Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. Flashdisk


__ADS_3

CKLEK!!


Pintu dibuka oleh Arsya. Dan terlihat beberapa pemuda tampan yang sudah berdiri didepan pintu. Salah satunya memegang sebuah bingkisan yang lumayan besar.


"Ayo, masuk. Si kelinci nakal itu sudah menunggu kalian," ucap Arsya.


Dan mereka semua pun memasuki rumah mewah milik Naufal tersebut.


"Hei, buntelan kelinci. Kami datang!" teriak Nathan dan Henry dari arah ruang tamu sembari melangkahkan kaki menuju ruang tengah.


Naufal yang mendengar teriakan dari dua sahabatnya itu hanya memanyunkan bibirnya kesal tanpa sedikit pun menoleh. Dirinya masih fokus dengan posisinya saat ini.


^^^


"Yak, Fal! Kau tidak sopan sekali. Sahabat-sahabatmu datang. Tapi kau tidak menyambutnya," sahut Nathan.


"Iya, nih!" ucap Henry menambahkan.


"Kalian ingin aku menyambut kedatangan kalian dengan cara apa tiang Listrik, Hitam? Apa kalian mau aku menyambutnya dengan aku melemparkan sandalku pada wajah kalian berdua," jawab Naufal dengan nada kesal.


"Aish! Galaknya nggak ketulungan. Baru aja datang. Sudah diajak berantem. Kasih makan kek," ucap Henry.


Naufal merubah posisinya dan kini menatap horor pada keempat sahabat-sahabatnya itu, terutama pada Nathan dan Henry.


"Yang ngajak berantem duluan itu kalian berdua tahu. Datang ke rumahku pake teriak-teriak dan mengubah namaku seenak jidat kalian," tunjuk Naufal pada Nathan dan Henry.


Sedangkan keduanya hanya cengengesan tanpa dosa. "Hehehehe."


Lalu Naufal melirik bingkisan yang masih setia dipegang oleh Ardian. Naufal kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri keenam kakaknya.


"Itu bingkisan apa, kak Ardian?" tanya Naufal.


"Tidak tahu. Kakak dan yang lainnya sudah melihat bingkisan ini di depan pintu rumahmu," jawab Ardian.


"Dan disini tertulis namamu, Fal!" seru Reza.


"Ini pasti dari kakak Damian," batin Naufal.


Naufal kemudian mengambil bingkisan tersebut dari tangan Ardian, lalu mereka semua pun duduk di ruang tengah dan bergabung dengan para Ayah dan para sepupunya Naufal.  


Saat Naufal hendak membuka bingkisan tersebut. Terdengar suara teriakan dari arah ruang makan.


"Sarapan pagi selesai!" teriak Helena.


Mereka yang mendengar suara teriakan tersebut langsung berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruang makan. Tapi tidak dengan Naufal. Naufal masih menatap bingkisan tersebut. Dirinya benar-benar penasaran akan isinya.


"Kalian sarapan saja dulu. Aku mau ke kamar dan ingin membuka bingkisan ini!" seru Naufal dan berlari menuju kamarnya di lantai dua.


Tapi Elvan dengan sigap berhasil mencekal tangannya dan menggenggam tangan Naufal kuat.


"Yak, kakak Elvan! Lepaskan tanganku," ucap Naufal sembari menarik tangannya.


"Sarapan atau kakak hancurkan bingkisan itu," ucap Elvan tegas.


"Kakak mengancamku?" tanya Naufal yang menatap wajah sang kakak.


"Kalau iya, kenapa? Apa kamu tidak suka? Kamu ingin marah dengan kakak, hah?" tanya Elvan balik.


Naufal merengut tak suka mendengar penuturan dari kakak tertuanya itu. Bibirnya pun digerak-gerakin sembari mengumpat kakaknya itu di dalam hatinya.


Sementara mereka yang melihatnya tersenyum gemas.


"Rayyan, ambil bingkisan itu. Bawa masuk ke kamar kakak," pinta Elvan.


"Baik, kak." Rayyan langsung merampas bingkisan itu dari tangan Elvan.


"Yak, kak! Berikan padaku bingkisan itu!" teriak Naufal saat Rayyan berhasil merebut bingkisan itu dan pergi menuju kamar Elvan.


Naufal ingin berlari, tapi tangannya digenggam kuat oleh kakak tertuanya.


