Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Kabar Dari Damian


__ADS_3

[Teras Samping Rumah]


Mereka sudah berada di teras samping rumah Naufal. Dan sudah tersedia beberapa macam makanan dan minuman diatas meja termasuk makanan dan minuman yang dibawa oleh Henry.


"Sebenarnya ini acara apa sih, Fal?" tanya Reza.


"Tidak ada acara apa-apa," jawab Naufal.


"Lalu kenapa ada banyak makanan dan minuman begini?" tanya Barra.


"Tuh." Naufal menunjuk dengan bibirnya yang dimanyun ke arah Henry.


Mereka semua menatap Henry. Sedangkan Henry menatap horor ke arah Naufal. Justru malah sebaliknya, Naufal dengan santai mengambil salah satu makanan kesukaannya yang sudah tersedia di atas meja lalu memasukkan ke mulutnya tanpa menghiraukan tatapan Henry.


"Mau sampai kapan kalian saling tatap seperti itu, hum? Apa kalian akan biarkan saja makanan dan minuman yang sudah tersaji di atas meja ini tanpa mau menyentuhnya sama sekali? Aku sudah susah payah memaksa bahkan mengancam sikedelai hitam ini untuk membawakan makanan dan minuman kesini. Jadi jangan diangguri." Naufal berucap dengan seenaknya saja.


"Dasar siluman kelinci kurap," umpat Henry.


"Terima kasih pujiannya, Hen." Naufal membalas perkataan Henry


"Gila," ejek Henry.


Mereka pun mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"Jadi apa alasanmu menyuruh kami datang kesini, Fal?" tanya Barra.


Naufal melirik sekilas ke arah Barra, lalu kembali fokus pada makanannya. "Untuk menyuruh kalian menghabiskan semua makanan dan minuman ini. Aku tidak sanggup untuk menghabiskannya sendiri."


"Haaaa! Jadi ini alasanmu menyuruh kami datang kesini, Fal?" tanya Dhafin kesal.


"Iya," jawab Naufal santai.


"Sialan," umpat Dhafin, Davian dan Reza bersamaan.


"Kau mengganggu jam istirahat kami dan menyuruh kami datang kesini. Lalu sampai disini malah justru disuruh menghabiskan semua makanan ini? Dasar kelinci laknat," ucap Ardian kesal.


"Kalau aku jujur. Justru kalian tidak akan datang," balas Naufal.


"Kalau kau tidak sanggup menghabiskannya. Kenapa harus membelinya dengan porsi banyak, Naufal?" tanya Ardian.


"Tanya aja pada sikedelai hitam tu. Kan dia yang membawanya kesini," jawab Naufal santai.


"Yak, Fal! Kalau bukan kau yang menyuruhku dan mengancamku. Aku ogah membawanya," jawab Henry kesal.


"Oh iya, Fal. Ini ada beberapa berkas yang harus kau tanda tangani. Tapi sebelum itu kau baca dulu," kata Nathan sambil menyerahkan tiga berkas pada Naufal dan Naufal menerima berkas tersebut.


Naufal mengerutkan keningnya saat melihat berkas ketiga. Matanya fokus melihat foto calon rekan kerjanya itu.


"Wajahnya mirip seseorang. Tapi siapa?" batin Naufal yang masih menatap foto tersebut.


Lalu tiba-tiba terlintas wajah seseorang dipikirannya. Reflek mulutnya menyebut nama orang itu.


"Kendrik Alvaro," ucap Naufal.


Mendengar ucapan Naufal membuat para sahabat dan kakak-kakaknya terkejut. Mereka semua menatap wajah tegang Naufal.


"Naufal," panggil Arsya.


Naufal tak mendengar karena pikirannya masih melayang ntah kemana.


"Naufal Alexander," panggil Arsya dengan menggunakan marganya.


Sontak membuat adiknya tersadar dari lamunannya. Lalu Naufal menatap horor ke arah Arsya. "Dasar jangkung," ejek Naufal dengan mata yang dipelototi dan bibir dimanyunkan.


Sedangkan Arsya tak mau kalah. Dia balik menatap Naufal. "Mending jangkung. Dari pada kau. Bertubuh bongsor, semok, gemuk, berperut buncit, tukang makan dan tukang tidur."


