
Naufal sudah berada di mansion miliknya. Dirinya menghempaskan tubuh lelahnya di sofa, lalu memejamkan matanya sejenak.
"Kau sudah pulang Fal?" tanya Dhafin yang tiba-tiba datang menghampiri dirinya.
Naufal membuka matanya berlahan, lalu menolehkan wajahnya melihat kearah Dhafin.
"Kak Dhafin," ucap Naufal.
Dhafin menduduki pantatnya tepat di samping Naufal.
"Fal. Kakak ingin bicara serius padamu. Banyak hal yang ingin kakak tanyakan."
"Apa yang ingin kakak tanyakan kepadaku?"
Ketika Dhafin hendak mulai mengajukan pertanyaan kepada Naufal, mereka berdua dikejutkan oleh suara lengkingan dari Reza.
"Kak Dhafin! Naufal! Kalian disini rupanya!" teriak Reza yang datang dari ruang tengah diikuti oleh yang lainnya.
PLETAK..
Satu jitakan mendarat tepat di kening Reza. Siapa lagi kalau bukan Barra pelakunya.
"Yak, kak! Kenapa kau menjitakku? Sakit tahuu," ucap Reza yang tak terima sambil mengelus-elus keningnya.
"Salah sendiri. Siapa suruh kau teriak-teriak di dalam rumah? Kau pikir ini dihutan, hah?!" Barra menatap horor Reza, lalu mereka semuanya duduk di sofa ruang tamu.
"Kak, kalian ada disini?" tanya Naufal.
"Pertanyaan apa itu Naufal? Kau lupa atau bagaimana sih? Kan kami semua juga ikut menjemputmu di rumah sakit," kata Ardian.
Naufal terkekeh mendengar jawaban dari Ardian. "Hehehe. Aku lupa."
"Dasar. Masih muda udah pikun," celetuk Davian.
"Naufal! Sekarang tolong ceritakan pada kakak. Kenapa kau merahasiakan tentang penyakit jantungmu saat kita di PANTA BOYS dulu?" tanya Dhafin.
"Apa maksudmu, Dhafin?" tanya Arsya.
"Kak Arsya. Waktu kita di PANTA BOYS dulu. Tanpa kita ketahui, Naufal itu sedang sakit. Jantung Naufal bermasalah dan Naufal harus di operasi. Tapi Naufal justru menolaknya dengan alasan dia tidak akan bisa ikut Audisi dan menjadi Trainee di perusahaan musik. Naufal bersedia di operasi apabila dirinya sudah menjadi seorang artis sesuai impiannya," jawab Dhafin.
Mereka semua menatap Naufal dengan penuh penyesalan dan pertanyaan.
"Apa itu benar Naufal?" tanya Barra.
"Seperti itulah," jawab Naufal singkat.
"Jadi itu alasanmu selama ini Naufal? Kau selalu menghilang saat selesai latihan. Kau selalu beralasan ingin ke toilet. Lalu kau minta izin pada Manager Leo, setiap sabtu dan minggu kau ingin menginap di rumah Nathan. Tapi nyatanya kau tidak pernah menginap di rumahnya. Dan saat kau di fitnah waktu itu. Kami semua tidak mempercayaimu. Kau kecewa pada kami, lalu kau pergi meninggalkan Dorm. Saat kau pergi meninggalkan Dorm, kami mendapatkan bukti bahwa kau tak bersalah. Kami dan pihak Agensi menyesali perbuatan kami padamu dan berusaha mencarimu. Kami menghubungimu berulang kali, tapi ponselmu tidak aktif. Kami sepakat lebih memilih mencarimu dan membatalkan semua jadwal. Dan ternyata selama ini kau menghilang dan bersembunyi di mansionmu ini." Ardian berbicara sembari mengingat semua kejadian yang mereka alami.
"Kenapa kau lakukan itu pada kami Naufal? Kenapa kau merahasiakan tentang penyakitmu?" tanya Davian.
Naufal hanya diam membisu tanpa ada niat untuk menjawab semua pertanyaan kakak-kakaknya.
"Jawab Naufal jangan diam saja," sela Arsya.
"Kita tinggal bersama selama tujuh tahun. Kita sudah saling mengenal satu sama lain dan kita sudah seperti saudara. Tapi kenapa kau tidak pernah terbuka pada kami Naufal!" seru Reza.
Merasa dirinya diserang dengan berbagai pertanyaan oleh kakak-kakaknya, akhirnya Naufal angkat bicara.
