Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Bayangan Vanesha


__ADS_3

[Rumah Naufal]


[Ruang Tengah]


Naufal berada di ruang tengah. Naufal sedang duduk santai sembari berbicara dengan seseorang di telepon.


Orang itu adalah Henry sahabatnya.


"Hehehe. Kakak ganteng dech. Jangan marah ya. Ntar kakak cepat tua. Apa kakak mau wajah kakak keriput semua? Padahal kakak belum nikah loh."


"Yak!" saat Ardian ingin membalas perkataan Naufal. Naufal sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Kakak kenapa bisa bersama Henry. Memang kak Ardian ada dimana?"


"Kakak di rumah kakak lah."


"Lalu si hitam itu ngapain di rumah kakak. Dia kan punya rumah sendiri."


"Mungkin diusir sama emak bapaknya kali."


"Haa! Yang benar? Waah, mereka benar-benar tega sama putranya sendiri. Kasihan si hitam, sudah jelek, nggak dapet gaji, diusir oleh orang tuanya. Sekarang malah numpang di rumah kakak lagi. Benar-benar menyusahkan. Kalau aku jadi kakak. Aku ogah menampungnya."


"Hei, hitam. Apa benar kau diusir dari rumah, hah? Kasihan sekali nasibmu, tam. Kau masih punya uangkan?


"Siluman kelinci sialan, kudisan, psikopat. Dasar sahabat laknat. Awas kau ya!" Henry benar-benar kesal.


"Hahahaha."


"Tam."


Tidak ada jawaban.


"Kedelai hitam."


Masih sama. Tidak ada jawaban.


"Mingtem."


Tetap tak ada jawaban.


"Henry Krishon sayang, cintaku, sahabatku nan kece dan tampan, sahabatku yang paling baik dan manis yang selalu pengertian. Jawab dong panggilan dari sikelinci imut ini."


Sedangkan Henry dan Ardian di seberang telepon sudah tersenyum kemenangan. Bahkan tersenyum geli mendengar untaian kata dari Naufal. Mulai dari kata yang menyakitkan sampai kata mesra. Mereka sedari tadi hanya mendengar ucapan Naufal tanpa berniat menjawab. Sengaja emang.


"Henry Krishon sialan. Kau dengar tidak?! teriak Naufal." Oke. Kalau kau ti..." ucapan Naufal terhenti saat mendengar teriakan ibunya memanggilnya dan hal itu dapat didengar oleh Ardian dan Henry.


"Naufal. Ada paket untukmu sayang!" teriak Helena dari arah ruang tamu.


"Dari siapa, Mom?!" teriak Naufal balik.


"Mommy tidak tahu. Tidak ada nama pengirimnya."


"Coba Mommy buka dan lihat apa isinya?"


"Baiklah, sayang."


"Aaaaaaaa!!"


"Mommy!" Naufal berlari menghampiri ibunya di ruang tamu.


PIP!!


***


[Rumah Ardian]


[Ruang Tengah]


"Kakak tadi kau dengar Bibi Helena teriakkan?" tanya Henry.


"Iya, Hen. Kakak dengar."


"Apa yang terjadi sebenarnya yang, kak? Kenapa Bibi Helena berteriak seperti itu?" tanya Henry khawatir.


"Coba kau hubungi lagi Naufal. Tanyakan padanya, apa yang terjadi?" suruh Ardian.


"Baiklah kak," kata Henry lalu menghubungi nomor Naufal.


"Tidak diangkat kak," kata Henry.


"Kakak akan menghubungi kak Arsya dan tanyakan apa yang terjadi," ucap Ardian.


"Ide bagus," jawab Henry.


Ardian pun langsung menghubungi Arsya untuk menanyakan apa yang terjadi di rumah Naufal.


Panggilan tersambung..


"Hallo, Ardian. Ada apa?"


"Kak. Kau ada dimana?"


"Kakak lagi di jalan mau pulang ke rumah."


"Pulang ke rumah kakak? Pulang ke rumah orang tuanya kakak atau pulang ke rumahnya Naufal?" tanya Ardian.

