
Naufal mencabut kabel earphone yang terpasang di ponselnya. Lalu meletakkan ponselnya itu di telinganya.
"Hei, Fal. Kenapa kau memakiku? Memangnya salahku apa padamu?" tanya Henry. Dirinya sengaja membuat sahabatnya itu makin kesal.
"Kau masih berani menanyakan apa kesalahanmu, hitam sialan? Kau tahu tidak? Kesalahanmu itu terlalu besar. Kau sudah membuat telingaku sakit. Kau sudah membuat susu pisang kesukaanku tumpah dan mengotori lantai rumahku. Kau membuat pelayanku harus bekerja membersihkan tumpahan susu pisangku di lantai. Kau sudah membuat moodku yang awalnya baik sekarang menjadi buruk." Naufal menjawab pertanyaan dari Henry dengan wajahnya yang benar-benar sudah kesal.
Lagi-lagi anggota keluarganya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar penuturan dari Naufal.
"Yak! Kenapa kau menyalahkanku? Kau sendiri yang menumpahkan susu pisang itu. Kalau kau kasihan pada pelayanmu, kenapa tidak kau saja yang membersihkan tumpahan susu pisang tersebut? Dan soal moodmu itu. Setahuku moodmu itu selalu buruk!" jawab Henry di seberang telepon. Tanpa Naufal ketahui, Henry mati-matian menahan tawanya.
"Kau benar-benar menyebalkan, Henry. Kau ingin cari mati, hah?! Apa kau tidak sayang dengan nyawamu?"
"Apa yang bisa dilakukan oleh seekor kelinci sepertimu?" ejek Henry.
"Mulai besok sampai empat bulan ke depan, gajimu akan menjadi milikku. Jadi kau bekerja tanpa gaji sama sekali! Itulah yang dilakukan oleh seekor kelinci padamu. Kelinci itu akan membunuhmu secara berlahan-lahan."
Pip!
Naufal mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Dirinya sangat yakin pasti sahabatnya itu saat ini sedang kesal atau malah sebaliknya. Naufal tersenyum puas dikala dirinya mengatakan hal itu pada sahabatnya tersebut.
"Hahaha. Aku yakin saat ini simingtem pasti kesal dan mengumpatiku habis-habisan. Palingan bentar lagi si mingtem itu pasti menelponku," batin Naufal.
"Eeheemm." Elvan berdehem.
Naufal sontak terkejut dan membalikkan badannya melihat kesal suara.
"Ka-kalian. Sejak kapan kalian ada disana?" tanya Naufal mengerutkan keningnya.
Naufal menghampiri anggota keluarganya yang sudah berada di ruang tengah.
"Sejak kamu keluar dari kamar, terus ke dapur mengambil susu pisang kesukaan kamu sampai berakhir ribut dengan sahabatmu di telepon," jawab Elvan.
"Hufff! Kalian sama saja dengan Henry. Sama-sama membuatku kesal dan menyebalkan," gerutu Naufal pelan. Tapi masih dapat didengar oleh mereka. Mereka hanya tersenyum mendengarnya.
"Sudah puas marah-marahnya, hum?" tanya Helena sembari mengelus lembut rambut putra bungsunya.
"Belum," jawab Naufal yang memanyunkan bibirnya.
"Kau lucu sekali dengan wajah seperti itu, Fal! Apalagi tuh bibir. Pengen dicium ya?" goda Arsya.
"Aish!"
Drtt!!
Drtt!!
Ponselnya kembali berbunyi. Dan siapa lagi kalau bukan Henry sibiang resek. Saat melihat nama 'Henry' di layar ponselnya, Naufa menghembuskan nafas pasrahnya.
"Mau ap...." ucapan Naufal sudah terlebih dahulu dipotong oleh Henry.
"Fal! Kau seriusan tidak memberiku gaji selama empat bulan?"
Naufal tersenyum menyeringai. Sekarang dirinya yang menjahili sahabatnya itu.
