Naufal Alexander

Naufal Alexander
Cinta Pada Pertemuan Pertama


__ADS_3

Keluarga besar Naufal sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka adalah keluarga besar ayahnya dan ibunya.


"Apa Mommy dan Daddy akan kembali lagi ke Jerman? Kenapa tidak di Jakarta atau di Bandung saja? Atau suruh Paman Ammar saja yang pergi ke Jerman menggantikan kalian," ucap Naufal yang memeluk erat ibunya.


"Yak, Fal! Apa yang kau katakan? Barusan kau merengek pada Mommy dan Daddymu bahwa kau tidak menginginkan mereka kembali ke Jerman. Tapi kenapa justru kau malah meminta Daddyku yang ke sana. Dasar kelinci buluk?" protes Tamara Alexander yang pura-pura kesal.


"Biar kakak juga ikut merasakan bagaimana jauh dari orang tua dan juga merasakan bagaimana menjaga kedua adikmu, kak!" Naufal menjawab tanpa dosa dan membuat Tamara membelalakkan matanya mendengar ucapan dari adik sepupunya itu.


Sedangkan Naufal tersenyum puas karena sudah berhasil menjahili kakak sepupu perempuannya.


"Walaupun Daddy dan Mommy balik ke Jerman. Kamu kan masih bisa menghubungi mereka melalui Video Call," ucap Elvan


"Aish! Bagiku itu tidak cukup untuk mengobati rasa rinduku pada mereka, kak! Bagaimana kalau aku merindukan pelukan Mommy? Apa aku harus memeluk ponselku yang ada gambarnya Mommy. Yang benar saja," ucap Naufal yang memanyunkan bibirnya tidak setuju dengan alasan kakak tertuanya itu.


Mereka yang melihatnya hanya tersenyum gemas. Menyaksikan bagaimana seorang Naufal Alexander yang sedang bermanja ria kepada orang tuanya.


"Naufal! Bibi heran padamu. Kau ini sudah dewasa, tapi sifat manjamu itu tidak pernah hilang!" seru Amrita.


"Bukan Naufal Alexander namanya kalau sifat manjanya sampai hilang," goda Ammar.


"Kalau sifat manjanya seorang Naufal Alexander sampai hilang. Bisa-bisa kita semuanya akan mati. Mati karena merindukan sifat manjanya seorang Naufal," tutur Krisna yang ikut menggoda keponakannya itu.


"BHAHAHAHAHAHA" tawa mereka semua pecah.


"Yaaakk! Kenapa kalian menertawakanku. Kalian semua memang menyebalkan," protes Naufal.


"Kau lucu sekali, Fal!" sela Janettra tersenyum.


"Memangnya aku ini kelihatan seperti bayi ya bi sampai aku dibilang lucu," ucap Naufal yang cemberut.


Mereka semua terkekeh. "Hehehehe."


"Naufal, sayang." panggil Albert.


Naufal langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah Ayahnya.


"Ya, Dad!" Naufal menjawab dengan suara pelan dan lesu.


Albert yang mendengar suara pelan putra bungsunya paham akan hal itu.


"Daddy dan Mommy tidak akan berangkat ke Jerman kalau itu yang kamu mau," ucap Albert.


Mendengar ucapan sang Ayah seketika terukir senyuman di bibir mungil Naufal. Matanya berbinar memancarkan kebahagiaan.


"Benarkah, Daddy?" tanya Naufal.


"Tapi ada syaratnya!" Albert kembali berucap.


Seketika senyumannya Naufal luntur. Dan kembali memperlihatkan wajah murungnya dan menundukkan kepalanya lalu sibuk dengan ponselnya.


Tanpa melihat wajah Ayahnya. Naufal kembali bertanya, "Apa syaratnya, Daddy?" tanya Naufal dengan nada pelan.


"Syaratnya. Daddy mau kamu berkata jujur pada kita semua. Dari mana kamu mendapatkan luka lebam yang ada di dadamu itu?" tanya Albert.


DEG..


Mendengsr pertanyaan dari ayahnya sontak membuat Naufal kaget. Jantungnya berdegub kencang. Apa yang akan dia katakan? Naufal belum siap untuk berkata jujur pada keluarganya.


Semua menatap Naufal. Mereka berharap agar Naufal mau berkata jujur kepada mereka.


"Maaf Dad, aku lelah. Aku ke kamar dulu."


Setelah mengatakan hal itu, Naufal langsung berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Mereka semua hanya menatap kepergian Naufal dengan tatapan yang sendu. Mereka hanya bisa pasrah dan menarik nafas panjang. Harapan mereka pupus karena Naufal lebih memilih bungkam.


"Aku sudah yakin Dad. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naufal," ucap Elvan.


"Ya, kau benar Elvan. Daddy juga berpikiran yang sama sepertimu. Tapi kita tidak punya pilihan sampai Naufal sendiri yang mau bercerita pada kita."


