
Disebuah ruangan terlihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menikmati kemenangannya. Ia bahagia karena anak buah berhasil membuat celaka kedua putra dari keluarga Carney. Davian Carney dan Fahreza Carney. Walaupun keadaan mereka terbilang tidak terlalu parah. Dan juga anak buah berhasil membuat hubungan asmara antara Naufal dan Vanesha berantakan.
"Sempurna. Sisanya masih ada empat pemuda lagi. Dan mereka belum mendapatkan sentuhan dariku. Mereka dari keluarga Ravindra, keluarga Abhitama, keluarga Krishon dan keluarga Pratista. Tunggu aku anak-anak."
***
Anggota keluarga sedang bersantai di ruang tengah. Mereka mengobrol dan bersendah gurau. Kemudian Naufal keluar dari kamarnya dan berniat ke dapur ingin mengambil minuman.
Setelah dari dapur, Naufal berniat ingin kembali kekamarnya namun suara teriakan menghentikan langkahnya.
"Hei, Naufal. Apa kau tidak bosan mengendap di kamar terus, hah? Kamarmu itu tidak akan lari ke mana-mana!" seru Aditya menggoda adiknya.
Naufal hanya memperlihatkan wajah cemberutnya. Tidak ada raut bahagia sedikit pun.
"Ayolah, sayang. Kemarilah dan duduk disini bersama Daddy. Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama Daddy, hum?" ucap Albert.
Akhirnya Naufal luluh mendengar ucapan Ayahnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan bergabung dengan keluarganya yang lain.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang ini? Apa kamu sering mengalami sakit kepala lagi?" tanya Albert.
"Tidak Daddy. Dua hari ini sakit itu tidak kambuh," balas Naufal.
"Syukurlah. Daddy senang mendengarnya," saut ucap Albert sambil mengacak-acak rambut putra bungsunya.
"Oh ya, Naufal. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Felix.
"Semuanya baik-baik saja Paman. Tidak ada masalah," jawab Naufal yang ekspresi wajahnya tetap sama.
Tidak ada senyuman yang terpancar di wajahnya. Dan tatapannya masih fokus pada ponselnya.
"Yak, Fal! Kau tidak sopan sekali. Apa ponselmu itu lebih menarik dari pada kami keluargamu?" tanya Aditya.
Naufal melirik sekilas wajah kakak keduanya itu lalu beralih pada ponsel nya kembali. "Ponselku ini lebih menarik dari pada memandangi wajahmu kak Aditya," jawab Aditya tanpa dosa.
Aditya membelalakkan matanya saat mendengar ucapan sang adik. Sedangkan yang lainnya tertawa bahagia.
"Hahahahaha."
"Oh ya, bibi baru ingat. Sepertinya bibi kehilangan sesuatu nih. Tapi bibi tidak tahu, apakah bibi bisa menemukannya atau tidak? Apakah Naufal bisa membantu bibi untuk menemukannya?" tanya Andhira menjahili Naufal.
"Memangnya bibi Kehilangan apa? Mungkin aku bisa bantu," ucap Naufal.
"Nah.. itu dia Naufal. Bibi lupa. Ya, wajarlah sudah tua!" ucap Andhira.
Naufal membuang nafasnya kasar. "Huufff! Kalau begini caranya bagaimana bisa aku membantu bibi? Sedangkan bibi saja lupa." Naufal memanyunkan bibirnya. Mereka semua tersenyum melihat Naufal memanyunkan bibirnya.
"Aha. Sekarang bibi ingat Naufal!" seru Andhira.
Naufal antusias mendengar ucapan Bibinya. "Apa itu, Bi?
"Eeemmm... Bibi kehilangan senyumannya kamu Naufal. Bisa tidak bibi mendapatkan senyuman itu kembali. Bukannya Naufal sudah berjanji pada bibi untuk membantu mencarinya," jawab Andhira.
Naufal membulatkan matanya yang sudah bulat itu saat mendengar permintaan sang bibi.
"Bibi, ini tidak lucu tahu."
Setelah itu Naufal kembali menatap ponselnya. Sedangkan yang lainnya masih tetap memandangi wajahnya.
Dalam diam Naufal memikirkan kata-kata Bibinya barusan. 'Bibi Kehilangan senyumanmu Naufal. Bisa tidak Bibi mendapatkan senyuman itu kembali' dan tiba-tiba Naufal tersenyum lepas.
