Naufal Alexander

Naufal Alexander
Kesedihan


__ADS_3

Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Ditambah dengan keenam sahabatnya Naufal. Saat mereka sedang asyik berbincang. Mereka dikejutkan dengan jatuhnya bingkai foto Naufal. Rasa panik dan khawatir langsung menyelimuti mereka semua. Pikiran mereka langsung tertuju pada Naufal.


"Kenapa foto Naufal bisa jatuh? Apa terjadi sesuatu padanya?" ucap Helena sambil memungut foto putranya.


"Mommy. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Semoga Naufal baik-baik saja." Elvan menghibur ibunya dan berusaha bersikap tenang.


"Aku akan menelepon Naufal."


Setelah itu, Aditya langsung menekan nama kontak adiknya. Beberapa detik kemudian sambungannya tersambung.


"Tidak diangkat," ucap Aditya.


Albert juga berusaha menghubungi ponsel putra bungsunya, tapi hasilnya tetap sama. Tidak diangkat oleh putra bungsunya itu.


"Naufal. Kamu dimana sayang," batin Albert.


Kekhawatiran mereka makin memuncak. Ditambah lagi Naufal tidak menjawab panggilan mereka yang sudah berapa kali menghubunginya. Tidak biasanya Naufal mengabaikan telepon dari orang-orang terdekatnya, kecuali kalau dia lagi sibuk dan lagi tidur.


"Naufal, kamu ada dimana sayang. Ya, Tuhan. Lindungilah putraku," lirih Helena.


"Kak!" seru Andhira yang langsung memeluk kakaknya.


"Ya, Tuhan. Lindungilah adikku." batin Elvan, Aditya dan Rayyan dalam doanya.


"Aku akan menelepon Henry!" seru Ardian.


Ardian kemudian mengambil ponselnya di saku celananya lalu kemudian menghubungi adik sepupunya Henry yang kebetulan juga bersahabat dengan Naufal.


Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang di seberang telepon


"Halloo, kak Ardian. Ada apa meneleponku?"


"Hallo Henry. Apa Naufal masih ada di Studio?"


"Naufal sudah pulang dua puluh menit yang lalu kak."


"Apa? Kau yakin?"


"Yakin kak. Naufal sendiri yang bilang padaku kalau dia mau langsung pulang karena merasa lelah. Memang sih kami sedikit lelah karena baru menyelesaikan Rekaman Album baru hari ini."


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak tutup teleponnya."


Setelah mengatakan hal itu, Ardian pun langsung mematikan panggilannya.


"Bagaimana Ardian? Apa yang dikatakan Henry?" tanya Arsya.


"Henry bilang setelah menyelesaikan rekaman album baru Naufal langsung pamit pulang. Katanya dia merasa lelah," jawab Ardian.


"Tapi kalau memang Naufal langsung pulang. Seharusnya dia sudah sampai di rumah sekarang ini," saut Aditya.


***


Naufal sadar dari pingsannya dan baru menyadari bahwa barusan dirinya mengalami kecelakaan dengan mobilnya rusak parah bagian depan setelah menabrak tiang listrik dan mobilnya mengeluarkan asap.


"Aarrgghh!! Kepalaku sakit sekali."


Aku harus keluar dari mobil sekarang, sebelum aku mati."


Naufal membuka pintu mobilnya dan berusaha untuk keluar dengan keadaan tubuh yang lemah dan juga kepala yang terasa sakit.


Saat kedua kakinya sudah berada di luar, tiba-tiba ponselnya berdering. Naufal dengan segera mengangkatnya. Dan posisinya berdiri bersandar di samping mobilnya.


"Hallo kak," jawab Naufal lirih.


***


"Hallo, Fal. Kamu ada dimana? Katakan pada kakak?" tanya Elvan.


"Kak Elvan. Loudspeaker panggilannya. Biar kami juga bisa mendengarnya juga," pinta Rayyan.


"Baiklah." Elvan langsung meloudspeaker panggilannya.


"Kak Elvan. Akuu.. Aaarrrggghh!" Naufal merintih kesakitan.

__ADS_1


"Naufal. Ini Mommy, sayang." Helena sudah menangis.


