Naufal Alexander

Naufal Alexander
S2. General Manager Baru


__ADS_3

Naufal berada di sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan kerjanya. Naufal nampak sibuk dengan pekerjaannya berkas-berkas yang menumpuk diatas meja. Sedangkan Henry saat berada di ruang meeting untuk proyek yang akan dilakukan tiga hari lagi.


Ketika Naufal sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


Tok.. Tok..


Tok..


"Masuk!"


Cklek..


Pintu dibuka oleh seseorang, kemudian orang tersebut pun masuk ke dalam ruang kerja Naufal.


"Pak!"


"Iya, Bima. Ada apa?" tanya Naufal.


"Itu JM baru sudah datang."


"Oh, begitu! Ya, sudah suruh masuk!"


"Baik, Bos!"


Setelah itu, Bima langsung memanggil memanggil wanita yang akan menjadi JM di perusahaan NFL Corp.


Beberapa detik kemudian, masuklah Bima dengan seorang wanita yang akan menjabat sebagai JM di perusahaan NFL Corp.


Naufal menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya sembari tatapan matanya menatap lekat kearah gadis yang berdiri di hadapannya itu.


"Nama?" tanya Naufal dengan tatapan dinginnya.


"La-laura Ad-adelia." gadis itu menjawab dengan gugup.


"Seperti yang sudah saya katakan kepada anda, Bos! Nona Laura ini adalah JM baru di perusahaan. Dia akan membantu anda mengatur seluruh aspek di perusahaan ini termasuk menyajikan data-data yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan untuk anda melakukan deal dengan pihak luar."


Naufal masih menatap kearah Laura dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia memberi pandangan menilai dan seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


Melihat tatapan atasan barunya membuat Laura seketika menelan ludahnya secara kasar. Bahkan Laura menggerakkan kakinya tidak nyaman.


"Baiklah. Tepatkan dia di ruangan sebelah," sahut Naufal.


"Baik, Bos!" Bima menjawab perkataan dari atasannya.


"Ayo, saya antar anda ke ruangan anda."


"Sa-saya permisi, Pak!" Laura membungkukkan sedikit badannya ke hadapan Naufal. Setelah itu, Linda pun pergi meninggalkan ruang kerjanya Naufal.


"Hm."


Naufal hanya berdehem lalu kembali pada pekerjaannya yang sempat terhenti.


^^^


Laura sudah berada di ruang kerjanya sendiri. Kini dia sedang duduk di kursi miliknya dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.


Laura begitu bahagia dan senang bisa menjadi JM di sebuah perusahaan yang terkenal. Tatapan matanya tak henti-hentinya menatap indahnya ruang kerjanya.


Ketika Laura sedang bahagia sembari melihat sekeliling ruangan kerjanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Mendengar suara ponselnya, Laura langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Setelah ponselnya di tangannya, matanya melihat nama seseorang yang dia kenal di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Laura langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, nona!"


"...."


"Sudah, nona! Aku diterima. Sekarang aku sudah berada di ruang kerjaku sendiri."


"...."


"Apa yang akan saya lakukan disini, nona?"


"...."


"Baiklah, nona. Saya akan melaporkan semuanya sama Nona."


"...."


"Baik, nona. Saya akan berhati-hati."


Setelah selesai berbicara dengan seseorang di seberang telepon, Laura pun segera mematikan panggilannya.


***


Aditya sudah pulang ke rumah. Keadaannya sudah baik-baik saja. Saat ini Aditya bersama anggota keluarga, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya berkumpul di ruang tengah kecuali Naufal. Naufal masih berada diluar.


"Bibi senang dengar kamu baik-baik saja, sayang!" seru Amrita.


"Apalagi kakak, Rita! Mendengar Aditya kecelakaan, jantung kakak hampir mau copot!" ucap Syakilla menambahkan.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Amrita, Syakilla dan Janettra membuat semuanya tersenyum. Terutama Albert dan Helena.


Ketika mereka sedang membicarakan tentang kondisi Aditya, tiba-tiba Andhira menyadari sesuatu. Yah! Dia menyadari bahwa keponakan manisnya belum pulang.


"Kok Naufal jam segini belum pulang juga?!"


Mendengar pertanyaan dari Andhira, mereka semua dengan kompak melihat kearah jarum jam yang ada di dinding.