__ADS_1


"Ya, ke rumah Naufal lah. Kan kau tahu sendiri kakak tinggal dengan Naufal sekarang. Sambil menemani dan menjaga Naufal juga. Gimana sih? Lupa?"


"Lupa sih enggak. Siapa tahu juga kan kakak pulang ke rumah orang tua kakak atau pulang ke rumah kakak sendiri."


"Aish. Kau ini. Oh iya. Kau menghubungi kakak ada apa?"


"Gini kak. Barusan aku dan Henry habis bicara dengan Naufal di telepon. Lalu kami berdua mendengar Bibi Helena berteriak. Dan diikuti suara teriakan Naufal yang manggil Bibi Helena. Kami takut terjadi sesuatu pada mereka. Aku hubungi Naufal balik, tapi tidak diangkat. Makanya aku hubungi kakak."


"Ya, sudah. Kau tidak perlu khawatir. Semoga semuanya baik-baik saja. Di rumah kan ada Mama, kak Liana, kak Elvan, kak Aditya dan Rayyan. Nanti sampai di rumah, kakak akan kabari."


"Oke. Jangan lupa kabari aku kak."


"Iya!"


"Ya, sudah. Kalau begitu aku matikan panggilannya."


PIP!!


[Ruang Tengah]


Saat ini semua orang sudah berkumpul di kediaman milik Naufal. Mulai anggota keluarga, para sahabatnya dan para Kakaknya sudah berkumpul di ruang tengah. Dan keadaan Helena yang tak lain adalah Ibunya Naufal dalam keadaan baik-baik saja. Dirinya hanya kaget saat melihat isi dari paket tersebut.


"Naufal. Sebenarnya ada masalah apa? Katakan pada Daddy. Kenapa kamu menerima paket seperti ini?" tanya Albert.


Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Naufal. Naufal masih diam dalam pikirannya. Dirinya masih memikirkan pesan yang diterimanya dari orang tak dikenalnya. Sedangkan semuanya masih menatapnya.


[Hei, Naufal Alexander. Permainan akan segera dimulai. Tunggu kejutan dariku. Pertama, aku sudah membuat milikmu menjadi milikku! Langkah kedua aku akan membuat milikmu seutuhnya menjadi milikku!]


"Apa dia yang mengirim paket ini?" batin Naufal.


PUKK!!


Aditya yang duduk di samping pun menepuk pelan bahu Naufal. Hal itu berhasil membangunkan sikelinci kesayangan mereka dari lamunannya.


"Aish! Apaan sih kak. Sakit tahu," protes Naufal sembari mengusap-usap bahunya.


"Alah, lebay. Kakak mukulnya cuma dikit kok," balas Aditya.


"Naufal," panggil Albert.


"Iya, Dad." Naufal menjawab panggilan dari ayahnya.


"Katakan pada Daddy. Apa kamu ada masalah?" tanya Albert.


"Aku tidak punya masalah apapun, Dad." Naufal masih menutup tentang pesan misterius itu.


"Kalau kamu tidak punya masalah. Kenapa kamu bisa dapat teror paket seperti ini sehingga paket sialan itu membuat Mommy ketakutan?" tanya Rayyan.


"Aku juga tidak tahu kak," jawab Naufal yang benar-benar tidak mengerti apapun.


"Naufal. Kakak mohon. Kali ini jangan sembunyikan apapun dari kami. Cukup sekali kami semua pernah kecolongan saat masalah dengan si brengsek Kendrik Alvaro. Kami tidak mau hal itu terjadi lagi padamu. Tolong ceritakan pada kami kalau kamu punya masalah," kata Elvan yang menatap wajah adik bungsunya.


"Dad, Mom, Kak! Jujur aku tidak punya masalah apapun. Tapi..." ucapan Naufal terhenti.


"Tapi apa sayang?" tanya Albert.


"Aku sedang memikirkan sesuatu," jawab Naufal.


"Apa itu, sayang?" tanya Felix.


