Naufal Alexander

Naufal Alexander
Keras Kepala


__ADS_3

Disebuah kamar, terlihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa.


"Kak Naufal. Maafkan aku. Seharusnya aku percaya padamu. Maafkan aku karena aku tidak mengetahui kondisimu. Tapi aku janji, mulai detik ini aku akan selalu ada untukmu. Dan berusaha membuat ingatanmu kembali secara berlahan."


FLASHBACK ON


Hari ini adalah hari dimana seorang wanita cantik akan kembali pulang ke rumahnya setelah dua bulan dia dan rekan-rekannya mengemban tugas melayani masyarakat kecil yang terkena musibah bencana. Di wajahnya terpampang raut kebahagiaan.


Bagaimana tidak bahagia? Ia sudah meninggalkan orang yang paling dicintai nya selama dua bulan penuh tanpa bisa menghubungi tiap hari, dikarenakan komunikasi kurang memadai. Dengan terpaksa dirinya harus bisa menahan rasa rindu kepada seseorang sampai ia kembali.


Dia adalah Vanesha sang pujaan hati seorang Naufal Alexander .


"Cie.. Cie. Yang sudah tidakĀ  sabaran mau pulang. Mau cepat-cepat ketemu sama pacarnya," goda sahabat Vanesha yang satu angkatan dengannya


Sementara Vanesha hanya memperlihatkan senyuman manis.


"Kamu enak Vanesha sudah punya pacar. Nah, Aku nya." Sahabat Vanesha memperlihatkan wajah yang ditekuk.


"Makanya cari Pacar gi, " ejek Vanesha. "Kau itu cantik dan baik lagi. Pasti ada cowok yang suka sama kamu," ucap Vanesha.


"Cowok memang banyak Vanesha. Tapi kita tidak tahu apakah cowok itu baik apa jahat. Kita harus pandai pandai dalam memilih dan jangan salah memilih. Kamu enak memiliki Naufal. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab lagi," ucap sahabat Vanesha.


KEESOKKAN HARINYA..


Vanesha dan rekan-rekan nya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta.


"Akhirnya sampai juga. Aku sudah tidak sabaran sampai di rumah!" teriak sahabat Vanesha itu.


Sedangkan yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.


"Kak Naufal. Aku sangat merindukanmu. Semoga kau dalam keadaan baik-baik saja, kak!" batin Vanesha tersenyum


***


Vanesha sudah berada di rumahnya. Ayah Bundanya dan kakak kesayangannya menyambut kepulangannya.


"Kau pasti lelahkan sayang. Sekarang bersih badanmu lalu kita akan makan siang bersama," ujar bundanya.


"Baik Bunda," ucap Vanesha langsung berlalu pergi menuju kamarnya.


Vanesha makan siang bersama orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Mereka makan siang dengan sangat nikmat dan tenang. Sesekali terdengar canda tawa dari mereka


"Ayah, Bunda. Pukul tiga sore nanti aku akan ke rumah kak Naufal. Aku sangat merindukannya," ucap Vanesha.


"Eemm. Kau sudah tidak sabaran lagi ya mau ketemu sama calon suamimu, hum!" goda Ayahnya.


"Iih, Ayah. Apaan sih?" ucap Vanesha malu wajahnya sudah memerah.


"Benarkan kalau Naufal itu calon suamimu. Bahkan dia sudah terang-terangan melamarmu di depan Ayah dan Bunda," ucap Bundanya yang ikut menggoda Vanesha.


Vanesha tersenyum bahagia mendengar penuturan Ayah dan Bundanya. Semoga apa yang diucapkan oleh Ayah dan Bundanya jadi kenyataan.


^^^


Vanesha sekarang berada di kamarnya. Dirinya sekarang sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Dirinya sudah menyiapkan sebuah oleh-oleh kecil untuk sang kekasih. Vanesha turun ke bawah dengan wajah yang sumringah.


