
Di kediaman Dinata terlihat enam gadis cantik sedang berkumpul. Mereka berkumpul karena tengah membicarakan satu sahabatnya yaitu Vanesha Naladhipa. Mereka adalah Ishana Raya Dinata, Jennitra Rusady, Nattaya Sagara, Zora Swastika, Syafira Gistara dan Enzi Savrina Girendra.
Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi sudah mengetahui tentang Vanesha dari Ishana. Mereka sangat bahagia sekali ketika mendengar kabar tentang Vanesha yang masih hidup.
Namun kebahagiaan mereka sirna ketika Arsya mengatakan bahwa kehidupan Vanesha berubah mengerikan ketika bertemu dengan pemuda yang dulu menaruh hati kepada Vanesha ketika SMA dulu.
Mereka semua menangis memikirkan kehidupan Vanesha dan keluarganya sekarang. Mereka bahkan ingin sekali membantu Vanesha, namun mereka takut jika kedua kakak beradik Alvaro itu makin menyakiti Vanesha melalui ibu dan kakak laki-lakinya.
"Bagaimana nasib Vanesh sekarang? Gue kangen dia," ucap Enzi.
"Gue juga kangen sama Vanesh. Jika kedua bajingan itu tidak menekan Vanesh dengan menyakiti ibu dan kakak laki-lakinya. Hari ini gue datangi Vanesh dan gue peluk-peluk dia," pungkas Jenni.
"Vanesha, lo baik-baik ya. Jangan nyerah," ucap Fira.
"Oh, iya! Bagaimana dengan Naufal?" tanya Natta.
Mendengar pertanyaan dari Nattaya membuat Ishana seketika sadar satu hal. Dia belum menceritakan semuanya kepada kelima sahabat-sahabatnya tentang Naufal dan Vanesha.
"Ach, iya! Aku melupakan satu hal!" seru Ishana.
"Apa?" tanya Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi bersamaan.
"Pertama, soal ibu dan kakak laki-lakinya Vanesha. Ibunya Vanesha sudah terbebas dari kakak beradik Alvaro itu. Dengan kata lain, ibunya Vanesha tidak di rumah sakit itu lagi. Dan untuk kakak laki-lakinya Vanesha sudah bebas dari penjara. Sekarang berada di rumahnya Naufal."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Ishana membuat Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi tersenyum bahagia.
"Terus yang keduanya apa?" tanya Zora.
"Yang kedua adalah Naufal sudah berhasil membalaskan dendam Vanesha dan keluarganya terhadap kedua laki-laki busuk itu dengan membuat kedua laki-laki busuk itu kehilangan perusahaannya. Dan yang ketiga, Naufal dan Vanesha sudah bertemu dan mereka saling berpelukan melepaskan rindunya."
Seketika Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi membelalakkan matanya ketika mendengar Ishana mengatakan bahwa Naufal dan Vanesha sudah bertemu.
"Benarkah?" tanya Enzi dan Nattaya bersamaan.
"Seperti itulah yang disampaikan oleh Arsya padaku," jawab Ishana.
"Wah! Gue orang yang pertama bahagia dengarnya!" seru Zora.
Yah, benar! Naufal sudah menceritakan kalau dirinya bertemu dengan Vanesha kepada anggota keluarganya dua hari yang lalu. Bahkan Naufal juga menceritakan tentang rencana selanjutnya.
"Jadi aku minta sama kalian untuk berhati-hati bertindak dan berbicara ketika berada diluar. Kalau perlu jangan sekali-kali kalian membahas masalah ini ketika kalian berada diluar." Ishana mengingatkan sahabat-sahabatnya agar berhati-hati dan waspada.
__ADS_1
"Kami mengerti!" jawab Jennitra, Nattaya, Zora, Syafira dan Enzi bersamaan.
***
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Gedebug..
Bruukkk..
"Aakkhhh!"
Terdengar pukulan dan tendangan serta teriakan dari beberapa orang di sebuah ruangan di kediaman Alvaro.
Yah! Orang-orang itu adalah para anak buah yang tersisa yang dimiliki oleh Alex dan Derry yang menjadi korban pemukulan dan tendangan dari Alex dan Derry.
Alex dan Derry memberikan pukulan dan tendangan kepada anak buahnya itu karena pekerjaan yang mereka berikan tidak membuahkan hasil alias gagal.
"Kalian semua benar-benar tidak becus! Mencari tahu siapa yang sudah membakar perusahaanku dan perusahaan adikku saja nggak yang berhasil!" bentak Alex.
"Maafkan kami, Bos! Kami sudah bekerja keras untuk mencari dalang yang sudah membakar perusahaan Bos Alex dan Bos Derry. Namun orang yang kita cari itu benar-benar bersih menyembunyikan identitasnya."