Naufal menatap wajah sang kakak tertuanya itu. "Kakak, kau benar-benar keterlaluan. Bingkisan itu milikku. Kau tak berhak mengambilnya!" teriak Naufal dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.


Melihat Naufal yang tiba-tiba menangis membuat mereka semuanya terkejut dan khawatir. Tak terkecuali Elvan.

__ADS_1


Elvan merasa bersalah telah membuat adiknya menangis, lalu tangannya terangkat untuk menghapus air mata adiknya itu.


Namun hasilnya, Naufal langsung menepis kasar tangannya. Elvan terkejut atas sikap adiknya padanya.


"Bingkisan itu hanya numpang sementara di kamar kakak. Dan bingkisan itu akan kembali lagi pada kamu setelah kamu selesai dengan sarapan pagi," ucap Elvan berusaha menghibur adiknya.


Naufal kembali menatap wajah kakaknya itu. "Benarkah? Kakak tidak bohongkan?"


Elvan tersenyum. "Apa kakak selama ini pernah berbohong pada kamu?"


Naufal menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban bahwa kakaknya itu selalu menepati janjinya padanya.


"Baiklah. Aku akan ikut sarapan bersama dengan kalian semua agar bingkisan itu kembali dengan cepat padaku. Aku tidak mau bingkisan itu terlalu lama berada di dalam kamar kamar kak Elvan. Nanti kak Elvan bisa berubah pikiran," sahut Naufal.


Mendengar penuturan dari Naufal. Elvan langsung melepaskan tangan adiknya. Sedangkan yang lainnya pun tertawa.


"Hahahaha."


Naufal langsung pergi menuju ruang makan dan duduk di kursi favoritnya. Disusul oleh anggota keluarganya, para sahabat dan para kakak-kakaknya. Dan mereka semua makan dengan tenang dan hikmat. Walau ada sedikit lelucon disela makan mereka.


^^^


[Ruang Tengah]


Kini seluruh anggota keluarga Naufal, baik dari pihak Ayahnya maupun pihak Ibunya, para kakak-kakaknya dan para sahabatnya tengah berkumpul diruang tengah.


Setelah selesai sarapan pagi, sesuai janji Elvan pada adik bungsunya bahwa dirinya akan mengembalikan bingkisan tersebut kepada sang adik.


Kini bingkisan itu sudah berada di tangannya. Naufal menatap bingkisan itu sembari berpikir. "Kira-kira ini isinya apa ya?" batin Naufal.


"Yah!! Sampai kapan tuh bingkisan dipelototin terus, Fal?" ejek Davian.


"Diamlah bantet," jawab Naufal.


Davian yang mendengarnya membelalakkan matanya. "Dasar kelinci sialan."


Yang lainnya bagaimana? Sudah pastinya mereka semua tertawa.


"Hahahahahaha."


"Iya, iya. Aku buka," ucap Naufal, lalu merobek kertas bingkisan itu.


SREK!!


SREK!!


Naufal membuka kotak itu. Laluuu..


"Yak! Apa-apaan ini. Kotak segede gini, tapi isinya cuma Flashdisk doang," kesal Naufal dengan wajah merengutnya.


Yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah Naufal yang merengut kesal.


"Dasar Damian Pranaya sialan," umpat Naufal dengan lantangnya.


Mendengar perkataan kejam dari Naufal membuat mereka semua geleng-geleng kepala mendengarnya.


Naufal mengambil ponselnya bertujuan ingin menghubungi tersangka utamanya. Dirinya ingin berteriak dan mengumpatinya. Tapi tidak disangka, ternyata tersangka utamanya telah menghubunginya terlebih dahulu.


Saat Naufal melihat nama 'Kak Damian' di layar ponselnya, Naufal tersenyum evil. "Panjang umur nih orang. Baru saja mau dihubungi," gumam Naufal.


"Hallo." Naufal menjawabnya dengan suara keras.


"Yak, siluman kelinci sialan! Bisa pelan-pelan tidak menjawab panggilan dari kakak?" kesal Damian.


"Tidak!"


"Waah! Sudah berani melawan ternyata kelinci satu ini."


"Memangnya sejak kapan seekor kelinci ini takut dengan seorang Damian Pranaya yang kurus, gila, tukang bully dan melakukan apapun semaunya."


"Waah.. Waah! Benar-benar nih bocah. Mau godok ubi apa pisang goreng, hah?!"