"Kau sudah mau berangkat sayang?" tanya Bundanya.


"Ya Bunda," jawab Vanesha.

__ADS_1


"Sampaikan salam Ayah dan Bunda pada Naufal ya," ucap Bundanya.


"Baik Bunda. Kalau begitu aku berangkat dulu Bunda," pamit Vanesha.


"Hati-hati sayang."


"Ya, Bunda."


***


Selang beberapa jam kemudian Vanesha sudah sampai di depan pintu mansion Naufal. Dirinya sudah deg-degan untuk bertemu dengan kekasihnya. Vanesha menekan bell pintu mansion Naufal.


Pintu terbuka. Vanesha dengan segera memasuki mansion tersebut setelah dipersilakan masuk.


Saat Vanesha tiba di dalam. Tepatnya di ruang tengah, Vanesha dikejutkan dengan pemandangan yang membuat dirinya hancur.


"Kak Naufal," panggil Vanesha tanpa sadar air matanya mengalir tanpa komando.


FLASHBACK OFF


"Kak Naufal. Aku mencintaimu," ucap Vanesha.


***


Naufal berada di kamarnya. Setelah kejadian dimana seorang perempuan yang tidak dikenalnya dan tidak diingatnya datang menghampirinya ke rumahnya membuat Naufal yang berwajah tampan, imut dan menggemaskan, bermata bulat dan memiliki gigi seperti gigi kelinci sedang jatuh pingsan dan terbaring lemah di tempat tidurnya dengan selang canula terpasang di hidungnya dan infus tertancap di tangannya.


Naufal yang awal ingin dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya dikarenakan dapat penolakan dari Naufal. Akhirnya Naufal dirawat di rumah saja. Mereka semua nampak khawatir dengan kondisi Naufal.


"Paman. Bagaimana keadaan Naufal?" tanya Elvan lalu mendekati adiknya yang terlelap setelah diperiksa oleh Kishan.


"Kondisi Naufal tidak bisa dibilang baik-baik saja saat ini," jawab Kishan.


"Naufal mengalami cidera di bagian kepalanya akibat kecelakaan yang dialaminya sebulan yang lalu. Dan menyebabkan terjadinya pembekuan darah di otak ditambah lagi amnesia yang dialaminya. Dan Naufal harus dioperasi," ucap Kishan.


"Apa?" lirih ketiga kakak-kakaknya Naufal.


Mereka tidak bisa membendung air mata mereka saat mendengar penjelasan dari sang paman. Mereka menangis.


"Apa ada efek sampingnya setelah operasi?" tanya Ammar.


"Efek sampingnya adalah Naufal akan benar-benar kehilangan ingatannya secara permanen," jawab Kishan dengan matanya yang sudah menangis.


"Kondisi Naufal yang amnesia saat ini sudah membuat kita sedih. Apalagi kalau Naufal sudah dioperasi dan membuat Naufal hilang ingatan secara permanen. Hal itu akan membuat kita bertambah sedih," tutur Rayyan.


"Walaupun hal itu terjadi. Kita akan membantu Naufal untuk bisa mengenali orang-orang terdekatnya kembali. Tanpa Naufal harus merasakan sakit di kepalanya," ucap Ammar menambahkan.


"Katakan itu semua tidak benar? Putra bungsuku pasti akan sehat kembali seperti sedia kala kan Kishan?" tanya Albert yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Air matanya lolos membasahi wajahnya.


Semuanya menangis. Mereka seakan tidak percaya atas apa yang terjadi pada Naufal. Mereka berharap kalau semua ini hanya mimpi buruk untuk mereka dan setelahnya mereka akan terbangun dengan keadaan yang baik-baik saja.


"Untuk sekarang ini biarkan Naufal istirahat. Kalau Naufal sudah bangun nanti. Bicarakan secara pelan-pelan padanya. Jangan ada paksaan apapun dari kalian. Operasi ini dilakukan dari hati pasien itu sendiri agar operasi berjalan lancar," ucap Kishan.