"Saat aku dan yang lainnya sedang berkumpul kemarin di teras belakang. Nathan memberikan dokumen-dokumen yang harus aku tandatangani dan salah satu dokumen tersebut adalah dokumen kerja sama. Dan calon rekan kerjaku itu terbilang baru. Dan usianya dua tahun dibawahku. Tapi saat aku melihat fotonya, wajahnya mirip seseorang. Aku berusaha untuk mengingatnya, tapi anehnya malah wajah orang itu yang muncul di pikiranku." Naufal menjawab sembari menjelaskan tentang wajah seseorang.


"Siapa?" tanya Albert dan Felix bersamaan.


"Kendrik Alvaro," jawab Naufal.


"Kendrik Alvaro!" seru para orang tua kompak.


"Kenapa kamu bisa kepikiran kesitu?" tanya Felix.


"Aku tidak tahu. Tapi wajah dari calon rekan kerjaku itu mirip dengannya," jawab Naufal.


"Iya, Paman. Apa yang dikatakan Naufal benar? Kami juga sudah melihat fotonya. Dan benar, wajahnya benar-benar mirip si brengsek itu." Barra turut membenarkan perkataan Naufal.


"Tapi mana mungkin kalau bocah itu putranya Kendrik Alvaro. Selama ini kita tidak pernah mendengar soal pernikahannya. Setahu kita Kendrik Alvaro itu belum menikah," ujar Felix.


"Kau juga berpikiran samakan, Albert?" tanya Felix.


"Iya," jawab Albert.


"Apalagi yang kamu rasakan sekarang ini? Keluarkan semuanya. Jangan ada yang dirahasiakan dari kami," pinta Albert.


"Aku mendapatkan pesan dari seseorang yang isinya Permainan akan segera dimulai. Tunggu kejutan dariku. Pertama, aku sudah membuat milikmu menjadi milikku!! Langkah kedua aku akan membuat milikmu seutuhnya menjadi milikku. Aku juga tidak tahu apa maksud dari pesannya itu?" kata Naufal.


"Siapa yang mengirim pesan itu, Fal?" tanya Aditya.


"Ya, bocah itu. Orang yang ingin menjalin hubungan kerja sama denganku. Dia sudah memasukkan berkasnya yang pertama ke Studio. Kemarin dia mendatangi kantor NFL Corp dan ingin bertemu denganku. Tapi untung asistenku segera menghubungiku. Aku langsung menyuruh asistenku untuk mengusirnya dari kantorku," jawab Naufal.


"Kamu yakin kalau bocah itu pelakunya?" tanya Rayyan.


"Tidak tahu juga," jawab Naufal.


"Ya, sudah. Kamu tidak perlu khawatir. Yang perlu kamu lakukan adalah tetap waspada dan jangan lengah. Kami semua disini akan memantaunya," hibur Albert dan diangguki oleh Felix.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, oke!" Elvan berucap sembari mengusap lembut kepala adiknya.

__ADS_1


"Baik Dad, kak!" Naufal menjawabnya.


Naufal beranjak dari duduknya. Saat Naufal ingin bangkit, sang ibu bersuara. "Kamu mau kemana sayang?"


"Ke dapur. Mau mengambil minuman kesukaanku," jawab Naufal.


"Biar kakak saja yang mengambilkannya untuk kamu!" seru Reza.


Naufal menatap ke arah Reza dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Kau kesambet iblis apa, kak? Tumben baik sekali hari ini mau menawarkan diri untuk membantuku? Atau jangan-jangan kau punya niat terselubung ya?"


BUGH!!


Reza melemparkan bantal sofa kepada Naufal dan itu tepat mengenai wajah tampannya.


"Dasar kemoceng lo."


"Mending kemoceng. Nah, kakak sendiri adalah kain pel. Bau, kotor, dekil." Naufal membalas perkataan dari Reza.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala melihat aksi keduanya.


Setelah mengatakan hal itu, Naufal langsung pergi menuju arah dapur.


"Hei, Reza. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan umpatan-umpatan dari adikku itu!" seru Arsya yang membanggakan adik sepupunya itu.


"Aish! Kalian berdua sama saja. Orang yang paling kejam yang ada di dunia ini," kesal Reza.


