
Di ruangan kerjanya, Kendrik Alvaro sudah mempersiapkan sesuatu untuk korbannya yaitu Naufal. Kalau dia tidak berhasil membunuh Naufal langsung. Paling tidak dia harus berhasil menculik dan menyekap Naufal. Dan kalau itu berhasil, dia akan dengan muda bermain-main terlebih dahulu dengan Naufal sebelum menghabisi nyawanya.
"Lakukan tugas selanjutnya. Bunuh Naufal sekarang. Kalau kalian tidak bisa membunuhnya, culik dia dan bawa kemarkas." Kendrik memerintahkan anak buahnya.
"Baik, Bos!" Anak buahnya menjawab secara bersamaan.
Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Vanesha sekarang berada di kampus. Beberapa hari ini dirinya terlihat sibuk dengan kuliahnya.
"Akhirnya aku bisa bebas. Aku sangat lelah sekali. Bagaimana keadaan, kak Naufal ya? Untung saja waktu itu aku tidak mempercayai perempuan gila itu dan memilih lebih percaya pada kak Naufal. Coba kalau waktu itu aku sampai percaya padanya. Mungkin hubunganku dengan kak Naufal sudah hancur. Tambah lagi sekarang ini kak Naufal sudah sembuh dari ingatannya. Kak Naufal sudah bisa mengingat semuanya. Aku sudah tidak sabaran memberikan kabar ini pada keluarganya dan sahabat-sahabatku."
"Kak Naufal. Mulai hari ini dan seterusnya. Aku akan percaya padamu. Apapun yang terjadi nanti. Aku akan selalu percaya padamu. Itulah kunci dalam suatu hubungan. Aku mencintaimu, kak!"
Kini Vanesha sudah berada di parkiran kampusnya dan Vanesha membuka pintu mobilnya. Karena kesibukan Vanesha beberapa hari ini, keluarganya mengizinkannya untuk membawa mobil sendiri. Biasanya Vanesha akan diantar jemput sopirnya atau kakak laki-lakinya. Atau sesekali pulang bersama dengan keenam sahabatnya.
Ketika Vanesha ingin masuk ke dalam mobilnya, Vanesha melihat seorang pria sedang menelepon dan tidak sengaja Vanesha mendengar ucapan orang itu.
"Bos. cewek yang bernama Vanesha itu tidak ada di kampusnya. Apa yang harus saya lakukan, Bos?"
"Apa? Di-dia mencariku?" ucap Vanesha dengan menutup mulutnya agar tidak ketahuan.
"Jadi saya harus langsung ke intinya, Bos! Saya harus mengajak ketemuan Naufal dan mengatakan bahwa kekasihnya ada ditangan saya. Saat saya sudah bertemu dengannya, saya harus menghabisi nyawanya. Begitukah, Bos? Baiklah, Bos! Saya akan melakukan dengan baik."
"Kak Naufal dalam bahaya. Aku harus mengikuti pria itu. Aku harus mengetahui apa yang akan dilakukannya kepada kak Naufal? Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kak Naufal. Aku harus menolongnya." Vanesha berbicara sembari memperhatikan gerak gerik pria tersebut.
Vanesha pun mengikuti pria itu. Dan pria itu sempat berhenti lalu pria itu keluar dari mobil. Dan kemudian pria itu mengeluarkan sebuah ponsel.
"Kenapa pria itu berhenti Disini? Apa yang akan dia lakukan?" batin Vanesha.
"Apa? Dia menelpon kak Naufal. Aku harus bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh pria itu."
Vanesha keluar dari dalam mobil lalu mengendap-endap untuk bisa menguping apa yang dibicarakan oleh pria itu.
"Hallo, Naufal. Aku ada sedikit kejutan untukmu. Ini tentang kekasihmu, Vanesha. Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu, hah? Aku dengar kau ada masalah dengannya ya. Lebih tepatnya dia yang meninggalkanmu. Waah! Ternyata rencanaku berhasil membuat hubungan kalian berantakan."
DEG..
"Kau tahu Naufal. Kekasihmu itu bodoh. Terlalu bodoh. Dia lebih memilih percaya dengan omongan perempuan suruhanku dari pada mempercayaimu kekasihnya. Kekasihmu itu percaya dengan omongan perempuan itu kalau perempuan itu hamil anakmu. Ditambah lagi surat keterangan dokter yang mengatakan bahwa perempuan itu benar-benar hamil. Padahal surat itu surat keterangan palsu."
"Hei, kau salah. Aku tidak mempercayai perempuan ular itu. Aku lebih percaya pada kekasihku. Dan siapa bilang aku meninggalkan kekasihku. Buktinya saja aku dan kekasihku baik-baik saja dan kami bahkan lebih mesra." Vanesha berbicara dengan nada mengejek saat dirinya mendengar pria itu mengatakan bahwa hubungannya dengan kekasih hancur.