"Mom-mommy," lirih Naufal.


"Naufal. Kamu kenapa? Kamu ada dimana sekarang?!" teriak Aditya yang sudah khawatir terhadap adik bungsunya.


"Aku tidak tahu ada dimana kak? Tempatnya sangat sepi. Tidak ada satu pun orang-orang yang lewat."


"Naufal dengarkan kakak. Coba kamu lihat disekitarnya. Apa yang bisa kamu lihat disana sebagai petunjuk?" ucap dan tanya Elvan.


Naufal mulai mengarahkan pandangannya kesetiap inci tempat itu. Dia melihat dengan teliti.


"Kak."


"Ya, Fal. Ada apa? Apa yang kamu lihat?" tanya Elvan.


"A-aku melihat ada bekas stasiun kereta api yang dulu pernah bermasalah soal sengketa tanah itu kak."


Saat Naufal hendak melanjutkan bicaranya, tiba-tiba terdengar semburan api dari depan mobil Naufal.


Anggota keluarga yang mendengar suara itu sontak menjerit


TUP..


TUP..


"Itu suara apa?" tanya Andhira saat telinganya mendengar suara letupan.


"Itu seperti suara semburan api," ucap Rayyan.


"Naufal! Naufal! Kamu dengar Mommy!" teriak Helena.


"Naufal. kamu dengar kakak!" teriak Aditya.


"Ooh tidak.. Sial!"


DUUUUUAAAAAARRRRR..


Terdengar suara ledakan yang sangat besar. Tubuh Naufal terpental akibat ledakan itu.


"Naufaaaalll! Hallooooo! Naufaaalll!"


Panggilan terputus. Helena sudah terpelosot jatuh ke lantai. Tangisannya tak bisa dibendung lagi.


"Naufal."


"Kakak." Andhira langsung memeluk erat tubuh sang kakak dan menangis terisak.


Sedangkan Albert yang sudah terduduk lemah di sofa dengan mata yang memerah menahan tangisnya.


"Naufal. Daddy harap kau bisa bertahan sayang. Jangan tinggalkan Daddy," batin Albert.


"Kita harus kesana sekarang. Bukannya tadi Naufal bilang dia berada di sekitar lokasi bekas stasiun kereta api," sahut Aditya.


"Ayooooo! Tidak ada waktu lagi. Naufal membutuhkan kita," ucap Rayyan.


Elvan, Aditya dan Pasya, mereka bertiga yang pergi menyelamatkan Naufal.


"Rayyan, kau tidak usah ikut. Daddy dan Mommy membutuhkanmu," pungkas Elvan.


"Baiklah kak. Tapi kakak harus janji. Naufal harus selamat," mohon Rayyan yang sudah menangis.


"Kamu doakan saja. Kakak akan berusaha menyelamatkan Naufal," jawab Elvan.


"Ayoooo, pergi!"


***


Selama di dalam perjalanan hanya keheningan yang menemani ketiga pemuda tampan ini. Yang ada di pikiran mereka sekarang adalah ingin segera menemukan adik kesayangan mereka.


"Kak Elvan. Bukankah itu lokasi yang disebutkan oleh Naufal!" seru Aditya sambil sambil menunjuk kearah kaca jendela mobil.


Mereka menoleh. "Ya. Kau benar, Aditya." Elvan menjawabnya.

__ADS_1


"Ayoo. Kita temukan Naufal segera!" seru Aditya.


"Kak Elvan, Aditya!" teriak Pasya.


Sontak Elvan dan Aditya berlari kearah Pasya.


"Lihat itu." Pasya menunjuk ke arah kobaran api.


"Apakah suara ledakan yang kita dengar di telepon tadi berasal dari sini. Itu jelas seperti mobil milik Naufal," ucap Aditya yang menjatuhkan dirinya berlutut ke tanah.


"Naufal," lirih Aditya yang sudah tidak bisa membendung air matanya.


Elvan mendekati Aditya. Elvan berusaha sekuat hati untuk bisa sabar dan kuat. Dirinya tidak boleh lemah. Kalau dia lemah siapa yang akan menghibur adiknya?


