Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kesedihan 2


__ADS_3

Elvan dan keempat adiknya yaitu Aditya, Naufal, Fatih dan Fathan telah sampai di mansion milik Naufal. Kemudian mereka turun dari mobil.


Pada saat Naufal turun dari mobil dan kedua kakinya sudah menyentuh tanah, tiba-tiba tubuhnya oleng. Dan dengan sigap Fathan yang ada di belakangnya menahan tubuhnya.


"Naufal, kamu kenapa?" tanya Elvan khawatir.


"A-aku tidak apa-apa?" lirih Naufal dengan suara yang pelan tapi masih bisa didengar.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Aditya memastikan keadaan adiknya.


Tidak ada jawaban dari Naufal. Naufal hanya menunduk sambil menahan rasa sakit dikepalanya. "Sakit ini datang lagi." batin Naufal.


"Naufal." panggil Elvan sambil memegang kedua bahu Naufal.


Tiba-tiba saja Naufal menjatuhkan kepalanya tepat didada bidangĀ  Elvan. Naufal pingsan.


"Yak, Naufal!" teriak Elvan dan Aditya.


"Kak, naikkan Naufal kepunggungku," pinta Aditya.


Lalu mereka mengangkat tubuh Naufal keatas punggung Aditya dan mereka membawa Naufal masuk ke dalam rumah.


^^^


Elvan dan adik-adik sudah berada di dalam rumah. Sesampainya mereka di dalam rumah, mereka langsung membawa Naufal kekamar.


Mereka membaringkan Naufal di tempat tidur dengan perlahan. Lalu kemudian Kishan selaku paman dan juga sebagai dokter langsung memeriksa Naufal.


"Bagaimana keadaan Naufal, Kishan?" tanya Albert.


"Untuk saat ini keadaannya baik-baik saja. Tapi aku belum bisa memastikannya sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut. Jadi aku sarankan lebih baik Naufal dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan," tutur Kishan.


"Baiklah," jawab Albert yang menatap sendu putra bungsunya.


Arsya sedang duduk di sofa. Dirinya sedang asyik dengan ponselnya karena Arsya sedang mengirimkan sebuah pesan kepada salah satu sahabatnya untuk mengabari tentang Naufal yang sudah kembali.


Arsya Ravindra :


Aku ada kabar baik Barra


Barra Adhitama :


Kabar baik apa kaka Arsya?


Arsya Ravindra :


Naufal sudah kembali.


Barra Adhitama :


Benarkah?


Arsya Ravindra :


Apa kau tidak mau datang menjenguknya?


Barra Adhitama :


Kau bicara apa kak? Ya. Pastilah aku akan datang. Dia adikku.


Arsya Ravindra :


Kabari pada yang lainnya.


Barra Adhitama :


Oke.


Saat Arsya sedang asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba datang seseorang menghampirinya..


"Arsya. Kau disini. Papi kira kau ada di kamar Naufal?" ucap Felix pada putra bungsunya.


Arsya menolehkan wajahnya melihat kearah Ayahnya. "Eeh, Papi. Aku baru dari kamar Naufal"


"Kau tidak memberikan kabar pada yang lainnya kalau Naufal sudah kembali?" tanya Felix.


"Sudah Papi. Tadi aku kirim pesan pada Barra dan Barra juga sudah membalas nya. Lalu aku menyuruhnya untuk mengabari pada yang lainnya," jawab Arsya.


"Baguslah."


"Oh ya, Arsya! Papi mau ke perusahaan dulu. Ada pekerjaan yang ingin Papi selesaikan. Papi pergi dulu ya." Felix berpamitan dengan putra bungsunya


"Ya, Papi. Hati-hati, Pi!"


***


Saat ini kampusnya Vanesha, lebih tepatnya bagian Jurusan yang dipegang olehnya sedang berada disebuah perusahaan kecil diluar kota. Tzuyu dan teman-teman sejurusan dengannya sedang magang diperusahaan kecil tersebut. Walau perusahaan kecil, disinilah para mahasiswa dan mahasiswi diuji kepintarannya.

__ADS_1


"Aku merindukan, kak Naufal. Bagaimana keadaannya sekarang ya? Perasaanku mengatakan bahwa kak Naufal tidak baik-baik saja. Sialnya disini tidak ada fasilitas komunikasi. Jadi aku tidak bisa menghubungi kak Naufal."