"Aku harus melakukan sesuatu. Pria itu pasti ingin melakukan sesuatu pada kak Naufal. Aku harus terus mengikutinya."
***
Naufal sekarang berada di kamarnya. Pikiran tertuju pada seseorang. Orang itu adalah Vanesha. Perempuan yang sangat dia cintai. Naufal sangat merindukannya. Kemudian Naufal mendapatkan sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal dan nomor yang beda dari biasanya. Akhirnya Naufal pun menjawab panggilan itu.
"Hallo," jawab Naufal singkat.
"Hallo, Naufal. Aku ada sedikit kejutan untukmu. Ini tentang kekasihmu, Vanesha. Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu, hah? Aku dengar kau ada masalah dengannya ya. Lebih tepatnya dia yang meninggalkanmu. Waah! Ternyata rencanaku berhasil membuat hubungan kalian berantakan."
"Bukan urusanmu. Mau apa kau, hah?!"
"Kau tahu Naufal. Kekasihmu itu bodoh. Terlalu bodoh. Dia lebih memilih percaya dengan omongan perempuan suruhanku dari pada mempercayaimu kekasihnya. Kekasihmu itu percaya dengan omongan perempuan itu kalau perempuan itu hamil anak kamu. Ditambah lagi surat keterangan dokter yang mengatakan bahwa perempuan itu benar-benar hamil. Padahal surat itu surat keterangan palsu."
"Aku tidak peduli."
"Kau tahu tidak, Naufal. Sekarang Vanesha ada ditanganku. Dan dia sudah mengetahui semua kebenarannya. Bahkan dia dengan suka rela datang kepadaku dan memohon padaku agar aku tidak menyakitimu. Hahahaha."
"Ternyata kekasihmu masih mencintaimu, Naufal! Apa kau akan membiarkannya mati ditanganku, hah?!"
__ADS_1
"Brengsek! Jangan pernah kau sentuh dia. Atau aku akan membunuhmu, bajingan!" teriak Naufal.
"Kalau kau berani. Datanglah ke sini dan selamatkan kekasihmu."
Setelah Naufal mendapatkan alamat tersebut. Naufal pun bergegas pergi meninggalkan kamarnya.
Naufal berlari keluar dari kamarnya seperti orang gila tanpa memperdulikan panggilan dari keluarga dan sahabatnya. Bahkan Naufal membanting keras pintu mansionnya.
BRAAKK..
"Kenapa dengan Naufal? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Felix.
"Di lihat dari wajahnya sepertinya Naufal sedang dalam keadaan marah. Apalagi saat dia membanting pintu dengan keras," saut Rayyan.
"Kita susul Naufal sekarang juga. Kakak tidak mau terjadi sesuatu pada Naufal. Apalagi Naufal pergi dalam keadaan marah seperti tadi?" seru Elvan.
Lalu mereka memutuskan untuk mengejar dan menyusul Naufal. Damian, Elvan, Aditya, Alfan dan Fatih.
***
Naufal mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli dengan nyawanya lagi karena dirinya sudah tidak takut dengan kematian. Dan walaupun harus mati hari ini, Naufal akan menerimanya dengan ikhlas. Selama ini dirinya selalu bermain dengan kematian.
Tibalah Naufal di tempat yang sudah ditentukan. Naufal memperhatikan suasana di sekitar nya.
"Sepi." batin Naufal.
"Kau akhirnya datang juga, Naufal Alexander! Aku pikir kau tidak akan datang." Pria itu berbicara dengan menatap tajam Naufal.
"Mana Vanesha?!" bentak Naufal.
"Oooh, sabar Naufal. Kenapa harus buru-buru? Kau baru datang dan aku juga baru datang. Kita bermain-mainlah terlebih dahulu." Pria itu tersenyum di sudut bibirnya.
"Aku tidak punya waktu. Mana Vanesha?!" bentak Darren lagi.
"Baiklah. Sepertinya kau sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan kekasihmu itu."
"Serang!" perintah pria itu.
Naufal memberi pukulan dan tendangan pada dua pria yang ada di hadapannya itu.
BUGH..
DUAGH..
Dua pria itu jatuh tersungkur. Dan saat pria lain hendak menyerang Naufal dari belakang, Naufal dengan sigap memberikan satu tendangan kuat tepat di bagian kepala pria itu
DUUAAGGHH..
Pria itu seketika ambruk dan tidak bergerak sama sekali. Tersisa dua pria lagi.
Saat dua pria ingin menyerang Naufal. Naufal sudah terlebih dahulu memberikan serangan pada dua pria itu.
BUGH..
BUUAAGGHH..
DUUAAGGHH..
Naufal memberikan pukulan bahkan tendangan pada wajah dan perut dua pria itu. Yang membuat dua pria itu meringis kesakitan.
