
Di sebuah desa terpencil yang ada di kota Tasikmalaya yaitu desa Nanga atau kampung Naga. Suasana pemandangan di kampung Naga yang sangat asri dan dengan sawah hijau. Di kampung Naga itu memiliki 100 bangunan rumah. Di kampung Naga itulah ibu dari Vanesha tinggal untuk sementara waktu.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Damian yang melihat tiga dokter itu sedang memeriksa kondisi ibunya Vanesha.
"Syukurlah. Kondisi pasien baik-baik saja. Jika kondisi pasien seperti ini terus, maka tidak lama lagi pasien akan sadar dari koma."
Mendengar perkataan dari sang dokter membuat Damian tersenyum bahagia. Begitu juga dengan keenam sahabatnya.
"Baiklah. Rawan dia dengan sebaik-baiknya."
"Baik, tuan."
***
Naufal sudah berada di rumahnya sekarang. Setelah bersih-bersih dan selesai makan malam bersama. Kini Naufal dan semua anggota keluarganya termasuk Daniel kakak laki-lakinya Vanesha berkumpul di ruang tengah.
"Dad," panggil Naufal.
"Iya, sayang."
"Sekarang katakan padaku. Kabar apa yang ingin Daddy sampaikan padaku. Jangan buat aku penasaran," ucap Naufal.
Mendengar pertanyaan dari putra bungsunya membuat Albert langsung tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah berharap putranya itu.
Melihat ayahnya memberikan reaksi tak memuaskan membuat Naufal menatap ayahnya itu dengan wajah kesal.
"Daddy, aku minta jawaban. Bukan senyuman jelek Daddy itu!"
Seketika Albert membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya itu. Sementara anggota keluarga lainnya seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Naufal.
"Sudahlah sayang. Kasihan Naufal. Kasih tahu saja apa kabar baiknya," ucap Helena tersenyum melihat wajah manyun putra bungsunya itu akibat ulah suaminya.
Mendengar ucapan dari istrinya membuat Albert akhirnya memutuskan untuk memberitahu putra bungsunya mengenai keberhasilan Damian.
"Baiklah, sayang! Maafkan Daddy. Begini, sayang. Daddy mendapatkan telepon dari Damian. Dia mengatakan pada Daddy bahwa dia dan keenam sahabatnya sudah berhasil membawa pergi ibunya Vanesha keluar dari rumah sakit itu."
Mendengar cerita dari ayahnya seketika Naufal tersenyum. Dirinya tidak menyangka jika kakak angkatnya itu berhasil membawa pergi ibunya Vanesha keluar dari rumah sakit tersebut.
Benarkah itu Dad?" tanya Naufal memastikan.
"Benar sayang," jawab Albert.
Semuanya menatap wajah Naufal. Mereka semua menunggu jawaban serta rencana apa yang akan dilakukan oleh Naufal untuk membebaskan Vanesha dan Ayahnya.
"Sekarang giliranku yang bertindak. Aku akan buat kedua bajingan itu tidak memiliki apa-apa lagi, terutama tangan kanannya dan para anak buahnya. Aku akan menyingkirkan semua orang-orang yang ada di belakangnya. Jika semua orang-orang yang ada di belakangnya dilenyapkan, maka aku dengan mudah mengahadapi kedua bajingan itu."
Mendengar ucapan dari Naufal membuat Albert, Elvan, Aditya, Rayyan dan semua anggota keluarga langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan rencana Naufal tersebut. Menurut mereka semua, selama ini Alex dan Derry berkuasa dan menekan Vanesha dan keluarganya karena mereka memiliki orang-orang di belakang. Kakak adik Alvaro tersebut tinggal memberikan perintah kepada anak buahnya, semua pekerjaan selesai dikerjakan oleh tangan kanannya dan para anak buahnya.
__ADS_1
"Daddy setuju dengan rencana kamu itu sayang. Apa kamu butuh bantuan Daddy untuk membunuh semua orang-orang yang ada di belakang Alex dan Derry?"
"Tidak perlu Dad. Kali ini aku akan bekerja sendiri. Dan Daddy tidak perlu khawatir. Aku tidak sendirian. Daddy tidak lupakan siapa aku?"
Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Naufal membuat Albert seketika tersenyum. Dirinya tahu siapa putra bungsunya itu. Putra bungsunya itu sama seperti dirinya yang memiliki orang-orang di belakangnya. Hanya saja putra bungsunya itu tidak terlalu melibatkan orang-orangnya. Putranya itu hanya melibatkan atau memerintahkan beberapa orang saja, salah satunya tangan kanannya.
"Tapi Daddy minta padamu. Hati-hati. Jangan sampai kecolongan dan jangan sampai terluka ketika menghadapi Alex dan Derry."
"Baik, Dad!"