***


Kendrik POV


"Tunggu kejutan dariku, Naufal Alexander! Aku akan segera merebut Studio milikmu. Seperti aku merebut Avana Gym milikmu melalui orang kepercayaanmu.. Hahahaha."


***


Vanesha Naladhipa adalah gadis cantik yang pernah ditolong oleh Naufal dari gangguan para preman. Vanesha seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Tinggal beberapa bulan lagi dirinya akan wisuda dan akan meraih gelar sarjana kedokteran. Vanesha mengambil bagian dokter umum.

__ADS_1


Sekarang ini Vanesha sudah berada di kampus. Tepatnya di kantin bersama keenam sahabatnya. Persahabatan mereka sudah terjalin semenjak mereka duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama sampai sekarang. Sudah terjalin selama sembilan tahun. Hubungan mereka sudah seperti layaknya saudara. Bahkan keluarga mereka sudah saling mengenal dan dekat. Sama seperti hubungan Naufal dan keenam kakaknya dan anggota keluarganya. Bahagia bukan?


"Vanesha," panggil Ishana.


"Iya, Kak." Vanesha menjawab.


"Kalau kakak boleh tahu. Siapa sih nama pemuda yang menolongmu waktu itu?" tanya Ishana.


Mereka menatap wajah Ishana.


"Aku tidak tahu namanya, kak. Karena saat itu kan aku masih takut. Saat pemuda itu bertanya padaku apa aku baik-baik saja. Lalu aku jawab ya, aku baik-baik saja. Setelah itu aku pergi meninggalkan pemuda itu." Vanesha menjawab seadanya. Tanpa dikurangi dan tanpa ditambah-tambahi.


"Jadi kau tidak mengucapkan terima kasih padanya?" tanya Jennie.


"Tidak," jawab Vanesha menyesal.


"Setidaknya kau mengucapkan terima kasih dahulu sebelum kau pergi meninggalkan pemuda itu," saut Nattaya yang diangguki oleh yang lain.


"Bukan aku tidak tahu berterima kasih, kak. Saat itu kan aku takut sekali," jawab Vanesha.


"Oh iya. Bagaimana wajahnya? Apa dia tampan?" tanya Zora.


"Eemm. Pemuda itu sangat sangat tampan kak. Kulitnya putih," jawab Vanesha tersenyum membayangkan wajah tampan Naufal.


"Aish! Kenapa jadi bahas dia sih? Kita ke kantin kan untuk makan," ucap Vanesha yang baru sadar.


"Oke.. oke! Ayo, makan. Ini pesanannya sudah datang!" seru Syafira.


***


Naufal dan keenam kakaknya sedang berada di sebuah Cafe. Mereka menghabiskan waktu bersama seharian di luar tanpa ada gangguan dari siapa pun. Sekalian menghilangkan rasa lelah bekerja di kantor.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Ardian membuka suara.


"Pesan semua menu yang ada. Kemudian kita makan bersama-sama. Dan biar aku yang membayar semuanya!" seru Naufal.


"Serius, Fal?" tanya Reza dan Dhafin bersamaan.


"Eeemm." Naufal mengangguk sembari tersenyum.


"Waaah! Kita akan makan sepuasnya hari ini!" seru Dhafin.


"Lapar atau nafsu," ejek Barra.


"Terserah apa pendapatmu, kak! Yang jelas perutku benar-benar ingin minta diisi," jawab Reza.


Lalu mereka pun memanggil pelayan Cafe.


"Pelayan." Ardian mengangkat tangannya lali memanggil pelayan Cafe.


Lalu pelayan itu datang menghampiri meja yang ditempati oleh Ardian dan kawan-kawan.


"Ya. Mau memesan apa, nak?"


"Bibi. Kami mau pesan semua yang ada di menu ini lalu untuk minumannya kami pesan Honey Citron Sparkling Iced Tea, Watermelon Punch, Banana Milk, Korean Plum Tea, Boricha" ucap Ardian.


"Baiklah, Nak! Tunggu sebentar ya," jawab wanita paruh baya itu dan berlalu pergi menemui para.


Dua puluh menit kemudian. Semua pesanan pun datang. Dan tersaji rapi diatas meja.


"Selamat menikmati, Nak!" ucap wanita itu.


"Terima kasih, Bibi!" jawab mereka bersamaan.


Lalu wanita itu pergi meninggalkan pengunjungnya dan menuju dapur untuk mengecek.


"Ayo, makan!" seru Davian dan Reza.


Mereka pun segera menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja plus dengan minuman segar.


***


Setelah puas dan kenyang di Cafe. Mereka memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya mereka akan mampir dulu ke mansion Naufal dikarenakan mobil mereka berada di mansion milik Naufal. Dari sana barulah mereka mengendarai mobil masing-masing untuk pulang ke rumah mereka.


