Naufal Alexander

Naufal Alexander
Ingatan Kembali


__ADS_3

Naufal dan keluarganya berada di di ruang tengah. Tepatnya lagi bersantai disofa ruang tengah dengan ponsel ditangan. tiba-tiba notifikasi pesan masuk ke ponsel Naufal.


FromĀ  : 0813xxxxxxxx


Hallo Naufal. Maaf mengganggumu. Aku hanya ingin memberitahu soal perempuan yang mengaku sebagai kekasihmu, Vanesha. Perempuan itu bukan kekasihmu. Dia bukan Vanesha yang asli.


"Inilah Tzuyu yang asli. Kekasihmu, Vanesha Naladhipa." seseorang itu mengirimkan sebuah Foto Vanesha asli kepada Naufal.


"Perempuan ini bukanlah Vanesha. Dia penipu. Seseorang telah menyuruhnya untuk mendekatimu dan mengaku sebagai Vanesha, kekasihmu. Percayalah!" orang itu kembali mengirim foto Vanesha palsu


DEG..


Jantung Naufal berdegup kencang. Naufal memejamkan matanya karena merasakan pusing di kepalanya. Naufal berulang kali menatap dua foto wanita yang diterimanya.


Dalam pikirannya, Naufal mengenali salah satu wanita yang ada difoto itu. Terlintas bayangan-bayangan di pikirannya.


"Tolong!" teriak gadis itu.


"Hei, kalian! Apa kalian tak malu mengganggu seorang gadis?"


BUGH..


BUGH..


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"


"Aku baik-baik saja Kak."


"Hei. Kita ketemu lagi. Masih ingat denganku?"


"Kau kakak yang waktu itu kan?"


"Ya."


"Terima kasih kak. Kakak sudah menyelamatkanku waktu itu. Maaf juga kalau baru sekarang aku mengucapkan terima kasihnya."


"Tidak masalah."


"Aku Naufal. Naufal Alexander. Kamu namanya siapa?"


"Aku Vanesha. Vanesha Naladhipa."


"Aarrgghh!"


Erangan kesakitan meluncur begitu saja dari mulut Naufal dan hal itu membuat anggota keluarga yang mendengarnya menjadi panik


"Naufal!!" teriak mereka saat melihat Naufal yang kesakitan sembari meremat rambutnya


"Apa kepalamu sakit lagi, hum?" tanya Elvan yang sudah duduk di samping adiknya.


"Iya kak. Ini benar-benar sakit," jawab Naufal lalu Naufal menjatuhkan kepalanya di bahu sang kakak


"Lebih baik kamu istirahat di kamar saja," kata Elvan.


"Aku disini saja. Bersandar di bahu kakak itu sangat nyaman. Biarkan aku tidur di pelukan kakak." pinta Naufal manja.


Elvan tersenyum mendengar ucapan adiknya. Ternyata adiknya saat ini ingin bermanja dengannya.


"Baiklah. Kamu bisa sepuasnya tidur di pelukan kakak," saut Elvan lalu mengecup pucuk kepala adiknya.


Anggota keluarganya yang menyaksikannya tersenyum bahagia dan terharu. Naufal memang sangat manja dengan Elvan dibandingkan bersama Aditya dan Rayyan.


"Jadi cuma sama kak Elvan saja yang bisa membuat kamu merasa nyaman, hum? Sedangkan sama kakak tidak!" ucap Aditya yang pura-pura merajuk.


"Wajah kak Aditya itu jelek. Jadi aku tidak mau berpelukan dengan orang jelek. Bisa-bisa aku ketularan jeleknya," jawab Naufal tanpa membuka matanya.


Semua anggota keluarganya tertawa mendengar ucapan Naufal.


"Hahaha."


"Yak. Naufal! Kamu berani menghina kakak, hah!" tanya Aditya pura-pura marah.


"Bukan menghina kak. Tapi itu fakta," jawab Naufal dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Dasar adik durhaka," kesal Aditya.


Lalu terdengar suara bell berbunyi.


TING..


TONG..


Pintu dibuka oleh pelayan. Dan terlihat lima pemuda tampan dan enam gadis cantik.


"Silahkan masuk tuan, nona!" pelayan itu mempersilahkan mereka masuk.


"Terima kasih, Bi!" mereka tersenyum lalu melangkahkan kaki memasuki mansion Naufal.


"Tuan muda Naufal. Ada teman-temannya tuan muda datang!" kata pelayan itu.


"Suruh mereka langsung kesini, Bi!" seru Helena.


"Kami sudah disini Bibi!" seru Ardian, Barra, Davian, Reza dan Dhafin bersamaan.