"Kakak bilang kita ini sudah seperti saudara. Sekarang aku yang balik bertanya pada kalian. Apa kakak lupa dengan janji yang pernah kalian buat? Janji yang katanya kita akan selalu bersama. Kita tidak akan pernah berpisah. Tapi nyatanya kalian mengingkarinya. Kalian lebih memilih untuk tidak memperpanjang kontrak kita di PANTA BOYS. Aku rela menunda operasi jantungku hanya untuk tetap bersama kalian. Asal kalian tahu saja, saat itu jantungku belum terlalu parah. Pamanku bilang asal aku bahagia, asal aku tidak tertekan, asal aku teratur minum obat, jantungku akan baik-baik saja. Tapi saat mendengar keputusan kalian, aku kecewa, aku sakit, dadaku sesak dan aku memilih pergi meninggalkan kalian. Aku berharap tidak akan pernah bertemu kalian lagi. Tapi takdir berkata lain, Tuhan mempertemukan kita lagi." Naufal berucap lirih.
"Sekarang aku bertanya pada kalian lagi. Tujuh tahun kita tinggal bersama. Apa selama tujuh tahun itu kalian pernah percaya padaku?"
Hening..
Mereka terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Naufal.
__ADS_1
"Kakak mengatakan selama tujuh tahun kita tinggal bersama. Kita ini sudah seperti saudara. Kalian kakakku dan aku adik kalian. Apa benar kalian selama ini menganggap aku adik kalian? Kalau memang kalian selama ini benar-benar menganggap aku adik kalian dan benar-benar sayang padaku. Kalian akan percaya padaku saat aku difitnah. Tapi nyatanya tidak. Kalian dan pihak agency tidak percaya padaku saat itu," tutur Naufal.
"Maafkan kami Naufal. Kami sudah membuatmu kecewa dan sakit hati," sahut Ardian yang diangguki oleh yang lain.
"Sudahlah kak. Tidak usah dibahas lagi. Lagian sekarang aku sudah tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih pada kalian karena kalian selama ini berusaha mencariku. Dan aku sangat bahagia saat Mommy mengatakan kalau kak Arsya adalah kakak sepupuku," saut Naufal.
"Kakak juga bahagia Naufal sama seperti dirimu. Kakak juga tidak menyangka bahwa kita benar-benar bersaudara," jawab Arsya tersenyum.
"Oh ya, kak Dhafin. Aku heran dari mana kakak mengetahui tentang penyakitku?" tanya Naufal penasaran.
"Dari Papa," jawab Dhafin singkat.
"Lalu Papanya kak Dhafin tahu dari mana? Tidak mungkin Daddy menceritakan kepada orang lain, selain pihak keluarga." Naufal menatap Dhafin penasaran.
"Ayah-ayah kita saling kenal dan mereka bersahabat sama seperti kita Naufal!" seru Barra.
"Apa?" Naufal terkejut saat mendengar jawaban dari Barra.
"Kenapa Daddy tidak pernah cerita padaku?" batin Naufal.
"Kalian tidak bohong padaku kan? Bagaimana bisa mereka saling kenal? Daddy tidak pernah cerita apa-apa padaku?" ucap Naufal.
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada Daddymu?" sahut Barra.
"Baiklah aku akan tanyakan nanti," jawab Naufal.
"Fal. Cerita dong pada kami apa saja yang kau lakukan selama ini? Kami hanya sekilas mendengar kalau kau itu kerja. Memangnya kau kerja apa sih?" tanya Davian penasaran.
"Kepo, mau tahu urusan orang saja," jawab Naufal.
"Tega sekali kau, Fal." Reza menatap kesal Naufal.
"Hehehehe." Naufal terkekeh.
"Ayolah, Naufal! Jangan buat kami penasaran," mohon Ardian.
Mereka melongo mendengar penuturan Arsya. Sedangkan Naufal juga ikut terkejut. Pasalnya dia belum menceritakan apapun pada keenam kakak-kakaknya. Dan dari mana Arsya mengetahuinya.
"Apa itu benar Naufal?" tanya Dhafin.
Naufal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dhafin sambil mengangguk kecil.
"Waaah! Kakak salut padamu, Fal!" Dhafin memuji Naufal.
"Kak Arsya tahu dari mana semua pekerjaannya Naufal?" tanya Ardian.
Saat Arsya ingin menjawabnya. Naufal sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan Ardian.
"Pasti dari Kak Elvan. Kakakku yang satu itu mulutnya suka ember," celetuk Naufal.
Arsya hanya terkekeh. "Hehehe."
"Kau hebat sekali Naufal. Kami bangga padamu," ucap mereka serempak.
"Lalu apa hubungannya dengan Henry saat dia menelponmu dan menyuruhmu ke Studio?" tanya Ardian.
"Kita bekerja sama. Awalnya sih Henry, Nathan, Theo dan Ricky berniat untuk menanam modal di Studioku. Tapi aku menolaknya. Aku menyuruh mereka bekerja di Studioku dan mengurus semuanya. Aku memberikan wewenang penuh pada mereka. Jadi saat aku tidak ada, mereka yang mengurus semuanya. Alhasil nya, Studio kami maju dan sukses." Naufal menjawab pertanyaan dari Ardian.
