Naufal Alexander

Naufal Alexander
Tertekan


__ADS_3

Makanan telah tersaji di meja makan. Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan untuk melakukan aktivitas pagi mereka yaitu sarapan pagi.


"Oh ya, Naufal mana?" tanya Syakilla, istri dari Ammar Alexander.


"Sepertinya Naufal masih di kamarnya, Bi! Aku akan ke kamarnya," ucap Rayyan.


Rayyan pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Naufal.


Sesampainya di depan pintu kamar Naufal. Rayyan mengetuk pintu kamar tersebut.


TOK..


TOK..


"Naufal. Ayoo bangun! Yang lainnya sudah menunggu di meja makan. Mereka tidak akan makan sebelum kamu ikut makan bersama mereka!" teriak Rayyan dari luar kamar Naufal.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Rayyan pun membuka pintu tersebut.


CKLEK..


Pintu kamar telah terbuka. Dan Rayyan pun masuk ke kamar tersebut. Dapat dilihat sebuah gundukan di tempat tidur. Rayyan mendekat untuk membangunkan adiknya.


Rayyan menarik pelan selimut yang menutupi tubuh sang adik. Terlihat wajah adiknya yang begitu damai dalam tidurnya.


Rayyan mengelus lembut rambut sang adik lalu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga adiknya.


"Hei, Naufal bangunlah. Di bawah ada Vanesha. Dia telah menunggumu dari tadi," ucap Rayyan menjahili adiknya.


Detik kemudian Naufal pun membuka kedua mata bulatnya lalu menduduki dirinya.


Sedangkan Rayyan berusaha menahan tawanya karena sudah berhasil menjahili sang adik.


"Sekarang pergilah mandi. Setelah selesai langsung turun ke bawah," ucap Rayyan sambil mengacak-acak rambut adiknya.


Rayyan pun pergi meninggalkan Naufal sendirian di kamarnya yang masih tampak kebingungan soal Vanesha.


"Vanesha. Dia disini?" batin Naufal.


Dan akhirnya Naufal beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Rayyan sudah berada di meja makan. Dan telah duduk di kursinya.


"Naufal mana Rayyan ?" tanya Helena.


"Sebentar lagi Naufal turun Mom." Rayyan menjawabnya.


Dalam hatinya Rayyan sudah tidak sabaran melihat ekspresi wajah adiknya itu saat tahu kalau ternyata dirinya telah dibohongi.


Lima menit kemudian terdengar suara langkah kaki menuju kearah ruang makan.


Dan mereka semua mendengar suara langkah itu. Mereka semua melihat kearah suara tersebut.


"Selamat pagi Naufal Alexander!" sapa mereka bersamaan.


Dan itu sukses membuat Naufal terkejut. Mereka semua tersenyum melihat wajah imut, wajah tampan dan wajah manis. Apalagi kalau saat terkejut seperti ini. Wajahnya makin-makin menggemaskan seperti anak kecil.


Sedangkan Naufal sedikit jengah melihat tatapan keluarganya yang berlebihan.


Naufal melangkahkan kakinya menuju kursi kesayangannya. Dan menduduki bokongnya di kursi tersebut tepat di sebelah Rayyan.


Dan mereka pun memulai sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Sesekali mereka melemparkan canda tawa mereka.


"Naufal. Tumben sekali Rayyan berhasil membangunkanmu. Biasanya kami berdua yang selalu berhasil membangunkanmu," ucap Aditya.


Sedangkan Naufal tidak menghiraukan ucapan kakak keduanya itu. Dirinya tetap fokus pada makanannya.


Aditya yang merasa diacuhkan, melirik sekilas kearah Elvan. Elvan yang mengerti arti lirikkan mata Aditya, menatap kearah adik bungsunya.


"Naufal," panggil Elvan.


Naufal menatap kakak tertuanya lalu kembali fokus pada makanannya.


"Hei. Ada apa, hum? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu? Ada masalah?" tanya Elvan.


Naufal menatap wajah ketiga kakaknya secara bergantian. Mulai dari Aditya, Elvan terakhir Rayyan lalu kembali fokus lagi pada makanannya.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada sikurus yang duduk di sebelahku ini. Dia biang masalahnya," jawab Naufal asal.


Rayyan yang mendengar ucapan adiknya membelalakkan matanya.


Semua menatap kearah Rayyan. Seakan-akan meminta penjelasan padanya. Rayyan yang merasa ditatap pun tersenyum kikuk.


