Naufal Alexander

Naufal Alexander
Pria Misterius


__ADS_3

Satu Bulan Berlalu..


Albert menatap wajah istrinya yang tertutup oleh alat bantu. Mata indahnya terpejam tenang tanpa terganggu oleh suara percakapan.


Yaaahh! Semenjak menghilangnya Naufal, putra bungsu keluarga Alexander. Kondisi dari Helena menurun. Setiap hari dirinya hanya menangis dan melamun merindukan sibungsu.


Di hati dan pikirannya hanya selalu menyebut nama putranya.


"Bagaimana keadaan istriku Kishan?" tanya Albert pada adiknya.


"Keadaan Kak Helena baik-baik saja kak. Kak Helena hanya butuh istirahat karena kondisi tubuhnya lemah. Kak Helena jadi seperti ini karena merindukan Naufal. Aku juga berharap padamu. Jaga kesehatanmu kak. Siapa yang akan menjadi penyemangat untuk istri dan ketiga putramu kalau kau juga sakit?" ucap Kishan


"Mereka membutuhkan dirimu kak. Kakak tidak sendirian. Ada aku dan yang lainnya."


"Ya. Aku akan kuat demi mereka dan aku akan menjaga kesehatanku. Terima kasih Kishan," ucap Albert


"Itu baru kakakku," ucap Kishan tersenyum sambil menepuk pelan bahu kakaknya. "Kalau begitu aku keluar dulu." Kishan pun pergi meninggalkan Albert menuju ruang tengah.


"Paman. Bagaimana keadaan Mommy?" tanya Elvan.


"Mommy baik-baik saja kan, Paman?" tanya Aditya.


"Kalian tidak perlu khawatir. Mommy kalian baik-baik saja. Mommy kalian hanya butuh istirahat. Dan Paman minta dari kalian. Jaga kesehatan kalian. Kalian harus kuat demi orang tua kalian kalian," ucap Kishan menenangkan ketiga keponakannya.


Semenjak kejadian hilangnya adik bungsu mereka. Mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mereka setiap hari selalu memikirkan Naufal, sang adik. Tidak ada gairah dalam diri mereka. Seakan-akan semua rasa bahagia, rasa ceria telah dibawa pergi oleh Naufal, adik kesayangan mereka.


"Baik Paman," jawab mereka kompak


Mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah mansion Naufal. Sampai detik ini belum ada kabar apapun tentang keberadaan Naufal.


Mereka berharap semoga Naufal segera kembali kedalam pelukan keluarga. Mereka sangat merindukan Naufal karena Naufal adalah harta berharga bagi kedua orang tuanya dan bagi ketiga kakak-kakaknya.


Saat mereka sedang berkutat dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering.


DRTT..


DRTT..


Ponselnya Elvan berbunyi. Dengan segera Elvan mengangkatnya.


"Hallo."


"Hallo, Bos."


"Ya. Ada apa? Apa ada kabar tentang adikku?


"Kami sudah menemukan Tuan Naufal, Bos!"


Saat mendengar kata-kata itu, Elvan langsung berdiri dari duduknya.


"Sungguh? Dimana? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Elvan bertanya secara bertubi-tubi.


"Tenang Bos. Tuan Naufal sangat baik. Saya melihatnya bersama seorang pria. Dan pria itu bisa dibilang seusia Tuan Albert."


"Kau yakin itu Naufal, adikku! Kau tidak salah lihatkan?" tanya Elvan.


"Jika Bos tidak percaya. Saya akan kirimkan fotonya pada anda."


Lalu anak buahnya Elvan mengirimkan foto Naufal bersama seorang pria yang sedang duduk disebuah taman sambil tertawa.


TING..


Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Elvan. Elvan pun langsung membuka pesan tersebut.

__ADS_1


Saat Elvan melihat foto yang dikirim oleh anak buahnya secara tak langsung air matanya sudah mengalir membasahi pipi mulusnya.


Melihat Elvan yang tiba-tiba menangis. Hal itu sukses membuat anggota keluarga yang melihatnya menjadi khawatir dan panik.


"Naufal," gumamnya yang terdengar oleh anggota keluarganya. "Tolong berikan alamatnya padaku. Dimana kau menemukannya? Aku dan yang lainnya akan kesana," ucap Elvan.


"Siap, Bos!"


PIP..


"Kak Elvan. Ada apa? Tadi kami dengar kau menyebut-nyebut nama Naufal. Apa ada berita tentang Naufal?" tanya Aditya berharap.


Semua memandangi Elvan. Menatapnya dengan tatapan penuh harap. "Naufal sudah ditemukan," jawab Elvan.


"Benarkah?" teriak mereka dengan bahagia.


"Apa itu benar kalau Naufal sudah ditemukan? K-kau tidak berbohongkan, kak?" tanya Rayyan menatap mata kakak tertuanya berharap semua itu benar.


Elvan memandangi adik keduanya yang sudah menangis itu dengan lekat dan menepuk pelan kedua bahu sang adik serta tidak lupa senyuman tulus di bibirnya.


"Ya. Naufal sudah ditemukan. Kakak sudah mendapatkan alamatnya. Kita akan membawanya pulang. Kau mau melakukan apa yang kakak minta?"


"Apa kak?" tanya Rayyan.


"Kakak minta padamu. Kau tetap disini bersama yang lain. Daddy dan Mommy sangat membutuhkanmu saat ini. Bisa?"


"Baik kak. Tapi kakak harus membawanya pulang. Naufal harus pulang," mohon Rayyan.


Elvan menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada adiknya.


"Ya, sudah. Tunggu apalagi? Kita jemput Naufal sekarang!" seru Aditya.


