
Naufal saat ini bersama dengan Vanesha. Keduanya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Vanesha ingin membeli sesuatu untuk kekasihnya, kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya.
Vanesha sibuk dengan kegiatannya memilih baju untuk kekasihnya, kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Sementara Naufa menunggu di sebuah kursi yang tersedia disana. Dia saat ini fokus menatap layar ponselnya. Naufal tengah membaca laporan-laporan yang dikirim oleh asistennya dan juga dari Henry.
Ketika Naufal sedang sibuk dengan ponselnya, tanpa Naufal ketahui ada seorang gadis cantik yang tengah menatap dirinya. Gadis itu tersenyum bahagia menatap kearah Naufal.
"Naufal, aku akan mendapatkan kamu lagi. Dan kali ini aku benar-benar akan mempertahankan kamu dalam hidupku. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti dulu," ucap gadis itu.
Setelah puas menatap Naufal, gadis itu memutuskan untuk menghampiri Naufal. Namun baru dua langkah kakinya melangkah, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang gadis memanggil Naufal.
"Kakak Naufal!"
Naufal yang tadi fokus menatap layar ponselnya langsung melihat keasal suara. Seketika terukir senyuman manis di bibir Naufal. Naufal menyudahi kegiatannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Naufal.
"Sudah! Ini." Vanesha langsung memperlihatkan beberapa paper bag ke hadapan Naufal.
Naufal tersenyum ketika melihat Vanesha yang menjawab pertanyaan darinya sembari memperlihatkan barang belanjaannya.
"Apa saja itu?"
"Nggak bisa disebut satu-satu. Yang penting ini semua aku beliin buat kakak Naufal, buat ayah sama bunda dan kakak Daniel. Ini aku beli pake uang aku sendiri. Sementara uang yang kakak kasih aku simpan."
"Pulang atau pergi ke tempat lain?" tanya Naufal.
"Eeemmm.. pulang aja ya kak! Aku nggak mau kakak kelelahan menemani aku belanja. Ditambah lagi kakak harus menyelesaikan tugas-tugas kantor kakak," jawab Vanesha.
Naufal tersenyum ketika mendengar jawaban dari Vanesha. Dia benar-benar bahagia dan juga bangga akan sifat dewasa kekasihnya. Kekasihnya itu tidak pernah menuntut banyak darinya. Kekasihnya juga tidak pernah meminta untuk dibelikan barang-barang mewah dan mahal setiap hari atau setiap keluar jalan-jalan.
"Baiklah."
Naufal berdiri dari duduknya lalu mengambil paper bag yang dipegang oleh kekasihnya. Setelah itu, tangannya menggenggam jemari Vanesha.
Sementara untuk gadis yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Naufal dan Vanesha seketika mengepal kuat tangannya. Dia cemburu ketika melihat Naufal bersama gadis lain.
"Naufal, apa kamu sudah melupakan aku? Apa kamu benar-benar membenciku? Apa tidak ada celah buat aku masuk lagi ke hati kamu?"
***
Di rumah sakit semua anggota keluarga sudah berkumpul, termasuk adik-adiknya Albert. Mereka semua menatap khawatir ke arah pintu ruang UGD yang sudah tertutup selama 1 jam lebih.
"Sayang," lirih Helena di pelukan suaminya.
"Tenang, oke! Aditya pasti baik-baik saja," hibur Albert.
"Hiks... Maafkan aku. Ini salah aku... Hiks," ucap Alice disela isakannya.
Mendengar ucapan dan isakan dari Alice seketika membuat mereka sadar akan keberadaan Alice, terutama Helena dan Albert.
Helena seketika melepaskan pelukan suaminya. Setelah itu, Helena menatap kearah seorang gadis yang sedang menangis di pelukan Andhira.
"Alice," panggil Helena.
__ADS_1
Helena langsung menghampiri Alice, gadis yang dicintai oleh putra keduanya.
Helena sudah duduk di samping Alice. Tangannya mengusap lembut kepala Alice. Dia sangat bahagia karena bisa bertemu lagi dengan calon menantunya.
"Maafkan aku. Ini semuanya salah aku."
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Ada apa, hum?" tanya Helena lembut.
"Aku bertemu dengan Aditya di sebuah supermarket. Aku menghindari Aditya. Namun siapa disangka, Aditya mengejarku sehingga terjadi kecelakaan itu. Ketika aku membalikkan badanku untuk melihat kearah Aditya. Tubuh Aditya sudah tersungkur di aspal... Hiks."
Mendengar ucapan sekaligus cerita dari Alice membuat Helena dengan tatapan iba dan kasihan. Terlihat dari tatapan matanya Alice tersirat ketakutan dan penyesalan disana.
Grep..
Helena menarik tubuh Alice dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap lembut punggung Alice.
"Hiks, Bibi. Maafkan aku... Maafkan aku. Untuk kesekian kalinya aku kembali menyakiti putra Bibi. Hiks... aku ini perempuan jahat."