"Kami kesini bersama pacar-pacar kami. Tidak apakan Bibi, Paman?" tanya Davian.


Albert dan Helena tersenyum. "Ya. Tidak apa-apa. Tidak ada masalah," jawab mereka.


"Kak Arsya. Ada yang merindukanmu!" seru Zora menggoda Ishana.


"Aish. Apa-apaan sih?" ucap Ishana malu. Arsya yang melihat hal itu tersenyum.


"Naufal. Ada yang ingin bertemu denganmu? Apa kamu tidak mau bertemu dengannya?" goda Elvan.


Naufal berlahan membuka matanya. Dan mengangkat kepalanya dari bahu sang kakak. Lalu matanya tertuju pada sosok gadis cantik yang duduk tepat di hadapannya.


"Kak Naufal. Bagaimana keadaanmu?" tanya Vanesha.

__ADS_1


"A-aku baik-baik saja. Apa benar kamu Vanesha. Vanesha Naladhipa kekasihku?" tanya Naufal.


Vanesha tersenyum lalu mengangguk pelan. "Iya, kak! Aku Vanesha. Ini buktinya." Vanesha memperlihatkan cincin yang dipakainya. "Kak Naufal juga pakai cincin yang sama seperti ini," ucap Vanesha.


Naufal menatap cincin yang ada dijari manisnya lalu pandangannya kembali menatap wajah cantik Vanesha.


"Tapi perempuan itu juga memakai cincin yang sama seperti ini," lirih Naufal.


Vanesha berdiri dari duduknya lalu mendekati Naufal. Sekarang posisi Vanesha tepat di hadapan Naufal. Vanesha lalu berjongkok. Vanesha menarik pelan tangan kiri Naufal.


"Kak Naufal lihat ini. Kalau cincin kita ini disatukan akan menghasilkan cahaya yang indah lalu dalam cahaya itu keluar nama kita," tutur Tzuyu.


"Apa kak Naufal mau melihatnya?" tanya Vanesha lembut. Naufal mengangguk.


"Sekarang kak Naufal lepaskan cincinnya. Dan aku juga akan lepaskan cincin milikku. Sekarang mari kita satukan cincin kita ini kak," pinta Vanesha.


Naufal dan Vanesha menyatukan cincin mereka berdua. Dan terlihat cahaya yang indah dan terlihatlah sebuah tulisan Nf dan Vs.


"Waah! Benar-benar indah!" seru Arsya dan yang lainnya.


"Indah sekali!" seru Ishana dan yang lainnya.


Mereka semua kagum melihatnya. Tak terkecuali kedua orang tua dan ketiga kakaknya Naufal.


"Kak Naufal sendiri yang membelinya untuk kita. Sebagai hadiah hari jadi kita," ucap Vanesha.


"Aku percaya kau adalah Vaneshaku," ucap Naufal tersenyum. "Aku.. aku merasa nyaman saat bersamamu. Beda dengan saat bersama perempuan itu."


Mereka semua tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Naufal. Saat mereka asyik-asyiknya mengobrol. Mereka dikejutkan lagi dengan suara bunyi bell.


TING..


TONG..


Pelayan berlari membukakan pintu. Saat pintu telah terbuka. Terlihat seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu.


Tanpa pikir panjang dan tanpa permisi, wanita itu nyelonong masuk begitu saja.


"Hei, nona! Tunggu! Anda tidak bisa masuk begitu saja!" teriak pelayan itu.


^^^


Sampailah wanita itu di ruang tengah dan pelayan di belakang wanita tersebut.


"Maafkan saya Nyonya, Tuan!"


"Sudah Bi! Tidak apa-apa," jawab Albert dan pelayan itu kembali ke dapur.


"Mau apa lagi perempuan gila ini kesini?" batin Ishana.


"Gak tahu malu banget sih," batin Syafira.


"Menjijikkan sekali," batin Reza dan Davian.


Mereka memandang jijik kearah perempuan yang mengaku sebagai Vanesha.


Sedangkan Vanesha berusaha untuk tenang. Lain dengan Naufal. Naufal langsung beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.


"Kak Naufal. Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?" ucap perempuan tersebut.


Naufal tidak menjawab. Naufal berusaha melepaskan pelukan perempuan itu dari tubuhnya.


"Lepaskan aku!" bentak Naufal.


"Kak Naufal. Kenapa kau membentakku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa karena perempuan itu?" kata perempuan itu yang tangannya menunjuk kearah Vanesha.


"Aku katakan sekali lagi. Lepaskan aku!" bentak Naufal.


