Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kejahilan Dan Kekesalan Naufal


__ADS_3

[RUMAH NAUFAL]


Sabtu


09:16 am


Naufal masih betah dalam kamarnya. Dan saat ini dirinya sedang asyik dengan laptop miliknya. Dan tengah sibuk memeriksa setiap email yang masuk. Terutama email tentang laporan keuangan perusahaan NFL Corp.


Walau Naufal hanya di rumah. Tapi dirinya masih tetap menyempatkan dirinya untuk mengecek semua pekerjaannya. Dan dirinya tidak pernah lepas tangan begitu saja.


Setelah puas berkutat dengan laptopnya. Dan merasa jenuh seharian di kamar. Naufal pun memutuskan untuk keluar dari kamar.


Cklek!!


Pintu kamar dibuka oleh Naufal dan Naufal melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


Blam!!


Pintu kembali ditutup oleh Naufal. Dan Naufal pun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Tap!!


Tap!! 


Tap!!


Naufal sudah berada di bawah. Saat kakinya ingin melangkah menuju dapur, tiba-tiba matanya tak sengaja melihat pelayannya membawa nampan yang berisi segelas jus, lalu terukir senyuman menyeringai di sudut bibirnya.


"Jus itu kalau bukan punya kak Aditya pasti kak Rayyan," batin Naufal.


"Bibi," panggil Naufal.


Pelayan tersebut pun menolehkan wajahnya ke arah Naufal.


"Ya, tuan muda. Ada apa?"


"Itu Jus untuk siapa?" tanya Naufal.


"Ini untuk tuan muda Aditya."


"Ahaa!!" terlintas ide jahil di otak Naufal.


"Bibi tunggu disini dan jangan kemana-mana sampai aku kembali. Mengerti!" ucap Naufal dengan sedikit penekanan dikata mengerti sambil membawa jus tersebut bersamanya.


"Baiklah, tuan muda."


Naufal pergi ke arah dapur untuk mengambil sesuatu. Setelah sampai di dapur, matanya melirik pada salah satu bumbu dapur.


"Garam," batin Naufal tersenyum kemenangan.


Naufal kemudian memasukkan tiga sendok makan garam ke dalam jus tersebut. Kemudian mengaduk-aduknya sampai larut.


"Selamat menikmati, kakak Aditya. Hahahahaha."


Setelah puas dengan eksperimennya. Naufal kembali membawa jus tersebut dan meletakkan kembali di atas nampan yang dipegang oleh pelayan tersebut.


"Ini berikan pada tuan muda Naufal. Jangan membuat dirinya lama menunggu."


Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Naufal dan menuju ruang tengah dimana Aditya dan anggota keluarga lainnya tengah berkumpul disana.


^^^


[Ruang Tengah]


__ADS_1


"Maaf tuan muda Aditya. Saya terlambat," ucap pelayan tersebut sambil meletakkan jus tersebut di atas meja.


Sedangkan pelayan tersebut sudah mulai was was apa yang akan terjadi saat Aditya meminum jus tersebut.


Aditya mengambil jus tersebut dan langsung meminumnya dan tiba-tiba Aditya menyemburkan minuman tersebut dari mulutnya.


"Apa-apaan ini, Bi? Ini jus kenapa rasanya lain? Rasanya asin sekali, Bi! Bibi kasih garam ya?" ucap Aditya.


Sedangkan Naufal yang sedari tadi memperhatikan wajah kakak keduanya itu berusaha menahan tawa dibalik tembok.


"Ti-tidak tuan muda. Bibi tidak kasih garam," jawab pelayan itu.


"Coba bibi minum ini dan rasakan sendiri," ucap Aditya dan memberikan gelas itu pada pelayan itu.


Dengan terpaksa pelayan tersebut mengambil gelas yang diberikan Aditya padanya dan mencicipi rasa jus tersebut.


"Ya, benar tuan muda. Rasanya asin."


"Huff!" Aditya menghembuskan nafas kasarnya.


Sedangkan anggota keluarga yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Kenapa bibi bisa memasukkan garam bukan gula?" tanya Helena lembut.


"Tapi.. tapi tadi saya memang benar-benar memasukkan gula, Nyonya. Bukan garam. Sebelum saya mengantarkan jus ini untuk tuan muda Aditya. Saya sempat bertemu dengan tuan muda Naufal di dapur. Tuan muda Naufal mengambil jus ini dan membawanya. Lalu tuan muda Naufal meletakkannya lagi diatas nampan dan menyuruh saya memberikannya pada tuan muda Aditya," ucap pelayan itu jujur.


"Tidak salah lagi. Pasti sikelinci nakal itu yang sudah memasukkan garam ke dalam jusku," ucap Aditya kesal.


"Naufal!" teriak Aditya murka.


"Ooh, tidak! Singa mengamuk. Kabuuurr!"


Naufal berlahan melangkah mundur. Kemudian membalikkan badannyandan setelah itu Naufal pun berlari tanpa melihat ke depan.


Naufal menabrak tubuh seseorang di depannya. Orang itu adalah Arsya. Kakak sepupunya. Arsya mati-matian untuk tidak tertawa.


"Aww! Pantatku," ucap Naufal sambil mengelus-elus pantatnya yang sakit.


Semua anggota keluarga terkejut mendengar suara orang terjatuh dan mereka semua menghampiri ke asal suara itu.


"Naufal!" teriak mereka semua.


Sedangkan yang diteriaki menutup telinganya.