Saat Naufal sedang bertarung, pria yang memberikan perintah itu mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya tepat ke arah Naufal.
Dan saat pria itu hendak menarik pelatuknya dan ingin menembak Naufal, tiba-tiba saja Vanesha datang dan berlari ke arah Naufal dan menghadang peluru tersebut.
__ADS_1
DOR..
DOR..
Peluru itu menembus perut Vanesha. Naufal membalikkan badannya dan membuat dirinya terkejut.
Naufal melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika melihat Vanesha yang tergeletak tak berdaya di aspal dengan darah yang mengalir dari perutnya.
Naufal berlari menghampiri tubuh Vanesha. Naufal mengangkat kepala Vanesha dan meletakkannya di atas pahanya.
"Vanesha." Naufal menangis.
***
Di sisi lain, Elvan dan yang lainnya terus saja mencari Naufal. Elvan dan Damian jalan kaki.
Sedangkan Alfan, Fatih dan Aditya tetap di mobil dan menjalankan mobil secara pelan.
"Apa kau mendengar suara tembakan, Damian?" tanya Elvan
"Iya. Aku dengar. Suara tembakan itu berasa dari arah sana, Elvan." Damian menjawab pertanyaan Elvan sembari menunjuk ke arah suara tembakan.
Kemudian mereka pun pergi kearah sumber suara itu. Dan diikuti oleh Aditya, Alfan dan Fatin dengan mobil.
"Itu mobil, Naufal. Berarti dia ada di sekitar sini!" seru Elvan.
Mereka terus menelusuri tempat itu sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Naufal.
Pandangan mata mereka tertuju pada pria yang sedang mengarahkan pistol ke arah Naufal lalu Damian dan Elvan berbagi tugas.
^^^
"Vanesha." Naufal terus memanggil nama Vanesha agar Vanesha tetap terus sadar
"K-kakak Naufal! Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." lirih Vanesha.
"Vanesha. Aku mohon bertahanlah. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Vanesha. Tolong.. tolong bertahanlah untukku." Naufal tidak bisa membendung tangisannya.
"Kak! Aku minta maaf. Awalnya aku hampir saja mempercayai perempuan itu. Tapi karena rasa cintaku yang begitu besar padamu. Aku menepisnya jauh-jauh. Lalu aku langsung menceritakannya pada kakak! Aku sungguh beruntung memilikimu. Kau pria yang baik. Aku ingin mengabarimu agar kau tidak kesini. Tapi ponselku mati. Mereka itu sengaja menghubungimu dengan membawa namaku agar kakak masuk jebakan mereka. Dan mereka bisa membunuhmu." Vanesha berbicara sembari menahan rasa sakitnya.
"Kau harus mati, Naufal! Aku diberikan tugas untuk membunuhmu." Pria itu berucap dengan senjatanya mengarah ke kepala Naufal.
Saat pria itu hendak menembakkan pelurunya ke arah Naufal, tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang.
BUUGGHH..
BRUUKK..
Pria itu jatuh tak sadarkan diri. Pelaku pemukulan itu adalah Damian. Damian mengikat pria itu dan menghubungi polisi.
Elvan menghampiri Naufal. Sedangkan Aditya, Alfan dan Fatih sudah membereskan kelima anak buahnya yang berusaha menyerang Naufal dari belakang. Semua dalam keadaan terikat. Tinggal menunggu polisi datang.
"Kak Naufal. A-aku mencintaimu. Aku mencintaimu."
Setelah itu, akhirnya Vanesha menutup matanya dengan sempurna.
"Vanesha. Vanesha Naladhipa. Hei, Vanesha! Kau jangan bercanda. Buka matamu, Vanesha. Vanesha aku mohon jangan tinggalkan aku!" teriak Naufal sambil menepuk-nepuk pelan pipi Vanesha dengan air mata yang terus berjatuhan.
Elvan mengangkat tubuh Vanesha dan langsung membawanya ke mobil disusul oleh Fatih dan Alfan.
Sedangkan Aditya dan Damian masih menemani Naufal. Naufal masih tetap di posisinya. Kejadian itu masih terngiang-ngiang di otaknya. Air matanya masih setia mengalir membasahi pipinya.
Lima belas menit kemudian, polisi pun datang. Dan polisi itu membawa keenam pria itu ke kantor polisi. Sekarang tinggallah Damian, Aditya dan Naufal.
__ADS_1
"Naufal! Naufal sadarlah. Ayo, kita pergi dari sini" Aditya berusaha membujuk adiknya.
Naufal berusaha untuk berdiri. Tapi kakinya seakan-akan enggan untuk berdiri sempurna. Beberapa kali tubuhnya oleng dan hampir ambruk. kalau saja Aditya dan Damian tidak cekatan, Naufal bisa saja tumbang dan jatuh di aspal.