
Naufal bersama keenam kakaknya plus dengan pasangannya masing-masing berada di sebuah mall yang besar dan terkenal di kota Jakarta. Mereka melangkahkan kakinya mengelilingi luasnya Mall tersebut sembari bergandengan tangan.
Vanesha sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum. Bagaimana tidak bahagia? Sejak dirinya dinyatakan hidup kembali, sejak dirinya sembuh dan sejak dirinya bertemu dengan laki-laki yang tidak dia cintai. Sejak itulah hidupnya tak baik-baik saja. Sejak itu juga penderitaan dimulai.
Mulai dari kebebasannya, langkahnya serta kegiatan-kegiatan yang lainnya semua dihalangi oleh laki-laki tersebut. Dia boleh keluar dan pergi hanya hanya ketika laki-laki itu yang mengajaknya. Jika kedapatan dia pergi sendirian, ditambah lagi tanpa izin dari laki-laki itu, maka ibunya yang akan jadi korbannya.
Zora yang menyadari bahwa sejak tadi Vanesha yang tak henti-hentinya tersenyum ikut tersenyum. Zora tahu apa yang membuat sahabat sekaligus adik baginya itu tersenyum.
"Cie... Cie! Ada yang lagi bahagia nih," ledek Zora.
Mendengar ucapan dari Zora. Semuanya melihat kearah Zora, kemudian Zora menunjuk kearah Vanesha dengan dagunya sembari tersenyum manis.
Semuanya langsung melihat kearah Vanesha termasuk Naufal yang ada di sampingnya. Dan benar saja. Vanesha terlihat bahagia.
Naufal menggenggam erat jemari Vanesha sehingga membuat Vanesha langsung melihat kearah dirinya.
"Apa kamu bahagia, hum?" tanya Naufal.
"Menurut kakak Naufal sendiri bagaimana setelah kakak melihat mimik wajah aku?"
Naufal mengusap lembut kepala Vanesha sehingga memperlihatkan kening putih Vanesha. Kemudian Naufal membubuhi satu ciuman disana. Dia tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari kekasihnya. Begitu juga dengan yang lain.
"Perubahan yang sangat luar biasa dari terakhir kalinya aku bertemu dengan kamu bersama laki-laki itu. Wajah kamu terlihat berseri, ceria dan penuh semangat."
"Ini semua berkat kakak Naufal. Begitu juga dengan keluarganya kakak Naufal. Kalau bukan berkat kakak dan keluarga kakak, aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama aku setelah nikah sama laki-laki itu. Bunda di rumah sakit dan kakak Daniel di penjara. Hanya aku sama ayah yang di rumah. Bahkan kami berdua tidak diberikan kebebasan untuk keluar."
Mendengar ucapan sekaligus cerita dari Vanesha membuat Naufal menatap sedih Vanesha. Begitu juga dengan yang lain. Yang paling sedih adalah keenam sahabatnya.
"Sekarang kamu sudah bersamaku. Semua masalah telah selesai. Aku akan menjaga kamu dari orang-orang yang akan menyakiti kamu," ucap Naufal.
"Aku percaya sama kakak Naufal."
^^^
Sekarang ini Naufal, Vanesha dan para sahabatnya sedang berada di sebuah cafe yang sangat terkenal di Mall tersebut. Semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja. Mulai makanan pembuka, cemilan ringan, minuman sampai makanan penutup.
"Gila! Kalian pada kesurupan apa, hah? Ini makanannya banyak sekali. Kalian masih waras kan?" ucap dan tanya Naufal dengan menatap kesal wajah Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza bergantian.
Mendengar perkataan dari Naufal membuat Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza hanya memperlihatkan senyuman termanisnya di hadapan Naufal dan Vanesha.
Sementara Vanesha, Ishana, Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi hanya tersenyum melihat wajah kesal dan wajah cengengesan pacar-pacarnya.
"Sudah. Tinggal dimakan doang. Lagian kan mereka yang bayarin. Sementara kita tinggal duduk cantik sembari menikmati semua makanan dan minuman di atas meja ini," ucap Vanesha.
Mendengar ucapan dari Vanesha seketika membuat Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza langsung mengacungkan jempolnya kearah Vanesha sehingga membuat Naufal makin kesal.
Naufal menatap kearah keenam kakak-kakaknya itu. Setelah itu, terlintas ide jahil di kepalanya dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah keenam kakak-kakaknya itu.
Sementara Vanesha dan keenam kakak-kakaknya hanya tersenyum sembari menonton drama pertunjukan yang dimainkan oleh para kekasih mereka.
__ADS_1
"Eemm.. apa benar kalau kalian yang mentraktir semua ini?" tanya Naufal.