"Baru tahu ya." itu Ardian yang menjawab.


"Selama ini kau kemana saja, Za! Bukankah kita sudah lama kenal dengan kak Arsya dan Naufal. Sejak jaman kita Idol dulu. Kak Arsya dan Naufal itukan memang dasarnya tukang ngumpat. Suka mengeluarkan umpatan-umpatan tajam mereka," kata Davian.


"Bahkan sampai saat ini, umpatan-umpatan Naufal makin parah habis. Bukannya berkurang tapi justru malah bertambah," kata Dhafin.


"Kita semua yang ada disini sudah jadi korbannya," ujar Henry.


"Ya, benar!" seru Nathan, Theo dan Ricky.


Saat mereka semua fokus membahas tentang Naufal. Mereka dikejutkan dengan suara pecahan dari arah dapur.


PRANG!!


"Apa itu?" tanya Andhira.


"Itu suaranya dari arah dapur," sahut Nathan.


"Naufal!" teriak mereka dan mereka semua pun pergi menuju dapur.


^^^


[Dapur]


Naufal berada di dapur. Tujuannya saat ini adalah menuju kulkasnya. Naufal mengambil minuman kesukaannya yaitu Susu Pisang. Minuman itu sudah menjadi candu baginya dan takkan bisa pernah lepas dalam hidupnya.


Naufal mengambil dua botol sekaligus. Dan langsung meminumnya tanpa menuangkan kegelas terlebih dahulu.


"Ach. Segar. Benar-benar enak," ucap Naufal sumringah setelah meneguk habis satu botol susu pisang tersebut tanpa sisa dan sisa satu botol lagi di tangannya.


Saat Naufal ingin meminumnya, tiba-tiba Naufal mendengar seseorang memanggil namanya.


"KAKAK NAUFAL!"


Naufal mencari-cari suara tersebut. Tapi nihil. Orang yang memanggilnya tak terlihat.


"KAKAK NAUFAL!"


Saat Naufal ingin berbalik hendak menuju ruang tengah. Bayangan Vanesha berdiri tepat di depannya.


DEG!!


PRANG!!


Botol susu pisang miliknya terlepas begitu saja dari tangannya. Naufal menatap dengan berlinang air mata sosok yang amat dicintainya. Bayangan Vanesha tersebut mengelus pipi putih Naufal, membelai rambut Naufal dan mencium bibirnya sekilas.


"Jangan pernah berhenti mencintaiku, kak. Di hatiku hanya ada kak. Aku mencintai kakak. Sangat amat mencintai kakak. Jangan tinggalkan aku. Jangan lupakan aku." Bayangan Vanesha tersebut berucap dengan berlinang air mata.


Setelah mengatakan hal itu, bayangan Vanesha pun hilang. Sementara Naufal masih mematung.


Naufal diam mematung. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Naufal!" teriak mereka yang kini sudah berada di dapur.


"Naufal. Hei, kamu kenapa sayang?" tanya Helena.


Tidak ada respon sama sekali dari Naufal. Naufal masih berdiri mematung dengan tatapan kosong.


"Naufal Alexander!" teriak Albert sembari menggoyang-goyangkan kedua bahu putra bungsunya dan hal itu sukses membuat kesadaran Naufal kembali.


"Dad-daddy," lirih Naufal dan tubuh Naufal pun jatuh begitu saja tepat di hadapan Ayahnya.


Albert dengan cepatnya menangkap dan menahan bobot tubuh putra bungsunya dan dibantu oleh Felix.


"Lebih baik kita bawa Naufal ke kamarnya," ucap Andhira.


"Felix. Naikkan putraku ke punggungku," pinta Albert.


Felix pun langsung mengangkat tubuh Naufal dan dibantu oleh Pasya ke atas punggung Albert.

__ADS_1


Setelah tubuh Naufal berada di atas punggung Albert. Albert pun membawa putra bungsunya ke kamar.


"Ada apa denganmu, Fal?" batin Elvan, Aditya dan Rayyan.


__ADS_2