"Tidak dua-duanya. Udahlah kakak Damian. Mau apa meneleponku. Apa belum puas ngerjain aku, hah?!" teriak Naufal kesal.

__ADS_1


Baik Naufal yang berada di seberang telepon maupun orang-orang yang berada didekatnya secara bersamaan menutup telinga mereka.


"Yak! Kenapa berteriak kelinci nakal, tengil, tukang umpat, manusia jadi-jadian?"


"Kenapa kakak ngumpati aku? Disini hanya aku yang diperbolehkan untuk mengumpat. Kakak tidak boleh."


"Itu namanya egois," kata Barra.


"Dan mau menang sendiri," kata Dhafin.


"Kuda! Beruang kutub! Kalian diam saja nggak usah nyambar," ucap Naufal sarkis.


Barra dan Dhafin melotot mendengar penuturan Naufal. Yang lainnya lagi-lagi hanya tertawa.


"Hahahahaha."


"Rasain kalian berdua," ejek Arsya.


"Aish," kesal Dhafin dan Barra.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kakak ngerjain aku?"


"Memangnya kakak lakuin apa sama kamu? Kok ngomongnya gitu?"


"Kakak ngirim bingkisan segede gajah. Tapi isinya sekecil semut. Mau kakak apa sih?"


"Hahahahaha!"


"Tuhkan.. Tuhkan! Malah ngetawain aku. Dasar kakak sialan."


"Heeiii! Seenaknya ngomong gitu sama kakak. Ntar kakak nggak mau bantuin kamu lagi, maaaauuuu?"


"Enggak. Maaf. Habis kakak juga sih. Awalnya aku udah senang dengar kakak mau ngasih kado buat aku. Tapi saat aku lihat isinya. Itu sangat mengecewakan."


Damian yang mendengar perubahan suara Naufal menjadi tidak tega.


"Oke.. Oke!! Kakak minta maaf. Pertama, kakak memang sengaja ingin menjahilimu. Kedua, kamu jangan anggap sepele Flashdisk yang kakak kirim itu. Flashdisk itu adalah masa depanmu. Lebih tepatnya kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu yang telah hilang akan kembali lagi padamu."


"Mak-maksud kakak apa?" suara Naufal terdengar bergetar dan raut wajahnya berubah sedih.


"Lihatlah sendiri. Nanti kamu akan tahu sendiri."


TUTT!!


TUTT!!


Damian langsung mematikan panggilan tersebut. Sedangkan Naufal berusaha mencerna perkataan Damian sembari menatap Flashdisk yang ada di genggamannya.


"Kebahagiaanku yang telah hilang akan kembali lagi padaku," batin Naufal.


"Kakak Elvan. Aku pinjam laptopnya ya," kata Naufal.


"Kan laptopnya kamu ada. Kenapa minjam laptopnya kakak?" tanya Elvan menjahili adiknya itu.


"Aish. Kau pelit sekali kak. Ya, sudah! Kalau tidak mau minjamin aku laptop, lebih baik aku ke kamar. Nanti kalau aku sudah di kamar dan lupa untuk keluar. Jangan ada yang gangguin aku," ucap Naufal.


Setelah mengatakan itu, Naufal pun langsung bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Hei! Iya, iya. Gitu aja pake acara merajuk. Kakak kan cuma bercanda," ucap Elvan yang tangannya sudah nahan Naufal agar tidak pergi ke kamarnya.


Sedangkan Liana sang kakak ipar sudah pergi ke kamar untuk mengambil laptop.


Naufal kembali duduk dengan wajah yang masih merengut.


"Ini laptopnya." Liana datang dan memberikan laptop tersebut pada Naufal.


Naufal memangku laptop tersebut, lalu kemudian membukanya. Setelah itu Naufal memasang Flashdisk yang di tangannya disamping laptop itu.


Naufal membuka file yang tersimpan di dalam Flashdisk tersebut. Lalu munculnya beberapa video dan dokumen-dokumen penting lainnya.


Saat ini baik Naufal maupun yang lainnya sibuk dengan dunia mereka sendiri-sendiri, walau ada diantara mereka yang sesekali melirik kearah Naufal hanya sekedar untuk mengintip laptopnya.


"Video apa ini?" batin Naufal.

__ADS_1


Karena rasa penasarannya Naufal pun mengklik Video tersebut. Dan dalam waktu satu menit Video itu pun terbuka.


Dan tiba-tiba...


__ADS_2