Tanpa Naufal sadari, mereka semua melihat senyuman itu. Senyuman yang terukir di bibir mungil Naufal. Senyuman yang hilang selama tiga hari ini.
"Akhirnya senyuman itu kembali," batin mereka.
DRTT..
DRTT..
Terdengar suara bunyi ponselnya Naufal. Naufal melihat nama yang tertera 'kak Barra' Naufal langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo kaka Barra. Ada apa?" tanya Naufal.
"Fal. Apakah kak Arsya bersamamu?" tanya Barra balik.
"Ya. Kak Arsya bersamaku."
Arsya yang merasa namanya disebut oleh Naufal lalu melihat ke Naufal
"Memangnya kenapa kak?" tanya Naufal.
"Davian dan Reza kecelakaan Naufal. Aku sudah berulang kali menghubungi kak Arsya, tapi ponselnya tidak aktif. Makanya kakak menghubungimu," jawab Barra.
"Ba-bagaimana keadaan mereka kak?" tanya Naufal yang air matanya sudah mengalir dan keluarga yang melihat Naufal menangis mulai khawatir.
"Kakak belum dapat kabar, Fal! Mereka sekarang di ruang UGD. Disini sudah ada Ardian dan Dhafin beserta keluarga mereka," ucap Barra.
"Baiklah kak. Kami akan kesana," jawab Naufal.
"Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya, Fal." Setelah itu Barra langsung mematikan teleponnya.
__ADS_1
"Kak Arsya," panggil Naufal.
Arsya pun segera melihat kearah Naufal
"Ya, Fal."
"Ponsel kakak tidak aktif ya? kenapa kak Barra menghubungimu susah sekali?" tanya Naufal kesal.
Arsya hanya terkekeh mendengar ucapan Naufal. "Maaf Naufal. Ponsel kakak tadi kehabisan daya. Kakak lupa menghidupkannya kembali."
"Sudah kuduga. Kebiasaanmu itu tidak pernah berubah kak," jawab Naufal.
"Aaiisshh! Kau berani memarahi kakak?" tanya Arsya.
"Memangnya kenapa? Aku tidak takut. Buktinya aku barusan memarahimu," jawab Naufal lalu menjulurkan lidahnya mengejek.
Saat Arsya ingin menyerang Naufal dengan pertanyaan. Naufal sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Sudah jangan berdebat lagi. Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Ke rumah sakit. Me-memangnya siapa yang sakit Naufal?" tanya Arsya.
"Kak Davian dan kak Reza kecelakaan. Sekarang mereka ada di UGD," jawab Naufal.
"Apa?" teriak Arsya dan langsung berdiri dari duduknya.
Lalu mereka pergi meninggalkan mansion Naufal dan menuju rumah sakit.
***
Mereka telah berkumpul di rumah sakit. Mereka menunggu dengan wajah yang panik dan khawatir.
CKLEK..
Pintu UGD terbuka dan terlihat seorang dokter keluar dari ruang tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan putra dan keponakan saya?" tanya Nevan
"Keadaan keduanya baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Hanya saja luka-luka lecet di kaki dan tangan mereka," ucap dokter tersebut.
"Syukurlah," ucap mereka semua.
"Kalian bisa melihat mereka setelah dipindahkan ke ruang rawat," ucap dokter itu.
"Tolong tempatkan mereka disatu ruangan, Dokter," pinta Daksa
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Dokter tersebut pun pamit
Davian dan Reza yang melihat kedatangan keluarga dan sahabat-sahabatnya begitu sangat bahagia. Seakan-akan rasa sakit yang mereka rasakan hilang begitu saja.
"Reza, Davian. Bagaimana keadaan kalian? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Daksa.
"Kami baik-baik saja, Papi/Paman." Davian dan Reza menjawab secara bersamaan.
"Hanya luka-luka lecet saja," ucap Reza.
Mereka tersenyum bahagia mendengar ucapan Davian dan Reza. Mereka semua melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Davian dan Reza. Bahkan sampai pertanyaan konyol pun mereka utarakan hingga menimbulkan suasana keributan dengan tawa mereka.