Saat Naufal ingin membalas perkataan Arsya. Barra dengan sengaja memotong ucapannya. Dia ingin membalas menjahili adik kelincinya itu.


"Kami disini untuk makan bukan untuk mendengarkan pertengkaran kalian. Jadi tolong diam dan lanjutkan makannya."

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Barra. Hal itu sukses membuat Naufal merengut tak suka akan ulah kakak pucatnya itu. Sedangkan yang lainnya tersenyum puas melihat wajah kesal Naufal.


Naufal kembali menatap berkas dan foto tersebut. "Siapa dia? Kenapa tiba-tiba wajah Kendrik Alvaro terlintas di otakku," batin Naufal.


"Melamun lagi," sindir Arsya.


"Aku mendengarmu, kak Arsya." Naufal menjawab perkataan Arsya dengan matanya yang masih fokus menatap map yang di pegangnya.


Sedangkan Arsya tersenyum menanggapi adiknya. "Pendengaran yang bagus."


"Fal," panggil Davian.


"Hm," jawab Naufal singkat.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Mau ceritakan pada kami," ucap Davian.


Naufal menolehkan wajahnya melihat Davian. Lalu kembali melihat berkasnya. "Aku hanya penasaran dengan foto pemuda ini. Dia mirip seseorang." Lalu Naufal memberikan berkas tersebut pada Davian. Davian pun menerima berkas tersebut.


Davian maupun yang lainnya juga ikut melihat foto tersebut.


"Menurutmu dia mirip siapa? tanya Davian yang masih memandangi foto tersebut.


"Kendrik Alvaro," jawab Naufal.


"Apa?! Kendrik Alvaro?!" teriak mereka semua.


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Fal?" tanya Reza.


"Tidak tahu. Aku hanya menebak-nebak saja. Saat aku memperhatikan wajahnya, tiba-tiba terlintas wajah pria brengsek itu di benakku," jawab Naufal santai.


"Yang dikatakan Naufal memang benar. Sekilas aku perhatikan wajahnya memang mirip Kendrik Alvaro pria sialan itu. Tapi apa hubungannya?" ucap dan tanya Ardian.


"Tidak mungkinkah pemuda ini mirip Kendrik Alvaro. Sedangkan Kendrik Alvaro saja belum menikah sama sekali," sela Dhafin.


Mereka mengangguk membenarkan perkataan Dhafin.


"Eemm. Baiklah," jawab Nathan.


"Ooh ya. Mau tidak salah satu diantara kalian membantuku di NFL Corp?" tanya Naufal pada keempat sahabatnya itu.


"Kami sudah nyaman di King Studiomu, Fal! Suruh saja sikedelai hitam itu," celetuk Theo dan diangguki oleh Nathan dan Ricky.


"Huuh! Aku lagi yang kena," gumam Henry dan gumamannya itu terdengar oleh semuanya. Mereka yang mendengar gumamannya tersenyum jahil.


"Kasihan sekali nasibmu, Hen." Ricky berucap.


Naufal menatap Henry sahabat yang selalu jadi korban bully nya itu dengan tatapan memelas. Henry yang ditatap seperti itu merasa jengah.


"Jangan perlihatkan wajahmu seperti itu kelinci sialan," umpat Henry.


"Mau ya.. Mau ya," mohon Naufal dengan mengedip-ngedipkan matanya dan memperlihatkan senyuman manisnya kearah Henry.


Sedangkan yang lainnya tersenyum gemas melihat aksi Naufal yang sedang berusaha merayu korbannya.


"Baiklah," jawab Henry pasrah karena dia sudah tidak tahan melihat wajah imut dan menggemaskan sahabatnya itu.


"Kau yang terbaik, Hen." Naufal memuji Henry


"Aku kasihan padamu, Hen!" Theo berucap dengan aksen mengejeknya.


"Aku akan menangisi nasibmu saat kau bersama sikelinci itu, Hen! Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa," kata Nathan terkekeh.


"Kau pasti akan makan hati melihat kelakuan sikelinci itu. Jadi aku sarani banyaklah bersabar. Karena orang sabar disayang Tuhan," ujar Ricky.