Albert dan Helena mendekati putra bungsunya. Mereka secara bergantian mengelus rambut putra bungsu mereka dan mencium keningnya.


"Naufal sayang." lirih Helena sembari menggenggam erat tangan putranya.


"Naufal. Naufal bisa dengarkan suara kakak kan? Kakak mohon bangunlah!" seru Elvan.


"Eughh."

__ADS_1


Suara lenguhan kecil terdengar dari bibir mungil Naufal.


Semua mata tertuju pada Naufal. Mereka semua bahagia melihat Naufal sudah sadar.


"Naufal sayang," sapa Helena.


"Mommy," lirih Naufal yang tiba-tiba menangis.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Helena lalu menghapus air mata putranya.


"Mommy, aku lelah. Aku tidak sanggup seperti ini terus. Kapan aku bisa mengingat semuanya lagi? Lalu perempuan itu?" ucap Naufal dengan air matanya yang masih mengalir.


Mereka yang mendengar penuturan Naufal merasakan sesak di dada mereka masing-masing.


"Naufal sabar ya sayang. Daddy yakin kamu pasti akan ingat kembali." Albert berusaha untuk memberikan ketenangan pada putra bungsunya.


"Naufal. Daddy mau mengatakan sesuatu padamu!" seru Albert.


"Daddy mau mengatakan apa padaku?"


"Kamu mau ya di operasi?"


"Operasi? Maksud Daddy?"


"Naufal. Apa kamu pernah mengalami sakit kepala? Dan rasa sakit itu makin hari makin sangat menyakitkan.?" tanya Elvan.


"Iya."


"Paman Kishan sudah memberitahu kita semua tentang kondisi kamu pada kita semua," saut Aditya.


"Bagaimana sayang?" tanya Helena menambahkan.


"Apa akan ada efek sampingnya setelah operasi itu?" tanya Naufal.


"Ya, sayang. Akan ada efek sampingnya setelah operasi itu. Kamu akan kehilangan ingatan secara permanen," jawab Helena.


"Kalau begitu jawabanku tidak. Aku tidak mau," jawab Naufal final.


Semuanya kaget mendengar ucapan dari Naufal. "Kenapa kamu tidak mau di operasi? Ini demi kesembuhanmu juga sayang," sela Andhira.


"Apapun alasannya. Aku tetap tidak mau. Kondisiku sekarang ini sedang tidak baik. Dan aku belum mengingat semuanya. Lalu kalian menyuruhku untuk operasi. Itu sama saja kalian mencoba menghapus memori ingatanku tentang kalian. Jadi jangan paksa aku," jawab Naufal final.


"Kakak mohon Naufal," pinta Rayyan.


"Tidak. Aku bilang tidak.. tidak.. dan tidak!" teriak Naufal.


"Sampai kapan kapan akan menolak untuk operasi?" tanya Albert pada putranya.


"Sampai ingatanku kembali. Biarkan aku merasakan kebahagiaan terlebih dahulu. Dan saat aku siap. Baru operasi itu dilakukan," jawab Naufal.


Mereka hanya bisa menghela nafas pasrah akan penolakan sibungsu. Mau tidak mau mereka semua harus memenuhi keinginannya.


"Baiklah. Kami semua akan menunggumu sampai siap untuk operasi!" seru Albert.


Naufal tersenyum manis dengan memperlihatkan gigi kelincinya. "Terima kasih Daddy."


Semuanya tersenyum bahagia melihat Naufal yang sudah mulai memperlihatkan senyuman manisnya lagi.


"Paman sangat senang melihat senyuman manismu itu Fal. Kau sangat menggemaskan," goda Ammar.

__ADS_1


Mereka kembali tertawa, Sedangkan Naufal memanyunkan bibirnya.


__ADS_2