Hanya satu orang yang tidak masuk dalam kegiatan itu. Dia adalah Naufal. Sedari tadi Naufal hanya diam membisu. Pikirannya berkecamuk dan banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada kedua kakaknya ini. Tapi ia tidak tahu haru memulainya dari mana? Ditambah lagi rasa takut yang menghinggap dipikirannya sehingga Reza menyadari hal aneh pada Naufal.
"Fal," panggil Reza.
Tapi Naufal tidak mendengar panggilan Reza. Pikiran masih melayang ntah kemana.
"Naufal Alexander."
Kali ini Davian yang memanggilnya. Hasilnya tetap sama. Naufal masih belum merespon apapun. Hal itu membuat orang-orang yang ada di ruangan itu khawatir akan sikap Naufal.
Lalu Albert, sang ayah mendekati Naufal dan menepuk pelan pundak sang anak dan itu berhasil membuat Naufal terperanjat kaget.
"Da-ddy." Naufal terkejut.
Albert tersenyum, sedangkan yang lainnya bernafas lega. "Kau sudah kembali Naufal Alexander?" ledek Davian lalu tersenyum.
"Haaaaa. Apa? Kembali? Maksud kak Davian?" tanya Naufal bingung.
"Ya, kembali. Tubuhmu ada disini tapi pikiranmu melayang ntah kemana. Aku dan Davian memanggilmu, tapi tidak ada respon sama sekali darimu. Memangnya kau mikirin apa sih?" ucap Reza.
Naufal berpikir sejenak. Ia berusaha menghilangkan rasa takutnya dengan memberikan lelucon pada kedua kakaknya ini.
"Yaaah, mulai lagi. Baru saja kembali, sekarang sudah pergi lagi," ucap Barra menggoda.
"Aku mendengarmu, beruang kutub!" seru Naufal yang memanyunkan bibirnya.
Barra yang mendengar ucapan dari Naufal mendengus kesal. Sementara yang lainnya tertawa.
"Kau hobi sekali melamun. Ntar kesambet setan baru tahu rasa," ledek Dhafin.
"Kalau hal itu benaran terjadi. Kau yang pertama jadi incaranku kak Dhafin," jawab Naufal.
__ADS_1
"Yak! Tega sekali kau, Fal!" saut Dhafin.
Dan semuanya tertawa. "Hahahaha."
DRTT..
DRTT..
Bunyi ponsel Naufal terdengar di ruangan itu dan Naufal mentautkan alisnya dikarenakan dia tidak mengenal dengan nomor sipenelpon.
"Nomor siapa ini?" batin Naufal.
"Yak, Naufal! Itu ponselmu dari tadi berbunyi terus. Kenapa tidak dijawab?" ucap Aditya.
"Nomornya tidak aku kenal kak. Apa aku harus menjawabnya?" tanya Naufal lalu menatap orang-orang yang ada di ruangan itu satu persatu.
"Angkat saja, sayang. Siapa tahu penting," ucap Helena.
Naufal pun mengangguk lalu kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo." Naufal menjawabnya nada suara yang sedikit bergetar, perasaannya tidak enak.
"Halloo Naufal Alexander. Apa kau merindukanku?" tanya orang yang diseberang telepon itu.
Naufal membelalakkan matanya. Ia seperti kenal dengan suara itu. Rasa takut makin kuat sekarang. Sontak mengundang tatapan dari orang-orang yang ada di ruangan itu. Mereka semua menatap Naufal. Mereka fokus menatap Naufal.
"K-kau. Mau apa lagi, hah? Dan dari mana kau mendapatkan nomorku!" bentak Naufal
"Hei, tenanglah. Tidak perlu emosi begitu. Aku meneleponmu hanya ingin menanyakan kabar tentang kedua kakakmu yang baru saja mengalami kecelakaan. Oh ya! bagaimana keadaan mereka, hah?!" tanya orang itu.
Naufal menatap Davian dan Reza lalu kembali menjawab pertanyaan dari si penelpon.
"Kenapa? Kau penasaran dengan keadaan mereka? Aku beritahu padamu. Rencanamu lagi-lagi gagal. Kedua kakakku baik-baik saja. Tidak ada luka sama sekali. Bahkan sekarang mereka sedang tertawa bahagia," ucap Naufal mengejek kekalahan orang itu.
Brengsek kau Naufal," geram laki-laki itu.
"Kau kalah brengsek." Naufal mengumpati pria itu.