Mereka melihat sikelinci nakal itu sedang mengelus-elus pantatnya. Mereka semua mengerti bahwa sikelinci itu sedang kesakitan dan mereka berusaha untuk tidak tertawa, walau mereka ingin tertawa.


Tapi tidak untuk Aditya. Justru Aditya tidak bisa menahan tawanya. Tawanya pun pecah.


"Hahahaha." Aditya tertawa melihat adiknya yang terduduk di lantai.


Naufal menatap tajam ke arah kakak keduanya itu. "Dasar kakak tidak punya peri... peri... Awww!"


"Mari kakak bantu, Fal!" seru Arsya yang sudah mengulurkan tangannya pada Naufal.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," jawab Naufal dengan bibir dimanyun-manyunkan.


Melihat hal itu sukses membuat anggota keluarganya tersenyum gemas melihat wajah imut tersebut.


Saat Naufal ingin berdiri, rasa sakit di pantatnya tak bisa diajak kompromi.


"Aish. Ini sakit sekali. Ini salahnya kakak Arsya. Ngapain juga kakak berdiri disitu. Kan akunya jadi nabrak kakak," protes Naufal kepada Arsya.


"Yak! Kenapa malah kakak yang disalahkan? Salah kamu sendiri. Kenapa larinya nggak lihat-lihat ke depan? Lagiankan kalau lari itu matanya natap ke depan bukan ke belakang," jawab Arsya menjahili adiknya.


Helena kemudian menghampiri putra bungsunya. "Ooh, kasihannya putra Mommy. Mari Mommy bantu," ucap Helena sambil mengangkat tubuh putranya dan memapahnya menuju ke arah ruang tengah.

__ADS_1


Kini Naufal sudah duduk di sofa bersama ibunya yang ada di sampingnya.


"Sakit?" tanya Helena.


"Is, Mommy. Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas-jelas sakit masih saja bertanya," ucap Naufal kesal.


Helena hanya tersenyum mendengar ucapan putranya itu.


"Makanya jadi adik itu jangan suka jahil pada kakaknya. Tuh akibatnya. Kena batunya jugakan," ejek Aditya.


"Terserah," jawab Naufal, lalu menjulurkan lidahnya pada sang kakak.


Aditya tersenyum puas melihat wajah kesal sang adik bungsunya. Sedangkan yang lainnya tersenyum bahagia melihat Naufal yang sudah mulai kembali ceria dan jahil. Ditambah lagi Naufal yang sudah tidak mengurung diri lagi di kamar.


***


Suasana pagi yang ceria di Mansion mewah milik Naufal. Anggota keluarga sudah berkumpul dan sedang duduk santai di ruangan tengah.


"Oh iya. Naufal mana? Dari tadi tidak kelihatan?" tanya Andhira.


"Biasalah, Bi! Dimana lagi kalau bukan di kamarnya?" jawab Rayyan.


"Semenjak Naufal keluar dari rumah sakit. Naufal banyak berada di kamarnya dari pada berkumpul bersama kita," tutur Andhira. "Naufal baik-baik saja kan kak Helena?" tanya Andhira.


"Naufal baik-baik saja, Dhira. Mungkin Naufal lagi pengen saja berada di kamarnya," jawab Helena.


Saat mereka tengah sibuk membicarakan Naufal. Orang yang jadi pusat perbincangan pun keluar dari kamarnya. Kaki jenjangnya melangkah menuruni satu persatu anak tangga.


Tap!!


Tap!!


Tap!!


Anggota keluarganya yang berada di ruang tengah mendengar suara langkah kakinya. Lalu mereka melihat kearahnya.


"Nah, tu anaknya! Baru diomongin langsung muncul orangnya!" seru Rayyan menunjuk ke arah adiknya.


Naufal melangkah menuju arah dapur. Dirinya tak sadar sedang diperhatikan oleh anggota keluarganya.


"Naufal," panggil Aditya.


Tapi yang dipanggil tidak mendengar panggilan tersebut sehingga membuat Aditya kesal.


Naufal sudah di dapur. Tujuannya cuma satu yaitu susu pisang kesukaannya. Naufal membuka kulkas, lalu mengambil sebotol susu pisang yang ada dikulkas itu. Tanpa menuangkan ke gelas terlebih dahulu, Naufal langsung meminumnya. Sisanya dia bawa menuju teras samping rumahnya.


Naufa belum menyadari tentang keluarganya yang berada di ruang tengah dan juga sedang menatapnya, karena Naufal sedang asyik dengan dunianya sendiri. Ponsel di tangan kanannya, susu pisang di tangan kirinya dan earphone terpasang sempurna di kedua telinganya. Naufal melangkahkan kakinya menuju pintu samping.


Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu, suara musik yang awalnya terdengar merdu berubah jadi keras. Itu menandakan kalau ada panggilan masuk. Tertera nama 'Henry' di layar ponselnya. Naufal langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halloo, Siluman kelinci!" teriak Henry sekencang-kencangnya di seberang telepon.


Hal itu sukses membuat Naufal menjatuhkan susu pisangnya.


Praang!!


Susu pisang tersebut tumpah dan mengotori lantai rumahnya. Dan menarik kasar earphone yang ada di telinganya.


"Aakkhh! Dasar kedelai hitam sialan. Henry setan!" teriak Naufal sambil tangannya mengelus-elus kedua telinganya.


Henry yang berada di seberang telepon mendengarnya teriakan dan umpatan dari Naufal tertawa puas.


Sedangkan anggota keluarganya yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum gemas melihat Naufal yang kesal atas ulah sahabatnya itu.


"Keluar tu sifat psikopatnya," ejek Elvan.

__ADS_1


__ADS_2