"Hei, Vanesha." Seseorang mengagetkan dirinya. Dia adalah teman sejurusannya dikampus. "Kau kenapa? Ada masalah, hum?" tanya sahabatnya itu


"Aku kepikiran kak Naufal. Tapi sialnya disini sama sekali tidak ada sinyal. Jadi aku tidak bisa menghubunginya," ucap Vanesha


"Kau tidak perlu khawatir, Vanesha. Semoga kak Naufalmu itu baik-baik saja."


"Aku berharap begitu."


"Lebih baik kau istirahat, Vanesha. Jangan banyak melamun dan jangan banyak pikiran. Jangan sampai kau jatuh sakit."


"Baiklah."


***


Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di meja makan. Tak terkecuali dengan si bungsu keluarga yaitu Naufal. Mereka makan bersama lagi setelah satu bulan Naufal menghilang semenjak kecelakaan yang menimpanya. Mereka semua tampak bahagia.


"Ini makanlah sayang," saut Helena pada putranya sambil memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk kesukaan Naufal


"Terima kasih, Mo-mommy." ucap Naufal berbicara terbata


Mereka menatap Naufal dengan tatapan sendu. Si bungsu telah kembali, tapi si bungsu melupakan mereka.


Sedangkan yang merasa ditatap, justru merasa bingung. "Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Mereka gelagapan saat Naufal melontarkan pertanyaan pada mereka.


"Karena kami merindukan kamu, Fal! Kami bahagia kau kembali," jawab Aditya.


^^^


Mereka sekarang sedang nyatai di ruang tengah. Untuk ketiga kakaknya dan Ayahnya serta pamannya Felix sedang berada di luar, tepatnya dikantor mereka.


Sedangkan yang berada itu mansionnya sekarang adalah sang ibu, Bibinya Andhira, Arsya dan Liana, istri Elvan.


Lalu Naufal? Naufal memilih mengasingkan diri di ruang tamu. Dia duduk sendiri disana.


"Kak" panggil Andhira kepada kakaknya.


"Ya, Dhira. Ada apa?" tanya Helena.


"Aku tidak tega melihat Naufal seperti ini, kak? Sampai kapan Naufal Amnesia? Apa dia akan melupakan kita selamanya?" tanya Andhira.


"Aku juga sama Andhira. Bahkan aku yang lebih sakit melihat putra bungsuku sakit seperti ini," lirih Helena.


"Mami, Bibi. Jangan seperti ini dong. Kasihan Naufal. Kalau dia mendengar dan melihat kalian seperti ini, Naufal pasti akan merasa sedih dan tertekan," ucap Arsya menghibur.


"Kakaaakk! " teriak Arsya dan langsung berhamburan dalam pelukan sang kakak perempuannya.


"Yak, Arsya! Kau tidak berubah dari dulu ya!" seru Tasya sambil mengacak-acak rambut adiknya.


"Mami, Bibi." Tasya mendekati Helena dan Andhira lalu memberikan pelukan kepada kedua wanita hebat itu.


"Kenapa tidak bilang kalau kau mau pulang?" tanya Andhira pada putri keduanya itu.


"Kalau aku katakan akan pulang. Berarti bukan kejutan lagi dong," ucap Tasya tersenyum.


"Aku sudah tahu soal kondisi Naufal dari kak Pasya. Saat aku tahu hal itu aku langsung pulang ke Jakarta."


***


Para sahabat sekaligus kakak-kakaknya Naufal, kecuali Arsya berada di rumah Ardian. Mereka akan mengunjungi Naufal. Mereka sangat bahagia karena Naufal kembali dengan selamat.


"Aku bahagia sekali kak, Naufal telah kembali!" seru Reza.


"Kakak juga Reza. Kakak bersyukur Naufal selamat," saut Barra.


"Ayo kita berangkat. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kelinci bongsor itu!" seru Ardian sambil tersenyum lebar.


Lalu mereka pergi meninggalkan kediaman Ardian.


***


Tibalah mereka di mansion Naufal. Lalu mereka menekan bell yang ada di depan pintu tersebut.


TING..


TONG..


Pintu mansion di buka oleh seseorang.


"Kalian sudah datang. Ayoo, Masuk!" seru Arsya lalu mereka semuanya masuk.


Mereka sudah berkumpul di ruang tengah termasuk Naufal.


"Hei, Fal." sapa Ardian.


"Kakak bahagia kau kembali," ucap Dhafin.