"Kakak makin kagum padamu. Keluargamu kaya raya. Kau bisa saja meminta apapun pada mereka dan mereka pasti akan memberikannya. Tapi kau lebih memilih untuk hidup mandiri dengan cara bekerja dengan usahamu sendiri tanpa bantuan keluargamu," ucap Barra memuji.
"Aiisshh, kak! Kau terlalu memujiku. Siapa bilang aku tidak pernah meminta apapun yang aku inginkan dari mereka? Kau salah besar," sahut Naufal memperlihatkan senyuman mautnya.
"Maksudmu?" tanya Barra.
"Aku selalu meminta apa yang aku ingin pada mereka. Dan semua keinginanku selalu dikabulkan oleh mereka. Aku hanya meminta pada ketiga kakak-kakakku saja dan aku jarang meminta pada Mommy dan Daddy. Aku ingin menghabiskan semua uang mereka tanpa sisa. Biar mereka bangkrut. Hahahaha."
__ADS_1
"Gila kau, Fal!" Ardian hanya geleng-geleng kepala.
PLETAK..
Tiba-tiba satu jitakan mendarat mulus di kepala belakang Naufal dan pelakunya adalah Aditya. Kakak keduanya yang sudah berdiri di belakangnya
"Aww! Sakit kak." Naufal mengelus-elus kepalanya.
"Kau bilang apa tadi? Kau ingin membuat kami bangkrut, hah?!" Aditya yang sudah menatap Naufal dengan tatapan mautnya.
Nyali Naufal menciut seketika. Dirinya tidak berani menatap kakaknya. Dan tiba-tiba Elvan dan Rayyan datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Dan kau kenapa Aditya? Kenapa marahi Naufal?" tanya Elvan.
"Kebetulan kau datang kak. Naufal tadi bilang bahwa dia akan membuat kita bangkrut." Aditya mengadu pada kakaknya.
Elvan menatap Naufal. "Naufal." Naufal langsung menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudahlah, Kak. Jangan banyak tanya dan jangan dengarkan dia. Kita hukum saja anak ini, Kak." Rayyan mengimpori kakak pertamanya.
Mereka bertiga menatap Naufal dengan tatapan maut mereka. Berlahan mereka mendekati Naufal membuat Naufal sedikit ketakutan. Apa yang akan dilakukan oleh ketiga kakak-kakaknya padanya?
"Kalian siap Aditya, Rayyan?" tanya Elvan.
"Sangat siap kak. Kami sudah tidak sabaran untuk menghukum bocah kelinci ini!" seru mereka semangat.
"Ayo, lakukan." Elvan berseru.
Lalu mereka bertiga berhamburan mendekati Naufal dan menyerang Naufal dengan gelitikan bertubi-tubi.
"Kakak apa yang kalian lakukan? Hahahahaha... Hentikan kak, geli.. Hahahahaha..."
Mereka tidak menghiraukan keluhan sang adik dan bahkan mereka makin tambah semangat menggelitiki adik bungsu mereka.
"Kakak hentikan, kepalaku sa-sakit."
Mendengar ucapan lirih sang adik, mereka langsung menghentikan aktivitas mereka.
"Naufal, kamu kenapa? Apa yang sakit, hum?" tanya Elvan yang mulai panik.
"Naufal jawab." Aditya ikutan panik.
"Kakak... Kepalaku sakit, perutku perih. Aku belum makan sejak keluar dari rumah sakit tadi. Aku lemah Kak," lirih Naufal.
"Apa yang kamu mau? Kamu mau makan apa? Biar kakak belikan." Aditya benar-benar panik.
"Benarkah?" tanya Naufal.
"Ya, Fal! Kakak tidak bohong. Kamu mau apa?"
Naufal berpikir sejenak. "Aku mau pizza 6 kotak, Kak Aditya yang belikan. Cemilan yang biasa aku makan 30 bungkus, Kak Rayyan yang belikan. Dan Es krim 10 kotak, Kak Elvan yang belikan."
Mata mereka melotot saat mendengar permintaan sang adik. "Kamu yakin akan menghabiskan semuanya, Naufal?" tanya Rayyan.
"Kenapa? Kakak tidak mau membelikannya untukku? Aarrgghh! perutku."
"Baiklah... Baiklah. Kami belikan," jawab Elvan, Aditya dan Rayyan bersamaan.
Mereka berlalu pergi meninggalkan Naufal. Tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara tertawa Naufal.
"Hahahahaha. Kalian lucu sekali kak. Melihat wajah panik kalian tadi aku benar-benar kasihan," tawa Naufal pecah.
"Yaaak! Dasar kelinci bongsor kurang ajar. Kamu mengerjai kami, hah!" amuk Aditya yang langsung berlari mengejar Naufal diikuti Elvan dan Rayyan.
Terjadilah aksi kejar-kejaran keempat Alexander bersaudara di mansion tersebut.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton setia sambil geleng-geleng kepala dan ikutan tertawa melihat tingkah laku mereka.