"Sialan kalian," umpat Henry kesal.


"Hahahaha." Mereka semua pun tertawa.


Lalu terdengar bunyi ponsel milik Naufal.

__ADS_1


Drtt!!


Drtt!!


Dan Naufal segera merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. Dapat dilihat nama 'Kak Damian' di layar ponselnya itu. Naufal langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, kak Damian. Ada apa?"


"Hallo, kelinci kakak. Apa kabar?"


"Tidak baik. Kabar buruk."


"Ada apa? Kau baik-baik saja, hum?"


"Tadinya aku dalam keadaan baik-baik saja. Tapi setelah mendengar kau menyebutku kelinci, moodku jadi hancur."


"Hahahaha." tawa para sahabatnya dan para kakak-kakaknya pecah.


"Yak! Kenapa kalian malah menertawaiku, hah?!" teriak Naufal.


"Hei, Fal! Sejak kapan moodmu itu berubah, hah? Bukannya sedari tadi moodmu itu memang sudah hancur. Bahkan sedari tadi kami menyebutmu kelinci," ujar Barra.


"Persetan dengan kalian semua." Ucap Naufal lalu kembali fokus dengan panggilan teleponnya


"Hallo, kak Damian. Maaf ya. Biasa ada pengganggu disini."


"Tidak apa-apa, Fal. Sedang berkumpul dengan teman-temanmu ya?"


"Ya, kak. Kakak dimana? Kenapa tidak pernah mengunjungiku lagi? Semenjak aku keluar dari rumah sakit. Kakak tidak pernah lagi datang ke rumahku." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya. Hal itu sukses membuat semua yang menatapnya khawatir.


"Maafkan kakak, Fal! Bukan maksud kakak melupakanmu. Tapi kakak ada pekerjaan. Itupun untukmu."


"Pekerjaan? Untukku? Apa maksud kakak? Bukannya kakak bekerja di perusahaan Daddy."


"Iya, kau benar. Tapi ada kerja sampingan. Kau tahukan apa pekerjaan kakak sebelum menerima bekerja dengan Daddy kamu?"


"Aku tahu. Kau pasti sedang menyelidiki sesuatu?"


"Eemm. Kau benar. Kakak sedang menyelidiki sesuatu. Ini ada hubungannya denganmu, Fal!"


"Aku? Apa kak? Apa kau sudah berhasil?"


"Ya. Kakak sudah berhasil. Apa kau ingin tahu?"


"Ya, kak. Aku ingin tahu. Katakan padaku sekarang."


"Apa kau siapa mendengarnya?"


"Ya. Aku siap. Sangat siap!"


"Baiklah. Vanesha masih hidup dan sekarang ini dia berada di Jakarta."


Deg!!


Naufal berdiri dari duduknya. Bagaikan dihantam palu yang sangat besar. Naufal merasakan sesak di dadanya saat mendapatkan kabar bahwa kekasihnya masih hidup. Lagi-lagi air matanya harus mengalir membasahi wajah tampannya.


"Fal, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Arsya yang saat ini sudah berdiri di sampingnya dengan tangannya mengusap lembut punggung Naufal.


"Ka-kakak. Apa kau yakin kalau itu Va-vanesha? Kau tidak salah lihatkan? Mungkin saja kau salah orang."


"Tidak, Fal. Kakak tidak salah orang. Dia benar-benar Vanesha kekasihmu. Dan kakak sudah membuktikannya sendiri. Sebaiknya kau lupakan dia. Dia tidak pantas untukmu. Dia sudah menjadi milik orang lain. Hari ini adalah hari pertunangannya dengan pria itu."


"Tidak, kak! Tidak! Kau jangan bercanda. Aku tidak akan pernah mempercayai ucapanmu itu."


"Sekarang kau lihatlah di tv. Acara pertunangan mereka disiarkan di tv. Nama stasiun tv nya adalah TVN."


Pip!!


Naufal mematikan panggilan secara sepihak. Lalu Naufal berlari masuk ke dalam rumahnya menuju ruang tengah dimana anggota keluarganya masih duduk santai disana disusul oleh para sahabatnya dan para kakak-kakaknya di belakang.

__ADS_1


__ADS_2