam lebih berkutat dengan laptopnya sampai dia lupa untuk makan siang. Kau masih ingatkan. Waktu itu kita semua berkumpul di mansion Naufal," ucap Davian.
"Dan kau benar soal Naufal memilih memberikan kepercayaan pada anak buahnya untuk mengurus semua pekerjaan. Itukan memang tugas mereka sebagai bawahan dan mereka juga digaji. Kalau Naufal turun tangan langsung, apa gunanya mereka di kantor? Selama mereka bisa melakukan semua pekerjaan itu, Naufal tidak perlu khawatir. Ia hanya akan datang untuk pengecekan saja. Apabila pekerjaan itu rumit dan membutuhkan Naufal, barulah Naufal turun tangan mengurusnya. Dan kau juga bisa seperti Naufal, Za! Bahkan aku maupun yang lainnya."
"Ya, sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Bagaimana kita cari makan di keluar?" ajak Davian.
"Tapi kau yang mentraktir ku!" ucap Reza sambil menunjukkan senyum kotaknya.
"Hah!" Davian menghela nafasnya "Baiklah."
Sedangkan Reza tersenyum puas.
Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kantor Davian. Mereka pergi menggunakan mobil Davian sedangkan mobil Reza berada di kantor Davian.
***
Di sebuah Cafe, Vanesha sedang menunggu seseorang. Yang Katanya ingin bertemu dengannya dan ingin memberi sesuatu rahasia kepadanya. Vanesha yang penasaran, langsung mengiyakan orang tersebut.
Lima menit kemudian orang itu datang. Vanesha kaget dan tidak percaya. Orang yang datang tersebut adalah seorang perempuan. Perempuan yang berpelukan dengan kekasihnya Naufal dan hampir mati di tangan kekasihnya itu.
"Mau apa lagi dia?" batin Vanesha.
"Kamu," ucap Vanesha.
"Ya, aku! Aku kesini mau mengatakan sesuatu padamu. Kita sama-sama perempuan jadi aku harap kau mengerti dan memahami masalah ini," ucap perempuan itu.
"Apa maksudmu? Langsung saja dan jangan bertele-tele," ujar Vanesha.
"Baiklah. Aku dan Naufal sudah menjalin sebuah hubungan. Naufal mengatakan padaku, ia sangat mencintaiku. Saat hubungan kami memasuki dua bulan, Naufal pergi meninggalkanku. Naufal memutusiku begitu saja setelah dia mendapatkan apa yang dia mau,"ucap perempuan itu.
Saat melihat mimik wajah Vanesha sedikit penasaran perempuan itu langsung membahas inti permasalahan.
"Aku hamil. Aku hamil anaknya Naufal!" ucap perempuan itu.
Seperti disambar petir, Vanesha terkejut dan shock mendengarnya.
"Apa? K-kau jangan bohong. Kak Naufal tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu. Aku kenal dia. Dia laki-laki yang sangat baik," tutur Vanesha yang sudah berlinang air mata.
"Kau boleh saja tidak percaya padaku. Yang jelas aku datang kesini hanya ingin menyampaikannya padamu agar kau tidak bernasib sepertiku. Naufal itu pria brengsek. Dia memacari perempuan-perempuan cantik hanya untuk kepuasannya saja. Setelah dia mendapatkannya, dia akan mencampakkan perempuan itu begitu saja. Ini Buktinya. Kalau aku benar-benar hamil!" seru perempuan itu dan langsung menunjukkan surat pemeriksaan hasil kehamilan dari rumah sakit.
Vanesha menangis. Dia berusaha untuk tidak mempercayai omongan perempuan gila itu. "Aku harus tetap percaya pada kak Naufal. Aku akan tanya langsung pada kak Naufal atau keluarganya. Aku tidak mau sampai menyesal nantinya hanya gara-gara percaya dengan perempuan ular ini." batin Vanesha.
"Aku pulang!" ucap Vanesha lalu pergi meninggalkan perempuan gila itu sendiri.
Sedangkan perempuan tersebut tersenyum kemenangan. Rencananya berjalan dengan sangat baik.
***
Disisi lain, dimana Davian dan Reza sedang dalam mobil. Selama di dalam perjalanan, hati Reza merasakan kejanggalan. Ada perasaan yang tidak enak dalam hatinya. Davian yang menyadari hal itu langsung menegurnya.
"Za," panggil Davian.
Reza menolehkan wajahnya melihat kearah Davian tanpa berkata-kata apa-apa.
"Kau kenapa?" tanya Davian khawatir.
"Perasaanku tidak enak Davian. Sepertinya ada yang mengikuti kita dari tadi," ucap Reza.
Davian menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mengikuti mereka. Tapi tidak ada yang mencurigakan.
"Tidak ada yang mengikuti kita Reza. Semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan," kata Davian. "Sudahlah. Itu hanya perasaanmu saja," hibur Davian.
Beberapa menit kemudian datang mobil yang menghantam mobil mereka dari arah depan.
"Davian awaaaaaaasss!!" teriak Reza dan Davian seketika membanting stir kepinggiran dan hasilnya mobil mereka menabrak sebuah pohon besar. Bagian depan mobil hancur
__ADS_1