"Hehehe. Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Rayyan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan pada kelinci nakal ini sampai membuat sikelinci ini tak bersemangat?" tanya Elvan.


Naufal seketika menatap horor kearah Elvan sambil mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk kakak tertuanya serta kedua matanya yang melotot saat mendengar ucapan sang kakak tertuanya itu.


Elvan yang mengetahui adik bungsunya sedang menatapnya pura-pura tidak mengetahuinya. Dia justru senang dan bahagia bisa melihat wajah cemberut sang adik karena baginya itu sangat sangat imut dan menggemaskan seperti anak kecil.


"Aku tidak melakukan apa-apa pada kelinci nakal itu. Aku hanya membangunkannya dengan caraku," jawab Rayyan.


"Memangnya cara apa yang kau gunakan sampai kau berhasil membangunkan seekor kelinci yang sedang tertidur. Dan bahkan kau juga berhasil membuat seekor kelinci tersebut merajuk," ucap Aditya yang melihat wajah kesal adik bungsunya.


Naufal sudah benar-benar kesal atas kelakuan ketiga kakaknya itu. Aditya menyadari bahwa adiknya menatapnya, tapi dirinya mengalihkan pandangannya pada makanannya dan sesekali menatap Rayyan. Dirinya berusaha untuk menahan tawanya.


"Aku hanya mengatakan pada sikelinci itu bahwa di bawah ada Vanesha yang sedang menunggunya.


Saat mendengar nama Vanesha. Sikelinci ini langsung bangun dan duduk," tutur Rayyan tanpa dosa.


Semua anggota keluarganya yang mendengar ucapan Rayyan berusaha mati-matian menahan tawa mereka. Mereka dapat melihat wajah kesal sibungsu. Dan siapa tahu sibungsu bisa saja ngamuk kapanpun tanpa mereka ketahui.


Naufal menatap ketiga kakaknya itu dengan wajah kesalnya. Saat Naufal ingin mengeluarkan sumpah serapahnya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering lalu kemudian Naufal mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Dan saat Naufal melihat layar ponselnya, tertera nama 'Kak Damian'


"Kak Damian." batin Naufal.


"Maaf Mom, Dad, semuanya! Aku angkat telepon dulu," ucap Naufal lalu kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.


Setelah kepergian Naufal. Mereka semua pun melepaskan tawa mereka yang sedari tadi mereka tahan. Tak terkecuali ketiga kakaknya.


"Hahahaha."


Mereka tertawa puas karena berhasil membuat adik bungsu mereka kesal. Bahkan terlihat sangat kesal.


"Kak. Kalian lihat tadikan bagaimana wajah Naufal?" ucap Rayyan.


"Hahaha. Wajahnya itu benar-benar menggemaskan sekali," tutur Aditya.


"Ya, kau benar Aditya. Naufal itu memang terlihat kesal. Jelas dari wajahnya. Tapi sekesal apapun Naufal. Dimata kita Naufal itu sangat imut dan menggemaskan. Mau dia marah, berteriak, menangis tidak akan menghilangkan wajah gemasnya dan juga wajah manisnya itu dari dirinya," ucap Elvan.


"Daddy dan Mommy setuju!" seru Albert dan diangguki oleh Helena.


Mereka kembali tertawa membayangkan wajah tampan, wajah imut, wajah manis dan wajah cantik sibungsu.


^^^


Naufal yang berada di ruang tengah sedang berbicara dengan Damian di telepon.


"Hallo kak Damian. Ada apa menghubungiku?"


"Hallo Naufal. Kakak hanya ingin memberitahumu soal Deon."


"Ada apa dengan si brengsek itu kak?"


"Rencana kita gagal Fal. Alat pelacak yang kita tanam di tubuh Deon telah diketahui oleh orang itu. Dan dia sudah mengubah rencananya. Bahkan orang itu sudah tidak membutuhkan Deon Lagi. Kau mau tahu apa yang sudah dilakukan oleh orang itu pada Deon?"


"Apa kak?"


"Orang itu membunuh Deon."


"Gila. Benar-benar gila. Siapa sebenarnya orang itu dan kenapa dia begitu antusias sekali mengincar diriku?"


"Kau tidak usah khawatir. Kakak akan selidiki masalah ini. Tapi..." ucapan Damian terhenti.


"Tapi apa kak?"


"Sebelum masalah ini bertambah rumit. Ada baiknya kau ceritakan semua masalahmu pada keluargamu. Kau tidak bisa menyimpannya sendiri. Siapa tahu setelah kau menceritakan semuanya pada keluargamu mereka punya solusinya?"