"Iya. Kenapa? Tidak setuju? Ingin protes?"
"Yah, Fal! Kau tega sekali padaku. Ayolah, Fal! Kau cuma bercandakan?"
"Seorang Naufal Alexander tidak pernah menarik kata-katanya. Henry Krishon kau bekerja empat bulan ke depan tanpa gaji dariku!"
Naufal terkekeh pelan. "Kekeke!"
Sedangkan anggota keluarga yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Fal. Please! Masa kau tega tidak menggajiku selama empat bulan! Lalu aku makan apa kalau tidak ada uang?"
"Kau tidak akan mati kelaparan tanpa gaji dariku, hitam. Keluargamu orang terpandang dan keluarga berada. Jangan permalukan mereka dan juga kak Ardian hanya gara-gara kau tidak makan berbulan-bulan tanpa gaji. Tanpa gaji dariku, mereka sudah pasti akan memberikanmu makan. Kalau keluargamu mencampakkanmu, kau datanglah padaku."
Naufal tidak bisa menahan tawanya. Naufal menjauhkan ponselnya. Dan tawanya pun pecah.
"Hahahaha!"
Sudah pasti Henry tidak akan bisa mendengarnya. Lalu Naufal kembali berbicara dengan Henry.
"Asal kau bisa membuatku bahagia. Aku akan pertimbangkan lagi keputusanku."
"Aku akan mengabulkan satu keinginanmu. Apapun?"
"Apapun?"
"Ya. Apapun yang kau inginkan."
"Eemm! Aku mau kau membelikan pizza tiga kotak dengan rasa yang berbeda-beda, Susu pisang kesukaanku lima kotak besar, spaghetti, stik daging, ayam goreng masing-masing enam porsi. Bagaimana? Maukah kau membelikannya untukku Henry Krishon sayang."
"Yak! Kau gila, Fal! Itu perut atau gentong? Makanan itu mau kau apakan? Apa kau sanggup menghabiskan semuanya?"
"Apa kau lupa, Henry kalau di rumahku bukan ada aku saja. Ya, anggap saja kau sedang mentraktirku sekeluarga."
"Sialan kau, Fal! Itu sama saja kau membunuhku," kesal Henry.
"Hahaha. Itu deritamu, kedelai hitam. Itu terserah padamu dan aku tidak memaksamu."
"Huff! Baiklah. Aku akan membelikan sesuai keinginanmu. Paus!"
"Yes!! Kena kau, Henry." Naufal membatin.
"Puas... Sangat puas! Terima Henry sayang. Aku doakan semoga ke depannya kau terus mentraktirku. Aku tunggu semua pesanan itu di rumahku pukul dua siang paling lambat."
"Dasar siluman kelinci sialan."
"Terima kasih atas pujiannya."
"Gila! Dasar siluman kelinci Gila."
Saat Naufal ingin membalas, Henry terlebih dahulu mematikan panggilan tersebut.
Tutt!!
Tutt!!
"Hahahaha." Naufal tertawa puas sudah berhasil membuat sahabatnya itu kesal. Bahkan ia yakin sahabatnya itu pasti seribu kali kesal.
"Naufal," panggil Albert.
Naufal menghentikan tawanya dan melihat sang ayah. "Ya, Dad."
"Apa kamu tidak keterlaluan kepada Henry, hum?"
"Keterlaluan? Aku rasa tidak," jawab Naufal enteng.
__ADS_1
Albert hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari putranya itu.
"Makanan sebanyak itu untuk apa, sayang?" tanya Helena.
"Ya, untuk dimakanlah Mom!"
"Ya, Mommy tahu. Tapi sebanyak itu. Siapa yang akan menghabiskannya sayang?"
"Kalian!"
"Kami?" ucap mereka kompak.
"Ya!"
"Yang benar saja, Naufal! Sebentar lagi waktunya makan siang dan para pelayan sudah mulai masuk di dapur," kata Elvan.
