Naufal Alexander

Naufal Alexander
Memasang Alat Pelacak


__ADS_3

Sekarang mereka sudah berada di depan pintu mansion mewah milik Naufal. Kemudian Naufal menekan bell rumahnya.


TING..


TONG..


Terdengar suara langkah kaki dalam rumah tersebut.


CKLEK..


Pintu pun terbuka. Dan terlihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu.


"Tuan Alexander, Nyonya Alexander, Tuan muda." pelayan itu menyapa majikannya.


"Apa kabar Bibi?" tanya Helena lembut.


"Saya baik, Nyonya. Ayo masuk Nyonya, Tuan."


Saat mereka semua ingin masuk ke dalam, tiba-tiba saja ponsel milik Naufal berdering. Naufal merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Setelah ponselnya di tangannya. Naufal melihat nama yang tertera nama 'Henry' di layar ponselnya tersebut. Tanpa buang-buang waktu lagi, Naufal pun menjawabnya.


"Hallo, Henry. Kenapa kau meneleponku?"


"Fal. Aku tahu kau baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi bisa tidak kau datang ke Studio, sekarang! Ada sedikit masalah disini."


"Baiklah."


Setelah itu, Naufal langsung mematikan panggilan tersebut.


"Telepon dari Henry?" tanya Ardian.


"Iya."


"Apa katanya?" tanya Elvan.


"Ada sedikit masalah di Studio dan aku diminta datang kesana," jawab Naufal.


"Kalian masuklah. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Naufal yang langsung berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Sekarang mereka sudah berada di dalam mansion mewah milik Naufal. Tepatnya di ruang tengah.


"Rumah yang indah dan mewah!" seru Aditya.


"Ini pertama kalinya kita ke mansionnya Naufal, kak!" seru Rayyan.


"Yah. Kau benar Rayyan. Adik bungsu kita sangat pintar dan lihai menyembunyikan keberadaan mansionnya pada kita," ucap Aditya.


"Apa?" teriak Arsya dan yang lainnya.


"Yaakk! Kenapa kalian teriak, hah?!" Aditya menatap horor Arsya dan yang lainnya.


"Hehehehe.. maaf kak," sahut mereka secara bersamaan.


"Apa benar yang kakak katakan barusan? Kalau kalian baru pertama kalinya ke mansion Naufal. Yang benar saja." Arsya benar-benar tidak percaya.


"Itu benar, Arsya," Helena yang menjawabnya.


"Masa iya Naufal melakukan itu pada kalian," ucap Arsya.


"Kita tahu Naufal beli mansion mewah di Jakarta karena dia sendiri yang cerita pada kita. Tapi dia tidak mau memberitahu alamat mansionnya itu pada kita," saut Elvan.


"Bibi juga heran padanya. Dia bisa pilih salah satu Apartemen milik Daddy nya dan tinggal disana, tapi dia lebih memilih untuk membeli sebuah mansion untuk dirinya sendiri," ucap Helena.


"Lalu bagaimana caranya kalau misalnya paman dan bibi ingin mengunjungi Naufal di Jakarta?" tanya Dhafin.


"Kalau kami ingin mengunjungi Naufal di Jakarta, kami menginapnya disalah satu Apartemen milik Daddy. Sedangkan Naufal, dia ikut nginap juga di Apartemen itu bersama kami. Dia akan balik ke mansionnya sendiri, saat kami sudah balik ke Bandung," jawab Aditya.


"Waaaaw! Benar-benar ya Naufal. Salut sama pemikiran gilanya!" seru Davian.

__ADS_1


"Lalu apa alasan Naufal melakukan itu, kak?" tanya Barra.


"Katanya untuk tempat persembunyian kalau dia ada masalah. Kalau kita lagi ribut atau kita memarahinya, dia pasti kaburnya ke mansionnya ini. Jadi tidak akan ada yang bisa menemukannya," jawab Aditya.


Saat mereka lagi berbincang-bincang, terdengar suara bel berbunyi


TING..


TONG..


"Biar aku membukanya!" seru Arsya.


Setelah itu, Arsya beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju pintu utama.


CKLEK..


Pintu pun terbuka, menampilkan beberapa orang yang sudah berdiri didepan pintu tersebut.


"Mami, Papi, Paman, Bibi, Kakak." Arsya menyapa kedua orang tuanya, kakaknya dan Paman dan Bibinya.


Lalu setelah itu mereka semua pun masuk ke dalam rumah mewah Naufal.


"Paman, Bibi sudah datang!" sapa Liana yang muncul dari arah dapur.


^^^


Kini Mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Sedangkan sipemilik mansion tidak ada di tempat.


"Oh ya! Kak Helena, Naufal dimana? Aku tidak melihatnya dari tadi," Andhira menanyakan keberadaan keponakan manisnya pada kakak perempuannya.


"Naufal ke Studio. Katanya ada sedikit masalah yang harus diselesaikan," jawab Helena.


"Tapi Naufal baru saja keluar dari rumah sakit, kak. Masa iya sudah langsung kerja," ucap Nirvan Sheehan.


"Betul itu Bibi, Paman. Kenapa diizinkan?" ucap Pasya.


"Kau sudah berapa lama mengenal keponakanmu itu, Nirvan? Keponakanmu itu keras kepala, tidak bisa diam. Sekeras apapun kita melarangnya, sekeras itu pula dia menentangnya," saut Albert.


***


Seorang gadis cantik yang baru saja sampai di rumahnya. Gadis tersebut baru saja pulang dari kampusnya. Dirinya merebahkan tubuh lelah di sofa ruang tengah.


"Aku lelah sekali hari ini," keluh sang gadis.