"Pukul 5 sore!" seru Krisna,Nirvan bersamaan.


"Kenapa Naufal belum pulang ya?" tanya Savrina.


"Tidak biasa Naufal belum pulang jam segini?" tanya Amrita.


"Aku akan coba menghubungi ponsel Naufal?" seru Aryan.


"Jangan lupa panggilannya di loundspeaker sayang!"


"Baik, Mom!"


Setelah itu, Aryan pun menghubungi adik sepupunya itu.


Beberapa detik kemudian..


"Ngapain lo hubungi gue, anak kadal!" teriak Naufal di seberang telepon.


Seketika Aryan membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Naufal. Sedangkan anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Woi, anak kelinci busuk! Dimana lo? Kenapa belum pulang?"


"Emang lo siapa? Ngapain nanya-nanya. Penting ya!"


"Yak! Kelinci buluk sialan! Gue nanya baik-baik. Dan lo jawab dengan seenaknya. Bagaimana pun gue lebih tua dari lo, nyet!"


"Kalau gue monyet, lo kakaknya monyet."


"Gue manusia."


"Gue juga manusia."


"Iya, lo memang manusia. Tapi manusia jadi-jadian. Aslinya lo siluman kelinci."


Tanpa diketahui oleh Aryan dan seluruh anggota keluarganya, Naufal saat ini berada di depan pintu rumahnya. Naufal saat ini tengah menekan beberapa angka di depan pintu rumahnya sembari terus berbicara dengan Aryan.


Cklek..


Pintu dibuka oleh Naufal. Setelah itu, Naufal masuk ke dalam rumahnya.


Setidaknya di dalam, Naufal kembali menutup pintu rumahnya itu kembali. Kemudian Naufal melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


"Yak! Kakak Aryan, gue murni manusia. Bukan siluman kelinci. Dasar siluman biawak!" teriak Naufal.


Mendengar teriakkan dari Naufal yang begitu jelas dan nyaring membuat semua anggota keluarganya yang ada di ruang tengah langsung melihat kearah dirinya. Mereka semua melihat Naufal yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dengan wajah super kesalnya.


Seketika mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah kesal Naufal ketika disebut sebagai siluman kelinci oleh Aryan.


^^^


Naufal sudah bergabung dengan anggota keluarganya. Kini Naufal duduk di samping ibunya sembari memeluk tubuh ibunya.


"Mommy, lapar. Mommy masak apa?" tanya Naufal.


"Kebetulan Mommy tadi masak spaghetti, ayam goreng sama nugget daging." Helena menjawab pertanyaan dari putra bungsunya itu.


Mendengar jawaban dari ibunya, Naufal langsung melepaskan pelukannya. Lalu kemudian Naufal menatap wajah cantik ibunya.


"Wah, Mom! Itu semua kesukaan aku. Mom... Eeemmm... Mau tidak Mommy ambilkan untukku sekarang. Aku benar-benar lapar."


Helena tersenyum menatap wajah memohon putra bungsunya itu, kemudian tangannya terangkat untuk mengusap-usap lembut pipi putih putranya itu.


"Sesuai keinginan kamu. Mommy akan ambilkan untuk kamu."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Naufal ketika mendengar jawaban dari ibunya. Dirinya benar-benar bahagia karena ibunya selalu memanjakan dirinya.


"Terima kasih Mom. Mommy yang terbaik."


Cup..


Naufal memberikan satu kecupan di pipi kanan ibunya dengan penuh sayang.


Helena yang mendapatkan ciuman dari putranya seketika tersenyum bahagia. Dia sangat tahu bagaimana sifat putra bungsunya itu padanya jika dirinya memenuhi keinginannya. Putranya itu akan memberikan dirinya satu ciuman atau bahkan dua ciuman di pipinya sebagai tanda terima kasihnya.


Setelah mengatakan itu, Helena pun beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Sementara Naufal seketika menghempaskan tubuhnya di punggung sofa sembari menghela nafasnya.


"Benar-benar lelah hari ini," ucap Naufal.


Mendengar ucapan dari Naufal membuat mereka semua menatap dirinya khawatir. Mereka tidak ingin Naufal tumbang karena pekerjaannya yang begitu banyak.

__ADS_1


__ADS_2