Saat di perjalanan, pandangan Naufal tak pernah lepas menatap keluar jendela. Naufal memandangi indahnya kota Jakarta dari dalam mobilnya.


Seketika tiba-tiba pandangan matanya tak sengaja melihat sesosok orang yang familiar. Seorang wanita cantik yang sedang bersenda gurau dengan keenam sahabatnya.


"Dia.. diakan wanita itu." batin Naufal lalu terukir senyuman manis di bibirnya.

__ADS_1


"Kak Ardian hentikan mobilnya!" teriak Naufal tiba-tiba.


Dan itu sukses membuat Ardian menginjak rem mobilnya secara mendadak. Dan membuat mereka semua terkejut.


"Ada apa, Naufal?" tanya Davian yang duduk di sebelahnya.


Tanpa mempedulikan pertanyaan Davian dan tatapan bingung dari para kakaknya, Naufal langsung keluar dari dalam mobilnya dan meninggalkan mereka semua.


"Aish! Anak itu kebiasaan sekali." Barra mengomel melihat kelakuan Naufal.


"Apa ini hobi barunya? Menyuruh menghentikan mobil secara tiba-tiba," saut Dhafin.


"Dasar siluman kelinci menyebalkan," umpat Reza.


Mereka semua kesal atas ulah Naufal yang seenaknya menyuruh menghentikan mobil dan sekarang pergi begitu saja.


Namun seketika Arsya melihat arah kemana Naufal pergi. Dan detik kemudian terukir senyuman di bibirnya.


"Eeemm. Jadi ini alasan kenapa sikelinci nakal itu menyuruh menghentikan mobil secara tiba-tiba!" seru Arsya.


Dhafin, Barra, Ardian, Davian dan Reza mengalihkan pandangannya melihat Arsya.


"Maksud kak Arsya?" tanya Reza.


"Cinta," jawab Arsya.


"Cinta!" ucap mereka bersamaan mengulangi perkataan Arsya.


"Adik kecil kita sedang jatuh cinta," jawab Arsya. "Coba kalian lihat disana." Arsya menunjuk kearah dimana Naufal berada.


Mereka pun mengalihkan pandangan melihat arah yang ditunjuk oleh Arsya. Detik kemudian senyuman mereka mengembang.


"Ayo, kita kesana!" Davian bersemangat. Mereka pergi menyusul Naufal.


^^^


Naufal sudah berada di dekat perempuan yang pernah ditolongnya.


"Hei," sapa Naufal saat sudah berdiri di depan ketujuh wanita cantik.


"Masih ingat denganku?" tanya Naufal menatap wajah cantik Vanesha.


Sedang Vanesha berusaha untuk mengingat pemuda yang ada didepannya.


Sedangkan keenam sahabatnya lebih tepatnya para kakaknya menatap bingung dan juga menatap kagum Naufal.


"Tampan sekali pemuda ini," batin Zora.


"Siapa pemuda ini? Kenapa dia bisa kenal dengan Vanesha?" batin Ishana.


"Kau.. kau yang waktu itu menolongku kan!" seru Vanesha yang sudah mengingatnya.


Naufal tersenyum. "Iya. Ini aku. Bagaimana kabarmu?"


"A-aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku saat itu. Kalau tidak ada kamu, ntah apa yang akan terjadi padaku." Vanesha menjawab pertanyaan dari Naufal.


"Sama-sama. Oh iya! Namamu siapa? Aku Naufal. Naufal Alexander," ucap Naufal.


"Aku Vanesha. Vanesha Naladhipa," jawab Vanesha sambil membalas jabatan tangan Naufal.


"Eheeem... Kita disini jadi obat nyamuk ya," goda Ishana.


"Eeh, kak. Maaf," ucap Vanesha malu.


Naufal mengalihkan pandangannya menatap satu persatu sahabatnya Vanesha dengan senyuman manisnya.


"Aku Ishana sahabatnya Vanesha. Dan sepertinya kau lebih muda dibawahku," ucap Ishana.


"Ya. Aku kelahiran 1997. Usiaku 22 tahun," balas Naufal.


"Oooh. Jadi ini alasanmu menyuruh kakak menghentikan mobil, hum!" seru Ardian yang datang bersama yang lainnya.


"Kakak," ucap Naufal malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Barra mengacak-acak rambut Naufal saking gemas melihat wajah malu Naufal. "Adiknya kakak sudah besar ya."


Arsya menatap wajah Ishana. Begitu juga sebaliknya. Dan mereka pun berkenalan. Tak jauh beda dengan Ardian, Davian, Reza, Dhafin dan Barra. Mereka juga berkenalan dengan wanita-wanita cantik yang ada didepan mereka.


Dan terjadilah pendekatan antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2