Tapi perempuan itu masih kukuh memeluk Naufal. Bahkan pelukannya makin kencang.


Naufal sudah tidak bisa menahan rasa emosinya. Dia sudah berusaha sabar. Tapi ini yang didapatkan olehnya.


Naufal menarik secara kuat tangan perempuan yang memeluknya. Setelah berhasil, Naufal memegang secara kasar dan hal itu sukses membuat perempuan itu meringis kesakitan.


"Aakkhh!" teriak wanita itu.


Lalu Naufal menghentakkan kuat tangan perempuan tersebut. Ada sedikit memar di pergelangan tangan perempuan itu.


"Kak Naufal," panggil perempuan itu.


"Pergi!" usir Naufal.


"Kak Naufal, kau mengusirku demi perempuan lain."


"Aku bilang pergi!" teriak Naufal.


Perempuan itu bukannya pergi, tapi malah mendekati Naufal. Dan lagi-lagi perempuan itu memeluk Naufal. Tapi dengan sigap Naufal berhasil menahannya dengan cara mencekik leher perempuan tersebut.


Mereka semua yang melihatnya terkejut atas apa yang dilakukan Naufal.


Naufal mencekik perempuan itu seperti kesetanan. Tidak peduli perempuan itu kesakitan atau sulit untuk bernafas.


"Kalau kau ingin tubumu disentuh oleh laki-laki. Cari laki-laki diluar sana yang mau menidurimu sialan. Bukan kepadaku. Sekarang katakan yang sebenarnya. Siapa kau? Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai Vanesha kekasihku? Dan siapa yang telah membayarmu, hah?!" bentak Naufal.


"Kau pikir kau bisa membohongi terus menerus. Kemarin kau bisa membohongiku karena aku memang tidak ingat apapun. Tapi sekarang kau tidak bisa membohongiku karena aku sudah ingat semuanya!" bentak Naufal.


DEG..


Semua yang mendengar ucapan Naufal terkejut dan juga bahagia. Mereka bahagia karena kesayangan mereka telah sembuh dari Amnesia nya. Kesayangan mereka telah bisa mengingat mereka semua.


"Lepaskan aku," lirih perempuan itu.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawab pertanyaanku, wanita sialan! Aku tidak peduli kalau kau harus mati di tanganku!" bentak Naufal.


Naufal makin menguatkan cekikannya pada leher perempuan tersebut


"Aakkhhh.. aahhh!"

__ADS_1


Wanita itu sungguh kesakitan dan sulit untuk bernafas, tapi Naufal tidak mempedulikan kesakitan wanita itu.


"Katakan padaku. Siapa yang membayarmu untuk melakukan hal ini?!" teriak Naufal.


Elvan dan Aditya menghampiri Naufal. Mereka tidak mau Naufal sampai kalap. Elvan dan Aditya berusaha melepaskan tangan adiknya yang berada di leher perempuan itu.


"Naufal, lepaskan dia. Jangan seperti ini. Kau bisa membunuhnya!" bentak Elvan.


"Naufal sadarlah. Dia hanya seorang perempuan. Tidak pantas seorang laki-laki menyakiti perempuan. Bukankah itu adalah prinsipmu, Fal!" Aditya berusaha menenangkan emosi adiknya.


Berlahan Naufal melonggarkan cekikannya di leher perempuan tersebut lalu detik kemudian Aditya menarik tubuh perempuan itu menjauh dari sang adik.


Sedangkan Elvan menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Anggota keluarganya dan para sahabatnya akhirnya bisa bernafas lega.


Dapat Elvan lihat, emosi adiknya sudah stabil. Tidak seperti tadi. Naufal menatap nyalang perempuan itu.


"Aku bertanya sekali lagi padamu. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai Vanesha? Dan siapa yang membayarmu?" tanya Naufal.


"Maafkan aku. Aku Veronica. Aku memang disuruh oleh seseorang untuk mendekatimu. Tapi aku bersumpah. Aku tidak tahu siapa orang itu sebenarnya. Sekali lagi maafkan aku," kata perempuan itu.


"Sekarang pergi dari sini. Dan jangan pernah perlihatkan wajah kotormu itu di depanku!" teriak Naufal.


Dan perempuan itu pun pergi setelah ditarik paksa oleh Zora dan Enzi.


Elvan dan Aditya memeluk tubuh Naufal lalu kemudian memberikan kecupan-kecupan sayang di seluruh wajahnya.


Mulai dari kening, kedua pipinya dan hidung mancungnya secara bergantian.