Lalu tiba-tiba saja gadis tersebut membayangi wajah pemuda yang seminggu yang lalu menolongnya.


"Bagaimana kabarnya pemuda itu ya? Aku belum mengetahui siapa namanya. Kalau aku ingat saat pertama kali melihatnya, wajahnya sangat tampan." monolog gadis itu membayangkan wajah tampan Naufal sambil tersenyum dan tanpa sadar ibunya memperhatikannya.


"Eheemm." Ibunya berdehem. Hal itu sukses membuat anak gadisnya terkejut.


"Bunda."


Ibunya tersenyum lalu duduk di sampingnya. "Pasti lagi memikirkan pemuda yang telah menolongmu itu, hum?" goda Ibunya.


"Tidak, Bunda. Aku tidak memikirkannya," sahut gadis itu.


"Kau pikir bisa membohongi Bunda, hum! Terlihat dari wajahmu ini," ucap Ibunya sambil mencolek hidup mancung putri bungsunya itu.


"Bunda tidak melarangmu pacaran sayang. Asal kau bisa menjaga dirimu. Siapa pun yang menjadi pacarmu nanti. Semoga dia bisa menjadi pasangan yang baik untukmu," ucap Ibunya.


"Terima kasih, Bunda. Aku akan selalu mengingat pesan Bunda."


"Apa yang dikatakan oleh Bunda itu benar, Vanesha. Kau itu seorang wanita harus bisa jaga diri. Kakak juga tidak akan melarangmu untuk dekat dengan laki-laki. Siapa pun yang akan menjadi kekasihmu. Kakak harap dia bisa menjagamu dengan baik," tutur Dylon.


"Ya, kak Dylon. Aku akan selalu menjaga diriku. Dan aku akan selalu mengingat pesan kalian berdua," jawab Vanesha.


"Ya, sudah. Sekarang pergilah ke kamarmu dan bersihkan dirimu. Setelah itu turun lagi ke bawah. Kita akan makan siang bersama," ucap Ibunya.


"Baiklah Bunda," jawab Vanesha.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Vanesha langsung pergi meninggalkan ibu dan kakak laki-lakinya menuju kamarnya di lantai dua.


***


Naufal sudah berada di Studio miliknya. Kini Naufal bersama keempat sahabatnya berada di ruang penyiksaan.


"Katakan apa alasanmu melakukan ini padaku, hah?!" bentak Naufal yang berusaha menahan emosinya.


"Tidak perlu alasan untuk melakukan ini, hahahaha." pria itu menjawab sembari tertawa mengejek sehingga membuat Naufal benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya.


BUGH.. BUGH..


BUGH..


Naufal memukuli Deon bertubi-tubi sampai Deon tersungkur di lantai.


Deon itu adalah orang yang selama ini bekerja untuknya. Orang yang dipercayai sepenuhnya oleh Naufal. Tapi Deon membalasnya dengan sebuah penghianatan.


"Ikat dia," perintah Naufal.


"Baik," jawab salah satu anak buahnya.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Fal?" tanya Nathan.


"Apa orang itu benar-benar ingin menghancurkan Studio kita?" tanya Theo.


"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Nathan. Aku sudah kehilangan Avana Gym. Dan aku tidak mau kehilangan Studio ku juga," ucap Naufal lirih.


"Kenapa kau tidak menceritakannya kepada keluargamu? Siapa tahu mereka ada jalan keluarnya?" ucap Ricky.


"Aku tidak mau melibatkan mereka dulu. Biarkan aku mencari tahu terlebih dahulu apa motif dibalik semua masalah yang aku hadapi?" saut Naufal.


"Henry, kau hubungi kak Damian sekarang. Suruh dia melakukan tugasnya untuk memasang alat pelacak ke tubuh Deon penghianat itu. Dengan alat itu bisa dipakai untuk melacak orang yang berjarak berkilo-kilometer sekalipun," pinta Naufal.


"Baiklah," jawab Henry.


^^^


Damian telah tiba di Studio beberapa menit yang lalu. Dan dia juga sudah selesai melakukan tugasnya yaitu memasang alat pelacak berupa Microcip kedalam tubuh Deon.


Microchip ini akan terhubung dengan Handphone menggunakan konsep GPS Tracker sehingga pengguna dapat mengetahui berbagai informasi yang tersedia.


Salah satu pengembangan dari informasi tersebut adalah Sharing Position dimana pengguna dapat mempublikasikan posisi dirinya kepada teman-temanya atau orang yang akan mengetahui posisinya.


"Kenapa kau tiba-tiba memiliki ide gila ini, Fal?" tanya Damian.


"Aku tidak mau kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya kak. Aku hanya ingin memastikan dan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini."


"Ya, kau benar. Jadi apa yang bisa kakak lakukan untukmu?" tanya Damian.


"Cukup kakak pantau terus keberadaan sipenghianat itu," ucap Naufal.


"Baiklah!" seru Damian.


Naufal menunjuk dua anak buahnya untuk ke ruang penyiksaan. "Kalian berdua pergi ke ruang penyiksaan dan lepaskan dia lalu turunkan dia di jalan," ucap Naufal.


"Baik." mereka menjawab dengan kompak.


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak pergi dulu Fal!"


"Baiklah kak. Kakak hati-hati," ucap Naufal.


"Oke. Bye!" Damian melambaikan tangannya.


"Kalian mau langsung pulang atau mampir ke mansionku dulu?" tanya Naufal.


"Kita langsung pulang aja Fal. Kau kan baru keluar dari rumah sakit. Lebih baik kau istirahat," ucap Theo yang diangguki oleh Nathan, Henry dan Ricky.


"Ayo, kita pulang!" seru Ricky.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan Studio dan kembali ke rumah masing-masing.


__ADS_2