"Iya!" Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza menjawab pertanyaan dari Naufal.
"Kalau misalnya aku minta dibeliin sesuatu sama kalian semua. Apa kalian bersedia?" tanya Naufal lagi.
"Tentu!" jawab Barra dan Arsya bersamaan.
"Apapun akan kami belikan," jawab Dhafin, Ardian, Davian dan Reza bersamaan.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Naufal ketika mendengar jawaban kompak dari keenam kakak-kakaknya itu.
Naufal melihat kearah Naufal yang sejak tadi tersenyum. Kemudian Naufal membisikkan sesuatu di telinga Vanesha.
Seketika Vanesha tersenyum sembari menutup mulutnya karena apa yang dibisikkan oleh Naufal menurutnya hal itu adalah lucu.
Setelah itu, Naufal kembali menatap keenam kakak-kakaknya itu yang juga tengah menatapnya curiga.
"Aku sama Vanesha mau jalan-jalan ke kebun binatang. Tapi kalian yang bayar semuanya," ucap Naufal dengan tersenyum manis di bibirnya.
"Oke!" Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza bersamaan.
"Aku dan Vanesha juga ingin membeli beberapa cemilan di supermarket sepulang dari kebun binatang," ucap Naufal.
"Sesuai keinginan!" seru Arsya, Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza lagi.
"Dan pulangnya singgah ke toko yang menjual laptop. Aku mau beli laptop, tapi kakak Arsya yang belikan ya?"
"Baiklah. Sesuai keinginan kamu," jawab Arsya.
Mendengar jawaban langsung dari Arsya membuat Naufal benar-benar bahagia.
Dan setelah itu, mereka semua pun memulai menikmati semua hidangan di atas meja yang sudah sejak tadi tersaji.
^^^
Di lokasi yang sama dan di tempat yang berbeda terlihat seorang gadis cantik sedang berbelanja kebutuhan dirinya dan keluarganya. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda.
"Ma, ini beli juga?"
"Eeemmm... beli aja deh. Takutnya di rumah habis."
"Baiklah. Alice ambil 6 ya?"
"Apa tidak kebanyakan?"
"Alice rasa tidak."
"Ya, sudah. Terserah kamu saja.
__ADS_1
Setelah selesai di tempat itu. Alice dan ibunya pergi ke tempat lain untuk mencari barang-barang lain yang akan mereka beli.
"Ma, jangan lupa beliin makanan untuk Pocih!" teriak Alice.
"Memangnya ada yang jual makanan untuk Pocih disini. Ini Mall, sayang!"
"Ada Mama. Jika tidak ada, nggak mungkin aku mengingatkan Mama untuk membelikan makanan untuk Pocih."
"Tapi dimana belinya?"
"Mama tanya saja sama pelayan Mall nya!"
Mendengar jawaban dari putri bungsunya itu membuat wanita itu mendengus kesal, tapi tetap melakukan apa yang dikatakan oleh putrinya itu.
Sementara dari jauh, Alice terkekeh geli melihat kekesalan ibunya untuk menanyakan dimana letak makanan Pocih.
"Semoga saja Mama nggak salah ngomong dan bilang sama pelayan Mall nya, mbak-mbak ada dimana ya orang jual makanan Pocih? Pelayan Mall itu tidak akan tahu apa itu Pocih. Hahahahaha!"
Setelah sekitar 15 menit, akhirnya ibunya datang menghampiri dengan membawa makanan Pocih tersebut.
Tak..
Ibunya langsung memberikan satu jitakan di keningnya yang putih itu sehingga membuat dirinya meringis sembari mengusap-usapnya.
"Ini gara-gara kamu. Malu Mama tahu."
"Jadi benar kalau Mama salah ngomong tadi?"
"Iya," jawab ibunya kesal.
"Memangnya Mama bilang apa?"
"Mama nggak bilang makanan kucing kamu. Tapi Mama nanya dimana ada jual makanan Pocih."
"Hahahahahaha."
Seketika Alice tertawa ketika mendengar perkataan ibunya. Ternyata apa yang dia pikirkan terjadi juga. Ibunya tidak mengatakan makanan kucing, melainkan makanana Pocih. Ya, jelaslah orang-orang tidak tahu jenis makanan apa itu.
"Dasar anak durhaka kamu."
"Lah kok aku disalahin. Kan Mama yang salah ngomong."
"Bodoh, ach! Sudah selesaikan? Lebih baik kita pulang sekarang!"
"Pulang atau ke kasir dulu buat bayar semua belanjaan ini?"
"Alice!"
"Iya, iya! Maaf!
__ADS_1
Setelah itu, Alice dan ibunya langsung pergi menuju kasir untuk membayar semua barang-barang belanjaannya.