"Aish! Kak Elvan, kak Aditya. Sudah cukup. Lepaskan aku!" Naufal mendorong kuat kedua kakaknya itu.


"Kalian pikir aku ini bayi pake diciumi segala. Apa kalian tidak lihat mereka semua menatapku?" protes Naufal.


"Bodo amat," jawab Elvan dan Aditya bersamaan.


"Kami seperti ini karena kami bahagia," saut Aditya.


"Bahagia karena kamu sudah ingat dengan kami semua," ucap Elvan menambahkan.


"Iya. Tapi gak pake kecupan-kecupan juga keleees," jawab Naufal mempoutkan bibirnya, lalu pergi meninggalkan kedua kakak anehnya itu menuju sofa ruang tengah.


Saat Naufal baru menduduki pantatnya, Rayyan pun menggodanya. "Naufal. Kakak belum kebagian."


"Apa? Mau kayak dua makhluk aneh itu juga? Menyerang wajahku dengan kecupan-kecupan kayak orang kesetanan," ucap Naufal.


Sedangkan Rayyan yang mendengarnya tersenyum gemas.


PLAKK..


Aditya memukul pelan kepala belakang Naufal. Setelah itu dengan santainya duduk di sofa bersama dengan Elvan.


Sedangkan Naufal menatap horor kakak keduanya itu dengan mulut mengeluarkan sumpah serapah khasnya.


Para anggota keluarganya, para kakak-kakaknya alias sahabatnya, Vanesha serta sahabat-sahabat Vanesha tersenyum melihat aksi Naufal dengan ketiga kakaknya.


***


Di kediaman Kendrik terlihat seorang pria paruh baya sedang berada di ruang kerjanya. Dirinya saat ini bersama dengan anak buahnya.


"Tugas kalian selanjutnya adalah buat celaka dua orang yang ada difoto ini," ucap nya sambil menunjukkan sebuah foto pada anak buahnya.


"Baik Bos."


"Lakukan dengan baik dan jangan sampai gagal lagi. Kalian mengerti?" ucapnya.


"Baik, Bos."


***


Suasana di ruang tengah tampak ramai. Para anggota keluarga tengah berkumpul. Mereka saling bersenda gurau, melempar lelucon.


Naufal keluar dari kandangnya alias kamarnya. Naufal melangkahkan kakinya menuju dapur. Tidak lupa dengan ponsel yang ada di tangannya dan earphone di telinganya.


Arsya yang melihat lalu memanggil memanggilnya. "Naufal!"


Sedangkan yang dipanggil tidak mendengar.


"Naufal Alexander!" teriak Aditya.


PLETAK..


Satu jitakan mendarat di kening Aditya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sitertua Elvan?


"Aaiishh. Kak." rintih Aditya mengelus-elus keningnya.


"Kau pikir ini di hutan, hah?" kesal Elvan.


Lalu Rayyan beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Naufal. Rayyan sudah berdiri tepat di depan Naufal.


"Kakak!" teriak Naufal kaget saat melihat kakak ketiganya sudah berdiri tepat di depannya.


Sedangkan anggota keluarga yang lainnya terkekeh melihat reaksi terkejutnya Naufal.


"Kak, kau apa-apaan sih? Kenapa kau mengagetkanku. Kau ingin membunuhku ya. Kalau aku sampai terkena serangan jantung, bagaimana?" protes Naufal sambil mempoutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya.


Setelah itu Naufal pergi menuju dapur karena niat awalnya mau ke dapur untuk mengambil minuman. Merasa dirinya disalahkan oleh sang adik, Rayyan akhirnya mengalah.


Sedangkan anggota keluarga yang lain tertawa dan kali ini mereka menertawakan Rayyan saat dimana dirinya sedang dimarahi oleh sibungsu keluarga Alexander dan Sheehan. Tanpa berkutik sama sekali.


"Untung sayang. Untung juga dia adikku. Kalau tidak sudah kubuang tu bocah kelaut." Rayyan mengomel sambil melangkah menuju ruang tengah.


"Dan kalian puas melihat diriku dimarahi oleh sikelinci itu?" tanya Rayyan.


Mereka mengangguk-angguk kepala sebagai jawaban. Dan membuat Rayyan makin kesal.


"Kalian menyebalkan," ucap Rayyan.


"Siapa yang menyebalkan kak?" tanya Naufal yang tiba-tiba sudah duduk di sofa yang tak jauh darinya dengan segelas air putih di tangannya.

__ADS_1


"Yak! Kau ini datang-datang mengagetkanku saja," ucap Rayyan kesal.


"Hehehehe." Naufal terkekeh.


__ADS_2