Hening..


"Ya, sudah. Tidak usah kau pikirkan. Itu hanya saran dari kakak. Semua keputusan ada ditanganmu. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."

__ADS_1


TUTT..


TUTT..


Naufal termenung di ruang tengah. Dirinya terus memikirkan semua ucapan Damian. Dirinya bingung, dirinya pusing, dirinya stress bahkan dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sampai tiba-tiba suara ponselnya berdering kembali. Dan kali ini yang menghubunginya adalah orang yang tidak ia kenal. Naufal pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo Naufal Alexander. Apa kabar hari-harimu? Apa hidupmu menyenangkan?" tanya orang yang diseberang telepon dengan nada dingin.


"Siapa kau sebenarnya, hah?! Dan apa maumu?" bentak Naufal.


"Belum waktunya kau tahu siapa aku. Aku masih ingin bermain-main denganmu dan ke enam kakak PANTA BOYS mu itu. Tepatnya mantan PANTA BOYS."


Naufal membelalakkan matanya. Dirinya kaget mendengar ucapan orang yang meneleponnya.


"Brengsek! Dari mana kau mengetahuinya!"


"Apa yang tidak aku ketahui, hum? Aku tahu semuanya. Siapa dirimu, siapa keluargamu. Bahkan orang-orang yang dekat dengan keluargamu. Dan satu lagi aku juga tahu kau dan teman-teman sudah menanamkan alat pelacak ke dalam tubuh Deon, salah satu orang kepercayaanku. Kau melakukan itu agar bisa melacak keberadaanku dan mengetahui siapa diriku. Tapi sayang rencanamu sudah tercium olehku. Hahahaha." tawa orang itu di seberang telepon.


Setelah selesai berbicara panjang lebar, orang itu langsung mematikan teleponnya.


TUTT..


TUTT..


"AARRGGHH!"


"Brengsek!" teriak Naufal frustasi lalu membanting ponselnya ke lantai.


PRANG..


Dan mengakibatkan ponselnya hancur berkeping-keping.


Mendengar teriakan Naufal sontak hal itu membuat anggota keluarganya kaget, lalu mereka semua menghampiri Naufal.


Saat mereka semua telah tiba di ruang tengah. Mereka semua terkejut.


"Astaga Naufal. Ada apa sayang?" tanya Helena saat melihat ponsel putra bungsunya sudah hancur.


Naufal tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dirinya lebih memilih bungkam. Pikirannya kalut.


"Naufal ada apa? Ayoo, jawab Naufal. Jangan diam saja. Apa yang terjadi padamu?" tanya Elvan yang sangat khawatir adik bungsunya.


Naufal tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka yang masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran.


Baru beberapa langkah tubuhnya oleng dan...


BRUUKK..


Naufal jatuh dan tidak sadarkan diri di lantai yang dingin. Dan membuat seluruh anggota keluarga teriak histeris melihat kondisi Naufal.


"Naufal!!" teriak mereka semua.


"Naufal. Kau kenapa sayang? Bangunlah, Nak!" Helena sudah terisak melihat putra bungsunya yang tidak sadarkan diri dan sesekali menepuk pelan pipinya.


"Bawa Naufal ke kamarnya sekarang?" titah Kishan.


Elvan menggendong Naufal dan membawanya ke kamar.


Setelah tiba di kamarnya Naufal. Elvan membaringkan Naufal di tempat tidur dengan hati-hati dengan segera Kishan sebagai dokter memeriksa kondisi Naufal dengan telaten.


"Bagaimana keadaan putraku Kishan?" tanya Albert pada sang adik.


"Naufal mengalami stress dan tertekan, kak!" Kishan menjawab sembari melihat wajah kakaknya.


"Apa maksudmu Kishan? Bagaimana bisa putraku stress dan tertekan?" tanya Helena yang masih menangis di samping tempat tidur putra bungsunya yang tangannya tak henti-hentinya menggenggam tangan putranya.


"Kemungkinan masalah yang selama ini Naufal tutupi dari kita semua kak Helena. Sampai akhirnya Naufal tidak bisa memikulnya sendiri. Makanya berakhirlah Naufal seperti ini," tutur Krisna Sheehan yang khawatir melihat kondisiĀ  keponakannya.


Mereka menatap sendu Naufal orang yang mereka sayangi.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu tidak mau cerita pada Mommy?" lirih Helena yang mengelus rambut coklat putra bungsunya.


"Naufal." batin Elvan, Aditya dan Rayyan menangis

__ADS_1


__ADS_2