***
Keesokan paginya di kediaman Alvaro dimana Alex yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah. Pikiran tertuju pada masalah ibunya Vanesha yang diculik oleh beberapa orang di rumah sakit. Alex masih memikirkan siapa orang yang sudah menculik ibunya Vanesha. Dan dari mana orang-orang itu keberadaan rumah sakit ibunya Vanesha.
"Siapa mereka? Dari mana mereka tahu tentang rumah sakit tempat ibunya Vanesha dirawat?"
Ketika Alex sedang memikirkan pelaku penculikan ibunya Vanesha, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Alex langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Matanya menatap di layar ponselnya nama tangan kanannya. Melihat itu, Alex langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, ada kabar buruk mengenai tuan Daniel, kakak laki-lakinya nona Vanesha!"
"Katakan!"
"Brengsek!" seketika Alex marah ketika mendengar laporan yang disampaikan oleh tangan kanannya itu. "Apa kau sudah mengetahui siapa yang membayar pengacara itu untuk membebaskan Daniel?"
"Saya sudah menyelidikinya, namun lagi-lagi saya tidak berhasil. Orang-orang itu benar melakukan pekerjaannya dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak sama sekali."
"Selidiki terus. Aku tidak mau tahu bagaimana cara karjamu. Yang aku mau, kau harus bisa menemukan orang-orang yang sudah menculik ibunya Vanesha dan orang yang sudah membayar pengacara itu!"
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Alex langsung mematikan panggilannya setelah mendengar jawaban dari tangan kanannya itu.
"Aarrgghhh!"
Prang..
"Brengsek! Siapa mereka? Kenapa mereka menghancurkan semua rencana yang sudah aku buat! Kalau begini jadinya, bisa-bisa adikku Derry gagal menikahi Vanesha. Aku tidak ingin pernikahan adikku sampai gagal!
Ketika Alex tengah memikirkan penculikan ibunya Vanesha dan bebaskannya Daniel dalam penjara. Serta memikirkan orang yang sudah menjadi penyebab kejadian itu seketika Alex dikejutkan dengan teleponnya yang kembali berbunyi.
Alex melihat kearah ponselnya terlihat di layar ponselnya nama asistennya di perusahaan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Alex pun langsung menjawabnya.
"Hallo."
__ADS_1
"Hallo, Bos. Ada masalah besar di perusahaan!"
"Masalah besar apa?"
"Ada seketika 30 orang yang menyerang perusahaan. Mereka meminta semua karyawan dan karyawati untuk mengosongkan perusahaan. Mereka mengatakan bahwa perusahaan tersebut bukan milik Bos lagi."
"Apa?!"
Alex berteriak bersamaan dengan dirinya berdiri dari duduknya. Dirinya benar-benar terkejut ketika mendengar bahwa perusahaan yang sudah dia kembangkan bersama ayahnya seenaknya di klaim oleh orang lain.
"Bos. Lebih baik anda segera kesini. Beberapa dari mereka menyakiti para karyawan."
"Brengsek! Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Alex langsung mematikan panggilannya, lalu bergegas menuju perusahaan miliknya. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap perusahaan dan para karyawannya.
***
"Keluar kalian semua! Tinggalkan perusahaan ini. Perusahaan ini bukan milik Bos kalian lagi!" teriak beberapa orang terhadap para karyawan perusahaan tersebut.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Beberapa orang lainnya menghancurkan semua benda-benda dan pajangan yang ada di dinding dan di tempat lainnya sehingga membuat semua rusak dan jatuh berserakan di lantai.
Melihat dan mendengar bunyi senjata membuat para karyawan dan karyawati ketakutan. Mereka tidak ingin orang-orang bersenjata itu membuatnya dengan sadis.
Beberapa karyawan dan karyawati berlari keluar menyelamatkan diri. Mereka lebih sayang sayang dibandingkan untuk mempertahankan perusahaan tempat mereka bekerja.
Dor.. Dor..
Dor..
Suara-suara tembakan itu menggema di seluruh ruangan yang ada di dalam perusahaan itu sehingga membuat semua yang ada di dalam rusak parah dan tak berbentuk.
Di depan perusahaan tersebut dimana para karyawan dan karyawati menghambur keluar karena ingin menyelamatkan diri.
Beberapa menit kemudian, masuklah sebuah mobil yang mana mobil itu milik Alex Alvaro.
Dug..
Bunyi pintu mobil yang ditutup oleh Alex setelah dia keluar dari dalam mobilnya. Kemudian Alex melangkah memasuki perusahaan yang mana dia melihat para karyawan dan karyawati berada di depan perusahaan.
"Bos!"
Tanpa Alex ketahui ada seorang berdiri tak jauh dari perusahaan miliknya ada seperti pemuda yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan tajam dan dendam. Pemuda itu memakai kacamata, masker dan topi hitam. Pemuda itu tersenyum dibalik maskernya sembari berucap sesuatu.
__ADS_1
"Ini adalah kehancuran pertamamu, Alex Alvaro!"