"Aditya dengarkan kakak. Kakak yakin Naufal baik-baik saja dan kakak juga yakin kalau Naufal berhasil menyelamatkan dirinya dari ledakan itu. Kamu harus percaya hal itu. Naufal itu anak yang kuat dan juga pemberani," ucap Elvan menghibur Aditya.


"Kakak benar. Adik kita itu sangat kuat dan juga pemberani," kata Aditya yang optimis adiknya baik-baik saja.


"Kak Elvan. Aku menemukan ponselnya Naufal!" teriak Pasya sembari menyerahkan ponselnya Naufal pada Elvan.


"Kau menemukannya dimana Pasya?" tanya Elvan.


"Disitu." Pasya sambil menunjuk kearah semak-semak.


"Naufal!" panggil mereka bertiga sedikit keras. Yang dipanggil tak kunjung datang.


"Naufal. Kamu ada dimana, hah?! Jangan bercanda seperti ini. Kakak tahu kau pasti sedang bersembunyi. Dan kamu ingin kakak mencarimukan karena kakak tahu sekali sifatmu, Fal! Kamu suka sekali  menjahili kakak!" teriak Elvan yang tanpa sadar air matanya sudah jatuh di pipinya.


"Kak Elvan," lirih Aditya yang sudah menangis.


Dua jam sudah mereka berkeliling untuk mencari keberadaan Naufal, sang adik. Tapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apa yang mereka cari.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dalam keadaan sedih dan menyesal. Menyesal karena datang terlambat. Tapi mereka yakin kalau adik mereka selamat dan pasti berada di suatu tempat.


***


Di dalam perjalanan pulang ke Mansion. Mereka tak henti-hentinya menggumamkan nama sang adik. 'NAUFAL'. Lagi-lagi air mata mereka jatuh membasahi pipi mereka.


Bagaimana tidak? Adik yang mereka sayangi, adik yang selalu mereka manjakan, adik yang penuh kejahilan, adik yang selalu berusaha tersenyum walaupun dirinya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Tidak tahu keberadaannya dimana?


Mereka telah sampai di depan pintu mansion. Hati mereka berdebar. Banyak pertanyaan yang akan mereka dapatkan dari anggota keluarga. Terutama pertanyaan dari ibunya. Tangan mereka bergetar, seakan tidak ada keberanian untuk memutar knop pintu tersebut.


Dikarenakan Elvan maupun Aditya, mereka berdua tidak berani untuk melakukannya. Dan terpaksa Pasya selaku yang termuda yang melakukannya.


Pasya memutar knop pintu mansion Naufal. Pintu tersebut terbuka. Mereka dengan rasa gugup dan takut, memasuki mansion tersebut.


Arsya yang menyadari kedatangan ketiga Kakaknya langsung membuka suara.


"Kalian sudah kembali kak?"


Semua yang ada di ruang tengah langsung melihat kearah Elvan, Aditya dan Pasya.


Helena berdiri dan menghampiri kedua putranya. "Elvan, mana adikmu? Mana Naufal?" tanya Helena yang sudah menangis.


"Elvan! Aditya! Jawab Mommy. Mana Naufal? Kenapa kalian tidak membawa Naufal pulang bersama kalian?"


Elvan dan Aditya tidak bisa menjawab apa-apa. Hati mereka sakit. Mereka sedih dengan apa yang telah menimpa adik bungsu mereka.


"Maafkan kami Mommy. Kami tidak menemukan Naufal disana," jawab Aditya lirih.


"Kami hanya menemukan ponselnya Naufal," sela Pasya.


Helena jatuh pingsan. "Mommy!" teriak Elvan, Aditya dan Rayyan.


Sedangkan disisi lain, Albert terduduk lemas di lantai dan tidak memperdulikan air matanya yang sudah mengalir di pipinya.


"Albert. Kau tidak apa-apa!" teriak Felix yang datang menghampirinya dan merangkulnya.


"Kau harus kuat Albert," ucap Felix menguatkan Albert.


"Daddy!" seru mereka.


"Naufal," lirih para sahabatnya sekaligus kakak-kakaknya.

__ADS_1


Semuanya menangis..


__ADS_2