"Auh ach! Pusing. Lebih baik aku kembali ke kamar," ucap Naufal lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Sedangkan mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrah melihat kelakuan Naufal.
***
Minggu
(Rumah Milik Min Barra)
Barra saat ini berada di kamarnya. Dirinya memiliki mengistirahatkan tubuhnya setelah enam hari sibuk dengan urusan kantornya. Khusus sabtu dan minggu Barra akan pulang ke rumahnya. Tapi untuk hari-hari yang lainnya Barra tinggal bersama keluarganya.
Saat dirinya asyik dengan tidurnya. Terdengar suara ponsel miliknya yang menandakan sebuah pesan chat masuk.
[PESAN DM]
My Bunny
Kakak!!
My Bunny
Hei, beruang kutub!!
My Bunny
Kakaaaakkk!!
My Bunny
Masih hidup kah??
Barra yang sedari terganggu akan suara ponselnya dengan terpaksa membuka kedua matanya dengan mulutnya yang mengedumel. Ia raih ponsel tersebut dan melihat ada empat pesan dari adik kelincinya.
"Dasar kelinci sialan," batin Barra mengumpat. "Untung sayang."
Barra pun membalas pesan dari adik laknatnya itu.
[Pesan DM]
Beruang Kutub
Ada apa kelinci laknat??
My Bunny
Beruang Kutub
Kakak di rumah. Kenapa??
My Bunny
Kakak bisa tidak datang ke rumahku???
Beruang Kutub
Kalau kakak tidak bisa,Bagaimana???
My Bunny
Harus bisa!!
Tidak menerima penolakan!!!
Beruang Kutub
Yak!! Itu pemaksaan namanya.
My Bunny
Bodoo!!
Peduli setan. Pokoknya kakak harus datang, sekarang!!
Beruang Kutub
Tidak bisa kelinci sialan.
Kakak masih mengantuk!!
My Bunny
Kakaaaakk!!!
Pokoknya kakak harus datang. Kalau tidak, aku tidak akan mau bertemu dengan kakak lagi. Selamanya!!!!
Beruang Kutub
Huff!!! Baiklah.
Kakak akan datang.
"Dasar kelinci menyebalkan," batin Barra.
My Bunny
Beritahu juga kak Davian, kak Reza, kak Dhafin dan kak Ardian. Pokoknya kalian harus datang ke rumahku.
Beruang Kutub
Iya, ya bawel!!
Ada lagi??
__ADS_1
My Bunny
Makasih kakak es ku.
Aku tunggu.
Tidak!!
"Dasar siluman kelinci sialan. Seenaknya saja memaksakan kehendaknya pada orang lain. Tidak tahu apa, kakaknya ini sangat sangat mengantuk. Untung sayang. Kalau tidak sudah kutendang dia sampai keplanet Pluto." Barra berucap dengan nada kesal sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Tapi sebelum ke kamar mandi, Barra menyempatkan untuk mengirim pesan di chatroom.
[GRUP]
10:26
Barra : Dhafin, Reza, Davian, Ardian!
Davia : Iya, kak. Ada apa?
Dhafin : ^ 2
Reza : ^ 3
Ardian : ^ 4
Barra : Kita diminta sama siluman kelinci nakal itu untuk datang ke rumahnya
Reza : Memangnya ada apa, kakak? Tumben tuh bocah nyuruh kita ke rumahnya?
Ardian : ^ 2
Dhafin : ^ 3
Davian : ^ 4
Barra : Kakak juga tidak tahu. Kelinci nakal itu tidak ngomong apa-apa. Dia hanya nyuruh kita kesana.
Arsya : Sudah jangan banyak nanya. Kalian buruan datang. Jangan sampai buntelan kelinci itu marah dan merajuk dengan kalian. Kalian tahukan bagaimana kalau sikelinci itu sudah merajuk?
Dhafin : Oke!! Aku datang.