"Biasanya kami tidak pernah gagal untuk mencari tahu orang-orang yang mengusik Bos Alex dan Bos Derry."
Mendengar ucapan demi ucapan dari para anak buahnya membuat Alex dan Derry seketika terdiam. Di dalam hatinya mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh para anak buahnya itu ada benarnya.
"Bos, kami minta maaf kalau kami gagal mendapatkan identitas dari orang yang sudah membakar perusahaan Bos berdua."
Ting..
Terdengar notifikasi melalui ponsel milik Alex Alvaro.
Alex langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah di tangannya, Alex langsung membuka pesan dan membacanya.
TO : 08137766xxxx
Hallo, tuan Alex! Bagaimana dengan hadiah dari saya. Apa tuan Alex menyukainya. Itu adalah hadiah pertama dari saya. Nanti akan menyusul hadiah kedua. Akan ada hadiah ketiga. Setelah tuan Alex menerima hadiah kedua dan ketiga. Hadiah keempatnya saya akan menampakkan diri di depan anda dan adik anda bernama Derry Alvaro.
Seketika raut wajah Alex berubah mengerikan. Dirinya benar-benar marah saat ini. Dan kemarahan makin memuncak disaat dirinya, adiknya dan anak buahnya belum mendapatkan pelaku tersebut sampai detik ini.
__ADS_1
"Brengsek! Siapa dia sebenarnya?! Kenapa dia tahu semuanya dan tahu kelemahanku dan adikku?!" teriak Alex.
Sreekk..
Derry merampas ponsel milik kakaknya. Dia ingin membaca pesan yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal sama sekali.
Detik kemudian..
"Siapa dia sebenarnya?! Apa maksudnya dengan hadiah ketiga?" tanya Derry pada dirinya sendiri.
Alex dan Derry saat ini sudah kehabisan akal dan ide untuk mencari tahu pelaku penculikan ibunya Vanesha, pembebasan Daniel kakak laki-lakinya Vanesha dari penjara dan pembakaran perusahaan miliknya. Keduanya tampak frustasi dan sedikit stress memikirkan tentang identitas dari pelaku tersebut.
***
Di kediaman Naufal terlihat ramai dimana para orang tua, para Kakak dan keenam kakaknya sekaligus sahabat Naufal plus keempat sahabatnya yang membantu pekerjaannya berkumpul di ruang tengah.
Mereka saat ini tengah membahas rencana Naufal selanjutnya untuk menghancurkan Alex Alvaro dan Derry Alvaro. Mereka semua benar-benar penasaran akan rencana Naufal itu.
"Apa rencana kamu selanjutnya sayang?" tanya Albert.
Mendapatkan pertanyaan dari ayah membuat Naufal langsung melihat kearah ayahnya yang kini menatap dirinya.
"Rencanaku selanjutnya adalah membuat semua uang milik kedua kakak beradik Alvaro itu lenyap. Baik Alex maupun Derry, keduanya menyimpan uang-uang mereka di sebuah Bank yang cukup terkenal di Jakarta. Aku akan buat mereka kehilangan semua itu sehingga tidak ada satu pun sisa uang yang mereka miliki."
Mendengar rencana dari Naufal membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka semua benar-benar menyukai rencana Naufal tersebut.
"Paman suka dengan rencana kamu itu sayang," ucap Kishan.
"Kamu benar-benar pintar, sayang!" puji Savrina sembari tersenyum menatap keponakannya itu.
"Jangan terlalu memujiku Bibi. Rencanaku ini adalah kebalikan dari apa yang dilakukan oleh Alex dan Derry terhadap Vanesha dan keluarganya," sahut Naufal.
"Jadi, maksud kamu. Apa yang dilakukan oleh Alex dan Derry terhadap Vanesha dan keluarganya. Itu juga yang kamu lakukan kepada mereka berdua. Begitukah?" ucap dan tanya Fatih sembari menjelaskan.
"Yup! Anda benar sekali, tuan Fatih!" Naufal berbicara sembari menjentikkan dua jarinya ke udara.
Mereka semua tersenyum melihat reaksi dari Naufal ketika mendengar Fatih menjawab dengan benar.
"Kapan kamu akan melakukan rencana itu?" tanya Aditya.
"Secepatnya. Untuk saat ini aku hanya memberikan kedua kakak beradik itu untuk mengistirahatkan otak mereka yang bekerja keras mencari identitas pelaku yang sudah membawa pergi ibunya Vanesha, membebaskan kakak Daniel dari penjara dan pembakaran perusahaannya. Jika otak mereka sudah sehat kembali, barulah aku akan bergerak."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Naufal membuat mereka semua hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tapi mereka semua bangga akan cara pembalasan yang diberikan oleh Naufal untuk kedua kakak beradik Alvaro tersebut.