Helena makin mengeratkan pelukannya. Dia tahu bahwa Alice saat ini merasakan ketakutan dan penyesalan terbesar di dalam dirinya. Helena menangis. Begitu juga dengan keluarga besar Aditya.
Ketika semuanya menangis memikirkan Aditya dan menangis mendengar ucapan dari Alice. Tiba-tiba Zifana bersuara.
"Paman, Bibi! Apa Naufal sudah dikasih tahu masalah kak Aditya kecelakaan?" tanya Zifana.
Mendengar pertanyaan dari Zifana seketika membuat mereka tersadar. Mereka belum mengabari Naufal tentang Aditya yang kecelakaan.
"Biar aku yang menghubungi Naufal!" sahut Elvan.
***
Naufal saat ini berada di ruang Vanesha. Sepuluh menit yang lalu keduanya tiba di kediaman Naladhipa.
Kini Naufal bersama dengan kedua orang tua dan kakak laki-lakinya Vanesha di ruang tengah. Mereka mengobrol banyak hal disana. Bahkan kedua orang tuanya Naufal mengucapkan banyak terima kasih kepada Naufal dan keluarganya atas apa yang Naufal lakukan untuk Vanesha dan keluarganya.
"Sekali lagi Bunda ucapkan terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan untuk Vanesha, Bunda, Ayah dan Daniel. Bunda benar-benar bersyukur."
Naufal hanya bisa tersenyum ketika mendengar ucapan terima kasih dari kedua orang tuanya Vanesha, terutama ibunya Vanesha. Wanita meneteskan air matanya karena terharu dan bangga akan tindakan yang dilakukan oleh Naufal.
"Ini sudah kewajibanku untuk melakukan itu kepada Bunda, Ayah dan kakak Daniel. Bagaimana pun kalian adalah keluarga dari gadis yang aku cintai," jawab Naufal.
Ini adalah pertemuan pertama Naufal dengan keluarga Vanesha. Naufal melakukan semua itu untuk memberikan waktu Vanesha untuk berkumpul dan melepaskan rasa rindunya kepada ibunya dan kakak laki-lakinya. Begitu juga dengan ayahnya yang merindukan istri dan putranya.
Jadi selama dua minggu, baik Naufal maupun Vanesha memutuskan untuk tidak bertemu dulu. Naufal bisa fokus sama pekerjaannya, sementara Vanesha bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Mendengar jawaban yang begitu bijak dari Naufal membuat kedua orang tuanya Vanesha tersenyum bangga.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Naufal berbunyi menandakan panggilan masuk.
Naufal langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Naufal melihat nama 'Kakak Elvan' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naufal pun langsung menjawab panggilan dari kakak sulungnya itu.
"Hallo, kak Elvan."
__ADS_1
"Hallo, Fal! Kamu dimana?"
"Aku di rumah Vanesha. Kenapa kak?"
"Kakak mau kasih kabar sama kamu. Tapi kamu harus janji sama kakak. Kamu harus tenang dan jangan panik, bisa?"
Seketika pikiran Naufal melayang jauh. Dirinya membayangkan telah terjadi sesuatu terhadap keluarganya.
"Naufal kamu dengar kakak!"
"Iya. Baiklah. Aku janji. Sekarang katakan padaku. Kabar apa?"
"Aditya kecelakaan. Sekarang Aditya di rumah sakit."
Deg..
Seketika tubuh Naufal menegang ketika mendengar kakak sulungnya mengatakan bahwa kakak keduanya kecelakaan dan sekarang di rumah sakit.
Melihat perubahan wajah Naufal membuat kedua orang tuanya Vanesha, Daniel dan Vanesha menatap khawatir kearah Naufal.
"Kakak Naufal, kakak kenapa?"
"Fal, ada apa?"
"Naufal " panggil Elvan di seberang telepon.
"Bagaimana keadaan kakak Aditya sekarang?"
"Masih diperiksa di ruang UGD."
"Baiklah aku akan kesana."
"Hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut. Kakak nggak mau dengar berita buruk lagi."
"Aku mengerti."
Pip.. Pip..
Naufal langsung mematikan panggilannya. Pikirannya saat ini tertuju pada kakak keduanya itu.
"Naufal, ada apa?" tanya Daniel.
"Kakak Aditya kecelakaan dan sekarang di rumah sakit."
Mendengar jawaban dari Naufal membuat mereka terkejut, terutama Vanesha.
"Kakak akan mengantarkan kamu ke rumah sakit. Kakak nggak akan izinkan kamu bawa mobil dalam keadaan seperti ini," sahut Daniel.
"Ayah setuju. Ada baiknya Daniel yang antar kamu ke rumah sakit," sela Ayahnya Vanesha dan Daniel.
"Baiklah."
Setelah itu, Daniel dan Naufal pun pergi meninggalkan kediaman Naladhipa untuk menuju rumah sakit.
__ADS_1