Reza : ^ 2
Davian : ^ 3
Ardian : ^ 4
Reza : Dasar siluman kelinci buntelan kentut.
Davian : Kelinci buluk. Ngapain nyuruh kami datang ke rumahmu. Kami tidak akan datang.
Naufal : Dasar alien kudisan.
Naufal : Jangan banyak bacot, bantet. Tinggal datang aja apa susahnya sih?? Giliran gak ada kabar dariku, kalian semua seperti cacing kepanasan.
Naufal : Awas saja. Kalau kalian tidak datang. Aku pecat jadi kakak-kakakku selamanya.
Arsya : Sikelinci sudah melepaskan taringnya. Kaaabuuuurrr...
Davian : Oke. Oke!! Kakak akan datang. Dasar siluman kelinci sialan.
Reza : Aish! Dasar buntelan kelinci laknat. Oke!! Kakak datang.
Dhafin : Dasar kelinci nakal menyebalkan. Baiklah!
Ardian : Banyak-banyakin sabar menghadapi bayi kelinci yang satu ini. Dasar tukang maksa.
Barra : Pemaksaan. Dasar kelinci buntelan kapas.
Naufal : Terima kasih pujiannya, kakak-kakakku.
Barra : Dasar kelinci gila.
Davian : ^ 2
Ardian : ^ 3
Dhafin : ^ 4
Reza : ^ 5
***
Minggu
11:14 pm
Naufal yang sedang berada di dalam kamarnya tertawa puas karena sudah berhasil membuat sahabat-sahabatnya kesal 1000x lipat. Mulai dari Henry sampai kelima kakak-kakaknya. Tidak termasuk Arsya. Karena Arsya tinggal bersama di rumahnya.
"Hahahaha." Naufal tertawa lepas seakan-akan tidak beban sama sekali.
Tanpa disadari oleh Naufal. Tawanya tersebut terdengar oleh anggota keluarganya yang sedang berada di ruang tengah.
^^^
Di ruang tengah dimana anggota keluarganya sedang nongkrong.
"Hahahaha." suara tawa Naufal terdengar sampai ke bawah.
"Itu Naufal. Kenapa tertawa seperti itu?" tanya Felix.
"Girang banget tuh bocah?? Tidak biasanya tertawa sampai segitunya??" tanya Aditya heran.
"Biasalah kak, Pi!!" sela Arsya.
"Maksud kamu apa, Arsya?" tanya Albert.
"Naufal itu habis chattingan sama Barra, Dhafin, Ardian, Davian dan Reza. Dalam chattingan itu, Naufal meminta mereka semua datang kesini. Tanpa pengecualian. Awalnya mereka ingin menolak karena mereka ingin istirahat seharian dan tidak mau kemana-mana. Lalu Naufal memberikan ancaman pada mereka. Dimana ancaman tersebut memang kelemahan kami semua para kakak-kakaknya. Jadi mau tidak mau mereka akhirnya pasrah dan menuruti kemauan sikelinci nakal itu." Arsya menjelaskan alasan Naufal yang tertawa di kamarnya.
"Sebelum chattingan itu. Naufal sudah terlebih dahulu mengirim pesan pribadi pada Barra. Barulah dari Barra memberitahu yang lainnya melalui chatroom," kata Arsya lagi.
"Oh ya. Barusan kamu bilang kalau mereka diancam oleh sikelinci nakal itu. Memangnya ancaman apa yang diberikan oleh sikelinci itu?" tanya Helena.
"Kami semua akan dipecat menjadi kakak-kakaknya selamanya. Dengan kata lain, Naufal tidak akan mau bertemu dengan kami lagi. Kalau hal itu sampai terjadi, susah untuk kami mendapatkan hatinya kembali," jawab Arsya.
Para anggota keluarga yang mendengar penuturan Arsya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala atas sikap Naufal.
"Dasar kelinci nakal," kata Elvan tersenyum.
__ADS_1