"Kau jangan senang dulu Naufal. Aku memang gagal membuatmu dan kedua kakakmu itu celaka. Tapi aku berhasil membuat kekasihmu salah paham padamu. Dan aku dengar kekasihmu itu memutuskan hubungannya dan dia tidak mau bertemu denganmu lagi. "
"Justru kau salah besar brengsek. Hubunganku dengan kekasihku baik-baik saja. Siapa bilang kami berpisah? Apa perlu aku mengirimkan video saat kami bercinta, hah?!" bentak Naufal.
"Sialan kau, Naufal. Awas, Tunggu pembalasanku. Sekarang kau bersenang-senanglah dahulu. Hahahaha."
Panggil berakhir.
Ponsel Naufal kembali berbunyi. Tapi kali ini sebuah pesan yang diterima oleh Naufal.
From : 0813xxxxxxxx
"Naufal. Akhirnya aku berhasil mengetahui siapa orang yang selama ini menerormu? Orang yang sudah membuatmu dan kedua kakakmu celaka. Orang yang sudah merebut Gym mu. Orang yang sudah membuat hubunganmu dengan kekasihmu hampir berantakan. Orang yang sudah mencelakakanmu dan membuatmu menghilang selama satu bulan. Aku akan kirimkan fotonya padamu sekarang.
Lalu orang yang mengirim pesan pada Naufal mengirimkan sebuah foto yang diduga pelaku yang selalu meneror Naufal.
"Dialah orangnya. Orang ini bernama Kendrik Alvaro. Sekarang aku minta padamu dan tolong ikuti kata-kataku, perlihatkan foto ini pada Ayahmu karena Ayahmu mengenali laki-laki ini. Dan satu hal lagi, sudah waktunya aku kembali. Tunggu aku Naufal Alexander! Aku merindukanmu!
Saat membaca kata-kata yang terakhir, membuat Naufal tanpa sadar meneteskan air matanya. Otomatis membuat semua orang yang menatapnya menjadi khawatir.
"Siapa dia? Apa benar dia...?" batin Naufal.
Dengan rasa penasarannya, Naufal menghubungi nomor tersebut. Panggilan tersambung. Dan kemudian terdengar suara. tutt.. tutt.." panggilan terputus secara sepihak.
***
"Kenapa kau tidak menjawab panggilan dari Naufal? Apa kau tidak kasihan padanya? Kau baru saja mengatakan, kalau kau merindukannya dan itu membuat Naufal yakin bahwa yang mengirim pesan mesra itu kau Damian," ucap pamannya.
"Naufal itu sangat pintar. Daya ingatnya sangat kuat. Dia bisa mengingat semua kejadian-kejadian yang berhubungan dengannya dan orang terdekatnya," ucap paman itu lagi.
"Aku akan menemuinya, paman. Aku akan menceritakan semuanya padanya. Makanya kenapa tadi aku tidak menjawab panggilannya," jawab Damian.
***
"Daddy," panggil Naufal.
Merasa dipanggil, Albert mendekat dan memeluk putra bungsunya. Dirinya tahu bahwa saat ini putranya ada sesuatu yang sedang di pikirkannya.
"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan pada Daddy atau sesuatu hal yang lain?" tanya Albert.
Naufal melepaskan pelukan Ayahnya dan menatap lekat mata Ayahnya Lalu kemudian Naufal memperlihatkan foto yang diterimanya dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Apa Daddy mengenali orang ini?" tanya Naufal.
Albert meraih ponsel Naufal dan melihat foto tersebut dan sontak membuat Albert emosi.
"Kendrik Alvaro!" Albert menyebut nama Kendrik Alvaro dengan nada yang sedikit keras dan juga wajah yang sulit diartikan.
Mendengar suara Albert dan wajah ekspresi wajah Albert membuat keenam sahabat-sahabatnya terkejut, apalagi Albert menyebut nama musuh mereka.
"Daddy mengenalnya. Sangat mengenalnya," jawab Albert.
__ADS_1
"Kita bahas masalah ini nanti saja. Kasihan Naufal. Lihatlah wajahnya tampak kelelahan. Jangan sampai Naufal Drop lagi. Tambah lagi Davian dan Reza. Kondisi mereka belum pulih," ujar Adelard.
"Ya. Adelard benar. Kita fokus sama putra-putra kita dulu. Setelah itu baru kita bahas masalah keparat Kendrik itu," ucap Radeon.