Yang pergi bersama Elvan untuk menjemput Naufal adalah Aditya Alexander, Fatih Alexander dan Fathan Sheehan.


***


Mereka sudah sampai di tempat dimana Naufal sekarang berada. Elvan dan Aditya sudah tidak sabaran, mereka segera keluar dari mobilnya dan disusul oleh Fatih dan Fathan dengan diarahkan oleh anak buah yang berada disana mengawasi keberadaan Naufal.


Akhirnya sampailah mereka ditempat terpencil yang memang cukup jauh dari keramaian kota.


Saat nanar mata mereka melihat sosok yang diharapkan untuk pulang. Elvan, Aditya Fatih dan Fathan tersenyum lebar dari kejauhan. Naufal sedang berbicara dengan seorang pria.


"Naufal!" panggil Elvan.


Naufal masih asyik mengobrol dengan pria di sebelahnya.


"Naufal Alexander," panggil Aditya.


Tetap sama tak ada reaksi apapun dari Naufal. Merasa tak dipedulikan, Elvan dan yang lainnya menghampiri dan berdiri tepat di hadapan Naufal.


Sedangkan Naufal menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapanya dengan tatapan bingung.


"Naufal," lirih Elvan yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Kalian siapa? Kenapa kalian memanggilku dengan sebutan Naufal?" tanya Naufal bingung.


"Naufal. Kau jangan bercanda. Kami ini kakakmu. Kami datang kesini untuk menjemputmu. Ayo, kita pulang!" Aditya langsung menarik tangan Naufal.


"Lepas. Aku bukan Naufal. Aku tidak mengenal kalian. Siapa Naufal? Namaku Dirga. Mungkin kalian salah orang, Tuan!" Naufal berbicara dengan nada yang sedikit tinggi dengan mencoba melepaskan tangannya dari Aditya.


"Bodoh! Hentikan leluconmu itu Naufal! Memangnya mataku buta hingga tidak bisa mengenali adikku sendiri, hah!"Aditya sudah merasa kesal.


Sedangkan Elvan diam membisu. Hatinya merasa sakit saat melihat kondisi sang adik yang tak mengenal dirinya.

__ADS_1


"Naufal, ini kakak. Kak Elvan. Aku adalah kakakmu dan kamu adalah adikku. Ikutlah pulang bersama kakak. Mommy sedang sakit dan Mommy sangat merindukanmu," ucap Elvan yang berlinang air mata.


Kali ini Aditya sudah kehilangan kesabarannya. Aditya menarik paksa tubuh Naufal untuk berdiri dan segera menyeretnya pergi.


"Aku tidak mengenal kalian. LEPAS!!" Naufal berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Kau harus ikut pulang bersama kami, Naufal!" Aditya masih menarik tangan Naufal.


"Lepaskan aku. Aku tidak mengenali kalian!" teriak Naufal.


Seorang pria paruh baya yang bersama Naufal akhirnya angkat bicara. "Maaf kalau saya ikut campur. Aku tidak mengenal kalian dan aku juga tidak mengenal Naufal. Bisa kita bicara empat mata."


"Baiklah." Elvan dan Aditya mengangguk.


Elvan dan Aditya berbicara dengan pria itu mengenai kondisi Naufal.


"Saya paham perasaan kalian berdua. Kalian sangat menyayangi adik kalian. Tapi saya sarankan jangan dipaksakan. Ini akan berdampak buruk bagi kesehatan adik kalian," ucap pria itu.


"Apa maksudmu, Paman?" tanya Elvan.


"Adik kalian sedang dalam keadaan tidak baik. Kecelakaan yang menimpanya membuat dirinya AMNESIA!"


"Apa? Amnesia," lirih Elvan yang sudah menangis.


"Jadi! Boleh kami membawanya pulang?" tanya Aditya.


"Tentu saja boleh. Kalian kan keluarganya. Tujuan kalian kesini untuk menjemputnya, bukan?" kata pria itu.


"Terima kasih Paman. Paman sudah menyelamatkan adik kami. Dan terima kasih juga Paman sudah merawat dan menjaganya," ucap Aditya.


"Sama-sama. Bukankah sesama manusia harus saling membantu, " saut pria itu sambil tertawa.


"Sekali lagi terima kasih Paman," ucap Elvan.


"Ya, sudah. Sekarang mari kita temui mereka. Kasihan mereka lama menunggu. Dan paman akan berbicara pada Naufal."


Selesai mereka berbicara. Mereka kembali menemui Naufal, Fatih dan Fathan.


"Dirga. Kamu ikut pulang bersama mereka ya. Mereka adalah keluargamu," kata pria itu.


"Tapi Paman. Kalau mereka orang jahat, bagaimana?" tanya Naufal.


"Paman percaya pada mereka. Mereka benaran keluargamu. Pulanglah bersama mereka," kata pria itu lagi.


"Baiklah. Aku akan ikut dengan mereka," jawab Naufal.


"Kalau begitu kami pamit pulang, paman! Kalau ada waktu berkunjunglah kerumah kami paman," tutur Elvan.


"Pasti."


"Paman, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. Sering-seringlah datang mengunjungiku." Naufal memeluk pria paruh baya itu dan terisak di pelukannya.


Setelah berpamitan mereka langsung pergi meninggalkan pria paruh baya itu sendiri. Lalu datang seorang pria muda menghampiri pria paruh baya itu.


"Naufal sudah pergi?" tanya orang yang baru datang itu.


"Ya. Dia sudah pergi. Semoga Naufal baik-baik saja. Dan semoga Amnesia hanya sementara. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri," ucap pria muda itu.


"Ya, semoga." balas sang Paman


"Lalu kau sendiri. Sampai kapan akan bersembunyi?"


"Sampai semuanya terungkap."

__ADS_1


__ADS_2