__ADS_1


Naufal memperhatikan satu persatu kakak-kakaknya. Naufal mentautkan keningnya berpikir.


"Kalian siapa?" tanya Naufal.


DEG..


Mereka kaget dan tak percaya Naufal tak mengingat mereka.


"Fal. Kau jangan bercanda. Kami kakak-kakakmu dan juga sahabatmu," saut Barra.


"Naufal. Kau cuma pura-pura sajakan?" tanya Reza.


"Naufal, ini kakak. Kak Davian. Kau sering memanggil kakak dengan sebutan bantet. Kau ingatkan?" ucap Davian.


Naufal berusaha untuk mengingat. Tapi dia tidak bisa. Dan sama sekali Naufal tidak bisa mengingatnya.


"Maaf. Tapi aku benar-benar tidak kenal dengan kalian. A-aku ke kamar dulu. Kepalaku sakit," ucap Naufal langsung pergi meninggalkan mereka semua yang masih mematung.


"Bibi harap kalian tidak berkecil hati melihat Naufal yang tidak ingat dengan kalian," saut Helena.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Naufal, Bi? Kenapa Naufal tidak ingat dengan kita?" tanya Davian.


"Gara-gara kecelakaan itu Naufal mengalami Amnesia. Jangankan kalian yang shock melihat Naufal. Bibi dan keluarga lainnya saat melihat Naufal yang tidak ingat dengan kami, dunia kami seakan-akan runtuh. Satu bulan Naufal menghilang dan saat dia kembali dia tidak mengingat kami," ucap Helena yang sudah menangis.


"Kita hanya butuh kesabaran dan berdoa agar ingatan Naufal kembali," ucap Andhira. Semua mengangguk.


"Bibi tidak usah khawatir. Kami akan selalu ada buat Naufal dan kami akan berusaha mengembalikan ingatannya!" seru Reza.


"Tapi jangan sampai kalian memaksanya untuk mengingat kembali karena akan membahayakan nyawanya. Pelan-pelan saja. Dan biarkan Naufal sendiri yang mengingatnya," sela Andhira.


"Kami mengerti," jawab mereka serempak.


Naufal duduk di.sofa yang ada di kamarnya. Dia terus memikirkan kelima pemuda yang mengaku kakak dan sahabatnya.


"Siapa mereka? Apa aku mengenal mereka? Mereka mengenaliku. Tapi kenapa justru aku tidak mengenal mereka sama sekali."


"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa ingat apapun? Siapa mereka?"


"AARRGGHH! teriak Naufal yang merasakan sakit dikepalanya.


Naufal bangkit dari duduknya dan hendak menuju tempat tidurnya. Tanpa sengaja tangannya menyenggol guci kecil yang ada di atas meja.


PRANG..


Di ruang tengah masih berkumpul kelima sahabatnya beserta Arsya kakak sepupunya. Ditemani oleh Helena dan adik perempuannya Andhira. Mereka berbincang-bincang seputar kondisi Naufal lalu terdengar suara bell berbunyi.


TING..


TON.


Seorang pelayan berlari membukakan pintu.


Pintu dibuka. Terlihat lima laki-laki tampan berdiri di depan pintu.


"Tuan, tuan muda." sapa pelayan wanita itu.


Mereka pun memasuki mansion tersebut dan langsung menuju ruang tengah.


"Kalian sudah pulang," sapa Helena saat menyadari kepulangan suaminya, ketiga putranya dan iparnya. Mereka menduduki diri di sofa. Sekalian melepaskan rasa lelah pada tubuh mereka.


"Kalian ada disini?" tanya Albert saat melihat putra-putra dari sahabat-sahabatnya.


"Ya, Paman!" jawab mereka bersamaan.


"Berarti kalian sudah mengetahui kondisi, Naufal?" tanya Albert.


"Sudah Paman," jawab mereka lagi.


"Kalian yang sabar ya. Doakan yang terbaik untuk Naufal," ucap Felix.


"Pasti, Paman." Ardian menjawab mewakili yang lainnya.


Lalu mereka dikejutkan suara benda jatuh dari dalam kamar Naufal.


PRANG..


"Suara apa itu?" tanya Andhira.


"Suara itu berasal dari kamar Naufal!" seru Rayyan.


Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua berlari menuju kamarnya Naufal yang berada di lantai dua.


CKLEK..


Pintu kamar Naufal dibuka. Dan mereka semua terkejut.


"Naufal!"teriak mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2